Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Di Balik Handuk dan Kontak Mata yang Salah
"Ganti baju sekarang. Jangan sampai lo sakit, terus syuting besok keganggu."
Suara Declan memecah keheningan begitu mereka kembali masuk ke dalam rumah WGM. Tubuhnya sendiri masih basah kuyup, kaos oblong putihnya yang tipis menempel ketat di dada, memperlihatkan sikut kanannya yang lecet dan mengeluarkan sedikit darah akibat insiden di taman tadi.
Sienna, yang hanya basah di bagian ujung rambut dan piyama luarnya, menatap sikut Declan dengan cemas. "Lo sendiri gimana? Itu sikut lo berdarah, Declan. Obatin dulu, baru ganti baju."
"Gue gampang. Kulit gue nggak serapuh kulit lo," sahut Declan ketus. Dia berjalan ke kamar mandi bawah, mengambil dua handuk kering, lalu melemparkan salah satunya tepat ke wajah Sienna. "Keringin rambut lo. Masih basah gitu."
Sienna menangkap handuk itu dengan bersungut-sungut. "Ketus banget sih jadi cowok. Orang nanya baik-baik juga."
Sienna mulai mengeringkan rambut panjangnya secara asal-asalan, menggosoknya dengan kasar sampai rambutnya mekar berantakan. Declan yang melihat itu dari cermin ruang tengah langsung mendengus gemas. Dia merebut handuk dari tangan Sienna.
"Sini. Lo tuh kalau ngerjain apa-apa nggak pernah bener," ucap Declan rendah.
Tanpa memedulikan tatapan cengo Sienna, Declan berdiri di belakang cewek itu, lalu dengan sangat lembut mulai mengeringkan rambut Sienna yang basah menggunakan handuk. Gerakannya sangat kontras dengan ucapan ketusnya tadi. Telaten, perlahan, dan penuh kehati-hatian.
Sienna mematung. Jantungnya kembali berulah, berdegup kencang di dalam rongga dadanya. "Dec... lo nggak perlu sedetail ini aktingnya. Kamera di sudut atas itu nggak bakal kelihatan sedekat ini," bisik Sienna pelan, nyaris seperti cicitan.
"Siapa yang bilang gue lagi akting?" balas Declan dingin, matanya fokus pada helaian rambut Sienna. "Gue cuma nggak mau lo flu. Suara lo kalau lagi flu makin cempreng, kuping gue bisa pengang."
Sienna mengerucutkan bibirnya. Dasar mulut racun! Namun, dia tidak menolak perlakuan Declan. Keheningan yang menenangkan sempat tercipta di antara mereka selama beberapa menit, hanya ada suara gesekan halus handuk dan helaan napas lembut.
@luna_project: HEYYY!!! Declan ngeringin rambut Sienna?! Lembut banget tangannya, kontras sama mukanya yang kayak mau ngajak tawuran wkwk.
@bukan_intel: Ini mah real husband material! Declan sendiri masih basah kuyup loh, tapi yang diurusin malah rambut Sienna duluan.
@visual_couple: Sienna pas nggak pakai makeup gini malah kelihatan imut banget woi, mukanya polos kaget gitu pas rambutnya dipegang.
Setelah dirasa cukup kering, Declan meletakkan handuk itu di bahu Sienna. "Udah. Sekarang duduk di sofa. Gue mau ambil kotak obat."
"Nggak usah, biar gue aja yang ambil. Lo duduk," sergah Sienna, jiwa cegilnya yang keras kepala langsung kambuh. Dia berlari kecil ke dapur, mengambil kotak P3K, lalu kembali dan duduk di karpet bulu tepat di depan sofa tempat Declan duduk.
Sienna membuka botol antiseptik, menuangkannya ke kapas dengan gerakan agak canggung. "Sini sikut lo."
Declan mengulurkan lengan kanannya yang kekar. Begitu kapas beralkohol itu menyentuh lukanya, otot lengan Declan tampak menegang. Dia meringis kecil tanpa suara.
Sienna yang melihat itu refleks mendekatkan wajahnya ke sikut Declan, lalu meniup luka itu dengan lembut. Fiuuuh... Fiuuuh...
"Sakit ya? Tahan bentar, makanya jangan sok pahlawan tadi," bisik Sienna sambil terus meniup luka itu dengan tulus. Matanya terfokus penuh pada luka Declan, gurat khawatir di wajah polosnya yang tanpa makeup terlihat sangat nyata dan alami. Kulitnya yang putih bersih tampak merona kemerahan karena suhu hangat di dalam ruangan.
Declan tertegun. Dia menundukkan kepalanya, menatap wajah Sienna yang berada tepat di bawahnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Declan bisa menghitung bulu mata lentik Sienna. Tatapan mata Declan melunak, rasa hangat yang selama ini dia kunci rapat di dalam hatinya mendadak mendesak ingin keluar. Dia rindu momen ini. Momen di mana hanya ada dia dan Sienna, tanpa ada Edrick di antara mereka.
"Sienna..." panggil Declan parau.
"Hah? Kenapa—"
Sienna mendongakkan kepalanya secara tiba-tiba untuk menjawab panggilan Declan. Di saat yang sama, Declan juga sedang menunduk terlalu dalam.
DUK!
"Aduh!" Sienna mengaduh kecil saat dahi mereka berbenturan karena gerakan yang terlalu mendadak.
Namun, benturan itu justru membawa dampak yang jauh lebih fatal bagi detak jantung mereka. Karena posisi wajah Declan yang terlalu dekat dan sudut kemiringan kepalanya, bibir pria itu tidak sengaja mendarat dengan sempurna tepat di atas dahi mulus Sienna.
Cup.
Waktu seolah berhenti berputar di dalam rumah WGM.
Bibir Declan menempel di dahi Sienna selama tiga detik penuh sebelum akhirnya pria itu menarik dirinya mundur dengan gerakan kaku. Wajah Declan yang biasanya sedingin es kini memerah sampai ke telinga. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, berdeham keras. "Sorry. Lo... lo lagian kenapa mendongak tiba-tiba sih?"
Sementara itu, Sienna benar-benar berubah menjadi batu. Dia duduk bersimpuh di karpet dengan kedua tangan masih memegang kapas, matanya melotot bulat, dan mulutnya sedikit terbuka karena syok berat. Wajah polosnya tanpa rekayasa kosmetik itu terlihat sangat menggemaskan, cantik natural, sekaligus mengundang tawa karena ekspresi bingungnya yang luar biasa lucu.
"Lo... lo baru aja..." Sienna terbata-bata, tangannya refleks meraba dahinya yang terasa panas bekas kecupan tidak sengaja tadi.
Di ruang kontrol, sutradara hampir saja melompat dari kursinya. "GILA! JANGAN DI-CUT! Biarkan kameranya terus menyorot muka kaget Sienna! Ini emas! Ini rating nomor satu!"
Layar live streaming benar-benar lumpuh total selama beberapa saat karena lonjakan komentar yang tidak masuk akal dari para penonton yang menjerit histeris di depan layar ponsel mereka masing-masing.
@pencinta_sweet: TOLONGGG GUE LEMAS!!! Benturan yang membuahkan hasil! Declan nyium dahi Sienna woi!!!
@netizen_baper: Ekspresi Sienna lucu banget ya ampun wkwkwk, cengo kaget tapi cantik parah pas nggak pakai makeup. Alami banget kagetnya!
@dek_sienna: Muka Declan langsung merah sampai telinga dong! Sifat tsundere-nya runtuh seketika gara-gara kecupan tidak sengaja.
@kpop_fans_indo: Ini mah melebihi adegan drakor! Chemistry mereka real banget, nggak mungkin hubungan setingan baru mulai! Fix mereka punya masa lalu!
Declan buru-buru berdiri dari sofa, merebut kotak obat dari tangan Sienna dengan canggung. "Gue... gue mau ganti baju dulu ke kamar." Pria itu melangkah seribu, menaiki anak tangga dengan terburu-buru, meninggalkan Sienna yang masih termenung sendirian di lantai bawah.
Sienna menyentuh dadanya yang berdegup kencang, menatap tangga tempat Declan menghilang. "Sialan si kanebo... kenapa jantung gue jadi nggak karuan gini?" gumam Sienna pelan, wajah cegilnya yang biasa galak kini berubah menjadi sangat malu.