Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Harjono
Tatapan Harjono menembus langsung ke dalam bola matanya. Pria berkemeja safari abu-abu itu berdiri tegak, menunggu jawaban. Bayangannya menutupi seluruh tubuh kurus Sumarni di atas dipan.
Sumarni menyembunyikan telapak tangannya di balik selimut batik. Otak modernnya menyusun alibi dalam hitungan detik.
"Aku tersandung ujung dipan. Air kendi tumpah." Sumarni menunjuk genangan air di lantai dengan dagunya. Suaranya datar. Tidak ada getaran ketakutan. "Aku membuka lemari mencari kain lap. Tanganku tergores engsel pintu yang karatan."
Langkah sepatu kulit Harjono mengetuk lantai. Ia maju selangkah.
Tangan besar bersorot urat menonjol itu terulur, mencengkeram pergelangan tangan Sumarni paksa. Ia menarik tangan istrinya keluar dari balik selimut.
Sensasi panas seketika menjalar dari kulit pria itu. Ibu jarinya yang kasar menyapu ujung telunjuk Sumarni yang berdarah. Bekas sayatan beling itu masih segar.
"Engsel karatan tidak membuat luka sayat setajam ini, Marni." Suara Harjono rendah. Baritonnya bergetar di telinga, membawa intimidasi seorang pemimpin pabrik yang terbiasa dituruti.
Dulu, Sumarni asli akan luluh lantak hanya dengan sentuhan ini. Ia akan memeluk lengan pria itu, menangis, dan mengemis agar Harjono tidak meninggalkannya tidur sendirian. Ia akan mengadukan kelicikan Sulastri dengan air mata berderai, berharap mendapat belas kasihan.
Reaksi murahan yang justru selalu membuat Harjono memandangnya rendah bak hama.
Sumarni modern menatap jemari suaminya sesaat. Lalu, ia menarik tangannya. Kasar.
"Lepas, Mas."
Harjono tertegun. Telapak tangannya menggantung kosong di udara.
Istri keduanya yang selalu membebek, merengek, dan menangis, baru saja menepis tangannya. Sorot mata Sumarni begitu bening. Kosong dari pemujaan buta yang biasa pria itu nikmati setiap kali berkunjung ke paviliun belakang.
"Kamu..." Harjono kehilangan kalimatnya.
"Aku lelah. Ingin istirahat." Sumarni memutus kontak mata.
Harjono belum sempat memproses penolakan itu ketika sebuah suara perut keroncongan memecah ketegangan di antara mereka.
Pria itu menoleh tajam ke sudut ruangan. Mata gelapnya baru menangkap gundukan kecil di dekat kaki meja. Dimas meringkuk menghadap tembok. Kaus putihnya dekil penuh noda tanah.
"Kenapa anak ini ada di sini?" Nada suara Harjono menukik naik.
Sumarni menyingkap selimut. Ia turun dari dipan, mengabaikan sisa pening yang berputar di kepalanya. Tubuh kurusnya berdiri menghalangi pandangan Harjono ke arah bocah tiga tahun itu. Insting pelindungnya mengambil alih kemudi.
"Dia lapar." Sumarni menunjuk piring seng berkarat di atas meja. Sisa tempe bacem dan sejumput sambal terasi mentah tergeletak menyedihkan di sana. "Tuan pemilik pabrik membiarkan ahli warisnya makan sisa kemarin, sementara istri pertamamu memakai sutra mahal?"
Satu kalimat pendek. Menghantam ulu hati Harjono tanpa ampun.
Pria itu menatap piring seng tersebut lama. Kerutan di dahinya menajam. Sulastri selalu melaporkan bahwa Dimas sangat diurus, hanya saja anak itu rewel dan sulit makan. Kenyataannya? Putranya bahkan tidak diberi lauk layak.
"Bawa dia ke rumah utama. Biar pelayan yang mengurus." Harjono mengulurkan tangan, hendak meraih bahu Dimas.
Bocah itu menjerit tertahan. Ia beringsut mundur menjauhi Harjono. Tangan mungilnya justru memeluk betis Sumarni erat-erat. Wajah kotornya disembunyikan di balik kain kebaya ibu tirinya.
Harjono terpaku. Putranya sendiri ketakutan padanya. Anak itu malah mencari perlindungan pada sosok istri kedua yang selama ini selalu diabaikannya.
Sumarni menunduk. Ia mengelus puncak kepala Dimas. Gerakannya begitu luwes dan hangat, berbanding terbalik dengan sikap dinginnya pada Harjono.
"Dia tidur di sini malam ini. Denganku," putus Sumarni.
"Ini paviliun kotor, Marni. Berdebu."
"Kalau begitu, perintahkan pelayan membersihkan paviliun ini besok pagi. Kirimkan kasur kapuk baru dan makanan hangat." Sumarni mendongak, menantang mata suaminya. "Atau Mas mau para buruh pabrik tahu, anak laki-laki keluarga Tjokro dibiarkan tidur di lantai keras?"
Skakmat. Harjono terdiam sepenuhnya.
Dia memandangi Sumarni dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita di depannya ini terlihat sangat berantakan, pucat, dan bau keringat. Tapi ada keanggunan baru yang memancar dari postur tubuhnya. Ada ketegasan tak kasatmata yang memaksanya tunduk pada logika. Harjono tidak menyukai fakta bahwa perkataan wanita itu masuk akal.
"Besok pagi, Mbok Darmi akan membawakan sarapan ke mari," ucap Harjono akhirnya. Ia berbalik. Langkahnya tidak lagi seberwibawa saat pertama masuk. Ada rasa penasaran buntu yang mengganggu pikirannya.
Pintu jati kembali tertutup.
Sumarni mengembuskan napas panjang. Bahunya merosot. Berhadapan langsung dengan otoritas Harjono menguras sisa fisiknya.
Dimas mendongak. Tangannya menarik pelan ujung kebaya Sumarni.
"Ibu... tidak apa-apa?" Suara bocah itu kecil, nyaris berbisik ditelan udara malam.
Hati Sumarni meleleh seketika. Panggilan 'Ibu' itu mengalir begitu murni. Ia berjongkok, mengangkat tubuh ringan Dimas ke dalam pelukannya.
"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Kita aman malam ini."
Sumarni menidurkan Dimas di atas ranjang. Tidak butuh waktu lama bagi bocah kelelahan itu untuk terlelap. Dengkur halusnya menemani malam yang sunyi.
Cahaya bulan menembus celah jendela kayu. Sumarni berdiri menatap pantulan dirinya di cermin kusam sebelah lemari. Kebaya lusuhnya bernoda lumpur dan air kendi. Warnanya pudar. Besok pagi, Sulastri pasti akan menggelar drama baru di meja makan keluarga.
Istri pertama itu tidak akan tinggal diam melihat Harjono menaruh perhatian lebih padanya hari ini.
Sumarni membuka laci bawah lemari, menghindari celah tempat ia menyembunyikan pecahan mangkuk beracun tadi. Ia butuh baju yang layak untuk perang besok pagi.
Tangannya menarik setumpuk pakaian tumpuk dari dalam.
Bibir Sumarni terbelah. Matanya menajam.
Semua kain kebaya dan batik parang di dalam laci itu dipenuhi lubang besar bekas gigitan tikus. Bau pesing menyengat seketika membakar hidungnya. Kain-kain itu lembap dan lengket.
Sulastri pasti sengaja menghancurkan sisa harga diri Sumarni untuk besok pagi.