Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman di tebing penyesalan
Kegelapan menyelimuti sekte Tian Long, bukan hanya karena malam yang kian larut, tetapi karena kabut ketidakadilan yang telah membeku menjadi hukum mutlak. Di bawah bayang-bayang kekuasaan keluarga Lu, nama Shang Zhi telah lama difitnah sebagai pengkhianat. Namun, karena sang target utama tidak berada di tempat, amarah para tetua yang diprovokasi oleh kelicikan Lu Tian dialihkan kepada mereka yang masih setia.
Di kedalaman penjara bawah tanah yang lembap dan berbau karat, Yuan Han meringkuk dalam kehampaan. Enam tahun lalu, ia adalah pemuda yang periang dengan tubuh subur dan tawa yang mengguncang ruangan. Kini, ia hanyalah bayangan dari dirinya yang dulu. Tubuhnya kurus kering hingga tulang rusuknya menonjol tajam, kulitnya tertutup lapisan luka cambuk yang tumpang tindih merah, biru, dan ungu. Sepuluh ribu cambukan setiap hari adalah ritual siksaan yang harus ia telan demi satu hal, kesetiaan.
Derap langkah kaki tiba-tiba memecah keheningan. Langkah itu tergesa-gesa, penuh keraguan yang beradu dengan kebencian. Yuan Han mendongakkan kepalanya yang berat. Rambut dan janggutnya yang panjang dan kotor menutupi sebagian wajahnya yang penuh bekas luka.
"Hei, bocah kurang ajar..." suara itu dingin, tajam seperti pisau yang digoreskan pada batu. Tetua Penegak Disiplin berdiri di depan jeruji besi, menatap rendah pada sosok yang sudah tidak menyerupai manusia itu. "Enam tahun berlalu, dan kau masih bersikeras menjadi anjing bagi pengkhianat itu. Kau tidak memberi kami pilihan."
Ia menghirup napas dalam, wajahnya mengeras. "Karena kau ingin berbagi kemuliaan dengannya, maka kau akan berbagi nasib dengannya. Bawa dia ke Tebing Penyesalan!"
Tebing Penyesalan adalah luka menganga di sisi paling gelap Pegunungan Tian Long. Itu adalah tempat di mana angin sedingin es berhembus tanpa henti, membawa serta percikan petir lemah yang dirancang bukan untuk membunuh, melainkan untuk menyiksa saraf korbannya setiap detik. Formasi kuno di sana mampu mengikis kultivasi seorang kultivator secara perlahan hingga mereka menjadi manusia biasa yang cacat dalam hitungan minggu.
Yuan Han diseret paksa keluar dari selnya. Sebelum dibuang, ia dibawa ke sebuah ruangan megah di dalam sekte. Di atas meja kayu cendana, tersaji berbagai hidangan mewah yang aromanya memenuhi ruangan. Itu adalah 'hidangan terakhir' bagi mereka yang akan menghadapi kematian perlahan.
"Makanlah," perintah Tetua Disiplin dengan nada meremehkan.
Yuan Han menatap hidangan itu, lalu beralih menatap para tetua di depannya. Matanya yang cekung tiba-tiba berkilat. "Kalian..." suaranya parau, pecah seperti gesekan amplas, namun api di dadanya belum padam. "Kalian takut... Kalian takut tidak mampu mengendalikannya saat dia kembali... Hehehe..."
Tawa dingin itu menggema, membuat bulu kuduk para penjaga berdiri. "Sungguh manusia rendahan yang bersembunyi di balik jubah kebajikan!"
Cuih! Yuan Han meludah tepat ke wajah sang Tetua Disiplin.
Sebuah tendangan keras mendarat di perut Yuan Han, membuatnya terlempar hingga menghantam dinding. "Bajingan iblis! Siapa yang memberimu hak untuk bicara?!" teriak sang Tetua dengan wajah merah padam karena murka.
Yuan Han hanya tersenyum meski darah segar merembes dari sudut bibirnya. Ia sama sekali tidak menyentuh hidangan itu. Baginya, memakan pemberian mereka adalah bentuk penyerahan diri pada nasib. Karena muak, para tetua memerintahkan pengawal untuk segera menyeretnya menuju tepi jurang maut.
Di sisi lain sekte, di dalam Paviliun Awan Dingin, seorang gadis dengan mata sembab menatap keluar jendela yang berjeruji. Yun Xi baru saja mendengar kabar mengenai nasib Yuan Han dari seorang pelayan. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tahu betul, penyiksaan Yuan Han hanyalah umpan agar Shang Zhi muncul dalam keadaan kalap dan tidak stabil.
Pintu paviliun terbanting terbuka. Sosok Yun Jian masuk dengan langkah angkuh.
"Bajingan! Lepaskan aku!" teriak Yun Xi saat dua penjaga wanita segera memegangi lengannya. "Kalian memfitnah orang yang tidak bersalah dan menyiksa mereka yang lemah! Apakah ini jalan kebenaran yang kalian banggakan?!"
Yun Jian menatapnya dengan pandangan kosong yang mengerikan. "Kebenaran ditulis oleh pemenang, Yun Xi. Besok, saat Shang Zhi kembali, dia akan melihat sahabatnya sekarat di dasar Tebing Penyesalan. Saat itulah dia akan bertindak bodoh, dan kami punya alasan sah untuk mengeksekusinya di depan seluruh dunia."
Ia mendekat, membisikkan kata-kata yang lebih dingin dari es utara. "Oh, dan satu hal lagi... Persiapkan dirimu. Besok, kau akan dijodohkan dengan tuan muda dari kerajaan kecil di luar wilayah Qian Long. Kau adalah alat politik yang berguna."
Yun Xi membeku. Dunianya seakan runtuh seketika. Harapannya untuk melihat kembali cahaya itu seolah padam tertiup badai keputusasaan.
Namun, di perbatasan Gurun Kematian, suasana berubah secara drastis. Dua penjaga gerbang luar yang tadinya terkantuk-kantuk tiba-tiba tersentak. Suhu udara di sekitar mereka turun hingga membekukan embun di udara. Tekanan berat menghimpit dada mereka, membuat setiap napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.
Dari ufuk cakrawala, muncul sebuah pemandangan yang mustahil. Sepuluh ribu pasukan berbaju zirah hitam berbaris dengan disiplin yang mengerikan. Di depan mereka, seorang pria berjalan perlahan. Setiap langkah kakinya meninggalkan retakan di tanah dan getaran yang menjalar hingga ke jantung sekte.
Ia mengenakan jubah hitam dengan bordiran naga emas yang tampak hidup. Auranya penuh dengan kesuraman, namun di saat yang sama memancarkan kemilau yang begitu menyilaukan hingga para penjaga harus menutupi mata mereka.
"Si-siapa di sana?! Ini wilayah Sekte Tian Long! Berhenti!" teriak salah satu penjaga dengan suara yang gemetar hebat.
Pria itu, Shang Zhi, tidak berhenti. Wajahnya yang biasanya setenang telaga kini tertutup bayangan kemarahan yang pekat. Pupil matanya yang berwarna emas kini berputar dengan pusaran ungu yang mistis dan mematikan.
"Buka gerbangnya!!" teriak Komandan Lou dari barisan depan.
Shang Zhi mengangkat kepalanya, suaranya rendah namun bergema seperti guntur di langit malam. "Kalian semua... buat sekte ini rata dengan tanah. Jangan biarkan satu pun batu tersisa di atas batu lainnya... Namun, jika kalian melihat wanita tua dengan aura wibawa yang kuat, beri hormat dan menjauhlah."
Sepuluh ribu pasukan itu secara naluriah berlutut mendengar perintah sang penguasa, sebelum kemudian menyerbu dengan teriakan yang membelah langit, menghancurkan gerbang sekte seolah itu hanyalah kayu lapuk.
Shang Zhi tidak membuang waktu di Aula Utama. Mengikuti sisa energi yang pernah ia tanamkan pada Yuan Han, ia melesat bak kilatan cahaya ungu yang membelah hutan menuju Tebing Penyesalan.
Di tepi tebing, beberapa murid pengawas kaki tangan Lu Feng sedang tertawa terbahak-bahak. Mereka melemparkan batu ke arah Yuan Han yang dirantai di dinding tebing. Kepala Yuan Han bersimbah darah, namun ia menolak untuk menutup matanya.
"Ayo, berteriaklah! Di mana 'saudara' kaisarmu sekarang?" ejek salah satu murid sambil mengayunkan cambuk.
"Dia... dia pasti... akan datang..." bisik Yuan Han parau, kesetiaannya tidak tergoyahkan oleh rasa sakit.
Krak!
Tanpa peringatan, murid yang memegang cambuk itu terlempar ke udara, tulang-tulangnya hancur sebelum ia sempat menyadari apa yang menyerangnya. Shang Zhi muncul di tengah-tengah mereka seperti malaikat maut. Dengan satu lambaian tangan, gelombang energi murni menyapu sisa murid pengawas, melempar mereka jatuh ke dalam semak berduri yang beracun.
Shang Zhi melangkah menghampiri Yuan Han. Air mata mengalir di wajah sang penguasa saat melihat kondisi sahabatnya. Dengan satu sentuhan lembut, rantai besi hitam yang konon tak hancur oleh baja itu berubah menjadi debu halus.
"Kak... Zhi... Kau... Kau kembali..." Yuan Han tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah enam tahun hilang, sebelum akhirnya jatuh pingsan di pelukan Shang Zhi.
Shang Zhi menyalurkan energi dari Segel Ketiga yang baru saja ia buka. Cahaya ungu hangat merambat masuk ke tubuh Yuan Han, menstabilkan luka-lukanya. Shang Zhi kemudian berdiri, menggendong tubuh ringan sahabatnya di pundak. Ia menatap ke arah puncak sekte, di mana lampu-lampu peringatan mulai menyala, menandakan perang telah dimulai.
"Mereka ingin aku menyesal?" gumam Shang Zhi dengan tatapan yang mampu membekukan darah. "Malam ini, aku akan membuat seluruh pegunungan ini tahu apa artinya penyesalan yang sebenarnya."
Malam itu, Pegunungan Tian Long tidak lagi dingin karena salju, melainkan karena aura haus darah dari seorang penguasa yang telah terbangun sepenuhnya dari tidurnya. Pengadilan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Bersambung....