NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:66.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04

Arabelle masih berdiri mematung di tempatnya. Otaknya bahkan belum selesai memproses ancaman Nathan. Semuanya terdengar seperti mimpi buruk. Atau mungkin mimpi yang terlalu aneh untuk disebut mimpi buruk.

"Tunggu!"

Nathan yang baru hendak masuk ke mobil berhenti.

"Ada lagi?"

"Banyak!"

Nathan tampak tidak terkejut. Justru Mohan yang maju mendekat.

"Tidak perlu khawatir, Nona Arabelle."

"Tidak perlu khawatir katamu?!" Marah Ara, Mohan sedikit menjauh wajahnya dari Ara.

Arabelle menunjuk dirinya sendiri.

"Aku baru saja dipaksa menikah."

Mohan berdeham canggung.

"Poin yang bagus."

Arabelle menyilangkan tangan. "Lalu?"

"Saya akan mengurus seluruh administrasi pernikahan Anda dan Tuan Nathan."

Arabelle langsung membelalakkan mata. "Hah?"

Mohan mengangkat tablet miliknya. "Data Anda sudah ada."

Kening Arabelle langsung berkerut. "Sebentar..."

Mohan menunggu apa yang ingin Ara sampaikan.

"Apa data ku bisa didapat dengan mudah?"

Mohan mengangguk. "Bisa..." Lalu ia memperlihatkan layar tabletnya. Arabelle langsung mendekat. Matanya menyapu layar dengan cepat.

Melihat isi data tersebut, Arabelle langsung menghela napas lega.

"Oh."

Mohan berkedip. "Oh?"

"Syukurlah..."

Nathan dan Mohan saling menatap, mereka tidak mengerti. Biasanya orang justru panik ketika data pribadinya diketahui orang lain. Tapi Arabelle malah terlihat lega.

Mohan mengernyit. "Ada yang lucu?"

Arabelle menggeleng. "Tidak."

"Lalu kenapa lega?"

Arabelle tersenyum kecil. "Itu cuma data kecil."

Mohan menatap layar. "Cuma?"

"Iya."

Nathan yang sejak tadi diam mulai memperhatikan.

Arabelle melanjutkan, "Kalau cuma itu berarti kalian memang tidak menemukan apa-apa."

Mohan mengangkat sebelah alis.

"Apa yang harusnya kami temukan?"

Arabelle langsung tersenyum manis. "Tidak ada."

Nathan menyipitkan mata. Jelas gadis itu menyembunyikan sesuatu. Namun, bukan sesuatu yang terlihat berbahaya. Lebih seperti identitas yang sengaja ditutupi.

Mohan kembali melihat tablet.

"Memang ada data lain?"

"Tentu ada." Ujar Ara santai.

"Lalu kenapa tidak muncul?"

Arabelle mengangkat bahu santai. "Karena memang tidak akan muncul."

Nathan akhirnya membuka suara.

"Kenapa?"

Arabelle menatap pria itu. Untuk sesaat ia hampir mengatakan yang sebenarnya. Bahwa keluarga Vasillo memiliki sistem keamanan data yang sangat ketat. Bahwa identitas keluarga mereka dilindungi oleh tim khusus. Bahwa hampir tidak ada orang luar yang bisa mengakses informasi lengkap tentang dirinya. Namun, tentu saja ia tidak mungkin mengatakan itu. Karena kalau Nathan tahu siapa dirinya sebenarnya, mungkin seluruh rencana hidup mandirinya akan berantakan.

"Privasi." Jawabannya singkat.

Nathan tetap menunggu, Arabelle menghela napas.

"Data lengkapku baru bisa diakses publik setelah usiaku tiga puluh tahun."

Mohan hampir menjatuhkan tablet.

"Apa?"

Nathan juga tampak sedikit terkejut.

"Itu aturan keluargaku."

"Kelihatannya keluargamu cukup unik." Kata Nathan.

Arabelle tertawa kecil. "Sedikit."

Padahal kenyataannya sangat unik dan sangat berbahaya. Saat ini usia Arabelle baru dua puluh tujuh tahun. Ia baru lulus kuliah dua tahun lalu. Karena itulah sebagian besar data pribadinya masih terkunci rapat. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses. Nathan jelas bukan salah satunya.

Mohan menggeleng pelan. "Aneh..."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian." Bantah Mohan yang ikut pening menghadapi Ara.

"Aku tetap menerimanya sebagai pujian."

Nathan mengusap pelipisnya. Semakin lama berbicara dengan Arabelle, semakin banyak hal yang terasa tidak biasa.

Semua itu justru membuat Nathan semakin penasaran. Sementara Arabelle hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga pria ini tidak pernah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Jika sampai Nathan tahu bahwa calon ibu tiri untuk ketiga anaknya adalah putri keluarga Vasillo, mungkin bukan Nathan yang akan mengatur pernikahan ini. Melainkan Kenzo dan Kenzi yang akan datang membawa pasukan untuk menyeretnya pulang.

Satu jam setelah kejadian aneh bersama Nathan, Arabelle kembali fokus berjualan.

"Astaga." Arabelle menggeleng keras.

"Aku pasti sedang kena sial." Tepat saat itu, suara motor berderu memasuki area parkir depan sekolah.

Beberapa motor berhenti berjejer. Sekelompok remaja turun sambil tertawa dan bercanda. Di tengah mereka berdiri seorang pemuda tinggi dengan seragam SMA yang tidak dikancingkan rapi.

Theo Pradipta Anderson, Putra kedua Nathan.

"Bu, nasi kuning lima!" teriak salah satu temannya.

"Aku belum tua!" Balas Arabelle kesal, para remaja itu tertawa.

Theo ikut terkekeh kecil lalu duduk di salah satu meja. Namun, suasana santai itu tidak berlangsung lama. Dari seberang jalan muncul kelompok siswa lain dengan motor yang tak kalah ramai. Begitu melihat Theo dan teman-temannya, salah satu dari mereka langsung mencibir.

"Wah, lihat siapa yang datang."

Theo menoleh.

"Oh, geng pecundang dari sekolah sebelah."

Senyum mengejek langsung muncul di wajah lawannya.

"Katanya jago balap."

"Tapi kalah terus." Sambung yang lain.

Teman-teman Theo langsung berdiri.

"Apa kau bilang?"

"Kupingmu budek?" Tantang mereka.

Theo ikut bangkit. "Kau cari masalah?"

"Kalian yang terlihat seperti masalah."

Dalam hitungan detik suasana memanas. Para pelanggan mulai menjauh. Arabelle yang melihatnya langsung menghela napas.

"Jangan bilang..."

Salah satu meja terdorong. "Astaga."

Arabelle langsung keluar dari balik warung.

"Hei!"

Tidak ada yang mendengar, dorongan berubah menjadi pukulan. Pukulan berubah menjadi perkelahian. Dan dalam sekejap belasan anak SMA saling serang di depan warungnya.

"Berhenti!" teriak Arabelle.

Tetap tidak ada yang peduli.

"Hei!"

Masih tidak ada yang mendengar. Dengan kesal Arabelle langsung menerobos ke tengah kerumunan.

"Kalian semua berhenti!"

Saat ia mencoba menarik salah satu siswa, sebuah tangan tak sengaja menghantam pipinya.

Mendadak semua orang membeku, Arabelle juga membeku. Perlahan kepalanya menoleh. Bekas tamparan merah mulai terlihat di pipinya. Para siswa yang tadi berkelahi langsung menelan ludah.

Arabelle menarik napas panjang.

"Semuanya berhenti!" Suara teriakannya menggema di seluruh area sekolah.

Bahkan, burung-burung yang bertengger di pohon ikut terbang kaget. Semua siswa langsung berdiri tegak.

"Kalian pikir ini arena tinju?!" Tidak ada yang berani menjawab.

"Kalian merusak meja! Kalian merusak kursi!" Kalian mengganggu pelanggan!"

Arabelle menunjuk jalan.

"Bubar!" Tidak ada yang bergerak.

"Bubar sekarang!"

Dalam hitungan detik seluruh siswa langsung berhamburan. Bahkan, kelompok sekolah sebelah kabur lebih dulu. Tidak sampai satu menit, lokasi itu hampir kosong. Tinggal Theo dan teman-temannya. Arabelle menoleh perlahan. Tatapan tajamnya langsung membuat Theo merasa tidak nyaman.

"Kamu!"

Theo menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?"

"Iya, kamu!" Arabelle nampak kesal.

Theo mulai punya firasat buruk.

"Ganti rugi..." Ara mengulurkan tangannya.

"Apa?"

"Ganti rugi!"

Theo langsung menggeleng. "Tidak mau."

Arabelle menyipitkan mata. "Kenapa?"

"Karena yang merusak itu mereka." Theo menunjuk geng sekolah sebelah yang sudah kabur.

"Mereka sudah pergi."

"Itu bukan salahku." Bantah Theo.

"Kamu berkelahi di depan warungku."

"Itu juga bukan salahku." Protesnya lagi.

"Kamu duduk di sini."

"Iya, memang benar..."

"Berarti kamu pelanggan."

"Iya, terus?"

"Pelanggan harus bertanggung jawab."

Theo melongo, logika macam apa itu, "Itu tidak masuk akal."

"Aku yang punya warung."

"Itu tetap tidak masuk akal."

"Aku yang menentukan."

Theo langsung memijat pelipis, benar kata Ayahnya wanita ini memang keras kepala.

"Kak." Theo mencoba negosiasi.

"Jangan panggil aku Kak, aku bukan kakakmu!"

"Oke..." Theo menghela napas.

"Mbak..."

"Tidak!"

"Teteh?"

"Tidak!"

"Tante..."

Arabelle langsung melotot. "Kapan aku menikah sama Pamanmu, hah?!"

Theo menyerah, akhirnya dengan kesal ia merogoh dompet. Membuka isinya, lalu wajahnya berubah. Karena yang tersisa hanyalah uang kas kelompok motor mereka. Uang yang dikumpulkan susah payah. Teman-temannya langsung panik.

"Theo!"

"Jangan!"

"Itu uang kas!"

Theo menatap meja yang rusak. Lalu menatap Arabelle. Lalu kembali menatap dompetnya. Dengan ekspresi seperti orang kehilangan masa depan, ia menyerahkan uang itu.

"Nih."

Arabelle langsung mengambilnya. "Terima kasih."

Theo mendengus. "Kecil-kecil galak."

Arabelle mendengarnya. Perlahan kepala gadis itu menoleh.

"Kamu bilang apa?"

Theo langsung mundur satu langkah. Theo menatap uang kas yang kini berpindah tangan ke Arabelle. Rasanya seperti melihat sebagian jiwanya ikut pergi.

"Itu uang bensin seminggu..." gumam salah satu temannya.

"Itu uang nongkrong kita..." sahut yang lain.

Theo menghela napas panjang. Hari ini benar-benar hari yang buruk. Arabelle justru tersenyum puas sambil menghitung uang ganti rugi itu.

"Nah, begitu dong."

Theo mendengus, kemudian berbalik.

"Ayo cabut!"

Teman-temannya langsung berdiri. Mereka memang sudah tidak ingin berada di sana lebih lama. Namun, sebelum pergi, Theo sempat menoleh ke arah Arabelle. Tatapan kesalnya terlihat jelas.

"Lihat saja..."

Arabelle mengangkat alis.

"Lihat apa?"

Theo menunjuknya.

"Hidupmu bakal sial tujuh turunan gara-gara ketemu aku!"

Teman-temannya langsung menutup wajah.

"Aduh!"

"Matilah kita..."

"Itu kalimat terakhir yang seharusnya tidak dia ucapkan." Teman-temannya panik.

Theo masih belum sadar.

"Bahkan cucu-cucumu nanti bakal—"

Arabelle membanting sapu yang ada di dekat warung. Semua orang langsung membeku. Theo ikut terdiam, perlahan Arabelle mengambil sapu itu.

"Kamu bilang apa tadi?"

Theo refleks mundur. "Aku cuma bercanda."

"Aku tidak bercanda!"

Arabelle melangkah maju, Theo mundur lagi.

"Kak, santai ... Kak."

"Aku bukan kakakmu!"

Theo mundur lagi, Arabelle maju lagi.

"Aku minta maaf."

"Terlambat!"

Theo menelan ludah. Lalu melakukan satu-satunya hal yang menurutnya masuk akal.

"Lari!"

Theo langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin.

"Woi!" Teman-temannya ikut panik. Mereka langsung kabur bersama-sama. Sementara Arabelle mengejar dari belakang sambil mengacungkan sapu.

"Balik kalian! Aku belum selesai!"

"Theo, ini salahmu!" teriak salah satu temannya.

"Kenapa malah aku?!"

"Yang nyumpahin dia sial itu kamu!"

"Aku juga nggak nyangka dia marah!"

Arabelle berlari mengejar mereka.

"Berhenti!"

Para siswa di sekitar hanya bisa melongo menyaksikan pemandangan aneh itu. Sekelompok anak motor SMA berlari tunggang-langgang. Dikejar seorang gadis cantik dengan sapu.

Theo dan teman-temannya berhasil lolos. Mereka berhenti di ujung jalan sambil terengah-engah.

"Astaga, aku hampir mati. Itu wanita atau monster?" Theo memegangi lututnya.

Napasnya masih memburu. Theo mendengus kecil.

"Galak banget..."

"Ayo kita laporin ke Ayahmu."

Theo langsung menoleh ke temannya.

"Lapor apa?"

"Kalau ada wanita gila yang mengejarmu pakai sapu."

Theo berpikir sejenak, kemudian tersenyum jahil.

"Gila, kamu! Yang ada kita dimarahin!" Theo, lalu duduk dan beristirahat setelah lari cukup jauh.

1
seribu nama
Ayolah biar Tahu Rena si pacar Alya itu dapat pelajaran dari mamah Ara dan si Alya ga deket lagi sama si Reno😠
Retno Palupi
oh Kenzo yg punya arena balap?
Ariany Sudjana
semoga Theo lekas mendapatkan penanganan yang terbaik, dan pasti Arabelle yang akan mengurusnya
Jaya Fandi
menegangkan,,mksh ka,,banyak " up nya,, semangat 💪🏽💪🏽
Jaya Fandi
terserah otornya lah yg menang siapa,,misal nnti theo kalah psti ada hikmahnya,,💪💪
T&K
Heeeeey Reno! kamu kira akan lolos dr Kenzo? tunggulah penyelidikannya
Lisa Halik
semoga saja nathan tidak akan menyalahkan arabelle.....lepas ini kamu sadarlah theo
Les Tary
jgn sampai nanti nathan menyalahkan ara
Ita rahmawati
bengek sih kamu elang malah mikir nti setelah sadar Theo bakal diamuk emak tiri 🤦🤣🤣🤣
yumna
reno licik ara pasti dapet bukti bwat jeblosin reno k pnjraa....bukti d lintasin cctv.....abis lah kau reno...dan kau theo d amuk m ara
Aditya hp/ bunda Lia: puas juga ntar sama si Alya dia nanti jadi tau kalo si Reno emang berengsek
total 2 replies
Fia Ayu
🤣🤔🤣🤣
Fia Ayu
Awalnya aku ragu mau baca nie novel, kaga taunya asik banget
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣
seribu nama
Kalau Thei tahu pacarnya Alya itu Reno musuhnya gimana ya pasti marah banget. Plis Theo hati" jangan sampai dengan kamu celaka rahasia ibu tirimu terbongkar
Ariany Sudjana
Theo kecelakaan, Arabelle yang akan turun tangan untuk merawatnya
Ita rahmawati
tuh kan Theo kuwalat udh ngelawan SM ibu tiri sih 😂😂
Ariany Sudjana
wah kakaknya Arabelle jadi pengelola lintasan balap 😄
Ita rahmawati
owalah Kenzo toh
Ita rahmawati
ikut sedih ih aku 😔
Les Tary
harus dikasih pelajaran itu si reno dari segalanya kelakuan buruk
Angga Gati
semoga theo bisa mengatasi jebakan yg dbuat reno & menangin pertandingan lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!