NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Satu VS Lima

Lima Lawan, Satu Tubuh

Ring itu kembali dipenuhi suara napas dan langkah kaki.

Bukan sorak.

Bukan teriakan.

Bukan pujian.

Hanya napas yang berat, tersengal, dan langkah-langkah kaki yang bergesek dengan lantai kayu tua. Lantai itu telah retak di banyak tempat, menyimpan bekas luka dari puluhan tahun latihan brutal—retakan yang diisi keringat, darah, dan tulang yang pernah patah lalu dipaksa menyatu kembali.

Tidak ada penonton di sekeliling ring.

Yang ada hanya instruktur, penjaga, dan mereka yang menunggu giliran—wajah-wajah tanpa ekspresi, mata yang dingin, dan tubuh-tubuh yang telah belajar bahwa di tempat ini, rasa kasihan adalah kelemahan.

Bella Shofie melangkah masuk ke tengah ring.

Usianya lima belas tahun kini. Tubuhnya tidak lagi rapuh seperti gadis kecil yang dulu gemetar saat pertama kali mengenakan sepatu pointe. Bahunya kini lebih kokoh, garis otot kakinya jelas, dan langkahnya mantap. Tatapan matanya tidak lagi mencari pengakuan atau persetujuan.

Tatapan itu mencari celah.

Ia berdiri tegak, mengatur napas, merasakan denyut jantungnya sendiri yang stabil namun kuat. Bau keringat dan darah lama memenuhi udara, bercampur dengan aroma kayu lembap.

Di sudut ruangan, Madam Doss berdiri dengan tangan terlipat di dada.

Posturnya lurus. Tatapannya tajam. Tidak ada sedikit pun emosi yang terlihat di wajahnya. Ia tidak memberi instruksi, tidak memberi semangat, dan tidak memberi peringatan.

Ia hanya menilai.

Beberapa tahun lalu, perempuan itu pernah meragukan Bella. Menganggapnya terlalu lembut. Terlalu terikat pada balet. Terlalu berbahaya untuk dibentuk sebagai senjata karena ia masih memiliki sisa-sisa keindahan dalam geraknya.

Hari ini, Madam Doss tidak berkata apa pun.

Ia hanya menunggu.

Lawan pertama Bella masuk ke ring.

Seorang remaja lelaki bertubuh besar, lebih tinggi darinya, dengan lengan penuh bekas luka lama. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Ia tidak tersenyum, tidak meremehkan, dan tidak menunjukkan keraguan.

Ia tahu ini bukan latihan biasa.

Ini seleksi.

Bel berbunyi.

Bella tidak menyerang lebih dulu.

Ia bergerak menyamping, langkahnya ringan namun rendah, seperti menari di atas ujung lantai. Kakinya tidak melompat, tidak mengudara. Ia menempel pada ring, merasakan batas-batasnya.

Lawannya maju cepat, melontarkan pukulan lurus yang berat, tinju besar mengarah langsung ke wajah Bella.

Bella menghindar dengan plié rendah. Lututnya menekuk, tubuhnya menurun dan berputar, lalu bangkit dengan jab cepat ke rahang lawan.

Tidak keras.

Tidak indah.

Tepat.

Lawan itu terkejut. Kepalanya terdorong sedikit ke samping. Namun ia tidak jatuh. Ia membalas dengan hook kanan yang menghantam bahu Bella.

Tubuh Bella terdorong ke belakang. Rasa nyeri menyambar dari bahu hingga lengan.

Namun kakinya tetap berdiri.

Ia berputar, setengah pirouette, mengalihkan arah serangan, lalu menghantam rusuk lawan dengan cross tajam. Bunyi napas lawan terputus sesaat.

Beberapa detik kemudian, sebuah uppercut pendek menghantam dari bawah.

Lawan pertama jatuh berlutut, satu tangan menahan lantai, napasnya kacau.

Bel berbunyi lagi.

Tidak ada waktu istirahat.

Lawan kedua dan ketiga masuk bersamaan.

Beberapa orang di pinggir ring saling melirik. Madam Doss sedikit menyipitkan mata.

Ini bukan pertarungan adil.

Ini ujian.

Dua lawan bergerak dari arah berbeda, mencoba mengepung. Bella mundur setengah langkah, mengatur napas, merasakan denyut di bahunya yang mulai sakit. Ia tidak panik. Ia tidak terburu-buru.

Ia mengandalkan footwork balet yang telah menempel di ototnya sejak kecil.

Ia melompat kecil ke samping, menghindari serangan pertama, lalu merendah untuk menghindari pukulan kedua. Namun sebuah tendangan rendah menghantam betisnya.

Tubuh Bella terjatuh.

Punggungnya menghantam lantai ring. Udara seakan keluar dari dadanya.

Lantai terasa keras. Dingin. Tidak memaafkan.

Rasa sakit menjalar cepat.

Namun Bella bangkit tanpa menunggu hitungan.

Ia menyerang lebih dulu sekarang.

Gerakannya berubah. Lebih cepat. Lebih agresif. Tubuhnya berputar dan berpindah sudut, membuat dua lawannya saling menghalangi tanpa mereka sadari.

Dengan satu gerakan memutar tubuh, ia menghantam wajah lawan kedua. Darah langsung menyembur dari hidung lawan itu. Tanpa berhenti, Bella menyapu kaki lawan ketiga dengan gerakan rendah dan tajam.

Satu jatuh keras ke lantai.

Satu terpental ke tali ring.

Bella terengah. Dadanya naik turun cepat. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.

Namun matanya menyala.

Bel berbunyi.

Tiga telah tumbang.

Madam Doss melangkah lebih dekat ke ring. Suara langkahnya terdengar jelas di ruangan yang kini sunyi.

“Kau belum selesai,” katanya dingin.

Dua petarung terakhir naik ke ring.

Mereka lebih besar. Lebih tua. Lebih berpengalaman. Tatapan mereka tidak sekadar fokus—ada amarah di sana, dan keyakinan bahwa mereka bisa menghancurkan gadis lima belas tahun di hadapan mereka.

Bella menarik napas dalam.

Lima lawan.

Satu tubuh.

Pertarungan dimulai tanpa aba-aba.

Pukulan datang bertubi-tubi. Salah satu lawan berhasil mengenai pipinya dengan keras. Pandangannya sempat berkunang. Dunia bergetar sesaat. Darah hangat mengalir dari hidungnya.

Namun Bella tidak jatuh.

Ia mengingat ruang tertutup.

Push-up tanpa hitungan.

Latihan tanpa cermin.

Ia memutar tubuhnya, bergerak di antara pukulan. Gerakannya kini bukan lagi balet yang lembut. Ini balet yang dimodifikasi untuk bertahan hidup.

Ia menghindar. Memukul. Mundur. Lalu menyerang kembali.

Satu lawan berhasil dijatuhkan dengan kombinasi jab, cross, hook yang diakhiri sapuan kaki. Tubuh lawan itu jatuh dengan bunyi berat.

Lawan terakhir maju dengan amarah.

Pukulan menghantam perut Bella. Udara keluar dari paru-parunya. Lututnya hampir menyentuh lantai.

Namun Bella tersenyum tipis.

Ia berputar.

Gerakan balet yang dulu hanya indah kini menjadi senjata.

Dengan satu putaran cepat, ia memanfaatkan momentum tubuhnya, menghantam rahang lawan dengan uppercut berputar. Bunyi benturan terdengar jelas.

Lawan itu jatuh keras ke lantai ring.

Sunyi.

Bella berdiri di tengah ring.

Tubuhnya penuh luka. Napasnya berat. Darah mengalir dari hidung dan bibirnya.

Namun ia berdiri.

Madam Doss menatapnya lama. Sangat lama.

“Kau salah,” kata Madam Doss akhirnya.

“Aku yang salah.”

Bella menoleh.

“Aku meragukanmu dulu,” lanjut Madam Doss.

“Sekarang aku melihatnya.”

Ia melangkah lebih dekat.

“Kau bukan hanya penari.

Kau bukan hanya petarung.”

Tatapan Madam Doss jatuh pada tato samar di balik pakaian latihan Bella—tanda yang suatu hari akan disempurnakan.

“Kau adalah BALLERINA MURDERER yang sesungguhnya.”

Bella menunduk sedikit. Bukan karena hormat, melainkan karena tubuhnya akhirnya mengizinkan rasa lelah muncul.

Namun di dalam dadanya, sesuatu berdetak lebih kuat dari rasa sakit.

Ia tahu satu hal pasti.

Jika ia bisa mengalahkan lima orang hari ini,

maka suatu hari nanti,

ia akan menemukan orang yang telah merenggut ayahnya.

Dan saat hari itu tiba,

Bella Shofie tidak akan ragu,

tidak akan gemetar,

dan tidak akan berhenti sampai kebenaran—atau darah—jatuh ke lantai.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!