NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:66.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Jika berangkat ke kafe tadi wajahnya full senyum, berbanding terbalik dengan kondisi saat meniggalkan kafe. Sepanjang jalan menuju rumah, Nisa mengendarai motor dengan kecepatan rendah sambil menangis. Beruntung saat ini malam, kegelapan menyamarkan pipinya yang basah, sedangkan deru mesin kendaraan menyamarkan isakannya. Saat berhenti di lampu merah, ia tak bisa menahan bahunya yang berguncang akibat, semoga saja tak ada pengendara lain yang menyadari jika ia tengah sesenggukan sekarang.

Mungkin karena terlalu lama berpacaran, setiap sudut tempat meninggalkan kenangan diantara mereka. Seperti saat ini misalnya. Biasanya saat pulang barengan dengan motor masing-masing, setiap berhenti di lampu merah, Sandi akan membentuk jari jempol dan telunjuknya menjadi simbol love, lalu mengarahkan padanya. Hal kecil, tapi mampu membuatnya tersipu.

"Pelan-pelan, Sayang, jangan ngebut."

Kalimat yang kerap kali Sandi lontarkan saat motor mereka bersisihan di jalan raya juga terus terngiang di telinga Nisa. Sekarang, tak akan ada lagi yang mengingatkannya seperti itu.

Saat melihat jembatan di depan yang akan dilewati, kenangan dengan Sandi kembali melintas. Dulu, mereka pernah membuat konten disana, konten untuk tugas kuliah Sandi.

Air mata Nisa semakin deras mengalir, apalagi saat menunduk sekilas, tas selempangnya membuat ia makin banjir air mata. Bukan hanya karena tas tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari Sandi, tapi juga karena di dalamnya ada kemeja yang ia siapakan untuk hadiah anniversary.

Nisa menepikan motornya di sisi trotoar jembatan. Melepas helm lalu turun dari motor, berjalan ke pinggir jembatan, dekat pembatas. Sungai di bawah sana tak terlalu kelihatan karena gelap, namun suara arusnya yang deras, terdengar di telinga. Jalan ini memang tak terlalu ramai, jadi tak terlalu bising oleh suara mesin kendaraan.

"Nisa gak pengen lanjut kuliah?" Tanya Erika, ibunda Sandi, sekitar 5 tahun yang lalu saat ia diajak main ke rumah lelaki itu.

"Enggak, Tante."

"Loh kenapa? Kamu kan udah kerja sekarang, kata Sandi gajinya juga lumayan, UMR. Kenapa gak lanjut kuliah, kerja sambil kuliah maksud Tante?"

"Pengennya sih gitu Tante, tapi adik lulus SMA tahun ini, dan dia keterima di salah satu universitas negeri ternama di Jakarta. Ibu nyuruh aku bantu biaya kuliah adik. Kalau gak kuliah sayang, kan sudah keterima."

"Sayang sekali ya Nisa, padahal kalau tahun lalu kamu mau ikut tes perguruan tinggi, Tante yakin kamu pasti keterima. Kata Sandi kamu juara terus meski jak satu sih, kadang dua kadang tiga."

Nisa tersenyum kecut. "Iya sih Tante, tapi mau gimana lagi, tahun lalu Ibu sama Bapak masih harus biayain adik SMA, jadi gak sanggup kalau satu SMA, satu kuliah." Ayah Nisa hanya pekerja di salah satu toko bangunan yang tak jauh dari rumah mereka.

"Kenapa tahun lalu kamu gak coba nyari beasiswa? Sayang loh Nisa, kamu siswa berprestasi."

"Kondisi ekonomi keluarga sedang buruk Tante, jadi Nisa musti bantu dengan bekerja."

Erika menghela nafas panjang sambil manggut-manggut. "Padahal kamu pintar, cantik, tinggi, kalau saja kuliah, pasti bisa dapat pekerjaan bagus."

Senyum getir tersungging di bibir Nisa saat sekelebat ingatan masa lalu melintas di benaknya. Harusnya sejak dulu ia sadar, jika Erika menginginkan jodoh yang setara untuk Sandi. Wanita yang berpendidikan tinggi dan punya karier bagus. Seluruh anggota keluarga Sandi lulusan sarjana, termasuk kedua orang tua dan kakak kakaknya. Ibunya guru SMP, sementara ayahnya jadi ASN di salah satu BUMN, mereka pasti malu punya menantu hanya lulusan SMA.

Nisa membuka tas selempang yang ia pakai, menatap bungkusan kado berisi kemeja mahal yang ia beli dengan uang gajinya bulan ini, meski resikonya, bulan ini ia tak bisa nabung.

"Jangan, Mbak!"

Nisa hendak menoleh saat mendengar orang teriak, namun tiba-tiba, lenganku ditarik kasar hingga tubuhnya jatuh. Tapi ia tidak jatuh ke trotoar yang keras, melainkan ke sesuatu yang lebih empuk.

Nisa panik, buru-buru ia bangun saat menyadari ia jatuh di atas tubuh seseorang.

"Apa-apaan sih?" Nisa bangkit dengan ekspresi kesal, menatap laki-laki berjaket hijau khas ojol yang masih terbaring di trotoar sambil meringis.

"Jangan bunuh diri Mbak, dosa." Laki-laki itu perlahan bangkit sambil membersihkan pakaiannya yang kotor karena debu trotoar.

"Bunuh diri?" Nisa mengernyit.

"Lagi patah hati ya Mbak? Patah hati ya patah hati, tapi jangan sampai bunuh diri. Dosa. Bunuh diri gak akan menyelesaikan masalah, yang ada menambah masalah. Kamu bakal dihajar di liang lahat oleh malaikat Munkar Nakir."

"Gak usah sok tahu, emang kamu sudah pernah mati?" Nisa mendengus kesal. Ia kembali ke pinggir jembatan, mengambil kado di dalam tas.

"Mbak, jangan!" Ojol itu kembali menarik lengan kiri Nisa menjauhi pembatas jembatan.

"Apa sih?" Nisa menarik lengan kirinya hingga lepas. "Aku mau buang ini, bukan mau bunuh diri." Ia menunjukkan kado di tangan kanannya.

"Oh, bukan mau bunuh diri ya." Driver ojol bernama Januar yang biasa dipanggil Ojan itu, garuk-garuk kepala.

"Makanya jangan sotoy jadi orang." Nisa mendelik kesal.

"Maaf, Mbak. Baru tahu kalau sungai punya tanggal lahir."

"Maksudnya?"

"Lagi ulang tahunkan sungainya." Menunjuk kado di tangan Nisa. "Ah, rugi kemarin aku ke barber shop potong rambut biar ganteng, ternyata kalah sama sungai yang ilalang di samping-sampingnya gak pernah dipotong. Aku ulang tahun, gak ada yang ngasih kado."

Nisa membuang nafas kasar. Ia lalu menepuk kado tersebut ke dada Ojan. "Nih ambil, aku kasih."

"Beneran, Mbak?" Ojan memegang kado yang dibungkus kertas warna biru tersebut.

Nisa tak menjawab, ia berjalan menuju tempat motornya diparkir.

"Mbak, makasih banget loh." Ojan berjalan mengekori Nisa. "Oh iya, kenalin, aku Ojan." Ia mengulurkan tangan pada Nisa yang sedang mengenakan helm. Merasa tangannya di anggurin, ia mengelap ke celana jeansnya. "Bersih kok, Mbak."

Nisa tetap tak peduli, ia naik ke atas motor, lalu menyalakan mesin.

"Mbak, kamu namanya siapa?"

Pertanyaannya tak digubris, Nisa malah melesat pergi dengan motor maticnya.

Nisa kembali menyusuri jalan menuju rumah, berusaha untuk tidak menangis lagi agar nanti sesampainya di rumah, tak ada orang yang bertanya soal matanya yang bengkak. Tapi ternyata untuk tidak menangis saat patah hati itu terlalu sulit, air matanya tak bisa diajak kompromi, terus saja mengalir. Berhenti di lampu merah, ia menaikkan kaca helm, menyeka air mata.

"Mbak."

"Astagfirullah!" Nisa kaget saat Ojan tiba-tiba ada di sebelah, duduk nyaman di atas motor matic besarnya sambil tersenyum.

1
Felycia R. Fernandez
Ibu Penasaran siapa pacar Naina,aku malah penasaran gimana reaksi ibu dan ayah kalau tau Sandi pacarnya Naina...
apakah akan marah,atau Nisa disuruh ngalah,udaaah terima aja.Sandi mank jodohnya Naina...
kalau seperti itu,ku doain ibu,ayah dan Naina plus Sandi menderita seumur hidup 🤬🤬🤬🤬🤬
Felycia R. Fernandez
kenapa gak masuk paru paru aja,lalu sesak jalur pernapasan dan koid
Felycia R. Fernandez
tuuuh udah Depe in Ojan loh Nisa 🤣🤣🤣🤣
Eonnie Nurul
nai kuliah hasil santunan saudara aja belagu 🙄 semoga Bu Wiwik gak terkena serangan jantung pas ketemu calon mantu 🤭
Teh Qurrotha
s nai otaknya pindah
Sari Kumala
bener bener adek gak tau diri ini😏
Sari Kumala
lanjut kak 💪
dyah EkaPratiwi
gimana perasaan orang tua naina nanti kalau tau
Reni Marlina
bagus ceritanya thor
Suradi Yogya
si Nissa ntar cocok sama bu Dewi. Nissa pinter masak, bu Dewi baru coba2 menu
Teh Qurrotha
cerita novel nya kereen
Nessa
asikkkk ngegass bgt jannnn mantep 😂😂😂😂😂
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sweet bnget sih kalian. ga sabar liat kln jadian
Ari Atik
ngelamar niye.....?
🤣🤣🤣
olyv
diajak nikah sama ojan tu nis 🤣🤣🤣
Patrick Khan
aku suka😍😍
Patrick Khan
nyuk Jan nikah.. q mw kok😂😂asekkkkk
falea sezi
lanjut
Humaira
hayuuukk... 😂😂😂😂😂🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Humaira
😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!