"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 8
Rumah itu terasa jauh lebih sunyi malam ini.
Tak ada suara televisi yang biasanya menyala menemani waktu makan malam mereka. Tak ada aroma masakan hangat dari dapur. Bahkan lampu ruang tengah pun hanya menyala setengah, menciptakan suasana dingin yang terasa asing.
Ervin terduduk sendirian di sofa dengan wajah kusut.
Kemeja hitam yang dikenakannya sejak pagi masih melekat di tubuhnya, kini penuh lipatan dan sedikit basah akibat hujan tadi sore.
Sedangkan di atas meja—ponselnya terus bergetar tanpa henti. Nama Jenita, nama Bu Indri, dan puluhan pesan dari kantor. Namun, tak satupun ia pedulikan.
Tatapan pria itu justru lurus ke arah tangga rumahnya yang nampak kosong. Seolah masih berharap Dinda muncul dari sana seperti biasanya.
"Mas, makan dulu."
"Mas, jangan tidur di sofa nanti badan kamu sakit."
"Mas, aku bikinin teh hangat ya?"
Sialnya, semua kenangan kecil itu terus berputar di kepalanya tanpa ampun.
Brak! Ervin memukul meja tepat di depannya hingga gelas kaca bergeser cukup keras.
"AARGH!" geramnya frustrasi. Pria itu menjambak rambutnya sendiri dengan napas memburu. Ia bahkan tidak tahu harus memperbaiki semuanya dari mana.
Karena kali ini... kesalahannya terlalu besar—sangat besar.
Suara pintu pagar yang terbuka membuat Ervin langsung mengangkat kepalanya cepat. Dengan langkah tergesa, ia segera berjalan menuju teras rumah.
Namun harapan di matanya langsung runtuh begitu melihat yang datang bukan Dinda. Melainkan seorang pria paruh baya pengantar paket.
"Permisi, Pak. Ini paket atas nama Bu Dinda."
Ervin langsung terdiam.
"Taruh aja di sana," jawabnya pelan.
Setelah pria itu pergi, Ervin mengambil paket kecil tersebut. Tatapannya jatuh pada tulisan nama istrinya yang tercetak rapi di sana.
Jantungnya kembali terasa nyeri.
Dulu, rumah ini terasa hidup karena keberadaan Dinda. Hal sesederhana paket online milik istrinya saja, mampu membuat rumah mereka terasa hangat.
Namun sekarang... semuanya terasa dingin, sepi, dan menyakitkan.
Sementara itu, di lain tempat—Dinda terduduk diam di kamar rumah orang tuanya. Wanita itu baru tiba satu jam lalu setelah memutuskan pulang ke kota asalnya menggunakan travel malam.
Ibunya yang melihat kondisi putrinya sejak tadi hanya mampu gelisah.
"Dinda..." panggil sang ibu pelan sembari membawa segelas teh hangat. Namun wanita itu tetap diam. Tatapannya kosong mengarah ke jendela kamar.
"Nak, sebenarnya ada apa sama Ervin?"
Mendengar nama itu saja, dada Dinda langsung terasa sesak. Air matanya yang sejak tadi berhasil ia tahan, perlahan kembali jatuh.
"Ibuk..." lirihnya dengan suara pecah.
Seketika wanita paruh baya itu langsung duduk di samping putrinya dengan panik.
"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir. Dinda langsung memeluk tubuh ibunya erat-erat. Dan untuk pertama kalinya sejak di rumah sakit tadi—tangisnya benar-benar pecah.
"Rumah tangga Dinda hancur, Buk..." isaknya gemetar.
Deg.
Tubuh sang ibu langsung menegang.
"Ervin selingkuh..." lanjutnya dengan tangisan yang semakin menjadi. "Dia bahkan punya anak sama perempuan lain."
"Ya Allah..." Wanita itu langsung memeluk putrinya semakin erat. Air matanya ikut jatuh mendengar pengakuan Dinda.
Sebagai seorang ibu, hatinya terasa sangat sakit melihat putrinya sehancur ini. Padahal selama ini... Dinda selalu terlihat kuat. Selalu berusaha terlihat baik-baik saja.
"Kenapa dia tega begini sama kamu..." lirih sang ibu dengan suara bergetar.
Sedangkan Dinda hanya menangis dalam pelukan wanita itu. Seluruh rasa sakit yang selama ini ia tahan, kini terasa pecah bersamaan.
"Aku kurang apa, Buk?" tangisnya lirih. "Aku selalu berusaha jadi istri yang baik..."
"Nggak, Nak..." sang ibu mengusap kepala putrinya lembut. "Kamu nggak kurang apapun."
"Tapi kenapa dia malah cari perempuan lain..." Kalimat itu membuat ruangan kembali dipenuhi tangisan.
Di saat bersamaan, ponsel Dinda kembali bergetar di atas kasur. Nama Ervin muncul lagi.
Panggilan ke-27 malam ini.
Namun wanita itu sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Bahkan melihat nama pria itu saja sudah membuat dadanya terasa sakit.
"Apa mau Ibuk angkat?" tanya sang ibu pelan. Dinda langsung menggeleng cepat.
"Nggak usah." Panggilan itu akhirnya mati sendiri. Namun beberapa detik kemudian, sebuah panggilan masuk lagi—dan lagi.
Seolah Ervin benar-benar tidak ingin menyerah.
Sementara di rumahnya, pria itu berdiri gelisah sambil terus mencoba menghubungi istrinya. Tangannya bergetar hebat. Matanya merah akibat menangis dan kurang tidur.
Begitu panggilannya kembali tak dijawab, Ervin langsung terduduk lemas di lantai ruang tamu.
"Angkat, Din..." lirihnya frustasi. "Aku mohon..." Namun tetap tidak ada jawaban dari istrinya.
Untuk pertama kalinya, Ervin benar-benar merasakan ketakutan luar biasa. Karena sekarang... Ia sadar bahwa Dinda bisa saja benar-benar meninggalkannya.
Dan ia tidak sanggup membayangkan hidup tanpa wanita itu.
Tok tok tok.
Suara pintu rumah membuat Ervin langsung menoleh cepat. Dengan penuh harap, pria itu segera membuka pintu.
Namun lagi-lagi—bukan Dinda. Melainkan Reno, sahabat dekatnya sejak kuliah.
"Wajah lo kenapa kayak mayat hidup?" celetuk Reno begitu masuk.
Namun detik berikutnya, pria itu langsung mengernyit melihat kondisi rumah yang berantakan.
"Lah, serius nanya... lo kenapa?" Ervin hanya diam.
Sedangkan Reno mulai duduk di sofa sambil memperhatikan wajah sahabatnya yang benar-benar kacau. "Lo habis berantem sama Dinda?"
Hening beberapa detik, sampai akhirnya—"Gue selingkuh dibelakang Dinda."
Deg.
Reno langsung menatap Ervin tak percaya.
"Gue punya anak sama perempuan lain."
Sontak Reno berdiri dari duduknya.
"Lo gila, Vin?!" Ervin tertawa kecil, tawa penuh penyesalan.
"Iya," lirihnya. "Gue emang segila itu."
Reno mengusap wajahnya kasar. Sebagai sahabat, ia bahkan tak menyangka Ervin bisa melakukan hal sejauh ini.
"Terus, Dinda udah tahu?"
Ervin mengangguk pelan.
"Dia lihat semuanya sendiri di rumah sakit."
Seketika Reno langsung terdiam. Ia tahu satu hal pasti. Dinda bukan tipe perempuan yang mudah membenci. Namun sekali hatinya hancur... akan sangat sulit diperbaiki lagi.
"Lo nyesel?" tanya Reno akhirnya.
Pertanyaan itu membuat Ervin tertawa hambar.
"Nyesel?" ulangnya pelan. "Gue rela ngancurin hidup gue sendiri kalau bisa muter waktu."
Hening kembali memenuhi ruangan. Reno menatap sahabatnya lekat-lekat. Baru kali ini ia melihat Ervin sehancur ini.
Pria yang biasanya selalu percaya diri dan tenang itu, kini terlihat seperti kehilangan arah hidupnya.
"Awalnya gimana?" tanya Reno pelan.
Ervin memejamkan matanya. Lalu menghela napas berat.
"Itu terjadi satu tahun lalu..." gumamnya lirih.
Dan untuk pertama kalinya—pria itu mulai mengingat kembali awal mula kesalahan terbesar dalam hidupnya.