Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!” Suara pria itu terdengar keras dari depan toko.
Semua orang langsung menoleh. Sebuah mobil hitam berhenti mendadak di pinggir jalan, dan seorang pria tinggi dengan wajah penuh amarah turun dengan cepat dari sana, Revano.
Di belakangnya, seorang wanita cantik ikut turun dengan wajah terkejut melihat keributan itu. Begitu melihat Sahir menangis di pelukan Aldo, wajah Revano langsung berubah gelap.
“Lepasin dia!” Tanpa menunggu jawaban, Revano berlari cepat ke arah Aldo.
Dugh!
“Akh!” Satu dorongan keras membuat Aldo kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke lantai.
Sementara Revano langsung merebut Sahir dari pelukannya dengan hati-hati.
“Papa…” tangis Sahir pecah begitu melihat Revano.
“Udah … udah aman,” ucap Revano cepat sambil menenangkan bocah itu. Tangannya mengusap punggung kecil Sahir lembut sebelum menyerahkannya pada wanita di belakangnya.
“Ririn, tolong bawa Sahir masuk ke dalam.”
Wanita itu langsung mengangguk panik.
“Iya.”
Ririn segera menggendong Sahir yang masih menangis masuk ke dalam toko.
Sementara di luar, Diana langsung berteriak marah saat melihat anaknya jatuh.
“Berani banget kamu dorong anak saya!”
Revano berdiri tegak dengan napas kasar. Tatapannya dingin penuh amarah.
“Kalau dia nyentuh anak kecil lagi, bukan cuma dorong yang bakal ku kasih.”
“Hajar dia!” bentak Diana pada dua preman yang dibawanya. Tanpa banyak bicara, kedua pria itu langsung maju menyerang Revano. Berbeda dengan yang mereka kira Revano bukan lawan yang mudah. Dulu semasa sekolah, pria itu terkenal sering berkelahi demi melindungi Saga dan Sahira.
Satu pukulan telak mendarat di wajah salah satu preman hingga pria itu terhuyung. Yang lain mencoba menyerang dari samping, namun Revano menangkis lalu menghantam perutnya keras.
“Akh!” Namun salah satu pukulan sempat mengenai pipi Revano. Sudut bibirnya sedikit berdarah.
“Revano!” teriak Sahira panik. Pria itu tetap berdiri tegak. Tatapannya justru semakin menyeramkan.
“Ayo lagi,” tantangnya dingin, kedua preman itu mulai ragu. Mereka jelas kalah tenaga. Melihat keributan semakin besar, Sahira langsung maju dengan tangan gemetar sambil mengangkat ponselnya.
“Berhenti semuanya!” teriaknya. Semua menoleh padanya.
“Aku sudah hubungi polisi!” Kalimat itu membuat Diana langsung berubah panik sesaat. Namun, wanita itu masih mencoba bertahan dengan wajah garang.
“Kamu berani laporin keluarga sendiri?!”
“Kalian bukan keluargaku!” bentak Sahira dengan mata merah penuh air mata. Napasnya naik turun menahan emosi.
“Kalian datang cuma buat nyakitin aku dan anakku!”
Diana mendengus kasar.
“Kalau kamu nggak kasih uang…” ancamnya sambil menunjuk wajah Sahira, “saya bakal hancurin semua barang orang tua kamu yang masih ada di rumah lama!”
Wajah Sahira langsung pucat.
“Jangan…” suaranya melemah. “Tolong jangan lakukan itu…”
Rumah lama itu adalah satu-satunya tempat penuh kenangan bersama kedua orang tuanya. Dan barang-barang di sana adalah peninggalan terakhir mereka. Namun, sebelum Diana sempat bicara lagi Revano melangkah maju.
Tatapannya tajam menusuk.
“Coba aja sentuh hak warisan Sahira.”
Diana langsung menoleh kesal. Revano melanjutkan dengan suara dingin,
“Sekalian saya laporin kalian atas perampasan harta warisan.”
Wajah Diana seketika berubah.
Sementara Aldo yang masih meringis kesakitan buru-buru mendekat pada ibunya dan berbisik panik,
“Ma … udah aja…”
“Apa?” bisik Diana kesal.
“Kita nggak bisa lawan dia.”
Aldo melirik Revano dengan takut.
“Setiap dia ikut campur, gue pasti masuk penjara.” Wajahnya langsung mengingat beberapa kejadian lama.
“Terus siapa nanti yang akan kasih uang buat nebus gue?” bisik Aldo lagi panik.
Diana langsung terdiam kesal.
Sementara Revano masih berdiri di depan Sahira dengan tatapan tajam. Jelas sekali selama pria itu ada di sana, tak ada seorang pun yang akan bisa menyentuh Sahira dan Sahir lagi.
Sebelum pergi, Diana masih sempat menatap Sahira dengan wajah penuh kebencian.
“Ini belum selesai,” ancamnya tajam.
Aldo yang berdiri di samping ibunya ikut menyeringai sinis sambil mengusap sudut bibirnya yang tadi terkena pukulan Revano.
“Lain kali gue beneran bakal hancurin hidup lo,” katanya dingin. “Sekalian anak haram lo itu.”
“Diam!” bentak Revano marah sambil melangkah maju. Aldo buru-buru mundur dan jelas masih takut pada Revano.
Diana segera menarik lengan anaknya.
“Ayo pergi!”
Kedua preman yang tadi dibawanya juga ikut menjauh dengan wajah kesal. Tak lama kemudian mobil mereka pergi meninggalkan toko bunga itu.
Suasana mendadak terasa sunyi.
Hanya tersisa pot bunga yang berserakan dan napas Sahira yang masih tidak teratur karena ketakutan. Lina dan Rani segera membereskan kekacauan di depan toko.
Sementara Revano berdiri memperhatikan Sahira yang tampak pucat.
Pelan-pelan pria itu mendekat.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lembut.
Sahira berusaha mengatur napasnya sebelum mengangguk kecil.
“Aku baik-baik aja…”
Suaranya terdengar lemah. Tatapan Revano perlahan berubah penuh iba. Selama bertahun-tahun, ia tahu persis bagaimana hidup Sahira setelah ditinggal kedua orang tuanya.
Wanita itu selalu berusaha kuat sendiri, melindungi Sahir sendirian. Menghadapi keluarga tirinya sendirian. Dan melihat semua itu lagi hari ini membuat hati Revano terasa sesak. Tanpa berpikir panjang, pria itu langsung menarik Sahira ke dalam pelukannya.
“Udah…” gumamnya pelan. “Aku di sini.”
Tubuh Sahira sempat menegang beberapa detik. Tetapi, perlahan ia membalas pelukan itu dengan mata yang mulai memanas.
Namun, di waktu yang sama sebuah mobil hitam melintas perlahan di depan toko bunga. Di balik kemudi, Saga yang baru pulang dari rumah sakit tanpa sengaja melihat pemandangan itu.
Dan seketika tangannya langsung mencengkeram setir kuat, matanya memerah. Tatapannya membeku saat melihat Sahira berada dalam pelukan Revano.
Sama seperti lima tahun lalu.
Saga memukul setir mobilnya keras. Rahangnya mengeras, dadanya terasa terbakar oleh sesuatu yang selama ini coba ia tekan. Dan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar hilang. Tanpa sadar kakinya langsung menginjak pedal gas lebih dalam.
Suara mesin mobil yang mendadak meraung menarik perhatian Sahira. Wanita itu refleks menoleh, dan saat melihat mobil hitam yang melaju cepat itu wajahnya langsung berubah pucat. Pelukannya dengan Revano terlepas begitu saja.
“Ra?” Revano mengernyit bingung. “Kenapa?”
Tatapan Sahira masih terpaku ke arah jalan, napasnya perlahan terasa berat. Lalu dengan suara pelan hampir berbisik, ia berkata,
“Rev…”
“Ada apa?”
Sahira menelan ludah sulit.
“Saga…”
Revano langsung diam.
"Dia telah kembali.”
Wajah Revano langsung berubah kaku.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.