Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mogok
Pov Zara Ayleen
Seperti biasa, rutinitas setiap hari pada hari kerja selama kurang lebih dua tahun aku bekerja di perpustakaan sekolah Negri tempat ayah dan ibu mengajar, aku mulai membereskan tumpukan buku yang berada pada meja baca, merekapnya kemudian menyimpannya pada tempatnya asalnya. Pekerjaan yang menyenangkan untuku, hening dan tidak berisik cocok untuku yang sangat menyukai kedamaian.
“Dor…”
“Astagfirullah Nura…” disampingku Nura nyengir kuda, ia bahagia karena telah berhasil mengkagetkanku.
“Adudu… cantik banget aura penganten baru.” Nura mentoel daguku.
“Ish… apaansi.”
“Pasti udah kan?, gimana rasanya ra. Kata orang-orang kalau pertama kali belum ngerasain enaknya, yang ada malah terasa sangat sakit.” Nura memang mengetahui aku kalau aku sudah menikah secara privat dan hanya keluarga saja yang diundang, dengan alasan aku di jodohkan dan keluarga mempelai pria sangat ingin privat sekali.
“Ish… kamu pagi-pagi nur, makanya nikah nanti kamu tau sendir gimana rasanya.” Benar kata nura, pertama kali disentuh memang sangat sakit. Sampai hampir tidak bisa jalan, bukan malam pertama tapi malam yang membekaskan luka dihatiku. Kejadian malam itu masih terekan jelas dikepalaku.
“Wah…. pasti suami kamu orang kaya ya zara?, lihat cincinnya aja berlian, pasti ini harganya ratusan juta.”
“Nura…. Syut… nanti kedengeran orang.”
“Yaudah.. aku bertugas dulu my best.” Ucap nura sambil berlalu begitu saja.
Aku kembali mengepak buku, merapikan jejerannya supaya terlihat rapi. Tidak lupa setelah itu aku merekap pinjaman buku kelah sepuluh B.
Jam istirahat. Nura berjalan kearahku.
“Ra, kantin yuk!”
Aku mengangguk sebagai respon, belum terlalu lapar si, tapi bosan juga berdiam diri didalam ruangan yang dingin ini.
Aku memesan bakso dan jus jeruk. Mataku menatap lapangan main bola para siswa dibawah, tapi pikiranku cukup terganggu dengan kejadian tadi pagi. Seorang wanita blonde yang bergelayut manja di lengan pak Arsyad, benarkan pikiranku selama ini pak Arsya itu memang pemain. Eh tapi sebentar, kalau misalkan dia pemain para wanita, lantas mengapa dia cuman menikahiku?, apakah ada udah dibalik batu. Apakah aku hanya dimanfaatkan saja. Dinikahi hanya untuk memilki seorang keturunan, lalu setelah itu diceraikan, seperti kisah-kisah di dalam novel yang sering aku baca.
“Ra, Zara!”
Bayangangku buyar seketika. “Eh apa nur?”
“Kok bengong si?, makan tuh baksonya keburu dingin.”
Iya kenapa ya aku jadi bengong mikirin pria itu dengan wanita blondenya. Apa urusan denganku?, aku hanyalah istri terpaksanya, lagian aku akan segera mengajukan cerai jika aku tidak jadi hamil.
“Ra, sepertinya hari ini kita akan lembur.”
“Hah… lembur?”
“Iya, kita negerkapa buku-buku yang baru tiba, yang dari donatur itu loh… bukunya sudah dateng.”
“Oh ya, yasudah gapapa. Kita lembur saja.”
***
“Nur sudah jam enam sore, kota solat magrib dulu yuk, setelah itu baru pulang.”
“Betul, biar bisa jalan-jalan dulu keluar, yakan…”
Kemudian kita mengambil wudhu dan melaksanakan shalat magrib, ternyata lingkungan sekolah tidak terlalu sepi, ada banyak para siswa yang sedang ada kegiatan disekolah. Jadi aku dan nura tidak terlalu takut.
“Kamu pulang dijemput sama suami mu ra?”
Aku menggeleng, “Dia lagi sibuk nur, aku naik angkot saja.”
“Eh bentar ra, aku angkat telpon dulu.”
Aku mematung menunggu nura yang sedang menelpon dengan seseorang, mungkinkah itu pacar barunya.
“Ra… maaf sekali, Mas Ray mau jemput aku kesini.”
“Iya.. gapapa Nur, aku bisa naik angkot sendiri kok.”
“Ih.. aku jadi gak enak, ninggali kamu sendirian naik angkot.”
“Ish.. gausah gaenakan kaya gitu dong, aku gapapa kok.”
Aku berjalan sendirian, sedangkan nura disana sudah menaiki motor bersama kekasihnya sambil melambaikan tangan padaku.
Menuju gerbang sekolah, tidak lupa aku menyapa satpan yang sedang berjaga.
Deg, langkahku terhenti. Didepan sana seorang pria berjas hitam dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam sakunya. Mata elangnya menatapku tajam.
“Kamu lupa, kunci rumah dibawa oleh mu, sengaja pulang telat?”
Aku berjalan menghampirinya. “Aku ada lembur hari ini jadi jangan berburuk sangka, nih” aku menyerahkan kunci rumah itu. Lalu berjalan pergi.
“Tidak ada angkutan umum, dijalan lagi demo besar-besaran. Aksen jalanan banyak yang ditutup, masuklah kedalam mobil!” ucapnya sambil memegang lenganku.
Aku melirik sekitar, jalanan memang sangat sepi sekali, paling hanya sayu atau dua sepeda motor yang lewat.
“Lepas, mungkin didepan sana ada angkutan umum. Aku mau jalan.”
“Ini sudah malam, kalau ada yang culik kamu, nanti saya juga yang repot.”
“Iya neng, kemarin ada yang dirampok perempuan dijalan sana” ucap pak satpan, yang membuat aku sedikit bergidik ngeri. Aku berjalan keraha jok belakang dan membuka pintunya tapi susah sepertinya pintunya terkunci.
“Emangnya saya supirmu, duduk depan!”
Pria yang memiliki sorot mata tajam seperti elang itu mulai melajukan mobilnya. Kok, dia malah milih jalan yang sepi dan rutenya sangat jauh dengan rumah.
“Pak kalau lewat ini makin jauh sampenya.”
“Ini jalan satu-satunya.”
Ucapnya. Aku tidak bisa membantah lagi, hening didalam mobil, hanya ada terdengar suara deru mobil dan suara jangkrik yang bersahutan. Jalanan tampak gelap dan sangat sepi, tidak ada kendaraan lain selain mobil ini.
Mobil berhenti.
“Shit…” pria itu memukul stir mobil. Dia membuka pintu mobil. Apa yang terjadi.
Dia mengetuk kaca sebelahku. “Tolong nyalakan senter.” Ucapnya sambil berjalan membuka kap mobil.
Dengan berat hati, walaupun pundaku terasa sangat merinding takut, tempat yang sepi sungguh aku takut sekali dengan tempat seperti ini.
Aku mulai menyalakan flash, mulai mengarahkan pada mesin mobil yang menurutku tidak paham sama sekali.
Pes…
Flash mati, batre ponselku habis.
“Batrenya habis pak…”
Hawa dinhin menusuk, pundakku merinding.