Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.
Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.
Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Rencana untuk Pergi
Pagi itu mansion keluarga Ardian terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya.
Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, menerangi meja panjang yang dipenuhi sarapan mewah. Namun suasana tetap dingin.
Leon duduk di ujung meja sambil membaca tablet di tangannya. Wajahnya serius seperti biasa. Sesekali pria itu menyeruput kopi tanpa mengangkat kepala.
Sementara di sisi lain meja, Alya diam-diam memperhatikan.
Sudah tiga hari sejak ia keluar dari rumah sakit.
Dan selama tiga hari itu pula, ia mulai menjalankan rencananya.
Menjauh dari Leon.
Pelan-pelan.
Tanpa membuat pria itu curiga.
“Nyonya, jus jeruknya,” ujar pelayan sambil meletakkan gelas di depan Alya.
“Terima kasih.”
Biasanya Sabrina akan mencoba mengajak Leon berbicara saat sarapan. Menanyakan jadwalnya, mengingatkan makan siang, atau sekadar mencari perhatian kecil.
Namun sekarang Alya memilih diam.
Leon akhirnya menurunkan tabletnya pelan.
“Kau tidak makan banyak.”
“Aku mual.”
“Kalau ada yang dibutuhkan bilang pada dokter.”
Nada bicara pria itu tetap datar. Tidak hangat, tapi juga tidak sedingin sebelumnya.
Alya mengangguk kecil.
“Aku tahu.”
Setelah itu ia kembali fokus memotong roti.
Leon mengernyit samar.
Aneh.
Sabrina benar-benar berubah.
Dan perubahan itu justru membuat Leon mulai memperhatikannya tanpa sadar.
Begitu Leon berangkat bekerja, Alya langsung masuk ke kamar. Ia mengunci pintu sebelum membuka laptop milik Sabrina.
Jantungnya berdegup pelan.
“Oke… sekarang lihat dulu,” gumamnya.
Ia mulai memeriksa rekening pribadi Sabrina.
Dan matanya langsung membulat.
“Banyak juga…”
Tentu saja banyak.
Sabrina berasal dari keluarga kaya. Selain mendapat kartu tambahan dari keluarga Ardian, wanita itu juga memiliki tabungan pribadi dari orang tuanya.
Namun selama ini Sabrina terlalu fokus mengejar cinta Leon sampai tidak pernah benar-benar memikirkan masa depannya sendiri.
Berbeda dengan Alya.
Ia tahu persis bagaimana akhir cerita ini jika dirinya tetap bertahan.
Karena itu…
Ia harus pergi sebelum semuanya terlambat.
Alya mulai mencatat jumlah uang yang bisa ia ambil tanpa menimbulkan kecurigaan. Ia juga mencari beberapa apartemen kecil yang cukup nyaman untuk ditinggali nanti setelah bercerai.
“Kalau hidup hemat… ini cukup sampai anak lahir.”
Tangannya perlahan menyentuh perutnya.
Masih terasa aneh memikirkan ada bayi di dalam tubuh ini.
Namun bagaimanapun juga, bayi itu tidak bersalah.
Alya tersenyum tipis.
“Aku bakal lindungin kamu.”
Setelah beberapa menit berpikir, ia akhirnya mengambil ponsel lalu mengetik sebuah nomor.
Pengacara perceraian.
Deg.
Tangannya sempat berhenti.
Entah kenapa dada Sabrina terasa sesak hanya karena melihat kata cerai.
Mungkin sisa perasaan wanita itu masih tertinggal di hati ini.
Sabrina terlalu mencintai Leon.
Bahkan setelah diperlakukan dingin sekalipun.
Namun Alya menarik napas panjang lalu tetap menekan tombol panggil.
“Halo, kantor hukum Han & Partners.”
“Halo… saya ingin konsultasi soal perceraian.”
Sore harinya, Alya duduk di sebuah cafe tenang memakai masker dan topi kecil agar tidak dikenali. Di depannya duduk seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan setelan rapi.
“Jadi Anda ingin mengajukan perceraian dari Tuan Leon Ardian?”
Alya mengangguk pelan.
Pengacara itu tampak cukup terkejut.
Karena hampir semua orang tahu Sabrina sangat mencintai suaminya.
“Apakah ada kekerasan rumah tangga?” tanyanya hati-hati.
“Tidak.”
“Perselingkuhan?”
Alya terdiam sesaat.
Dalam novel memang ada wanita lain di hati Leon. Namun pria itu belum benar-benar berselingkuh.
“Tidak juga.”
“Lalu alasannya?”
Alya tersenyum kecil pahit.
“Dia tidak mencintai saya.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Pengacara itu akhirnya menghela napas pelan.
“Perceraian keluarga besar seperti Ardian tidak akan mudah.”
“Aku tahu.”
“Apalagi Anda sedang hamil.”
Tangan Alya mengepal pelan di bawah meja.
“Itu sebabnya saya ingin mempersiapkan semuanya dari sekarang.”
Pengacara itu memberikan kartu namanya.
“Kalau Anda benar-benar yakin, saya akan membantu.”
Alya menerima kartu itu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke tubuh Sabrina…
Ia merasa punya sedikit kendali atas hidupnya sendiri.
Malam hari.
Leon pulang lebih awal dari biasanya.
Begitu masuk kamar, pria itu langsung melihat Sabrina sedang duduk di lantai sambil menyusun beberapa dokumen.
“Kau ngapain?”
Alya buru-buru menutup map di tangannya.
“Tidak apa-apa.”
Leon menatap curiga.
“Apa itu?”
“Dokumen biasa.”
Leon berjalan mendekat. Aura pria itu langsung membuat suasana menegang.
Alya refleks memegang map itu lebih erat.
Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Leon.
“Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
Tatapan tajam pria itu membuat jantung Alya berdebar.
Namun ia berusaha tetap tenang.
“Privasi.”
Leon sedikit terpaku mendengar jawaban itu.
Privasi?
Dulu Sabrina bahkan tidak pernah keberatan memberikan semua hal tentang dirinya pada Leon.
Sekarang wanita itu mulai membuat jarak.
Dan entah kenapa…
Leon mulai tidak menyukainya.
Tatapan pria itu perlahan turun ke wajah Sabrina yang terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
“Sejak kapan kau berubah seperti ini?” tanyanya pelan.
Alya menatap balik tanpa takut.
“Bukannya bagus?”
Leon terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak bisa membaca wanita di depannya lagi.