【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Suara azan magrib berkumandang dari pengeras suara masjid desa, memutus sunyinya kebun belakang rumah. Gema panggilan salat itu sekaligus menyadarkan Tina dari lamunannya. Ia segera bangkit, membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel di lutut dan jemarinya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur. Setelah seharian bergelut dengan debu sekolah dan tanah kebun, air dingin yang membasuh tubuhnya terasa begitu menyegarkan, sedikit demi sedikit meluruhkan penat yang menggantung di pundak.
Malamnya, suasana rumah terasa agak berbeda. Entah karena angin apa, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah untuk makan bersama—sebuah momen yang cukup jarang terjadi dengan formasi lengkap. Di atas taplak meja plastik yang sudah agak pudar, tersaji nasi hangat, tempe goreng hasil masakan Tina tadi pagi, serta semangkuk sayur bening daun singkong yang baru saja ia petik dari kebun belakang.
Fandi sibuk menyendok nasi dengan porsi besar tanpa memedulikan orang lain, sementara Pak Rahman dan Bu Aminah makan dengan tenang dalam diam. Tina duduk di sudut meja, memandangi piringnya sendiri. Jemarinya memainkan sendok dengan ragu. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Sejak sore tadi, kata-kata Pak David terus terngiang-ngiang di kepalanya. Tawaran pekerjaan administrasi dengan gaji yang jauh lebih layak terus menuntut untuk disuarakan.
Tina ingin memulai pembicaraan. Ia ingin meminta pendapat Abah dan Ibunya. Namun, setiap kali ia membuka mulut, rasa ragu langsung menyergapnya. Ada ketakutan emosional yang besar di dalam dadanya; ia takut pembicaraan yang ia mulai justru akan memicu keributan baru, memancing ego Fandi yang sensitif, atau membuat Abahnya kembali merasa bersalah karena ketidakberdayaan ekonomi mereka. Akhirnya, Tina kembali menelan suaranya sendiri.
Namun, hal yang sama sekali tidak diduga oleh Tina terjadi. Keheningan malam itu tiba-tiba dipecah oleh suara dehaman Rika. Kakak perempuannya itu meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah kedua orang tua mereka dengan binar mata yang tidak biasa.
"Mah, Abah... Rika mau bicara sesuatu," buka Rika, memecah kecanggungan. "Rika punya rencana mau mulai buat bisnis sendiri. Dan... sepertinya Rika mau keluar mengajar saja dari sekolah swasta itu."
Gerakan tangan Bu Aminah yang hendak menyuap nasi seketika terhenti. Ia menatap anak sulungnya dengan kening berkerut, antara heran dan sangsi. "Memangnya kamu mau buat bisnis apa, Nak? Lagipula, kamu punya modalnya?" tanya Bu Aminah hati-hati. Pertanyaan yang sangat logis, mengingat selama ini untuk membeli susu anak saja Rika masih sering menodong uang dari saku Tina atau ibunya.
Rika tersenyum tipis, tampak lebih percaya diri dari biasanya. "Suami aku kan sekarang kerja di Kalimantan, Mah. Kemarin malam aku sudah teleponan dan membicarakan rencana ini panjang lebar dengan Mas Beni. Alhamdulillah, dia setuju sekali. Dia janji mau menyisihkan sebagian uang proyeknya bulan ini untuk modal awal aku."
Pak Rahman yang sejak tadi diam kini meletakkan gelas minumnya. Wajah tuanya yang dihiasi guratan lelah menatap Rika dengan serius. "Memangnya bisnis apa yang mau kamu jalani, Rik? Zaman sekarang cari uang itu tidak mudah, apalagi kalau baru mau merintis."
"Bisnis dekorasi dan hantaran pengantin, Bah," jawab Rika dengan mata berbinar-binar. "Sekarang kan lagi ngetren sekali itu. Orang-orang di desa kalau mengadakan acara akikah, lamaran, atau khitanan anak, pasti maunya pakai latar belakang dekorasi yang cantik untuk foto-foto."
Tina yang sejak tadi hanya menyimak, merasa ada yang aneh dengan tingkah kakaknya. Perubahan ini terlalu mendadak. Rika yang biasanya malas, hobi rebahan sambil bermain ponsel, dan selalu mengeluh lelah, tiba-tiba bicara tentang visi bisnis dengan penuh semangat. Ada rasa tidak percaya yang menggelitik hati Tina, namun ia mencoba rasional.
"Tapi, Kak... modal untuk beli alat-alat dekorasi itu tidak main-main loh," sela Tina, menyuarakan keraguannya dengan nada selembut mungkin agar tidak terkesan menjatuhkan. "Setahu Ina, harga tiang besi, lampu-lampu, dan propertinya saja sudah jutaan."
Rika menoleh ke arah Tina, anehnya kali ini ia tidak menyahut dengan ketus seperti biasanya. "Aku tidak langsung beli semuanya, Tin. Modal dari Mas Beni nanti mau aku pakai untuk menyicil dulu. Mulai dari beli beberapa gulung kain dekorasi dan bunga-bunga palsu. Sedikit-sedikit dulu, nanti kalau sudah ada untung dari sewaan pertama, baru ditambah lagi propertinya sampai jadi banyak. Aku melihat peluangnya besar sekali di kecamatan kita, belum banyak saingan yang harganya terjangkau."
Mendengar penjelasan yang cukup terstruktur dari Rika, Bu Aminah dan Pak Rahman saling berpandangan, lalu mengangguk-angguk pelan. Ada secercah rasa lega yang samar di wajah kedua orang tua itu. Setidaknya, anak sulung mereka mulai menunjukkan tanda-tanda ingin mandiri dan bertanggung jawab atas masa depannya sendiri.
Setelah makan malam selesai, tugas domestik kembali berlanjut. Tina membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor di dapur sendirian, sementara Rika masuk ke kamar untuk menidurkan bayinya. Selesai dengan urusan dapur, Tina melangkah keluar rumah lewat pintu depan untuk mencari udara segar.
Di teras rumah yang remang-remang oleh cahaya lampu pijar lima watt, Tina melihat ibunya sedang duduk di kursi kayu panjang, menikmati embusan angin malam yang berembuk pelan dari arah perbukitan. Wajah tua Bu Aminah tampak sedikit lebih rileks malam ini.
Tina berjalan mendekat, lalu ikut mendudukkan diri di samping ibunya. "Ma..." panggil Tina lembut.
"Iya, Nak? Kenapa belum tidur? Ini sudah malam," sahut Bu Aminah, menoleh dan mengusap bahu anak perempuannya yang selalu bisa diandalkan itu.
Tina terdiam sejenak, memandangi halaman rumah yang gelap. "Mama tidak berpikir ada yang aneh tidak sih dari Kak Rika? Tiba-tiba saja berubah seperti itu, punya ide bisnis segala."
Bu Aminah terkekeh pelan, tawa kecil yang tulus dan jarang terdengar akhir-akhir ini. "Yah... mungkin kakakmu itu sedang kesambar malaikat lewat, Tin," canda ibunya.
Mendengar gurauan ibunya, Tina tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa kecil. Suasana tegang yang biasanya menyelimuti hati Tina setiap kali berada di rumah ini mendadak mencair. "Iya juga ya, Mah. Tapi baguslah kalau Kak Rika sudah mulai sadar dan mau berusaha."
"Sebenarnya, dulu kakakmu itu tidak seperti itu, Nak. Dia anak yang rajin. Tapi entah kenapa, sifatnya mulai berubah drastis setelah dia menikah dan punya anak. Mungkin dia merasa stres karena suaminya harus kerja jauh di luar pulau, sementara kebutuhan hidup terus mendesak."
Tina mendengarkan dengan takzim. Ia mengangguk-angguk kecil, mulai mencoba memahami sisi lain dari kakaknya yang selama ini hanya ia lihat sebagai sosok yang menjengkelkan. "Iya, Mah. Dan baguslah kalau dia juga memutuskan berhenti mengajar di sekolah swasta yang kemarin. Kasihan Kak Rika, tempatnya mengajar yang itu kan jauh, mana jarang digaji tepat waktu. Sering menunggak sampai berbulan-bulan."
"Benar, Nak. Daripada tenaganya habis di sana tanpa kejelasan, lebih baik dia fokus mengurus anaknya sambil merintis usaha di rumah. Ibu cuma bisa berdoa semoga kakakmu bisa kembali seperti dulu lagi, jadi orang yang tekun," tutur Bu Aminah penuh harap.
Tina tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu ibunya. Percakapan singkat ini setidaknya memberi sedikit kedamaian di hatinya yang bergemuruh sepanjang hari.
Malam semakin larut. Jarum jam dinding di ruang tengah sudah bergeser melewati angka delapan. Setelah menunaikan ibadah salat Isya di sudut kamarnya yang sempit, Tina merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang tipis. Suasana desa sudah sunyi senyap, hanya menyisakan suara jangkrik yang saling bersahutan di balik dinding kamarnya.
Tina berbaring telentang, kedua tangannya diletakkan di bawah kepala, matanya menatap lurus ke langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya yang sempat tenang setelah mengobrol dengan ibunya, kini kembali berputar pada poros dilema yang melelahkan.
Kata-kata Pak David di dekat kantor desa tadi sore kembali terngiang dengan sangat jelas di telinganya. “Gajinya tentu jauh lebih layak daripada honor PAUD, Ina. Ada jaminan kesehatan juga...”
Tina menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan lewat mulut. “Apa iya aku terima saja tawaran Pak David, ya?” tanyanya pada diri sendiri dalam keheningan malam.
Tawaran itu sangat menggiurkan bagi seorang sarjana pengangguran seperti dirinya yang membutuhkan kestabilan finansial untuk membantu ekonomi keluarga. Namun, setiap kali logika Tina berkata "ambil", hatinya langsung ditarik kembali oleh rasa berat hati.
“Tapi... kalau aku terima pekerjaan itu dan harus bekerja penuh waktu di kantor grosir kecamatan, bagaimana dengan anak-anak di PAUD?” bayangan wajah polos Fatih yang memakan pisang goreng tadi pagi, wajah Sasa, Doni, dan tawa riang murid-muridnya langsung terlintas di benak Tina. Siapa yang akan mengajar mereka dengan penuh kesabaran jika ia pergi? Menemukan guru pengganti dengan honor sekecil itu di desa ini bukanlah perkara mudah.
Belum lagi masalah internal di rumahnya. Meski malam ini Rika menunjukkan tanda-tanda perubahan positif, bagaimana dengan Fandi? Adiknya itu masih menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja dengan kemalasannya. Siapa yang akan membantu Abah di sawah jika tiba-tiba tenaganya dibutuhkan? Siapa yang akan mengurus pekerjaan rumah dan memastikan Ibu tidak kelelahan?
Tina memiringkan tubuhnya, memeluk bantal lusuhnya erat-erat demi menghalau rasa sesak yang kembali merayap di dadanya. Ia berada di persimpangan jalan yang egois; memilih masa depannya sendiri dan mendapatkan uang yang layak, atau tetap bertahan menjadi lilin yang membakar diri demi menerangi kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Dalam pergulatan batin yang tak berujung itu, kantuk akhirnya menjemput Tina yang kelelahan secara mental. Di balik pejam matanya, ia hanya bisa berharap bahwa esok hari akan membawa petunjuk yang lebih terang bagi jalannya yang buram.