NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:66k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07

Malam itu, jam menunjukkan pukul 10 malam. Rumah megah keluarga Anderson masih terang benderang. Tetapi, suasananya jauh dari hangat.

Nathan Pradipta Anderson duduk di ruang keluarga dengan wajah dingin yang membuat para pelayan memilih menjauh. Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Sejak pukul delapan malam, perhatiannya tidak pernah lepas dari pintu utama.

Menunggu seseorang, menunggu putri bungsunya pulang. Di sofa panjang tidak jauh darinya, Elang dan Theo duduk sambil sibuk dengan ponsel masing-masing.

Sesekali Elang mengetik sesuatu. Sementara Theo sedang bermain game tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Nathan menatap kedua putranya dan lalu menghela napas panjang.

"Aku heran..."

Theo bahkan tidak mengangkat kepala.

"Hm?"

Nathan menyipitkan mata.

"Kalian berdua punya adik perempuan."

"Iya, terus?"

"Kalian sadar itu?"

Theo mengangguk santai. "Masih sadar lah, Yah."

Nathan mulai memijat pelipisnya. Elang yang lebih peka akhirnya meletakkan ponselnya.

"Ada apa lagi, Yah?"

Nathan menunjuk jam dinding.

"Pukul berapa sekarang?"

Elang melirik. "Sepuluh malam."

"Nah!"

Elang mulai mengerti arah pembicaraan itu, tetapi Theo masih belum.

"Lalu?"

Nathan menatap tajam Theo.

"Alya belum pulang."

Barulah Theo mengangkat kepala.

"Oh."

"Oh?" Nathan hampir melempar bantal ke arah putranya.

"Itu saja reaksimu?"

Theo langsung mengangkat kedua tangan.

"Aku pikir dia pasti sama teman-temannya."

"Jam sepuluh malam?"

"Ya..."

Nathan menutup mata sesaat. Mencoba menjaga kesabaran.

"Kadang aku bertanya-tanya..."

Theo langsung punya firasat buruk.

Nathan melanjutkan, "bagaimana kalian bisa tumbuh sampai sebesar ini."

Theo tersinggung. "Itu penghinaan,Yah."

"Itu pertanyaan." Bantah Nathan.

Elang menahan senyum, Nathan menatap keduanya bergantian.

"Kalian kakaknya..."

"Iya, dan ayah orang tuanya..."

"Theo!" Nathan terlihat frustrasi.

"Seharusnya menjaga adik kalian."

Theo menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"

"Khususnya kamu,"

"Kenapa aku?"

Nathan langsung menatapnya tanpa ekspresi.

"Karena kamu paling banyak masalah."

"Itu fitnah, Yah!"

"Kemarin surat sekolah siapa yang datang?"

Theo langsung diam, Nathan beralih ke Elang.

"Dan kamu..."

Elang menghela napas.

"Iya, Yah."

"Skripsi..."

Elang langsung memijat dahinya. Nathan bahkan tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Masalah yang masih menjadi sumber sakit kepala keluarganya.

Theo langsung tertawa kecil, Elang menoleh tajam.

"Diam!"

"Maaf..."

"Tidak terlihat menyesal sama sekali..." Protes Elang.

 Nathan kembali berbicara.

"Yang satu skripsinya tidak selesai."

Elang menghela napas.

"Yang satu hampir dikeluarkan sekolah."

Theo menghela napas juga.

"Dan yang terakhir sering bolos sekolah." Kali ini suasana benar-benar hening, Nathan bersandar di sofa. Tatapannya lelah, jauh lebih lelah dibanding saat mengurus perusahaan.

"Aku mengurus ratusan karyawan. Aku bisa mengurus bisnis bernilai miliaran. Tapi mengurus kalian bertiga..."

Nathan menggeleng pelan.

"Jauh lebih sulit."

Untuk sesaat, Elang dan Theo saling pandang. Meskipun sering membuat masalah, mereka tahu ayah mereka memang mengkhawatirkan Alya. Terutama sejak ibu mereka meninggal beberapa tahun lalu. Nathan selalu berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka.

Pintu utama terbuka.

Semua kepala langsung menoleh, Alya berdiri di ambang pintu. Masih memakai seragam SMP. Membawa tas sekolah dan wajah yang langsung pucat saat melihat ketiga pria di ruang keluarga menatapnya bersamaan.

Theo langsung berbisik pelan, "Waduh."

Elang mengangguk. "Bencana..."

Nathan meletakkan cangkirnya perlahan. Yang justru membuat Alya semakin gugup.

"Selamat malam, Ayah."

Nathan tersenyum tipis. Senyum yang tidak membuat siapa pun merasa tenang.

"Pukul berapa sekarang, Alya?"

Alya menelan ludah. Alya berdiri di depan ruang keluarga sambil menggenggam erat tali tasnya.

"Maaf, Yah." Suaranya pelan. "Mobil temanku mogok tadi."

Nathan menatap putrinya beberapa saat. Sampai Alya mulai merasa tidak nyaman. Nathan mengenal ketiga anaknya lebih baik daripada siapa pun. Dan saat Alya berbohong dia selalu tahu. Namun, malam ini Nathan memilih tidak membongkarnya.

Nathan menghela napas panjang.

"Kalau memang begitu, lain kali telepon Ayah."

Alya menunduk. "Iya, Yah."

"Jangan menghilang seperti ini lagi." Nathan berbicara tegas.

"Karena kalau kamu mengulanginya, Ayah benar-benar akan marah."

Alya langsung mengangguk.

"Iya, Yah."

Theo yang sedari tadi menonton ikut menyela.

"Nah, dengar tuh."

Alya langsung menoleh kesal.

"Kamu ikut-ikut kenapa?"

Theo menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Sebagai kakak yang baik, aku sedang memberi nasihat."

Mendengar itu Elang langsung menahan tawa. Bahkan, para pelayan yang lewat hampir tersedak.

Alya melotot dengan kesal, "Kakak yang baik?"

"Iya."

"Kau sendiri bermasalah masih mengurusi orang lain?"

Theo langsung tersinggung.

"Heh!"

"Aku nggak salah."

Nathan langsung menatap Alya.

"Cukup!"

Alya langsung diam, Nathan berbicara tegas.

"Bicara yang sopan pada kakakmu, Alya!"

"Tapi Yah—"

"Alya..." Nada suara Nathan membuat Alya langsung menutup mulut.

Meski kesal, ia tetap mengangguk.

"Maaf..."

Theo mendengus kecil.

"Tuh kan."

Namun, sebelum Theo sempat menikmati kemenangannya, Elang tiba-tiba ikut bicara. Tatapannya serius saat menatap Alya.

"Dan satu lagi."

Alya langsung punya firasat buruk.

"Jauhi berandal itu!"

Suasana mendadak hening, Theo menoleh. Nathan menyipitkan mata. Sedangkan Alya langsung membeku.

"Apa maksud Kak Elang?"

Elang menatap adiknya datar.

"Kalau tidak..." Ia meletakkan ponselnya.

"Aku sendiri yang akan memberi dia peringatan."

Alya langsung tahu siapa yang dimaksud, adalah Reno pacarnya. Atau lebih tepatnya, cowok yang baru saja meminta uang lagi sore tadi. Jantung Alya langsung berdebar.

Theo yang kebingungan langsung mengernyit. "Tunggu!"

Semua mata menoleh padanya.

"Berandal?" Theo duduk tegak.

"Loh?" Tatapannya berpindah dari Elang ke Alya, lalu kembali ke Elang.

"Kita ketinggalan informasi ya?"

Elang tidak menjawab, Theo langsung menatap Alya.

"Siapa sih cowok yang ganggu kamu?"

Alya refleks memalingkan wajah.

"Nggak ada siapa-siapa."

"Bohong!"

"Nggak!"

"Bohong;"

"Nggak!"

Theo menyipitkan mata. "Kamu punya pacar?"

Alya hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Tidak!"

"Sumpah?"

Alya langsung gugup. Nathan yang sejak tadi diam mulai merasa ada yang tidak beres.

"Alya..."

Putrinya langsung menegakkan badan.

"Iya, Yah?"

Nathan menyilangkan tangan. "Kamu masih SMP."

Alya menelan ludah.

"Dan Ayah tidak mengizinkan kamu pacaran."

Theo langsung menunjuk Alya.

"Nah! Aku juga bilang begitu!"

Alya melotot. "Kapan?"

"Barusan..."

"Itu baru sekarang!"

Nathan memijat pelipis, Elang menghela napas. Alya hanya bisa berdiri di tempatnya sambil berharap tidak ada yang mengetahui kejadian di swalayan sore tadi. Jika Ayahnya tahu ada seorang anak SMA yang memaksa putrinya memberikan uang, maka Reno tidak perlu takut pada Elang.

Suasana ruang keluarga kembali hening. Nathan masih berdiri di depan sofa. Sementara Elang, Theo, dan Alya duduk dengan perasaan masing-masing.

Nathan menghela napas dan lalu berkata dengan tenang,

"Ada satu hal lagi yang ingin Ayah sampaikan."

Ketiga anaknya langsung menoleh. Nathan memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Ayah sudah menikah lagi."

Sunyi, bahkan suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya.

Theo berkedip dan terkejut.

"Hah?!"

Elang juga terlihat tidak percaya, Alya membulatkan matanya. Nathan melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa.

"Dan besok ibu tiri kalian akan datang ke rumah ini."

Elang langsung berdiri.

"Ayah serius?!"

Nathan mengangguk.

"Sangat serius."

"Tapi Ayah baru kenal wanita itu kemarin!"

Nathan diam, Theo langsung menunjuk Nathan.

"Nah kan! Ayah diculik sindrom cinta kilat."

"Theo!"

"Maaf, Ayah!"

"Tidak terlihat menyesal..." Kesal Nathan.

Theo langsung diam. Sementara Elang masih terlihat frustrasi.

"Ayah..."

"Apa?"

"Usia wanita itu bahkan lebih muda dari kami."

Nathan mengangkat alis.

"Tau dari mana kamu? Dia lebih tua dari kalian!" Bantah Nathan.

"Dia lebih cocok jadi teman Alya daripada jadi istri Ayah!"

Alya langsung mengangguk cepat.

"Iya!"

Nathan memijat pelipis, hari ini pelipisnya bekerja lembur.

"Kalian kira Ayah sudah tua?"

Elang tidak menjawab, Theo justru menjawab dengan santai.

"Kalau bukan tua itu apa namanya?"

Nathan langsung menatapnya, Theo masih lanjut.

"Untuk ukuran punya tiga anak sebesar kami?"

"Nathan Anderson Junior." Suara Nathan terdengar sangat pelan.

Theo langsung merinding, itu tanda bahaya.

"Ya, Yah?"

"Diam!"

Theo langsung menutup mulut. Nathan menarik napas panjang. Lalu menatap ketiga anaknya bergantian.

"Tidak ada yang menolak."

Ketiganya langsung mengernyit.

"Tidak ada yang protes."

Mereka semakin tidak terima tetapi Nathan belum selesai.

"Hidup-hidup Ayah. Ayah yang cari uang! Ayah yang membayar semuanya."

Lalu Nathan menunjuk mereka satu per satu.

"Selain donatur..."

Ketiga anak itu langsung punya firasat buruk.

"Dilarang mengatur!"

Theo membuka mulut lalu menutup lagi dan membuka lagi. Namun, tidak jadi bicara, karena sebenarnya Ayah mereka memang benar. Nathan mengangguk puas. Lalu berbalik meninggalkan ruang keluarga.

Langkahnya menuju tangga utama. Namun, sebelum naik ke lantai dua, ia berhenti. Kemudian menoleh kepada Alya. Tatapannya langsung membuat gadis itu berdiri tegak.

"Alya..."

"Iya, Yah."

"Ini terakhir kali Ayah melihatmu pulang selarut ini."

Alya menelan ludah.

"Kalau sampai terjadi lagi..."

Nathan menyipitkan mata.

"Kamu tahu apa yang bisa Ayah lakukan."

Alya langsung mengangguk cepat.

"Iya, Yah."

Nathan baru melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian sosoknya menghilang ke lantai atas. Dan suasana ruang keluarga langsung berubah.

Theo menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Aku nggak mau punya ibu tiri."

Alya mengangguk kuat.

"Aku juga."

Theo menatap langit-langit.

"Ibu tiri itu jahat."

"Benar."

"Monster."

"Benar."

"Menyebalkan."

"Benar."

Elang yang mendengar mereka berdua hanya menghela napas.

Theo melanjutkan, "Dulu waktu kecil aku nonton sinetron."

"Terus?"

"Semua ibu tiri jahat."

"Itu sinetron."

"Tetap saja."

Alya ikut duduk lebih dekat, wajahnya terlihat serius.

"Teman sekelasku juga begitu."

Theo langsung menoleh.

"Maksudnya?"

Alya menggigit bibir. "Dia tinggal sama ibu tirinya."

"Lalu?"

"Minggu lalu tangannya cedera."

Theo mengernyit. "Kenapa?"

Alya menunduk. "Katanya dipukul."

Wajah Elang langsung berubah, Theo juga terdiam.

"Hanya karena dia minta dibelikan motor baru." Alya memeluk lututnya. Mendadak semua keberaniannya menghilang.

"Kalau ibu tiri kita seperti itu gimana?"

Theo langsung membayangkan seorang wanita menyeramkan membawa penggaris. Lalu membayangkan dirinya dimarahi setiap hari. Membayangkan uang jajannya disita. Membayangkan hidupnya sengsara. Theo langsung bergidik.

"Nggak! Aku nggak siap."

Alya mengangguk cepat.

"Aku juga."

Sementara Elang hanya bersandar di sofa sambil memejamkan mata. Entah kenapa, diaa justru teringat wanita galak pemilik warung itu, karena cuma dia yang tahu lebih dulu.

1
seribu nama
Ayolah biar Tahu Rena si pacar Alya itu dapat pelajaran dari mamah Ara dan si Alya ga deket lagi sama si Reno😠
Retno Palupi
oh Kenzo yg punya arena balap?
Ariany Sudjana
semoga Theo lekas mendapatkan penanganan yang terbaik, dan pasti Arabelle yang akan mengurusnya
Jaya Fandi
menegangkan,,mksh ka,,banyak " up nya,, semangat 💪🏽💪🏽
Jaya Fandi
terserah otornya lah yg menang siapa,,misal nnti theo kalah psti ada hikmahnya,,💪💪
T&K
Heeeeey Reno! kamu kira akan lolos dr Kenzo? tunggulah penyelidikannya
Lisa Halik
semoga saja nathan tidak akan menyalahkan arabelle.....lepas ini kamu sadarlah theo
Les Tary
jgn sampai nanti nathan menyalahkan ara
Ita rahmawati
bengek sih kamu elang malah mikir nti setelah sadar Theo bakal diamuk emak tiri 🤦🤣🤣🤣
yumna
reno licik ara pasti dapet bukti bwat jeblosin reno k pnjraa....bukti d lintasin cctv.....abis lah kau reno...dan kau theo d amuk m ara
Aditya hp/ bunda Lia: puas juga ntar sama si Alya dia nanti jadi tau kalo si Reno emang berengsek
total 2 replies
Fia Ayu
🤣🤔🤣🤣
Fia Ayu
Awalnya aku ragu mau baca nie novel, kaga taunya asik banget
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣
seribu nama
Kalau Thei tahu pacarnya Alya itu Reno musuhnya gimana ya pasti marah banget. Plis Theo hati" jangan sampai dengan kamu celaka rahasia ibu tirimu terbongkar
Ariany Sudjana
Theo kecelakaan, Arabelle yang akan turun tangan untuk merawatnya
Ita rahmawati
tuh kan Theo kuwalat udh ngelawan SM ibu tiri sih 😂😂
Ariany Sudjana
wah kakaknya Arabelle jadi pengelola lintasan balap 😄
Ita rahmawati
owalah Kenzo toh
Ita rahmawati
ikut sedih ih aku 😔
Les Tary
harus dikasih pelajaran itu si reno dari segalanya kelakuan buruk
Angga Gati
semoga theo bisa mengatasi jebakan yg dbuat reno & menangin pertandingan lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!