Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Matahari belum muncul saat Aisya keluar dari kamarnya dengan keranjang belanja di tangan. Langkahnya terhenti sejenak ketika pintu kamar tamu di depannya terbuka.
Dari sana, Hendra melangkah keluar dengan pakaian yang sudah berantakan, wajahnya tampak lelah tapi ada semburat rasa puas sekaligus cemas yang bercampur aduk.
Hendra membeku saat matanya beradu dengan mata Aisya. Ia mengira istrinya akan mengamuk, menangis, atau setidaknya memaki karena suaminya tidak kembali ke kamar mereka semalaman.
Namun, Aisya hanya menatapnya dengan pandangan kosong, seolah Hendra hanyalah benda mati yang kebetulan ada di sana.
"Aisya, aku tadi malam ketiduran di sana karena Rima masih takut," ucap Hendra, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal.
Aisya tidak menjawab. Ia bahkan tidak berhenti untuk sekadar mendengarkan. Ia melangkah melewati Hendra begitu saja, aroma parfum Rima yang melekat di baju suaminya menusuk hidung, sayagnya ia tidak lagi merasa sesak. Rasa sakitnya sudah mencapai titik jenuh hingga berubah menjadi mati rasa.
"Terserah. Aku tidak peduli apa yang kalian lakukan. Aku terlalu sibuk untuk memikirkan hal itu. Aku pergi ke pasar dulu," ucap Aisya tanpa menoleh, lalu melangkah keluar rumah.
Hendra berdiri terpaku. Reaksi tenang Aisya justru membuatnya merasa terhina. "Kenapa dia tidak marah? Apa dia benar-benar sudah tidak peduli padaku karena sudah punya laki-laki lain?" gumamnya penuh prasangka.
Pikiran kotor yang ditanamkan Marni dan Rima semalam mulai menggerogoti logikanya. Tanpa sadar, Hendra menyambar kunci motornya. Ia tidak berangkat ke kantor, melainkan membuntuti Aisya dari kejauhan. Amarahnya sedang di ujung tanduk, ia butuh alasan untuk membenarkan kesalahannya semalam.
Aisya berjalan menyusuri gang sempit menuju pasar induk. Pikirannya melayang, merencanakan bagaimana ia akan memulai hidup baru. Langkahnya terhenti saat seorang pria berpenampilan urakan, dengan jaket jeans robek dan rambut berantakan, tiba-tiba menghadang jalannya.
"Neng Aisya, ya? Yang kemarin di minimarket?" tanya pria itu dengan nada bicara ramah.
Aisya mengernyit, merasa asing dengan pria itu.
"Maaf, siapa ya? Saya tidak kenal."
"Masa lupa? Ini aku, yang dititipkan salam sama mas yang kemarin menolong Neng," ucap pria itu sambil tiba-tiba mendekat dan langsung merangkul bahu Aisya.
"Eh! Apa-apaan ini?! Lepaskan!" Aisya memberontak, mencoba melepaskan diri.
Pria itu adalah suruhan Rima untuk menjebak Aisya agar Hendra semakin salah paham. Kini dia justru mempererat pelukannya dan berbisik, "Diam saja, Neng, atau saya sakiti."
Dari kejauhan, posisi mereka terlihat sangat mesra, seolah Aisya sedang menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
Tepat saat itu, raungan mesin motor Hendra terdengar.
Hendra melompat dari motornya dan berlari kencang ke arah mereka. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol.
"Kurang ajar! Jadi benar apa kata ibu selama ini?!" bentak Hendra, suaranta membuat beberapa orang di sekitar pasar menoleh.
Pria urakan itu sengaja memasang wajah kaget lalu segera lari melarikan diri, meninggalkan Aisya yang gemetar ketakutan.
"Mas! Ini tidak seperti yang kamu lihat! Dia tiba-tiba memelukku!" teriak Aisya sambil mencoba meraih tangan Hendra.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu! Dasar perempuan sok suci! Pantas saja rumah tanga kita belum dikasih anak, ternyata kamu celup sana sini Aisya?!" Hendra menepis tangan Aisya dengan sangat kasar hingga wanita itu terjatuh ke tanah. "Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Aisya! Semalam aku merasa bersalah padamu, tapi ternyata kamu lebih menjijikkan dari yang kubayangkan! Kamu berselingkuh di belakangku dengan preman pasar!"
"Demi Allah, Mas! Aku tidak kenal dia!" Aisya terisak, debu jalanan menempel di pakaiannya.
"Cukup, Aisya! Aku sudah muak dengan drama sok sucimu! Ibuku benar, Rima benar, semua orang benar kecuali aku yang terlalu bodoh memercayaimu!" Hendra menunjuk wajah Aisya dengan telunjuk yang gemetar karena amarah yang memuncak.
Hendra merasa ini adalah momen yang tepat untuk memutus semua beban hidupnya. Di kepalanya kini hanya ada bayangan jabatan Manajer dan kemewahan yang dijanjikan Rima.
"Mulai hari ini, detik ini juga, hubungan kita selesai!" Hendra menarik napas dalam, mengucapkan kata-kata yang paling ditakuti setiap istri. "Aisya Humairah, aku talak kamu! Aku jatuhkan talak tiga sekaligus padamu! Kamu bukan lagi istriku!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aisya. Ia menatap Hendra dengan tatapan tidak percaya. Pria yang ia bela di depan orang tuanya, pria yang ia layani sepenuh hati meski dihina mertua, baru saja membuangnya seperti sampah di pinggir jalan pasar hanya karena fitnah murahan.
"Mas kamu yakin dengan keputusanmu ini?" suara Aisya mendadak tenang, meskipun air mata mengalir deras. "Kamu membuangku demi wanita itu dan fitnah yang tidak kamu buktikan? Istighfar Mas!"
"Alah persetan dengan nasehatmu! Mulai sekarang, jangan pernah injakkan kakimu di rumahku lagi! Ambil barang-barang rongsokanmu itu dan cepat minggat!" teriak Hendra tanpa belas kasihan. Ia menaiki motornya dan pergi meninggalkan Aisya yang masih terduduk.
Aisya menatap punggung Hendra yang menjauh.
"Kamu benar-benar sudah terbujuk rayuan iblis Mas!" gumam Aisya. Ia bergegas bangkit sebelum menjadi tontonan lebih banyak orang.
"Sekarang aku harus pergi kemana?" gumamnya.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat