NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELAPARAN DIMULAI

Dua minggu telah berlalu sejak kelompok Damar resmi mendiami gedung tua bekas kantor dinas tersebut. Bangunan yang awalnya terasa dingin, berdebu, dan mati, perlahan-lahan mulai menjelma menjadi tempat bernaung yang layak berkat kerja keras bersama.

Pembagian area pun mulai tertata rapi. Lantai dasar dialokasikan sebagai area berkumpul sekaligus dapur umum. Lantai dua diubah menjadi ruang tidur massal bagi sebagian besar penyintas. Lantai tiga dikunci rapat untuk dijadikan gudang logistik, sementara lantai empat dan bagian atap difungsikan sebagai pos pengawasan utama.

Mereka bahkan berhasil menciptakan sebuah sistem rutinitas darurat. Ada jadwal pos jaga, jadwal piket kebersihan, hingga jadwal tim pencari logistik. Untuk pertama kalinya sejak kiamat zombie pecah, hidup mereka terasa sedikit lebih teratur dan berpola.

Namun, ketenangan semu itu tidak bertahan lama. Ancaman terbesar yang mendatangi mereka ternyata bukan berasal dari balik pagar besi, bukan dari gerombolan mayat hidup. Melainkan dari dalam perut mereka sendiri: rasa lapar.

Pagi itu, atmosfer di dalam gudang logistik lantai tiga terasa mencekat. Rudi berdiri mematung, jemarinya gemetar saat menghitung ulang sisa stok makanan yang tersusun di atas rak kayu. Di hadapannya, hanya ada beberapa kardus mi instan yang mulai koyak, beberapa karung beras yang menyusut drastis, sedikit makanan kaleng, dan beberapa galon air minum.

Semakin lama Rudi menghitung, semakin pucat guratan di wajahnya. Dia menelan ludah pelan sebelum akhirnya menoleh ke ambang pintu.

"Pak Rangga..." panggil Rudi, suaranya parau dan tertahan.

Pak Rangga yang saat itu sedang mencatat daftar giliran jaga malam spontan mendongak. "Ada apa, Rud?"

Rudi meremas buku catatannya, wajahnya cemas. "Menurut saya... kita harus segera mengumpulkan semua anggota inti. Sekarang."

Nada bicara Rudi yang tidak biasa itu seketika membuat Pak Rangga meletakkan penanya dan langsung berdiri. "Ada masalah parah?"

Rudi hanya mampu mengangguk berat. "Sangat parah, Pak."

Satu jam kemudian, ruang rapat darurat di lantai dasar sudah terisi penuh oleh para anggota inti. Damar, Alya, Kapten Rendra, Pak Rangga dan Rudi duduk melingkari meja kayu panjang. Suasana di dalam ruangan langsung terasa pekat dan menekan, bahkan sebelum ada yang membuka suara.

Rudi perlahan meletakkan buku catatan logistiknya ke tengah meja. "Kita... kita menghadapi masalah pangan serius. Stok kita sekarat."

Kalimat pendek itu seketika melempar seluruh ruangan ke dalam keheningan yang tuli.

Damar langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, alisnya bertaut rapat. "Sebentar, seberapa parah kondisinya, Rud?"

Rudi membuka halaman terakhir catatannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Kalau pola konsumsi kita tetap dibagi rata seperti takaran sekarang..." Dia menarik napas panjang, seolah berat untuk melanjutkan. "Persediaan kita cuma cukup untuk enam hari ke depan."

Ruangan itu mendadak terasa makin dingin. Enam hari. Sebuah angka yang terlampau pendek untuk menjamin nyawa tiga puluh dua orang.

Alya yang duduk di samping ayahnya spontan menutup mulut, matanya membelalak kaget. "Enam hari? Kok bisa secepat itu?"

"Anggota kelompok kita sekarang ada tiga puluh dua kepala, Alya" jawab Rudi lemah. "Setiap hari pasokan kita terus menyusut, sementara barang masuk hampir gak ada."

Kapten Rendra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajah sang mantan tentara itu tetap terlipat datar tanpa emosi, sebuah topeng profesional yang menyembunyikan isi kepalanya yang sedang berpikir keras.

"Bagaimana dengan rute penyisiran tim logistik terakhir kali?" tanya Kapten Rendra, memecah kebuntuan.

Damar menggeleng pasrah. "Buruk, Kapten. Minimarket di radius tiga kilometer sudah bersih dikuras orang. Gudang-gudang kecil di pinggir jalan juga rata dijarah."

"Bahkan beberapa rumah tinggal yang kami dobrak kemarin juga kosong melongpong," tambah Alya, nadanya frustrasi. "Sama sekali gak ada sisa bahan pangan yang bisa diselamatkan."

Perlahan, kenyataan yang mengerikan mulai menampar kesadaran mereka masing-masing. Di minggu-minggu awal wabah, makanan mungkin masih berserakan di mana-mana. Tapi sekarang, setelah hampir sebulan berlalu? Sebagian besar wilayah telah dijarah habis oleh kelompok penyintas lain, atau telah berubah menjadi zona merah yang dipenuhi monster.

Pak Rangga mengusap wajahnya yang tampak kuyu dengan kedua telapak tangan. "Kita harus cari jalan keluar secepatnya, sebelum orang-orang di bawah mulai mencium situasi ini dan panik."

Sayangnya, kepanikan massal merayap jauh lebih cepat dari yang bisa mereka antisipasi.

Begitu jatah makan siang mulai dipangkas sepihak, semua penghuni gedung langsung menyadari ada yang tidak beres. Jika biasanya satu orang bisa mendapatkan satu bungkus mi instan utuh, kini satu bungkus harus dipatah menjadi dua bagian untuk dua kepala. Jatah biskuit tambahan yang biasa diberikan kepada anak-anak kecil pun terpaksa dihentikan total.

Pada hari pertama, mayoritas penyintas masih memilih bungkam dan menerima. Namun memasuki hari kedua, bisik-bisik kecurigaan mulai terdengar mendengung di koridor-koridor lantai dua. Di hari ketiga, suasana berubah menjadi sangat keruh.

Saat Damar sedang memeriksa kekokohan kawat berduri di pagar depan, Alya tiba-tiba datang menghampirinya dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tegang.

"Mar, ada ribut-ribut di atas," potong Alya cepat sebelum Damar sempat menyapa.

"Di mana?"

"Gudang logistik."

Tanpa babibu, keduanya langsung berbalik dan berlari menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Begitu sampai di depan pintu gudang, mereka disuguhi pemandangan belas orang yang sudah saling berkerumun. Suara bentakan dan makian saling bersahutan di dalam ruangan.

"Aku bilang bukan aku yang ambil, bangsat!" teriak seorang pria bernama Doni, wajahnya merah padam menahan berang.

"Halah, gak usah ngeles! Terus makanan di rak itu bisa gaib ilang sendiri, hah?!" balas penyintas lain sambil menunjuk dada Doni.

Rudi berada di tengah-tengah, merentangkan kedua tangannya berusaha meredam emosi massa yang mulai tersulut, namun suaranya tenggelam oleh kegaduhan.

Damar langsung merangsek masuk ke tengah kerumunan. "Cukup! Diam semua!" Bentakan lantang Damar menggema keras memantul di dinding beton, seketika membungkam mulut semua orang.

Suasana mendadak hening. Damar menatap Rudi tajam. "Ada apa ini, Rud?"

Rudi mengembuskan napas berat, wajahnya tampak sangat lelah. "Ada beberapa stok makanan yang hilang dari rak penyimpanan, Mar."

Damar mengalihkan pandangannya ke arah rak yang ditunjuk. Memang ada celah kosong di barisan belakang. "Berapa banyak yang hilang?"

"Tiga kaleng sarden. Sama dua bungkus mi instan."

Rahang Damar seketika mengeras. Secara kuantitas, jumlah itu mungkin terlihat sepele. Tapi Damar tahu betul, masalah riilnya bukan pada tiga kaleng sarden yang hilang, melainkan runtuhnya rasa percaya antar sesama. Sekali saja aksi pencurian domestik seperti ini dibiarkan, fondasi kelompok mereka akan hancur berantakan dari dalam tanpa perlu serangan *infected*.

Malam harinya, sebuah pertemuan darurat kembali digelar di aula utama lantai dasar. Kali ini, suasananya terasa berkali-kali lipat lebih pekat dan menekan.

Kapten Rendra berdiri tegak di hadapan seluruh penghuni gedung. Meski pangkat militernya sudah tidak lagi diakui sejak institusi negara runtuh, wibawa dan ketegasannya sebagai seorang pemimpin masih menjadi jangkar bagi kelompok itu.

"Saya tidak akan bertele-tele," buka Kapten Rendra, suaranya berat dan dingin menyapu seisi ruangan. "Siapa pun di antara kalian yang mengambil jatah makanan tambahan tanpa izin, kembalikan ke meja ini malam ini juga. Gak akan ada pertanyaan, gak akan ada sanksi."

Lengang. Tidak ada satu pun yang berani menyahut. Orang-orang hanya saling melempar tatapan penuh curiga dan prasangka ke kanan dan kiri mereka.

Kapten Rendra melanjutkan dengan nada yang lebih menekan, "Kita semua di sini sedang berjuang untuk menyambung nyawa bersama-sama. Kalau di antara kita sudah mulai saling mencuri dan menusuk dari belakang, kita semua selesai. Kita bakal mati konyol."

Keheningan yang mencekat kembali menguasai aula. Damar yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa mengamati lekat-lekat wajah para penyintas satu per satu. Kelaparan, ketakutan, dan keputusasaan tergambar jelas di sana.

Detik itu, Damar mulai paham mengapa banyak kelompok penyintas di luar sana yang hancur berkeping-keping dalam waktu singkat. Penyebab utamanya sering kali bukan karena keganasan monster, melainkan sifat purba manusia itu sendiri. Kelaparan terbukti sanggup mengikis moralitas dan mengubah siapa pun menjadi egois dalam sekejap.

Malam semakin larut menjemput dini hari. Damar mendapatkan giliran jaga di atap gedung, ditemani oleh Alya yang duduk bersandar di dekat pembatas dak beton.

Di kejauhan, lanskap kota tampak mengerikan—sebuah siluet raksasa yang hitam pekat dan gulita. Tidak ada kerlip lampu, tidak ada deru mesin kendaraan. Benar-benar sebuah dunia yang telah mati.

"Aku gak suka atmosfer bawah malam ini, Mar," celetuk Alya tiba-tiba, memecah kesunyian malam yang dingin.

Damar menoleh sedikit. "Soal kasus pencurian makanan tadi?"

Alya mengangguk lesu, matanya menatap kosong ke kegelapan kota. "Orang-orang... mereka mulai berubah jadi asing. Tatapannya beda."

Damar menghela napas panjang, membiarkan uap tipis keluar dari mulutnya akibat hawa malam. Dia pun merasakan hal yang sama. Beberapa penyintas mulai terlihat menyembunyikan barang bawaan mereka secara mencurigakan, konflik fisik kecil mulai gampang tersulut hanya karena masalah antrean air, dan semua orang mendadak jadi sensitif.

"Kelaparan itu punya cara instan buat mengubah manusia menjadi monster, Al," gumam Damar lirih.

Alya terdiam, tidak membalas. Kalimat Damar barusan terdengar teramat jujur sekaligus mengerikan, karena tanda-tanda transformasi itu sudah mulai nyata terjadi di bawah kaki mereka saat ini.

Keesokan paginya, kekacauan baru kembali mengetuk pintu markas mereka. Alya tampak berlari kencang menuruni anak tangga menuju aula utama dengan wajah panik yang pucat pasi.

"Damar! Damar, ke atas sekarang!" seru Alya dengan suara bergetar.

Damar yang saat itu sedang membantu Rudi memaku engsel pintu darurat langsung meletakkan palunya dan berdiri tegak. "Ada apa, Al?"

"Adit... Adit pingsan di lantai dua!"

Kabar itu spontan membuat seisi ruangan bergerak panik. Adit adalah anak laki-laki berusia sebelas tahun, salah satu yatim piatu yang ikut dievakuasi sejak awal wabah dimulai.

Begitu Damar dan yang lain tiba di ruang tidur lantai dua, tubuh kurus anak itu sudah terbaring lemah di atas tikar. Wajahnya seputih kertas dengan bibir yang pecah-pecah kering.

"Dia sengaja gak mau makan jatah mi instannya selama dua hari ini, katanya mau dikasih buat adiknya," bisik salah seorang ibu-ibu di sana sambil terisak pelan.

Damar mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Situasi di dalam markas ini ternyata jauh lebih kritis dari perkiraan mereka di atas kertas.

Kapten Rendra segera berjongkok, memeriksa denyut nadi dan pupil mata Adit dengan teliti. "Bukan infeksi atau penyakit serius. Dia cuma dehidrasi dan malanutrisi parah. Intinya, dia kelaparan," vonis sang Kapten datar, namun ada nada kemarahan yang tertahan di sana.

Kejadian pingsannya Adit menjadi alarm keras bagi semua orang. Jika dalam waktu dekat mereka tidak berhasil membawa pulang pasokan logistik yang baru, anak-anak lain—atau bahkan orang dewasa—akan mulai bertumbangan satu per satu.

Sore harinya, Damar langsung menginisiasi pertemuan darurat dengan seluruh anggota inti di ruang tengah.

"Kita udah gak punya kemewahan buat duduk diam dan menunggu situasi membaik," buka Damar tanpa basa-basi. Seluruh mata di ruangan itu mengangguk setuju.

Pak Rangga yang duduk di ujung meja tampak menua beberapa tahun hanya dalam kurun waktu seminggu terakhir; gurat beban di wajahnya terlihat begitu dalam. "Kita harus keluar dan bawa pulang makanan, apa pun risikonya," sahutnya pelan namun tegas.

Kapten Rendra membentangkan peta kota di atas meja, memperlihatkan rute-rute yang sudah dipenuhi coretan tinta merah. Minimarket, toko kelontong, pusat perbelanjaan grosir—semuanya sudah diberi tanda silang. Sudah ludes tak bersisa.

Di tengah keputusasaan yang mulai buntu, Rudi tiba-tiba memajukan tubuhnya dan menunjuk sebuah titik koordinat di pinggiran distrik industri. "Saya... saya punya satu ide lokasi."

Semua kepala di ruangan itu spontan menoleh ke arah Rudi. "Di mana?" tanya Damar cepat.

"Terminal Distribusi Regional," jawab Rudi mantap. "Dulu sebelum dunia hancur, tempat itu adalah pusat rantai pasok utama yang menampung bahan pangan mentah dan sembako sebelum disebar ke jaringan swalayan kota."

Kapten Rendra langsung memicingkan matanya, tertarik. "Kenapa lokasi strategis begini baru kamu sebutkan sekarang, Rud?"

Rudi menghela napas, agak ragu. "Karena lokasinya berada di zona industri padat, Kapten. Aksesnya sulit dan saya gak bisa jamin seratus persen apakah gudang-gudang di sana masih utuh atau sudah dijarah kelompok lain. Tapi kalau tebakan saya benar dan pintunya belum jebol..." Rudi menatap rekan-rekannya satu per satu. "...isi di dalam sana bakal cukup buat kasih makan kita semua selama berbulan-bulan."

Jantung Damar mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Informasi ini bisa menjadi malaikat penolong yang menyelamatkan kelompok mereka, atau justru jebakan maut yang siap merenggut nyawa tim pencari. Tempat dengan potensi logistik sebesar itu pasti juga menjadi incaran utama faksi penyintas lain di luar sana yang sama laparnya dengan mereka.

Kapten Rendra langsung melipat petanya dengan satu sentakan mantap, lalu berdiri tegak. "Gak ada pilihan lain. Kita berangkat besok pagi-pagi sekali."

Kali ini, tidak ada satu pun yang melayangkan bantahan.

Malam kembali turun membungkus kota, membawa embusan angin dingin yang menyelinap masuk melalui sela-sela jendela gedung tua yang retak.

Damar berdiri seorang diri di atap gedung, memandang jauh ke hamparan kegelapan di bawahnya. Sebagian besar penghuni markas sudah mencoba memejamkan mata, meski Damar tahu tidur mereka tidak akan pernah nyenyak malam ini. Rasa perih di perut kosong memiliki cara tersendiri untuk membuat manusia terjaga dalam kegelisahan.

Semakin lama dunia pasca-kiamat ini bergulir, semakin jelas pula satu realitas pahit bagi Damar. *Infected* bukan lagi satu-satunya momok yang harus mereka takuti. Persediaan yang menipis melahirkan keputusasaan, dan manusia yang sudah berada di puncak rasa putus asa bisa berubah menjadi makhluk yang jauh lebih kejam dan manipulatif ketimbang monster mana pun di luar sana.

Suara langkah kaki yang halus di atas beton terdengar dari arah belakang. Alya muncul dari balik pintu tangga, berjalan mendekat sambil membawa dua botol air mineral di tangannya.

"Mikir keras lagi, Mar?" tanya Alya dengan nada berkelakar yang halus.

Damar membalasnya dengan senyum tipis yang sarat akan beban. "Memangnya kelihatan banget, ya?"

"Selalu," sahut Alya pendek. Dia menyodorkan salah satu botol air yang langsung diterima oleh Damar. "Kita pasti bisa lewati besok dengan selamat, Mar. Kita bakal bawa pulang makanan itu."

"Kamu seyakin itu?" tanya Damar, menatap botol di genggamannya.

Alya mengalihkan pandangannya, menatap langit malam yang bersih tanpa polusi cahaya. "Kalau kita memilih untuk menyerah dan mati kelaparan di sini sekarang, buat apa kita berjuang setengah mati dan bertahan sejauh ini?"

Damar ikut mendongak, menatap hamparan langit malam yang sunyi. Benar-benar sebuah dunia yang telah kehilangan peradabannya. Namun di balik segala kehancuran dan kebrutalan yang mengepung mereka, masih ada satu hal fundamental yang tersisa di dalam dada mereka masing-masing.

Sebuah harapan.

Bentuknya mungkin kecil, ringkih, dan sangat mudah patah, tapi harapan itu masih bernyawa. Dan besok pagi, tim kecil mereka akan mempertaruhkan nyawa di jalanan demi mempertahankan sisa-sisa harapan tersebut.

Sebab Damar tahu betul: jika misi besok gagal total dan mereka pulang dengan tangan hampa, markas yang mereka bangun dengan cucuran keringat ini tidak akan runtuh oleh serbuan mayat hidup, melainkan hancur berantakan akibat kanibalisme sosial dari dalam diri mereka sendiri.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!