Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Kita Sudah Selesai
“Aku dihamili Kak Bastian, lalu ditinggal pergi gitu aja.”
Rendra tersentak mendengar pengakuan Selvi. Sorot matanya terlihat memerah, seperti merasa tidak percaya. Dengan telinganya sendiri, ia mendengar jika Selvi …
"Coba jelasin! Kenapa lo bisa serahin tubuh lo sendiri ke cowok bangsat itu!” Rendra menekan setiap perkataannya, seolah-olah ingin menghancurkan setiap isi sudut kota.
Ia memang membenci Selvi, tapi bukan berarti ia juga harus terima, mendengar orang yang dulu pernah ia sayangi sepenuh hati dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Sementara Selvi hanya tertunduk diam merasa menyesal. Ia merasa bodoh kenapa dulu ia tidak mendengarkan David, yang sebelumnya sudah memberikan informasi jika Bastian seorang penjahat kelamin.
Bahkan di umurnya yang dulu masih menginjak 18 tahun, dia dengan sengaja meniduri seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya. Hingga wanita tersebut hamil, dan membuatnya bercerai dengan suaminya.
Bukan hanya itu saja, David juga memberinya bukti jika sudah banyak wanita yang pernah diajak Bastian untuk tidur bersama di hotel mewah. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Bastian menjerat puluhan wanita dalam rayuan manisnya.
Meski sudah banyak bukti yang diberikan David. Selvi tetap menutup telinga, dan lebih memilih menjalin hubungan dengan Bastian.
"Selvi jawab pertanyaan gue!” bentak Rendra dengan suara tinggi, membuat Selvi tersentak merasa terkejut.
"Aku..." lidah Selvi terasa kelu saat ingin menjawab pertanyaan Rendra. Ia hanya bisa menangis karena menyesali yang sudah pernah terjadi.
Melihat Selvi yang hanya tertunduk menangis, Rendra dengan kasar membuang semua yang berada di atas meja makan, hingga membuat beberapa piring dan gelas jatuh ke lantai.
Prang
Suara pecahan piring, dan gelas membuat Selvi menutup telinga merasa ketakutan. Ia melihat ke arah Rendra yang seperti sudah kehabisan kesabaran.
“Lo itu kenapa bodoh banget sih! Lo biarin cowok bajingan itu menyentuh tubuh lo!” Rendra menunjuk kasar wajah Selvi.
"Harusnya lo mikir dua kali sebelum bertindak.”
"Rendra, gue dijebak,” Selvi mulai bersuara membela diri.
“Waktu itu David sudah kasih peringatan ke gue. Jangan sampai gue deket, apa lagi menjalin hubungan dengan Kak Bastian.”
Rendra mengernyitkan dahinya, “David?” ia merasa bingung, kenapa David ikut dalam permasalahannya dengan Selvi.
"Iya, Rendra. David tau tentang siapa sebenarnya Kak Bastian. Tapi bodohnya gue, kenapa dulu gue gak dengerin perkataannya dulu,” balas Selvi.
"Tunggu! Jadi David tau lo dirusak sama Bastian?” tanya Rendra yang sedikit kebingungan mencerna cerita Selvi.
Selvi menganggukkan kepala pelan, “Iya dia tau soal itu.”
"Terus kenapa David gak cerita sama gue?”
"Gue yang larang dia, Ren.”
"Why?”
"Karena gue merasa malu, dan gak pantes lagi buat bersanding sama lo,” balas Selvi menatap sendu ke arah Rendra.
“Dan soal waktu lo pergoki gue selingkuh sama Kak Bastian di taman kota 5 tahun yang lalu. Itu gue sengaja bikin lo supaya benci banget sama gue.”
Rendra masih tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar dari Selvi. Cerita masa lalu yang benar-benar baru ia ketahui sekarang, membuatnya merasa seperti dilema. Perasaannya seperti campur aduk, antara menyesal, marah, dan kecewa.
Orang yang dulu ia cintai begitu dalam, kini hidupnya telah dirusak oleh orang lain. Dan bodohnya, ia sendiri tidak tau apa-apa tentang itu.
"Rendra, waktu itu gue pengen banget ceritain masalah keluarga gue sama lo. Tapi…” Selvi menghapus air mata yang mulai menghalangi pandangan matanya.
"Gue sudah jatuh dalam jebakan Kak Bastian, waktu gue mau mutusin hubungan gue sama dia,”
“Kita awalnya hanya berkenalan biasa, sebatas formalitas karena perintah orang tua kami masing-masing. Dan setelah David memberi informasi tentang siapa Kak Bastian,”
"Aku mulai percaya, tapi Kak Bastian dengan lihainya membuat aku yakin dengan kata-kata manisnya. Dan setelah beberapa hari kenal, dia mulai merenggut satu-satunya hal yang paling aku jaga selama ini,” Selvi mulai menangis merasakan nyeri di dadanya.
Meski ia juga mengerti, sebanyak apapun ia menangisi hal yang sudah terjadi. Kenyataan tidak akan pernah berubah.
"Terus, sekarang dimana bayi lo?” tanya Rendra dengan suara dingin.
“Aku menggugurkan kandunganku karena merasa malu, Rendra. Ayahku-,”
Bruak
Rendra menggebrak meja dengan keras, “Lo bener-bener wanita gak waras, Selvi!” sorot mata Rendra memerah, seakan merasa kecewa mendengar tindakan Selvi, yang nekat menggugurkan kandungannya.
“Kenapa lo nekat gugurin bayi lo yang gak salah apa-apa, cuma karena lo malu punya anak tanpa ayah. Jangan cuma maunya enak doang!”
"Rendra, gue gak ngerti lagi harus ngomong apa. Kenapa lo masih benci sama gue, disaat gue udah ceritain apa yang terjadi 5 tahun yang lalu,” ucap Selvi yang sudah putus asa mencoba menjelaskan apa yang dia rasakan, namun Rendra tetap bersikap seakan tidak peduli dengannya.
"Waktu lo cerita udah di rusak sama Bastian, gue bersimpati sama lo, Selvi. Tapi setelah lo cerita udah nekat gugurin bayi dalam kandungan lo. Gue semakin yakin, udah seharusnya gue benci sama lo,” ucap Rendra penuh penekanan.
"lo gak seharusnya gugurin bayi itu. Dan harusnya lo tuntut si Bastian itu buat tanggung jawab.”
“Gue bisa apa, Ren?” tanya Selvi merasa putus asa.
"Bahkan disaat gue cerita sama ayah gue. Ayah memilih bungkam, dan maksa gue buat gugurin bayi dalam kandungan gue karena merasa malu,”
“Sementara Kak Bastian, dia menghilang entah kemana. Dan Om Carlos juga gak mau kasih tau gue, dimana keberadaan anaknya itu.”
Selvi menggenggam tangan Rendra, “Aku benar-benar menyesali semua perbuatanku, Rendra. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Meski aku sudah kehilangan semua yang aku miliki, tapi aku gak mau kehilanganmu lagi.”
Rendra menatap mata Selvi yang memang sungguh-sungguh menyesali perbuatannya dulu. Jujur perasaanya saat ini semakin kacau. Ia bingung harus memilih jawaban apa, untuk membalas perkataan Selvi. Namun, sepertinya ia harus segera mengambil keputusan tepat untuk mengakhiri ini semua.
Perlahan ia melepas genggaman tangan Selvi, “Gue gak bisa.”
"Kenapa? Apa karena aku udah rusak, dan membuatmu malu menjalin hubungan denganku lagi?” tanya Selvi dengan nada gemetar.
"Bukan tentang itu. Gue gak perduli lo rusak, atau tidak. Tapi…" Rendra beranjak dari tempat duduknya.
"Gue udah punya pengganti lo dalam hidup gue. Jadi urusan kita cukup sampai disini. Gue harap setelah ini lo perbaiki hidup, dan jangan sampai lo hancurkan hidup lo lagi,” ucapnya berlalu pergi meninggalkan Selvi.
"Gak! Aku gak mau!” Selvi dengan cepat mengejar Rendra, dan bersimpuh di hadapannya.
"Rendra please jangan tinggalin aku! Aku benar-benar menyesali perbuatanku dulu,” ia terus memohon sambil memegang kaki kanan Rendra, menahannya untuk tidak pergi meninggalkannya sendiri.
"Kesalahan lo terlalu fatal, Vi. Harusnya lo punya pendirian kuat, dan gak mudah dikendalikan sama ayah lo, cuma karena bisnis,” balas Rendra yang masih sekuat tenaga menahan emosinya.
“Gue minta maaf, dulu gak bisa menjadi seseorang yang bisa lo harapkan. Hingga lo minta bantuan ke orang lain, dan membuat lo berakhir seperti ini,” Rendra melepaskan tangan Selvi yang memegang kaki kanannya.
“Cerita kita udah selesai, Selvi.” Rendra berjalan melewati Selvi yang masih bersimpuh di lantai. Tanpa memperdulikan Selvi yang menangis, menjerit memanggil namanya. Rendra tetap berjalan lurus kedepan, tanpa ingin menoleh ke belakang.