Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Bab 1 — Kehidupan Kedua

Hujan turun deras membasahi jalanan kota saat Alya memeluk erat tas sekolahnya. Langkah gadis itu sedikit terburu-buru menyusuri trotoar yang mulai sepi. Langit sore sudah berubah gelap, sementara suara petir bersahutan di kejauhan.

“Alya! Mau dianter?” teriak salah satu temannya dari atas motor.

Alya menggeleng sambil tersenyum kecil.

“Nggak usah, rumahku dekat kok!”

Temannya melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan genangan air di jalan. Alya menarik napas pelan. Tubuhnya lelah setelah seharian mengikuti kegiatan sekolah tambahan. Kepalanya sedikit pusing karena belum sempat makan sejak siang.

Ia berhenti di depan lampu merah sambil membuka ponselnya. Ada pesan dari ibunya.

Jangan lupa beli roti ya, Nak.

Senyum tipis muncul di wajah Alya.

Iya, Bu.

Namun belum sempat ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, suara klakson keras memekakkan telinga.

BRAAAAK!

Semuanya terjadi begitu cepat.

Sebuah mobil melaju tak terkendali dari arah kanan. Tubuh Alya terpental beberapa meter hingga menghantam aspal basah. Hujan bercampur darah memenuhi pandangannya.

Orang-orang mulai berteriak panik.

“Astaga! Ada anak kecelakaan!”

“Cepat panggil ambulans!”

Pandangan Alya kabur. Tubuhnya terasa dingin. Suara di sekitarnya perlahan menghilang hingga hanya tersisa bunyi detak jantung yang melemah.

Gelap.

“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?”

Suara pria asing terdengar samar di telinga Alya.

“Ibu Sabrina hanya pingsan akibat benturan. Untung kandungannya baik-baik saja.”

Kandungan?

Alya mencoba membuka mata, tetapi kepalanya terasa sangat berat. Aroma obat-obatan memenuhi indera penciumannya. Perlahan ia memaksa dirinya sadar.

Langit-langit putih.

Lampu rumah sakit.

Dan seorang pria tinggi berdiri di dekat ranjang dengan wajah dingin yang sulit ditebak.

Alya membeku.

Siapa pria itu?

Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa aneh. Berat. Saat tangannya menyentuh perut, matanya langsung melebar.

Perutnya membesar.

“Hah…?”

Napas Alya tercekat.

Ia buru-buru bangun hingga selang infus tertarik. Rasa sakit menusuk kepalanya, tetapi keterkejutannya jauh lebih besar dibanding rasa sakit itu.

Perutnya benar-benar hamil.

“Apa… apa ini?”

Pria di samping ranjang menatap tajam. Tatapan matanya dingin tanpa sedikit pun rasa khawatir.

“Kau pura-pura lupa sekarang?”

Suara rendah itu membuat bulu kuduk Alya meremang.

“A-aku…”

“Kalau ingin cari perhatian, jangan membahayakan anak itu.”

Anak?

Alya semakin bingung. Kepalanya mendadak dipenuhi potongan-potongan ingatan asing. Nama, wajah, tempat… semuanya bercampur di pikirannya hingga membuatnya nyaris muntah.

Sabrina Elvara.

Nama itu muncul begitu saja di kepalanya.

Alya membeku.

Sabrina Elvara…

Bukankah itu tokoh novel yang pernah ia baca beberapa minggu lalu?

Istri yang dibenci suaminya sendiri.

Wanita hamil yang akhirnya meninggal tragis setelah melahirkan.

Tubuh Alya langsung dingin.

Tidak… tidak mungkin.

Ia menatap pria di depannya dengan gemetar. Wajah tampan dan sorot mata dingin itu terlalu familiar.

Leon Ardian.

Suami Sabrina.

Tokoh pria utama dalam novel tersebut.

Alya menelan ludah susah payah. Jantungnya berdetak kacau. Jadi… ia tidak mati?

Ia justru masuk ke tubuh Sabrina?

“Dokter bilang kau jatuh dari tangga,” ucap Leon dingin. “Berhenti bertindak ceroboh.”

Alya masih terpaku.

Dalam cerita novel, Sabrina memang jatuh saat sedang bertengkar dengan Leon. Saat itu Leon bahkan tidak peduli pada keadaan istrinya dan hanya mengkhawatirkan bayi dalam kandungan Sabrina karena anak itu adalah pewaris keluarga Ardian.

Tatapan Alya perlahan turun ke cincin di jarinya.

Ini nyata.

Sangat nyata.

“Aku akan panggil pelayan nanti,” lanjut Leon datar. “Setelah keluar dari rumah sakit, jangan membuat masalah lagi.”

Pria itu berbalik hendak pergi.

“Tunggu!”

Leon berhenti tanpa menoleh.

Alya menggigit bibir gugup. Kepalanya masih kacau, tetapi satu hal yang paling ia ingat dari novel itu adalah akhir hidup Sabrina.

Wanita itu mati sendirian.

Dan Leon tidak pernah mencintainya.

“A-apa… kau benar-benar membenciku?” suara Alya lirih tanpa sadar.

Ruangan mendadak hening.

Leon menoleh perlahan. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat dada Alya sesak.

“Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini.”

Jawaban itu terasa seperti pisau tajam.

Setelah mengatakan itu, Leon pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, Alya benar-benar sadar—

Ia kini hidup sebagai Sabrina Elvara.

Seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri.

Dan jika ia tidak mengubah takdirnya…

Ia akan mati.

Episodes
1 Bab 1 — Kehidupan Kedua
2 Bab 2 — Pernikahan Tanpa Cinta
3 Bab 3 — Rumah yang Mendadak Sunyi
4 Bab 4 — Rencana untuk Pergi
5 Bab 5 — Meja Makan Keluarga Ardian
6 Bab 6 — Anak Perempuan
7 Bab 7 — Rencana yang Menghancurkan
8 Bab 8 — Tempat untuk Pergi
9 Bab 9 — Surat yang Ditinggalkan
10 Bab 10 — Penyesalan yang Terlambat
11 Bab 11 — Dua Bulan Tanpa Jejak
12 Bab 12 — Lahirnya Seorang Putri
13 Bab 13 — Kehidupan Baru
14 Bab 14 — Gadis Kecil di Taman
15 Bab 15 — Pertemuan yang Hampir Terjadi
16 Bab 16 — Percakapan yang Tertunda Tiga Tahun
17 Bab 17 — Jejak yang Ditemukan
18 Bab 18 — Pertemuan Setelah Tiga Tahun
19 Bab 19 — Obat Pahit dan Pelukan Hangat
20 Bab 20 — Ayah yang Datang Terlambat
21 Bab 21 — Nama yang Belum Terucap
22 Bab 22 — Perasaan yang Mulai Tumbuh
23 Bab 23 — Rumah Kecil di Pinggir Roma
24 Bab 24 — Perasaan yang Tidak Nyaman
25 Bab 25 — Rasa yang Mulai Memiliki
26 Bab 26 — Takut Kehilangan
27 Bab 27 — Tamu Tetap di Toko Bunga
28 Bab 28 — Tatapan yang Berubah
29 Bab 29 — Malam yang Terasa Hangat
30 Bab 30 — Takut Kehilangan Lagi
31 Bab 31 — Perpisahan Sementara
32 Bab 32 — Panggilan Setiap Malam
33 Bab 33 — Kabar yang Membuat Panik
34 Bab 34 — Tangisan yang Tidak Bisa Disembunyikan
35 Bab 35 — Pagi yang Berbeda
36 Bab 36 — Permintaan Ryan
37 Bab 37 — Rumah Baru Leon
38 Bab 38 — Aroma Rumah
39 Bab 39 — Percakapan yang Lama Hilang
40 Bab 40 — Ciuman yang Mengubah Segalanya
41 Bab 41 — Ketahuan
42 Bab 42 — Malam yang Hangat
43 Bab 43 — Pintu yang Sedikit Terbuka
44 Bab 44 — Malam yang Tidak Bisa Dihindari
45 Bab 45 — Pagi yang Panik
46 Bab 46 — Jangan Pergi Lama-Lama
47 Bab 47 — Kepindahan yang Tidak Terduga
48 Bab 48 — Belajar Menjadi Ayah
49 Bab 49 — Tangan yang Kembali Bebas
50 Bab 50 — Jangan Pergi Lagi
51 Bab 51 — Tinggal Lebih Lama
52 Bab 52 — Kedatangan Sang Mami
53 Bab 53 — Alasan yang Selama Ini Disimpan
54 Bab 54 — Penyesalan Leon
55 Bab 55 — Meja Makan yang Lama Hilang
56 Bab 56 — Malam yang Mulai Hangat
57 Bab 57 — Pembicaraan Tengah Malam
58 Bab 58 — Rasa yang Kembali Tumbuh
59 Bab 59 — Pagi yang Berbeda
60 Bab 60 — Belanja Bersama Nenek
61 Bab 61 — Waktu yang Tepat
62 Bab 62 — Kata “Papa”
63 Bab 63 — Papa
64 Bab 64 — Hari Pertama Sebagai Papa
65 Bab 65 — Keluarga Kecil Mereka
66 Bab 66 — Pertanyaan dari Liora
67 Bab 67 — Langkah yang Perlahan Mendekat
68 Bab 68 — Jawaban yang Belum Terucap
69 Bab 69 — Kabar Kepulangan
70 Bab 70 — Kesibukan dan Kerinduan
71 Bab 71 — Akhirnya Pulang
72 Bab 72 — Jawaban yang Mulai Terlihat
73 Bab 73 — Pulau untuk Liora
74 Bab 74 — Senja di Pulau Liora
75 Bab 75 — Malam di Bawah Langit Bintang
76 Bab 76 — Janji di Tepi Laut
77 Bab 77 — Rencana Besar Leon
78 Bab 78 — Pulang ke Indonesia
79 Bab 79 — Kakek yang Menunggu
80 Bab 80 — Opa yang Ternyata Sehat
81 Bab 81 — Permintaan Seorang Ayah
82 Bab 82 — Jawaban yang Ditunggu
83 Bab 83 — Persiapan Ulang Tahun dan Sebuah Rencana
84 Bab 84 — Kejutan Kecil dari Liora
85 Bab 89 — Lamaran di Hadapan Keluarga
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 — Kehidupan Kedua
2
Bab 2 — Pernikahan Tanpa Cinta
3
Bab 3 — Rumah yang Mendadak Sunyi
4
Bab 4 — Rencana untuk Pergi
5
Bab 5 — Meja Makan Keluarga Ardian
6
Bab 6 — Anak Perempuan
7
Bab 7 — Rencana yang Menghancurkan
8
Bab 8 — Tempat untuk Pergi
9
Bab 9 — Surat yang Ditinggalkan
10
Bab 10 — Penyesalan yang Terlambat
11
Bab 11 — Dua Bulan Tanpa Jejak
12
Bab 12 — Lahirnya Seorang Putri
13
Bab 13 — Kehidupan Baru
14
Bab 14 — Gadis Kecil di Taman
15
Bab 15 — Pertemuan yang Hampir Terjadi
16
Bab 16 — Percakapan yang Tertunda Tiga Tahun
17
Bab 17 — Jejak yang Ditemukan
18
Bab 18 — Pertemuan Setelah Tiga Tahun
19
Bab 19 — Obat Pahit dan Pelukan Hangat
20
Bab 20 — Ayah yang Datang Terlambat
21
Bab 21 — Nama yang Belum Terucap
22
Bab 22 — Perasaan yang Mulai Tumbuh
23
Bab 23 — Rumah Kecil di Pinggir Roma
24
Bab 24 — Perasaan yang Tidak Nyaman
25
Bab 25 — Rasa yang Mulai Memiliki
26
Bab 26 — Takut Kehilangan
27
Bab 27 — Tamu Tetap di Toko Bunga
28
Bab 28 — Tatapan yang Berubah
29
Bab 29 — Malam yang Terasa Hangat
30
Bab 30 — Takut Kehilangan Lagi
31
Bab 31 — Perpisahan Sementara
32
Bab 32 — Panggilan Setiap Malam
33
Bab 33 — Kabar yang Membuat Panik
34
Bab 34 — Tangisan yang Tidak Bisa Disembunyikan
35
Bab 35 — Pagi yang Berbeda
36
Bab 36 — Permintaan Ryan
37
Bab 37 — Rumah Baru Leon
38
Bab 38 — Aroma Rumah
39
Bab 39 — Percakapan yang Lama Hilang
40
Bab 40 — Ciuman yang Mengubah Segalanya
41
Bab 41 — Ketahuan
42
Bab 42 — Malam yang Hangat
43
Bab 43 — Pintu yang Sedikit Terbuka
44
Bab 44 — Malam yang Tidak Bisa Dihindari
45
Bab 45 — Pagi yang Panik
46
Bab 46 — Jangan Pergi Lama-Lama
47
Bab 47 — Kepindahan yang Tidak Terduga
48
Bab 48 — Belajar Menjadi Ayah
49
Bab 49 — Tangan yang Kembali Bebas
50
Bab 50 — Jangan Pergi Lagi
51
Bab 51 — Tinggal Lebih Lama
52
Bab 52 — Kedatangan Sang Mami
53
Bab 53 — Alasan yang Selama Ini Disimpan
54
Bab 54 — Penyesalan Leon
55
Bab 55 — Meja Makan yang Lama Hilang
56
Bab 56 — Malam yang Mulai Hangat
57
Bab 57 — Pembicaraan Tengah Malam
58
Bab 58 — Rasa yang Kembali Tumbuh
59
Bab 59 — Pagi yang Berbeda
60
Bab 60 — Belanja Bersama Nenek
61
Bab 61 — Waktu yang Tepat
62
Bab 62 — Kata “Papa”
63
Bab 63 — Papa
64
Bab 64 — Hari Pertama Sebagai Papa
65
Bab 65 — Keluarga Kecil Mereka
66
Bab 66 — Pertanyaan dari Liora
67
Bab 67 — Langkah yang Perlahan Mendekat
68
Bab 68 — Jawaban yang Belum Terucap
69
Bab 69 — Kabar Kepulangan
70
Bab 70 — Kesibukan dan Kerinduan
71
Bab 71 — Akhirnya Pulang
72
Bab 72 — Jawaban yang Mulai Terlihat
73
Bab 73 — Pulau untuk Liora
74
Bab 74 — Senja di Pulau Liora
75
Bab 75 — Malam di Bawah Langit Bintang
76
Bab 76 — Janji di Tepi Laut
77
Bab 77 — Rencana Besar Leon
78
Bab 78 — Pulang ke Indonesia
79
Bab 79 — Kakek yang Menunggu
80
Bab 80 — Opa yang Ternyata Sehat
81
Bab 81 — Permintaan Seorang Ayah
82
Bab 82 — Jawaban yang Ditunggu
83
Bab 83 — Persiapan Ulang Tahun dan Sebuah Rencana
84
Bab 84 — Kejutan Kecil dari Liora
85
Bab 89 — Lamaran di Hadapan Keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!