"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga sebuah topeng
Suara selot pintu kamar mandi yang terbuka memecahkan keheningan yang mencekam di dalam kamar itu. Arman refleks mendongak dari tepi ranjang, menatap ke arah pintu dengan cemas.
Kanaya keluar dengan pakaian yang sudah berganti bersih, sebuah daster longgar berwarna gelap. Rambutnya yang basah dibiarkan terurai sebahu, membasahi sebagian kain di punggungnya. Bau sabun murah khas kos-kosan menguar, namun aroma itu gagal mengikis aura dingin yang pekat di sekeliling tubuhnya. Wajahnya masih pucat, namun tatapannya kini jauh lebih datar dan kokoh, seolah-olah ia baru saja membasuh habis seluruh kelemahannya di bawah pancuran air tadi.
Tanpa melirik Arman sedikit pun, Kanaya melangkah lambat menuju tempat tidur. Setiap gerakannya masih menyiratkan rasa nyeri, namun ia menahannya dengan sangat baik.
Kanaya kemudian duduk di sisi ranjang yang berseberangan dengan Arman. Ia meluruskan kakinya, menyandarkan punggung pada dinding kamar yang dingin, dan menatap lurus ke depan, ke arah pintu kamar mandi yang kini kosong. Di antara mereka berdua, bentangan kasur itu kini terasa seperti jurang pemisah yang tak akan pernah bisa diseberangi lagi.
Arman menggeser duduknya sedikit mendekat, meskipun ia tidak berani melintasi batas tidak tertulis di antara mereka.
"Nay..." panggil Arman, suaranya serak dan bergetar. "Kamu... udah mendingan? Ada yang sakit? Biar aku beliin obat atau makanan ke depan, ya?"
Kanaya tidak bergerak. Ia bahkan tidak menoleh untuk menatap laki-laki yang suaranya terdengar begitu mengiba itu. Keburukan sifat Arman yang mementingkan nama baik ayahnya daripada nyawanya beberapa menit lalu telah mengkristal menjadi dinding es yang tebal di hati Kanaya.
"Pulang, Arman," ucap Kanaya lirih. Suaranya pelan, hampir menyerupai bisikan, namun dinginnya mampu menusuk hingga ke tulang belakang Arman.
"Nay, aku mau nemenin kamu di sini. Aku nggak bakal tenang kalau ninggalin kamu sendirian dalam kondisi kayak begini," bujuk Arman lagi, mencoba meraih ujung jemari kaki Kanaya yang tampak dingin.
"Aku bilang pulang," potong Kanaya. Kali ini, ia memalingkan wajahnya perlahan, menatap langsung ke dalam manik mata Arman. Tidak ada amarah, tidak ada air mata kekecewaan. Hanya ada kekosongan yang teramat luas di sepasang mata sayu itu.
"Semua yang kamu takuti sudah bersih. Darah di lantai sudah kamu pel, dan anak ini sudah nggak ada. Rahasiamu aman, Arman. Jadi, silakan pulang ke rumah bagusmu. Aku mau istirahat."
Kata-kata itu diucapkan Kanaya dengan nada yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat Arman merasa seperti baru saja dijatuhi hukuman mati.
"Ayo menikah" ucap arman.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arman, memecah keheningan kamar yang mencekam.
Kanaya tidak bergeming. Ia tidak terkejut, tidak juga tersentuh. Ia hanya mengalihkan pandangannya dari dinding, menatap Arman dengan sepasang mata yang sepenuhnya kosong.
"Menikah?" Kanaya mengulang kata itu dengan nada datar, hampir seperti bisikan ironis. "Menikah dulu lalu jatuh cinta, begitu maksudmu? Atau menikah karena kamu akhirnya merasa bersalah?"
Arman maju selangkah, mencoba meraih tangan Kanaya, namun perempuan itu dengan cepat menarik jemarinya menjauh.
"Aku serius, Nay," cetus Arman panik, air matanya kembali mengambang. "Aku tahu aku salah. Aku pengecut. Tapi melihat kamu kayak gini, aku sadar aku nggak bisa kehilangan kamu. Kita nikah sekarang. Aku bakal omongin ini ke ayah, aku nggak peduli lagi sama marahnya ayah."
Kanaya menghela napas pendek, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya yang pucat.
"Dua puluh menit yang lalu, kamu mengunci pintu ini karena takut papamu tahu aku pendarahan, Arman," ujar Kanaya, suaranya teramat tenang namun menghujam tepat di ulu hati Arman. "Kamu membiarkan aku taruh nyawa di lantai dingin itu demi nama baik keluargamu. Dan sekarang, setelah anak ini sudah nggak ada, kamu baru berani bilang nggak peduli sama ayahmu?"
Kanaya menggeleng pelan. Rasa sakit di perutnya tidak sebanding dengan rasa jengah yang ia rasakan setiap kali menatap wajah Arman saat ini.
"Kamu mau menikah karena kamu takut dihantui rasa bersalahmu sendiri, bukan karena kamu peduli sama aku," lanjut Kanaya, menatap lurus ke manik mata Arman yang gemetar. "Pintu keluarnya ada di sebelah sana, Arman. Tolong pergi."