Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Raditya Buka Restoran
Beberapa bulan kemudian setelah dia bertemu dengan David tempo lalu, mereka jadi sering berkomunikasi meskipun hanya membahas seputar pekerjaan saja.
Tapi Renata keluar untuk makan berdua hanya sekali itu saja, karena dia tak ingin menimbulkan fitnah.
Kecuali kalau makan bersama dengan sekretarisnya dia mau, karena itu sudah beda konsep.
Tadi siang mereka meeting di luar sekalian makan siang, bahkan David mengatakan kalau Regina sebentar lagi akan pulang ke Indonesia.
"Hmm aku harus hubungi Regina ini" Gumam Renata saat sudah berada di dalam ruangan kerjanya.
Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya yang berada di Negara tetangga itu.
[hai bestie, ada apa ini tiba-tiba telepon?] Sapa Regina dari balik telepon.
Memang semenjak perceraiannya dengan Raditya, Renata belum menghubungi sahabatnya karena kesibukannya mengurus semua berkas-berkas serta pengalihan perusahaan ini.
[lu ingat David?] Tanya Renata langsung.
Karena David juga tidak mengatakan pada Regina kalau dia bertemu dengan Renata disini, jadi Renata inisiatif menghubungi sahabatnya itu.
[David yang satu angkatan sama kita di George University?] Tanyanya.
[iya, aku akhir-akhir ini sering bertemu dengan dia] jawab Renata.
[ya ya ya, dulu kamu memang suka lihat-lihat dari kejauhan bukan?. Emangnya kamu bertemu dengan dia dimana? Bukannya David super sibuk] Ledek Regina.
Memang sebelumnya saat Renata bertemu dengan David, dia pura-pura tidak mengenalnya. Atau lebih tepatnya takut salah orang, eh gak tahunya David ingat juga sama dirinya.
Semenjak bercerai dengan Raditya, Renata semakin mengembangkan perusahaan. Bahkan dia tidak pernah bertemu dengan laki-laki selain urusan pekerjaan.
Dan juga kini Rindiani sudah terbiasa tanpa papanya dirumah.
Rindiani hanya bertemu dengan Raditya sesekali saja, karena Raditya sedang mengurus usahanya yang baru dan juga ibunya yang masih stroke sampai saat ini.
[hmm jangan gitu, tadi gue bertemu sama dia di kantor. Oh ya maafin gue ya kalau beberapa bulan ini jarang membalas chat dari lu]" Ucap Renata.
[iya gue paham, lu pasti sibuk mau ngurusin bulan madu kedua sama Raditya kan? Kan rencana lu setelah ulang tahun akan ke Turki bareng dia] Ucap Regina.
[enggak bakalan terjadi itu Gin] Jawab Renata.
[kok bisa?? Kenapa? Apa lu sudah gak berminat lagi ke Turki?] Tanya Regina.
[aku masih berminat kesana, mungkin lain kali kesananya sama Rindiani dan orangtua gue aja] Jawab Renata.
[enggak gitu, kita udah bercerai dan sekarang massa indah gue udah selesai. Bahkan Raditya juga sudah menikah kembali] Jawab Renata.
[Whaat....??? Sudah beberapa bulan dan lu baru hubungi gue sekarang? Selama chat lu gak pernah bahas masalah perceraian Ren!!] Ucap Regina dengan jengkel karena mereka chat tidak pernah membicarakan masalah keluarga mereka hanya membicarakan masalah kangen-kangenan dan sebagainya.
[ya mau gimana, kita kan akhir-akhir ini juga jarang chat. Sekalinya chat ngobrolin hal-hal gak jelas gitu kan?] Jawab Renata.
[hmm iya sih, terus alasan kalian bercerai apa? Bukannya kalian sudah terkenal sebagai pasangan yang harmonis sepanjang masa?] Tanya Regina.
[dia selingkuh sama sekretarisnya, dan bahkan sebelum perempuan itu menjadi sekretarisnya sih mereka udah selingkuh] Jawab Renata.
[ohh astaga, gue gak nyangka kalau Raditya bisa setega itu sama kamu] Ucap Regina.
[ya begitulah laki-laki] Jawab Renata.
[eitss hak semua laki-laki kayak gitu bestii, oh ya jadi lu single mother sekarang ini] Ucap Regina
[iyalah janda keren hahaha] Jawab Renata dengan tertawa.
[dasar lu, oh yaa gue bulan depan pindah ke Indonesia loh] Ucap Regina
[iya gue udah tahu] Jawab Renata.
[eh lu tahu dari mana?] Tanya Regina
[dari David tadi, kita tadi habis meeting bareng] Jawab Renata
[jadi sekarang lu ambil alih lagi perusahaan?] Tanya Regina
[iyalah Gin, ini perusahaan kan punya mama. Oh ya kenapa lu bisa tiba-tiba pindah kesini?] Tanya Renata
[hmm iya juga sih ya, ini suami gue kan juga pemegang saham diperusahaan David. jadi dia mau mengurus yang disini aja, lagian semua keluarga kita kan ada di Indonesia Ren] Jawab Regina
[waah akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama ya haha, nanti kabarin kalau udah disini oke.] Ucap Renata.
[iya beres itu mah, salam buat Rindiani yang makin gemes itu ya] Jawab Regina
[iya, yaudah gue mau lanjut kerja dulu. byee bestiku] Ucap Renata dan mematikan panggilan.
**********
Di tempat berbeda kini Raditya sedang mengurus pembukaan restoran terbarunya, tentu saja ditemani oleh Ratih.
"Sayang semoga saja restoran ini ramai ya" Ucap Raditya.
"Ya harus ramai dong mas, modalnya gak sedikit ini loh" Jawab Ratih.
"Hmm iya, oh ya nanti kamu kerumah sakit kan jengukin ibu?" Tanya Raditya.
"Iya mas, aku heran ibu dari beberapa bulan lalu terapi tapi gak segera pulih. Malah bolak balik ke rumah sakit" jawab Ratih.
"ya mau gimana lagi, kemarin ibu drop lagi" Jawab Raditya
"Ada apa lagi?" Tanya Ratih
"Kemarin Rani pulang, dia hamil. Tentu saja ibu drop lagi, dulu dia gak mau pulang dan malah menghilang beberapa bulan nah sekarang kembali sudah berbadan dua. Siapa yang gak langsung kaget" Jawab Raditya.
"Terus Rani dimana sekarang?" Tanya Ratih
"Gak tahu, kemarin kata ayah sama Romi dia diusir dari rumah sebelum membawa ibu kerumah sakit" jawab Raditya
"Hmm gitu, heran deh sama adik kamu kenapa gak main aman saja. Malah hamil kan jadinya" Gerutu Ratih
"Maksud kamu?? Jadi kamu mendukung adikku yang jadi seorang pelac*r gitu??" Tanya Raditya dengan sorot mata tajam menatap kearah Ratih.
"Ya nggak gitu mas, kan maksudku untuk mencegah kehamilan gitu. Udahlah gak usah bahas lagi. Ayok bantuin urus menghias ruangan depan" Ajak Ratih
Besok pagi restoran ini akan grandopening jadinya saat ini Raditya dan Ratih berada direstoran membantu menghias ya meskipun sebenarnya mereka bisa saja semuanya diurus oleh karyawan atau pihak EO.
Tapi untuk membayar EO Raditya sudah tak ada tabungan lagi, karena selama ini tabungan Raditya benar-benar terkuras untuk pembangunan restoran dan juga pengobatan sang ibu.
"Akhirnya selesai juga, ayo kita langsung ke rumah sakit" Ajak Raditya.
Nanti kita gak menginap kan?" Tanya Ratih saat sudah ada didalam mobil.
"Enggak, kan besok pagi kita mau opening. Nanti malam langsung pulang istirahat agar badan kita besok pagi fresh" Jawab Raditya
Kini mobil yang dikendarai Raditya meluncur dijalanan yang cukup padat, karena sudah sore waktunya orang-orang pada pulang kantor.
"Duh males deh kalau macet kayak gini" Gerutu Ratih.
"Ya sabar, namanya juga kota metropolitan" Jawab Raditya
"Iya, lusa aku mau ada job diluar kota" Ucap Ratih
"Berapa hari?" Tanya Raditya
"Hanya dua hari saja" jawab Ratih
Memang selama ini Ratih sering mendapatkan job diluar kota, dan Raditya selalu mengizinkan karena dia juga sibuk mengurus pembangunan restoran dan juga membantu mengurus ibunya.
Apalagi disana tidak ada wanita, jadilah mereka menyewa seorang suster untuk membantu sang ibu.
Tentunya jadwal kerja suster hanya sampai sore saja dan malamnya mereka bergantian mengurus sang ibu.
Rani juga setelah ketahuan oleh Raditya sudah tak lagi menampakkan batang hidungnya, bahkan nomor handphonenya juga sudah tak bisa dihubungi lagi.