Xiao Nan pernah menjadi Godfather paling ditakuti di Bumi, membangun kerajaan kriminal sebelum tewas akibat pengkhianatan orang terdekat. Namun kematian bukan akhir. Jiwanya bereinkarnasi ke dunia kultivasi di Pulau Matahari Abadi, bangkit sebagai penguasa bayangan sebelum kembali dikhianati dan dijatuhkan ke Pulau Bulan Surga.
Di sana ia terlahir sebagai tuan muda Keluarga Xiao. Ibunya dibunuh, bakat Akar Naga dirampas ayahnya sendiri, dan ia dibuang ke Reruntuhan Dewa dan Iblis. Di neraka itulah Xiao Nan bangkit. Ia mewarisi Sutra Bayangan Naga dan Tulang Naga Dewa, memadukan insting mafia dengan hukum kultivasi. Bersama entitas misterius Finn, ia membentuk Fraksi Shadow Dragon, menghancurkan Keluarga Xiao dari dalam. Namanya mengguncang dunia dan menyeretnya ke Turnamen Jalan Langit Sepuluh Ribu Ras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon King Nan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 3 - SERIGALA DI BALIK PINTU
Sebelumnya maaf ada pengumuman Sebelum lanjut
Tingkatan Dunia
Dunia dibagi menjadi 3 tingkat utama:
Kelas Rendah: Pulau Bulan Surga
Kelas Menengah: Pulau Matahari Abadi
Kelas Tinggi: Pulau Dunia Keabadian
Ranah kultivasi:
Masing masing dibagi menjadi 3 tingkatan(rendah, menengah, atas)
1. Pembersihan Tubuh – Membuang kotoran fisik, memperkuat otot, organ, dan fondasi jasmani.
2. Pengumpulan Qi – Menarik energi alam ke dalam tubuh dan mengalirkannya melalui meridian.
3. Pembentukan Dantian – Menciptakan wadah energi permanen sebagai pusat penyimpanan Qi.
4. Pemadatan Tulang – Memperkuat struktur tulang hingga melampaui batas manusia
5. Transformasi Jiwa – Menguatkan dan memurnikan jiwa, memungkinkan kontrol energi tingkat tinggi serta serangan spiritual.
6. Manifestasi Esensi – Mewujudkan energi dan kehendak (seperti Naga Bayangan) menjadi bentuk fisik nyata.
7. Penyucian Meridian – Membersihkan jalur energi hingga tingkat mikroskopis untuk aliran kekuatan sempurna.
8. Kelahiran Embrio Dao – Membentuk embrio hukum alam di dalam jiwa sebagai dasar penguasaan Dao.
9. Penghancuran Belenggu – Menghancurkan batas fana tubuh dan jiwa demi umur panjang dan kekuatan abadi.
10. Integrasi Ruang – Menyatu dengan ruang hampa dan memanipulasi jarak pendek secara instan.
11. Ranah Raja Berdaulat – Membentuk Domain pribadi, wilayah kekuasaan absolut atas hukum dan energi.
12. Puncak Nirvana – Pemurnian tertinggi tubuh, jiwa, dan Dao sebelum melangkah ke ranah keilahian.
13. Kaisar Bulan – Ranah tertinggi, penguasa keseimbangan kosmik dan penjaga siklus langit bumi.
Lanjut ke cerita...
Malam semakin larut, namun udara di dalam gubuk reyot itu terasa semakin berat. Xiao Nan masih duduk bersila, matanya terpejam rapat. Di dalam sistem sarafnya, energi hitam dari Sutra Bayangan Naga mulai bekerja seperti tentara semut yang rakus melahap memar, menyambung serat otot yang putus, dan membersihkan kotoran yang menyumbat meridiannya.
Setiap detik terasa seperti ribuan jarum yang menusuk, tetapi bagi pria yang pernah memimpin dunia bawah, rasa sakit fisik hanyalah gangguan kecil. Ia justru menikmatinya. Rasa sakit ini adalah pengingat bahwa ia masih hidup, dan hidup berarti memiliki kesempatan untuk membalas dendam.
"Tuan Muda..." Suara Ling’er memecah keheningan. Gadis itu tampak cemas sambil memegang semangkuk bubur encer yang lebih mirip air cucian beras. "Hanya ini yang bisa saya dapatkan dari dapur belakang. Tuan muda Xiao Jun memberikan perintah kepada para pelayan untuk memotong jatah makanan kita menjadi setengah mulai hari ini."
Xiao Nan membuka matanya. Kilatan dingin melintas di pupilnya.
Dalam ingatan tubuh ini, Xiao Jun adalah sepupu dari keluarga cabang, namun karena bakat kultivasinya yang mencapai ranah Pembentukan Qi tingkat menengah, ia menjadi salah satu antek favorit Xiao Yi kakak tertua Xiao Nan yang ambisius. Xiao Jun adalah orang yang paling sering menyiksa Xiao Nan hanya untuk menyenangkan Xiao Yi.
"Simpan buburnya, Ling’er. Kau makanlah bagianmu," ujar Xiao Nan datar. "Aku tidak butuh makanan yang diberikan karena belas kasihan seorang pengecut seperti Xiao Jun."
"Tapi Tuan Muda"
Brak!
Belum sempat Ling’er menyelesaikan kalimatnya, pintu gubuk yang sudah rapuh itu ditendang hingga terlepas dari engselnya. Tiga orang pemuda melangkah masuk dengan angkuh. Pemuda yang berada di tengah, dengan pakaian sutra biru yang mencolok, tertawa kecil sambil memainkan kipas lipat di tangannya.
Itu adalah Xiao Jun. Di belakangnya berdiri dua pengikut setia yang selalu membantu setiap aksi perundungannya.
"Wah, wah. Lihatlah siapa yang sudah bangun dari kematian," Xiao Jun mencibir, matanya menatap Xiao Nan dengan jijik. "Aku pikir pukulan kemarin sudah cukup untuk mengirimmu ke liang lahat, Xiao Nan. Kau benar-benar punya nyawa yang ulet, ya?"
Ling’er gemetar hebat dan segera berdiri di depan Xiao Nan. "Tuan Muda Jun, tolong... Tuan Muda Xiao Nan baru saja sadar. Jangan sakiti dia lagi."
"Minggir, pelayan rendah!" Salah satu pengikut Xiao Jun mendorong Ling’er hingga terjatuh ke lantai. Mangkuk bubur di tangannya pecah, isinya tumpah membasahi tanah kotor.
Melihat hal itu, Xiao Nan tetap duduk diam di tempat tidurnya. Tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya ketenangan yang mencekam. Di kepalanya, ia mulai menghitung. Tiga orang. Satu di ranah Pembentukan Qi tingkat 4, dua lainnya hanya pesuruh tingkat 2. Ruangan sempit. Jarak tempuh: tiga langkah.
"Xiao Nan, aku datang ke sini atas perintah Xiao Han," kata Xiao Jun sambil melangkah mendekat. "Dia ingin kau menandatangani surat pelepasan hak waris atas paviliun ibumu. Jika kau melakukannya, mungkin Kakak Yi akan membiarkanmu hidup tenang sebagai pengemis di kota bawah."
Xiao Nan menatap Xiao Jun dengan tatapan yang membuat pemuda berbaju biru itu merasa tidak nyaman. "Xiao Han? Anak kedua yang selalu bersembunyi di balik ketiak Xiao Yi itu?"
Xiao Jun tertegun. Berani sekali sampah ini menghina Xiao Han? "Kau... apa kau baru saja kehilangan akal sehatmu bersama dengan kultivasimu? Berlutut dan minta maaf sekarang!"
Xiao Nan berdiri perlahan. Meski tubuhnya masih terasa berat, kehadirannya saat ini terasa seperti gunung yang menjulang tinggi. Ia melirik Ling’er yang meringis di lantai, lalu kembali menatap Xiao Jun.
"Duniaku yang dulu mengajarkanku satu aturan emas, Xiao Jun," suara Xiao Nan terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan. "Jangan pernah memasuki rumah seorang pria jika kau tidak siap untuk tidak keluar lagi darinya."
"Hah? Apa yang kau bicarakan, sampah?!" Xiao Jun tertawa terbahak-bahak. Ia melayangkan tangan kanannya, berniat untuk menampar wajah Xiao Nan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Tangan Xiao Nan bergerak secepat bayangan. Bukannya menghindar, ia justru maju satu langkah, memperpendek jarak. Dengan teknik bela diri jarak dekat yang ia kuasai sebagai Lin Ye, ia menangkap pergelangan tangan Xiao Jun dan memutarnya dengan sudut yang tidak alami.
Krek!
"AAAGGGHHH!" Jeritan Xiao Jun menggema di malam yang sunyi.
Dua pengikutnya terperangah. Mereka tidak melihat ada energi Qi dari tubuh Xiao Nan, tapi gerakannya begitu presisi dan mematikan. Belum sempat mereka bereaksi, Xiao Nan melepaskan satu pukulan telak ke arah ulu hati Xiao Jun menggunakan tenaga dalam dari Sutra Bayangan Naga yang baru saja ia kumpulkan.
Bughs!
Xiao Jun tertekuk, wajahnya membiru karena kehabisan napas. Ia ambruk ke tanah, merangkak sambil memegangi tangannya yang patah.
Xiao Nan menatap kedua pengikut Xiao Jun yang kini gemetar ketakutan. "Bawa tuanmu ini pergi sebelum aku memutuskan untuk menggunakan kepalanya sebagai ganjalan pintu." Tanpa perlu diperintah dua kali, kedua pesuruh itu memapah Xiao Jun yang merintih dan lari terbirit-birit keluar dari gubuk.
Ling’er menatap Xiao Nan dengan mata terbelalak. "Tuan Muda... Anda... bagaimana Anda melakukannya?"
Xiao Nan menarik napas panjang, merasakan sedikit rasa sakit di dadanya karena memaksakan tubuhnya yang belum sembuh total. Ia memunguti pecahan mangkuk di lantai dengan tenang.
"Mereka mengandalkan Qi, Ling’er. Tapi mereka lupa bahwa tubuh adalah senjata, dan pikiran adalah pelatuknya," Xiao Nan menatap ke arah pintu yang terbuka. "Beritahu dapur... besok aku ingin makanan yang layak. Jika mereka menolak, katakan pada mereka bahwa Xiao Nan yang lama sudah tidak ada."
Malam itu, Xiao Nan menyadari satu hal. Berita tentang "perlawanannya" akan segera sampai ke telinga Xiao Yi, Xiao Han, dan mungkin Xiao Mei saudarinya yang sombong. Namun, itulah yang ia inginkan. Sebagai seorang Godfather, ia tahu bahwa cara tercepat untuk membangun kembali kekuasaan adalah dengan menciptakan kekacauan dan berdiri di puncaknya.
Xiao Yi... Xiao Han... Xiao Jun... kalian hanyalah pion-pion kecil di papan caturku,’ batin Xiao Nan sambil kembali duduk bermeditasi. ‘Permainan baru saja dimulai.’