NovelToon NovelToon
Dekapan Bayang

Dekapan Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / CEO / Cintapertama
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Queenca04

Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Setelah kepergian Angkasa ke rumahnya kemarin malam sungguh membuat Rasti gelisah. Anggoro pun bertanya kepada istrinya.

"Kamu kenapa kok kayak gelisah?"

"Aku takut Angkasa melaporkan aku ke polisi Mas. Kalau aku masuk penjara nanti anak-anak sama siapa apalagi Jeni masih membutuhkan kasih sayang aku."

"Angkasa gak akan sampai setega itu melakukan hal seperti itu."

"Tapi kalau Angkasa nekat gimana?"

"Aku yang akan jamin, asalkan kamu jangan pernah mengulanginya lagi."

Rasti mengangguk sambil memeluk suaminya. "Aku janji gak akan seperti itu lagi Mas."

Mereka pun akhirnya istirahat karena hari pun sudah malam.

Di pagi hari saat mereka sibuk sarapan asisten rumah tangganya datang menyampaikan kalau ada tamu yang datang mencari Rasti.

"Siapa bi?"

"Katanya mau bertemu sama Nyonya dari kepolisian."

Deg

Mereka langsung terkejut saat mendengar kata polisi yang datang di pagi hari. Akhirnya mereka pun menemui polisi yang datang.

"Selamat Pagi, kami dari kepolisian mau menjemput ibu Rasti dengan kasus penganiayaan terhadap saudari Anggita. Ini surat tugas kami," polisi pun memberikan surat tugasnya. Anggoro yang melihat surat tugas dari polisi kaget ternyata anaknya bisa melakukan hal setega itu.

"Pak jangan bawa saya, saya gak melakukan itu semua fitnah pak," Rasti memohon kepada polisi.

"Maaf Bu silahkan nanti saja jelaskan di kantor polisi."

"Mas gimana dong ini. Aku gak mau di penjara."

Rasti pun di bawa menuju mobil polisi dan Anggoro yang sempat memberikan perlawanan karena tidak tega melihat istrinya dibawa ke kantor polisi.

"Kalau bapak mau melakukan pembelaan silahkan datang ke kantor."

Rasti pun di bawa menggunakan mobil polisi. Anggoro pun pergi menggunakan mobilnya mengikuti mobil polisi yang membawa istrinya.

Di kantor polisi Rasti langsung di mintai keterangan saat kejadian penganiayaan terhadap Anggie kemarin sore.

Anggoro datang membela istrinya dan ia rela jadi penjamin untuk istrinya. Hingga akhirnya Rasti pun bebas dengan syarat tidak melakukan tindakan serupa. Rasti pun berjanji tidak akan melakukannya lagi.

"Makasih ya Mas udah mau jadi penjamin aku sampai akhirnya aku bisa bebas."

"Kamu juga jangan lupa sama janji kamu untuk berubah dan gak mengulangi lagi."

"Aku janji Mas gak akan melakukan itu lagi sama Anggie."

Nia yang melihat ibunya di bawa ke kantor polisi sempat menangis ingin menolong ibunya tapi dia gak tahu bagaimana caranya. Tapi Nia di haruskan sekolah oleh Anggoro. Nia akhirnya pergi sekolah walaupun hatinya sempat sakit melihat ibunya di bawa polisi. Nia harus sebisa mungkin menutupinya supaya orang lain tidak tahu tentang keadaannya saat ini.

Hingga pulang sekolah Nia yang biasa tidak pergi bersama temannya kali ini ia memilih pulang karena suasana hatinya sedang kacau juga.

Saat masuk ke rumah Nia melihat ibunya sedang duduk di ruang tengah bersama adiknya.

"Mama," cicit Nia.

"Kakak kok udah pulang?"

"Mama bukannya..."

"Mama udah pulang karena ayah kamu yang menjamin Mama." Nia langsung memeluk ibunya yang begitu dirindukan, sebenarnya mereka berpisah juga belum satu hari.

"Gimana di sekolah, apa Anggie sudah masuk?" Nia menggeleng.

"Aku dengar dari teman-temannya kalau Anggie gak ada di rumah dan tetangganya juga gak ada yang tahu."

"Memangnya kemana dia?"

"Aku gak tahu. Biarin aja Ma aku senang kalau Anggie gak ada. Jadi kak Zian bisa dengan mudah aku deketin."

"Bagus. Itu namanya anak Mama. Pintar," Rasti memuji anaknya.

"Terus sekarang kamu sama Zian udah sampai mana?"

"Aku baru mulai cari perhatian aja sama Kak Zian. Ya, mungkin pelan-pelan aja dulu kali Ma."

"Ternyata anak Mama cukup pintar juga sekarang. Terus lanjutkan karena usaha gak akan mengkhianati hasil. Mama akan dukung semua kerja keras kamu."

"Mama coba ngobrol lagi lah sama orang tua Kak Zian siapa tahu orang tua Kak Zian luluh dan bisa menerima perjodohan kita."

"Nanti Mama akan coba ngobrol sama Bu Regina saja siapa tahu ia akan luluh karena Pak Dandi itu selalu setuju dengan apa yang dikatakan istrinya."

"Kapan Ma?"

"Nanti sore Mama ada pertemuan dengan teman-teman Mama pulangnya mungkin langsung ke rumah Bu Regina."

Jam sudah menunjukkan pukul empat Rasti sudah sore Rasti pun sudah bersiap akan berkumpul dengan teman-teman sosialita nya.

Nia yang melihat ibunya akan pergi lalu bertanya, "Mau pergi sekarang Ma?"

"Ini teman-teman Mama udah nunggu di sana. Mama pergi dulu ya."

Setelah pamit dengan anaknya rasti langsung mengendarai mobilnya dan pergi menemui temannya. Kini Rasti ada di sebuah salon kecantikan, di sana juga sudah ada ke tiga temannya. Pertemuan mereka juga tidak hanya sampai di sana saja tapi dilanjutkan ke restoran mewah.

"Gimana jeng jadi hari ini beli berlian? Ini saya sudah bawa berlian baru," salah satu temannya Rasti memperlihatkan cincin berlian bermata biru.

"Bagus banget sih jeng aku beli yang ini," Rasti pun memilih cincin berlian bermata biru itu.

"Itu cocok banget buat Jeng Rasti," seru temannya.

Rasti yang sedang sibuk melihat berliannya tiba-tiba mendengar orang yang menyapanya.

"Bu Rasti," Rasti yang mendengar namanya di panggil lalu menoleh ke arah sumber suara.

"Bu Regina, di sini juga? Sama siapa?"

"Saya ke sini sama Ziva," tunjuk Regina pada anaknya yang sedang duduk tak jauh dari tempat duduk Rasti.

"Bu Gina bisa saya bicara sebentar," Regina pun mengangguk.

Hingga mereka pun kini duduk di meja tempat Regina bersama anak perempuannya duduk di sana.

"Maaf sebelumnya Bu Regina kayak kalau saya bareng sama Nia juga kayaknya bakalan seru ya. Saya berharap Nia berjodoh sama anaknya Bu Regina."

"Maaf sebelumnya Bu Rasti saya tidak akan memaksa anak-anak saya apalagi ini masalah perjodohan."

"Anak saya itu pintar lho Bu Regina selalu mendapat prestasi di sekolahnya. Selain prestasi di sekolah dia juga pintar masak juga lho Bu," Rasti tak hentinya mempromosikan anaknya di depan Regina tapi ie hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Rasti yang terus saja membanggakan Nia.

Hingga akhirnya Regina pamit terlebih dahulu karena anaknya yang lain menelpon. Diperjalanan Ziva terus saja cemberut karena tidak suka dengan Rasti yang begitu percaya dirinya terus membicarakan anaknya.

"Kenapa sih Kak cemberut terus?" tanya Regina pada anaknya yang ada di sampingnya.

"Aku gak suka sama Tante Rasti yang ke-PDan."

Regina hanya tertawa saat mendengar ucapan anaknya.

"Kok Mama malah tertawa sih aku gak suka sama anaknya juga sok kecantikan padahal cantik pake make-up juga. kayak badut," cibir Ziva.

"Mama juga sebenarnya gak suka sih tapi ya biarin aja sesuka dia mau bilang apa. Abang kamunya juga suka sama orang lain."

"Siapa Ma?"

1
Abah Pnd
pasti jatuh miskin anggoro
Queen: pantas ya buat seorang tukang selingkuh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!