Istri Yang Tak Pernah Dicintai
Hujan turun deras membasahi jalanan kota saat Alya memeluk erat tas sekolahnya. Langkah gadis itu sedikit terburu-buru menyusuri trotoar yang mulai sepi. Langit sore sudah berubah gelap, sementara suara petir bersahutan di kejauhan.
“Alya! Mau dianter?” teriak salah satu temannya dari atas motor.
Alya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Nggak usah, rumahku dekat kok!”
Temannya melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan genangan air di jalan. Alya menarik napas pelan. Tubuhnya lelah setelah seharian mengikuti kegiatan sekolah tambahan. Kepalanya sedikit pusing karena belum sempat makan sejak siang.
Ia berhenti di depan lampu merah sambil membuka ponselnya. Ada pesan dari ibunya.
Jangan lupa beli roti ya, Nak.
Senyum tipis muncul di wajah Alya.
Iya, Bu.
Namun belum sempat ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, suara klakson keras memekakkan telinga.
BRAAAAK!
Semuanya terjadi begitu cepat.
Sebuah mobil melaju tak terkendali dari arah kanan. Tubuh Alya terpental beberapa meter hingga menghantam aspal basah. Hujan bercampur darah memenuhi pandangannya.
Orang-orang mulai berteriak panik.
“Astaga! Ada anak kecelakaan!”
“Cepat panggil ambulans!”
Pandangan Alya kabur. Tubuhnya terasa dingin. Suara di sekitarnya perlahan menghilang hingga hanya tersisa bunyi detak jantung yang melemah.
Gelap.
“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?”
Suara pria asing terdengar samar di telinga Alya.
“Ibu Sabrina hanya pingsan akibat benturan. Untung kandungannya baik-baik saja.”
Kandungan?
Alya mencoba membuka mata, tetapi kepalanya terasa sangat berat. Aroma obat-obatan memenuhi indera penciumannya. Perlahan ia memaksa dirinya sadar.
Langit-langit putih.
Lampu rumah sakit.
Dan seorang pria tinggi berdiri di dekat ranjang dengan wajah dingin yang sulit ditebak.
Alya membeku.
Siapa pria itu?
Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa aneh. Berat. Saat tangannya menyentuh perut, matanya langsung melebar.
Perutnya membesar.
“Hah…?”
Napas Alya tercekat.
Ia buru-buru bangun hingga selang infus tertarik. Rasa sakit menusuk kepalanya, tetapi keterkejutannya jauh lebih besar dibanding rasa sakit itu.
Perutnya benar-benar hamil.
“Apa… apa ini?”
Pria di samping ranjang menatap tajam. Tatapan matanya dingin tanpa sedikit pun rasa khawatir.
“Kau pura-pura lupa sekarang?”
Suara rendah itu membuat bulu kuduk Alya meremang.
“A-aku…”
“Kalau ingin cari perhatian, jangan membahayakan anak itu.”
Anak?
Alya semakin bingung. Kepalanya mendadak dipenuhi potongan-potongan ingatan asing. Nama, wajah, tempat… semuanya bercampur di pikirannya hingga membuatnya nyaris muntah.
Sabrina Elvara.
Nama itu muncul begitu saja di kepalanya.
Alya membeku.
Sabrina Elvara…
Bukankah itu tokoh novel yang pernah ia baca beberapa minggu lalu?
Istri yang dibenci suaminya sendiri.
Wanita hamil yang akhirnya meninggal tragis setelah melahirkan.
Tubuh Alya langsung dingin.
Tidak… tidak mungkin.
Ia menatap pria di depannya dengan gemetar. Wajah tampan dan sorot mata dingin itu terlalu familiar.
Leon Ardian.
Suami Sabrina.
Tokoh pria utama dalam novel tersebut.
Alya menelan ludah susah payah. Jantungnya berdetak kacau. Jadi… ia tidak mati?
Ia justru masuk ke tubuh Sabrina?
“Dokter bilang kau jatuh dari tangga,” ucap Leon dingin. “Berhenti bertindak ceroboh.”
Alya masih terpaku.
Dalam cerita novel, Sabrina memang jatuh saat sedang bertengkar dengan Leon. Saat itu Leon bahkan tidak peduli pada keadaan istrinya dan hanya mengkhawatirkan bayi dalam kandungan Sabrina karena anak itu adalah pewaris keluarga Ardian.
Tatapan Alya perlahan turun ke cincin di jarinya.
Ini nyata.
Sangat nyata.
“Aku akan panggil pelayan nanti,” lanjut Leon datar. “Setelah keluar dari rumah sakit, jangan membuat masalah lagi.”
Pria itu berbalik hendak pergi.
“Tunggu!”
Leon berhenti tanpa menoleh.
Alya menggigit bibir gugup. Kepalanya masih kacau, tetapi satu hal yang paling ia ingat dari novel itu adalah akhir hidup Sabrina.
Wanita itu mati sendirian.
Dan Leon tidak pernah mencintainya.
“A-apa… kau benar-benar membenciku?” suara Alya lirih tanpa sadar.
Ruangan mendadak hening.
Leon menoleh perlahan. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat dada Alya sesak.
“Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini.”
Jawaban itu terasa seperti pisau tajam.
Setelah mengatakan itu, Leon pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Pintu tertutup pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, Alya benar-benar sadar—
Ia kini hidup sebagai Sabrina Elvara.
Seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri.
Dan jika ia tidak mengubah takdirnya…
Ia akan mati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments