Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Balik Kain Emas
Hari setelah turnamen berakhir, Sekte Pedang Langit masih dipenuhi sisa-sisa euforia. Bendera-bendera masih berkibar, lentera-lentera masih menyala, dan para pedagang masih sibuk membereskan kios-kios mereka. Tapi sebagian besar peserta sudah mulai berangsur pulang—rombongan sekte kecil kembali ke kota masing-masing dengan membawa kebanggaan atau kekecewaan.
Sekte Awan Kelabu bersiap untuk berangkat.
Wei Zhen sedang menghitung perbekalan di halaman paviliun tamu. Zhang Yuan melipat tenda. Feng Mo memeriksa pedangnya, yang sedikit retak setelah pertarungannya melawan Lin Yao—tapi matanya berbinar. Meski kalah, dia merasa lebih hidup dari sebelumnya.
"Kita akan berangkat setelah sarapan," kata Wei Zhen. "Jalan pulang masih panjang."
Xiao Chen berdiri di balkon paviliun, menatap ke arah puncak tertinggi Sekte Pedang Langit—tempat kediaman Ketua Su Yunjian. Sejak turnamen berakhir, pikirannya tidak bisa lepas dari sesuatu yang dia rasakan di sana. Getaran samar dari kain emas di balik jubahnya. Denyutan yang lebih kuat setiap kali dia menghadap ke arah puncak itu.
Ada sesuatu di sana, pikirnya. Sesuatu yang terkait denganku.
"Xiao Chen!"
Suara Wei Ling membuyarkan lamunannya. Gadis itu berdiri di bawah balkon, tangannya melambai. "Ada utusan! Dari Paviliun Harta Surgawi!"
—
Paviliun Harta Surgawi.
Bahkan Xiao Chen, yang baru beberapa minggu mengenal dunia ini, sudah membaca tentang mereka. Sebuah organisasi netral yang beroperasi di seluruh Benua Tengah—bukan sekte, bukan klan, melainkan jaringan perdagangan raksasa yang mengendalikan distribusi artefak, pil, formasi, teknik, dan bahan-bahan kultivasi langka. Mereka memiliki cabang di setiap kota besar, dan markas pusat mereka di Ibukota Benua dikatakan menyimpan harta karun yang bisa membuat sekte raksasa pun iri.
Utusan itu adalah seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Jubah merah marunnya dihiasi sulaman benang emas berbentuk paviliun—lambang organisasinya. Rambutnya hitam legam, diikat sanggul tinggi dengan tusuk giok. Wajahnya cantik dengan fitur tajam: rahang tegas, hidung mancung, dan mata cokelat gelap yang memancarkan kecerdasan. Kulitnya putih bersih, kontras dengan jubah merahnya. Tubuhnya ramping dan tinggi, gerakannya penuh keanggunan yang terlatih.
Tingkat kultivasinya: Tahap Pembentukan Inti tingkat 7. Untuk seorang utusan seusia itu, itu adalah pencapaian yang sangat mengesankan.
"Aku Xu Mei," katanya dengan nada bisnis yang sopan tapi tegas. "Utusan dari Paviliun Harta Surgawi, Cabang Kota Seribu Angin."
Wei Zhen membungkuk hormat. "Tetua Wei Zhen dari Sekte Awan Kelabu. Apa yang bisa kami bantu?"
Xu Mei tidak langsung menjawab. Matanya menyapu rombongan Sekte Awan Kelabu—Wei Zhen, Wei Ling, Feng Mo, Zhang Yuan—dan akhirnya berhenti pada Xiao Chen.
Dan di situ, ketenangan profesionalnya retak.
Pipinya sedikit memerah. Dia berdeham, mengalihkan pandangannya, lalu kembali menatap Xiao Chen seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Aku... aku datang membawa undangan. Untuk pemuda berambut putih itu."
"Untukku?" Xiao Chen berjalan mendekat, langkahnya ringan. Begitu dia berdiri tepat di depan Xu Mei, sang utusan harus mendongak sedikit untuk menatap matanya—dan itu adalah kesalahan.
Mata ungu keemasan itu menatapnya dengan hangat, penuh rasa ingin tahu, dan entah bagaimana terasa seperti menembus langsung ke dalam pikirannya.
"Ya—ya." Xu Mei menelan ludah, berusaha memulihkan profesionalismenya. "Paviliun Harta Surgawi menyaksikan penampilanmu di turnamen. Direktur cabang kami, Tetua Luo, ingin bertemu denganmu. Dia mendengar tentang... keahlianmu yang tidak biasa."
"Keahlianku?"
"Menciptakan artefak." Xu Mei mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah. "Kami mendengar dari beberapa saksi bahwa kau bisa menciptakan pedang hanya dengan... kehendak. Dan pedang itu setidaknya Artefak Fana tingkat Puncak, mungkin bahkan tingkat Raja."
Di belakang Xiao Chen, Wei Zhen menegang. Jadi berita itu sudah menyebar.
"Siapa yang memberitahumu?" tanya Xiao Chen, nada suaranya masih santai.
"Aku tidak bisa mengungkapkan sumber kami. Tapi Paviliun Harta Surgawi memiliki... jaringan informasi yang luas." Xu Mei tersenyum tipis—senyum bisnis yang terlatih. "Tetua Luo hanya ingin berbicara. Tidak ada paksaan. Jika kau bersedia, Paviliun akan menyediakan penginapan dan biaya perjalanan."
Xiao Chen menatapnya beberapa detik. Lalu dia tersenyum—senyum yang membuat Xu Mei lupa cara bernapas selama satu detik penuh.
"Baiklah. Aku akan ikut."
"Xiao Chen," potong Wei Ling cepat. "Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kita tidak tahu apa yang mereka inginkan."
"Dia benar," tambah Wei Zhen. "Paviliun Harta Surgawi adalah organisasi bisnis. Mereka tidak melakukan sesuatu tanpa keuntungan."
"Aku tahu." Xiao Chen menoleh pada mereka. "Tapi justru karena itu aku ingin pergi. Mereka memiliki informasi. Mereka memiliki koneksi. Dan mungkin..." Dia menyentuh balik jubahnya, di mana kain emas tersimpan. "...mereka bisa membantuku menemukan jawaban."
Wei Ling ingin membantah, tapi kata-katanya terhenti. Dia tahu ekspresi itu—ekspresi Xiao Chen ketika dia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Dan dia tahu tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Aku akan ikut," katanya akhirnya.
"Aku juga," tambah Feng Mo.
"Dan aku!" Zhang Yuan mengangkat tangannya.
Xu Mei menggeleng. "Maaf, undangannya hanya untuk Xiao Chen. Tapi..." Dia ragu sejenak. "...aku rasa aku bisa mengatur satu atau dua pendamping."
"Empat pendamping," kata Xiao Chen. "Atau aku tidak pergi."
Xu Mei menatapnya, lalu menghela napas. "Kau tahu cara bernegosiasi."
"Aku belajar dengan cepat."
—
Kota Seribu Angin berjarak dua hari perjalanan dari Sekte Pedang Langit, ke arah timur laut—lebih dekat ke pusat Benua Tengah.
Begitu mereka melewati gerbang kota, perbedaannya langsung terasa. Jika Kota Kayangan Awan hanyalah pemukiman kecil dengan beberapa bangunan bertingkat dua, Kota Seribu Angin adalah metropolis yang sesungguhnya. Jalan-jalannya lebar dan dilapisi batu putih yang dipoles. Bangunan-bangunannya menjulang tinggi—beberapa mencapai lima lantai—dengan atap genting berwarna-warni yang berkilau di bawah sinar matahari. Formasi penerangan melayang di setiap sudut jalan, dan formasi pelindung kota bersinar dengan cahaya biru yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah dilihat Wei Ling.
"Ini luar biasa," bisik Zhang Yuan, kepalanya menoleh ke segala arah seperti burung hantu yang bingung.
"Tutup mulutmu, Zhang Yuan," kata Feng Mo. "Kau terlihat seperti turis."
"Aku memang turis!"
Xu Mei memimpin mereka menyusuri jalan utama, melewati toko-toko yang menjual segala sesuatu yang bisa dibayangkan: pedang dan tombak (Artefak Fana tingkat Menengah hingga Tinggi), botol-botol pil di rak kaca (Pil Fana tingkat Rendah hingga Tinggi), gulungan formasi dan teknik yang dipajang di etalase. Harga-harga yang tertera membuat Wei Zhen hampir tersedak.
"Seratus Batu Spiritual Menengah untuk Pil Pemulihan Fana tingkat Tinggi?" bisiknya. "Di kota kami, harganya setengah dari itu."
"Itu karena di sini kualitasnya lebih terjamin," jawab Xu Mei tanpa menoleh. "Paviliun Harta Surgawi menjamin setiap produk yang dijual di kota ini. Jika ada yang cacat, kami menggantinya dua kali lipat."
Paviliun Harta Surgawi sendiri menjulang di pusat kota—sebuah bangunan megah tujuh lantai dengan atap emas yang bersinar. Formasi di sekelilingnya sangat kuat sehingga Xiao Chen bisa melihatnya tanpa perlu mencoba: Formasi Fana tingkat Puncak di lapisan luar, dan di dalamnya... sesuatu yang lebih kuat. Sesuatu yang mungkin mencapai tingkat Raja atau bahkan Kaisar.
"Silakan masuk," kata Xu Mei, membuka pintu utama.
—
Bagian dalam Paviliun Harta Surgawi adalah dunia tersendiri.
Lantai pertama adalah ruang pameran raksasa yang dipenuhi dengan etalase-etalase kristal. Di dalamnya, artefak-artefak berkilau, pil-pil melayang dalam botol transparan, gulungan-gulungan formasi yang memancarkan cahaya redup, dan kristal-kristal teknik yang menyimpan pengetahuan kuno. Para pembeli berjalan dengan hati-hati, ditemani oleh pemandu berpakaian merah marun.
Di sudut ruangan, seorang pria tua sedang menilai sebuah pedang dengan alat khusus, alisnya berkerut. Di konter lain, seorang perempuan muda sedang menawar harga sebotol Pil Pemecah Inti Fana tingkat Tinggi, suaranya penuh frustrasi. Di tangga menuju lantai dua, seorang kultivator berjubah hitam berdiri dengan tangan terlipat, tatapannya dingin dan tidak ramah.
"Sepertinya ada yang tidak suka dengan kehadiran kami," bisik Feng Mo.
Xiao Chen sudah menyadarinya sejak dia masuk. Pria berjubah hitam itu—Tahap Jiwa Baru Lahir tingkat 2—menatap mereka dengan mata penuh kebencian. Tapi bukan pada semua orang. Hanya pada... Xu Mei?
"Siapa dia?" tanya Xiao Chen pelan.
Xu Mei melirik sekilas. "Zhao Feng. Putra kedua dari Klan Zhao. Mereka pesaing kami di beberapa rute perdagangan. Dia tidak suka padaku."
"Kenapa?"
"Aku menolak lamarannya tahun lalu." Xu Mei mengangkat bahu. "Dia tidak menerima penolakan dengan baik."
Saat mereka melewati Zhao Feng, pria itu melangkah ke depan. "Xu Mei. Kau masih berkeliaran dengan orang-orang rendahan, kulihat."
Xu Mei berhenti, tapi tidak menoleh. "Zhao Feng. Aku sedang bekerja. Jangan halangi."
"Aku tidak menghalangi. Aku hanya ingin tahu siapa tamumu." Mata Zhao Feng beralih ke rombongan Xiao Chen, dan berhenti pada Wei Ling. Senyum sinis muncul di wajahnya. "Oh, lihat. Kultivator sekte kecil. Gadis ini bahkan belum mencapai Pendirian Fondasi."
Wei Ling mengepalkan tangannya.
"Dan yang ini..." Zhao Feng menatap Xiao Chen. "...rambut putih? Mata ungu? Apa kau badut sirkus?"
Xiao Chen tersenyum. "Badut sirkus biasanya lebih menghibur daripada dirimu."
Zhao Feng memicingkan matanya. "Mulut tajam untuk seseorang yang bahkan tidak memiliki kultivasi."
"Aku tidak perlu kultivasi untuk melihat bahwa kau mencoba menutupi rasa tidak amanmu dengan merendahkan orang lain. Itu strategi yang sangat... menyedihkan."
Beberapa pengunjung yang mendengar terkejut. Seorang pemuda tanpa kultivasi berani bicara seperti itu pada kultivator Tahap Jiwa Baru Lahir?
Wajah Zhao Feng memerah. "Kau—"
"Zhao Feng." Suara baru terdengar—dalam, berat, dan penuh wibawa. "Paviliun Harta Surgawi tidak mentolerir konflik di dalam bangunannya. Kau tahu aturannya."
Seorang pria tua muncul dari tangga lantai dua. Rambutnya putih—putih alami karena usia, bukan seperti Xiao Chen. Jubahnya merah marun dengan lebih banyak sulaman emas. Tongkat di tangannya adalah Artefak Fana tingkat Puncak. Dan kultivasinya... Tahap Transformasi Dewa tingkat 8. Salah satu kultivator terkuat yang pernah Xiao Chen temui.
"Ini pasti Tetua Luo," bisik Xu Mei. "Direktur cabang."
Zhao Feng mundur selangkah, wajahnya masih merah. "Aku hanya... menyambut tamu baru."
"Kau sudah melakukannya. Sekarang, silakan pergi." Nada bicara Tetua Luo tidak meninggalkan ruang untuk bantahan.
Zhao Feng melemparkan tatapan terakhir penuh kebencian pada Xiao Chen, lalu berbalik dan pergi.
Tetua Luo menatap Xiao Chen. Matanya yang tua dan berpengalaman menyapu dari ujung rambut putih hingga ujung jubah putih. Lalu dia tersenyum—senyum hangat yang kontras dengan suara beratnya.
"Xiao Chen," katanya. "Akhirnya kita bertemu."