NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suasana di teras rumah Vina mendadak berubah menjadi medan tempur kreativitas yang penuh tawa. Atas izin orang tua Vina, Pak Surya mengawal anak-anak ini untuk memberikan sambutan hangat bagi kepulangan teman mereka.

Di sudut teras, Dafa dan Rian tampak sibuk memasang spanduk bertuliskan "Welcome Home, Vina!" yang dihiasi coretan tangan khas mereka. Sementara itu, Aldi bertugas meniup tumpukan balon warna-warni sampai pipinya memerah.

"Woy, Al! Jangan gede-gede niupnya, entar meledak jantung gue copot!" seru Rian sambil menyeimbangkan tangga lipat.

"Tenang, ini balon kualitas premium, nggak bakal—"

DUARRR!

Belum sempat Aldi menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan nyaring memecah suasana. Namun, bukan balon Aldi yang pecah, melainkan ulah jahil Gavin. Dengan wajah tanpa dosa, Gavin baru saja menusuk balon tepat di dekat telinga Dara yang sedang serius merangkai bunga krisan di meja.

"GAVIIIIIIIN!!!" teriak Dara spontan, hampir saja ia melompat dari kursinya. "Sumpah ya, jantung gue beneran mau pindah ke lambung! Rese banget sih lo!"

Gavin tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. "Aduh, maaf Dar, habisnya lo serius banget kayak lagi ngerjain ujian nasional. Biar rileks dikit!"

Pak Surya yang sedari tadi duduk di kursi rotan sambil memantau pekerjaan mereka hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Gavin, jangan terlalu berisik. Ingat, tujuan kita di sini untuk membuat Vina merasa nyaman, bukan malah jantungan," tegur Pak Surya dengan nada kebapakan yang berwibawa namun tetap santai.

"Siap, Pak Bos! Habis ini Gavin insyaf," sahut Gavin sambil hormat dengan gaya jenaka, membuat teman-temannya yang lain ikut terkekeh.

Kehebohan itu seketika mereda saat mobil putih milik Tia memasuki halaman rumah.

Semua anak-anak langsung mengambil posisi siaga di balik pilar dan tanaman hias.

"Eh, eh, itu mereka! Sembunyi, sembunyi!" bisik Dafa memberi instruksi.

Pak Surya berdiri, merapikan kemejanya, dan bersiap menyambut di depan pintu. Ia bisa melihat dari balik kaca mobil, wajah Vina yang masih tampak pucat dan ragu untuk turun.

Saat pintu mobil terbuka dan Vina melangkah keluar dengan perlahan didampingi Raisa dan Tia, suasana mendadak hening. Vina menunduk, ia tampak mencengkeram ujung kardigannya erat-erat, merasa gugup menghadapi dunia yang pernah menyakitinya.

"Satu... dua... tiga!" komando Gavin dalam bisikan keras.

"WELCOME HOME, VINA!!!"

Mereka berlima keluar dari persembunyian sambil melepaskan beberapa confetti kertas warna-warni. Dara langsung berlari kecil membawa rangkaian bunga krisan yang tadi ia susun dengan susah payah.

Vina tertegun. Matanya yang tadi redup perlahan mulai berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena haru. Ia melihat wajah teman-temannya yang tersenyum tulus, bukan wajah-wajah yang menghakimi.

"Kalian... kok di sini?" bisik Vina lirih.

"Ya iyalah, masa kita biarin lo pulang sendirian tanpa selebrasi," sahut Aldi sambil memberikan jempol.

Dafa melangkah maju sedikit, mewakili teman-temannya. "Vin, kita semua kangen lo di sekolah. Tapi jangan buru-buru, istirahat dulu di rumah sampai lo beneran siap. Kita bakal sering main ke sini kalau lo nggak keberatan."

Raisa yang berdiri di samping Vina merasa tenggorokannya tercekat melihat pemandangan itu. Ia melirik ke arah Pak Surya, dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Pak Surya memberikan anggukan kecil tanda sebuah pengakuan bahwa perjuangan Raisa selama ini membuahkan hasil yang manis.

......................

Halaman belakang rumah Vina yang asri seketika berubah menjadi area pesta kecil yang hangat. Bau harum daging yang dipanggang di atas bara api mulai memenuhi udara, memicu selera makan siapa saja yang menciumnya. Di satu sudut, Gavin, Rian, dan Aldi sibuk memperebutkan sosis yang baru matang, sementara Dara asyik membantu Ibu Vina menyiapkan bumbu tambahan.

Di dekat panggangan besar, Pak Surya dan Bu Tia tampak bekerja sama. Pak Surya dengan telaten membalikkan potongan daging, sementara Bu Tia sibuk mengoleskan saus barbekyu menggunakan kuas kecil. Keduanya tampak larut dalam obrolan ringan mengenai agenda sekolah, namun sesekali mereka tertawa karena candaan kecil yang terlontar.

Melihat pemandangan itu, jiwa jahil Dafa langsung bangkit. Ia berjalan mendekat sambil membawa piring kosong, namun matanya menatap sang ayah dengan kerlingan nakal.

"Wah, wah... kompak banget nih panggangan sebelah sini. Kayaknya rasa dagingnya bakal beda ya kalau yang manggang Ketua yayasan sama Guru BK?" goda Dafa dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh yang lain.

Pak Surya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari dagingnya. "Tentu saja beda, Daf. Ini dipanggang dengan penuh ketelitian profesional."

"Oh, profesional ya, Yah?" Dafa menaikkan alisnya, melirik ke arah Bu Tia yang wajahnya mulai sedikit merona karena panas panggangan atau mungkin karena godaan Dafa. "Tapi kok Dafa lihat-lihat, Ayah semangat banget jagain panggangannya? Biasanya di rumah kalau manggang sosis sendiri suka gosong sebelah. Kalau dibantuin Bu Tia jadi lebih fokus ya, Yah?"

Gavin yang sedang mengunyah sosis di kejauhan ikut menimpali sambil berteriak, "Hati-hati, Pak Surya! Jangan sampai bumbu cintanya eh, bumbu barbekyunya tumpah kebanyakan!"

Bu Tia tertawa kecil, mencoba bersikap santai meski pipinya semakin memerah. "Dafa, kamu ini ada-ada saja. Sana bantu Gavin saja daripada menggoda kami di sini."

"Siap, Bu Tia! Tapi kalau Ayah butuh bantuan buat menjaga perasaan eh, maksudnya menjaga kematangan dagingnya Dafa siap sedia kok!" balas Dafa sambil berlari menjauh sebelum ayahnya sempat memberikan tatapan peringatan.

" maafin dafa ya, buk " ucap pak surya merasa tidak enak

Bu tia menoleh dengan senyum yang lebar " nggak papa pak, dia lucu "

" andai kamu ingat, ya " ucap batin pak surya sendu, namun dia tetap menampilkan senyuman di wajah nya.

Di tengah tawa teman-temannya yang pecah karena ulah Dafa, Vina duduk di kursi taman bersama Raisa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Vina bisa tertawa lepas melihat ekspresi malu-malu pak surya.

Raisa menyandarkan punggungnya, menatap langit sore yang mulai jingga. Hatinya merasa sangat damai melihat Vina yang mulai kembali menjadi dirinya sendiri. Kebisingan teman-temannya ternyata menjadi terapi terbaik untuk mengusir bayangan kelam di masa lalu.

"Bu Raisa," panggil Vina lirih sambil menatap ke arah teman-temannya. "Terima kasih sudah membawa mereka ke sini. Vina baru sadar, ternyata dunia nggak seseram yang Vina bayangkan kemarin."

Raisa merangkul bahu Vina dengan lembut. "Dunia memang punya sisi gelap, Vina. Tapi selama kamu punya cahaya seperti mereka di sekitar kamu, kegelapan itu nggak akan pernah bisa menang lagi."

Ayah dan Ibu Vina yang sedang menyiapkan meja makan menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Mereka menghampiri Pak Surya dan Bu Tia, memberikan potongan jagung bakar sebagai tanda terima kasih atas kehadiran mereka semua.

1
Zainatul Fibriyana
bagus bgt cerita
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Zainatul Fibriyana
bagus bgt ceritanya
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!