Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Vito
Begitu pintu kamarnya terbuka, rasa rindu seketika menyelimutinya. Ruangan ini hampir tidak mengalami perubahan apa pun sejak hari ia pergi meninggalkannya. Jendela besar di ujung ruangan membiarkan cahaya matahari masuk dan membentuk bayangan panjang di lantai. Kasur serta meja belajarnya masih berada di posisi yang sama persis seperti dulu.
Nowi berjalan mendekati meja lalu menatap papan foto yang tergantung di bagian atasnya. Isinya masih lengkap dan tidak ada yang berubah. Ujung jarinya menyentuh satu per satu foto yang menampilkan teman-temannya yang dulu pernah ia tinggalkan. Ada foto saat pesta kelulusan, malam menonton konser, hingga momen saat mereka belajar berenang bersama.
Nowi mengambil satu lembar foto, yaitu foto yang diambil saat pesta kelulusan. Ia mengenakan kebaaya berwarna merah tua dengan rambut yang ditata setengah diikat.
Namun yang menjadi pusat perhatiannya bukan dirinya, melainkan cowok yang berdiri di sampingnya. Nowi tersenyum lebar ke arah kamera, namun cowok itu justru menatapnya. Pakaian resminya terlihat rapi, sementara satu tangannya melingkar erat di pinggang Nowi. Sosok itu adalah Vito.
Ia memang selalu bersikap posesif dan terlalu protektif. Sikapnya itu menunjukkan bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang berhak mencintai dan memiliki Nowi.
Bagi Vito, Nowi adalah miliknya, dan bagi Nowi, Vito adalah cinta pertama sekaligus satu-satunya seseorang yang pernah ia miliki. Dialah satu-satunya orang yang mengenal Nowi dan mencintainya apa adanya.
...(Flash Back On)...
Sejak pertama kali bertemu di kelas enam, Vito sudah meyakini bahwa mereka akan selalu bersama selamanya, dan ia selalu menyampaikan keyakinan itu kepada Nowi. Di kesempatan lain, Nowi mengetuk-ngetukkan ujung pensil di atas meja sambil setengah mendengarkan penjelasan guru. Pandangannya terus melirik ke arah pintu kelas.
Vito sudah berdiri di lorong dekat jendela sambil memiringkan kepalanya sedikit. Itu adalah kode diam-diam agar Nowi menyusulnya keluar.
Nowi ragu sejenak, lalu mengangkat tangannya. “Bu, boleh ke toilet?”
Begitu ia keluar dan pintu kelas tertutup, lorong sekolah terlihat sepi. Vito tidak terlihat di sana. Nowi pun berjalan menyusuri koridor menuju tempat yang biasa mereka gunakan untuk bertemu.
Baru beberapa langkah berjalan, sebuah tangan besar menangkap pergelangan tangannya lalu menariknya menuju tangga. Tubuh Nowi terdorong pelan hingga menyentuh dinding.
“Hai, Kupu-kupu,” bisik Vito sambil tersenyum dengan tatapan nakal.
Tangannya bergerak menyusuri lengan, bahu, dan leher Nowi, sebelum akhirnya berhenti di wajahnya. Ibu jarinya mengusap bibir Nowi dengan gerakan lembut.
“Hai, Vito.”
“Aku kangen banget sama kamu,” bisiknya sambil menyandarkan wajahnya di leher Nowi. “Kangen banget.”
Tatapan Vito berpindah dari mata Nowi ke bibirnya, lalu kembali lagi. Salah satu tangannya menekan pinggang Nowi, mendekatkannya ke dinding.
“Boleh aku cium sekarang?”
Nowi mengangguk kecil. Momen di antara mereka berlangsung cepat. Bersama Vito, segala hal terasa mudah, seakan dunia hanya berisi mereka berdua. Beberapa saat kemudian, Vito menyandarkan dahinya ke dahi Nowi.
“Aku sayang banget sama kamu, Nowi. Jangan pernah lupain itu.”
“Aku nggak bakal lupa. Aku juga sayang sama kamu.”
...(Flash Back Close)...
Saat tekanan batin terasa terlalu berat, Nowi melakukan kebiasaannya, yaitu berlari. Ia berganti pakaian dengan legging olahraga dan hoodie kesukaannya, lalu mengenakan topi serta mengikat tali sepatu.
Semoga tidak ada yang mengenalinya.
Ia keluar rumah saat awan gelap mulai menutupi matahari. Nowi menarik napas panjang, menikmati udara dingin yang segar, lalu tanpa sengaja melirik ke rumah di sebelah. Dan tentu saja, pria itu keluar rumah.
Ia mengenakan celana pendek olahraga dan kaus ketat yang menempel erat di tubuhnya, sementara hoodie disampirkan di lengannya.
“Serius?” tanyanya.
“Aku juga kepikiran hal yang sama,” suara serak Bass terdengar tiba-tiba dan langsung membuat Nowi kesal.
Nowi menyipitkan mata. “Jadi tubuh kamu persis kayak yang aku bayangin, ya. Ya ampun. Jujur deh, kamu dibuat di laboratorium, kan?” Tangannya bergerak menunjuk tubuh Bass dari atas ke bawah.
“Apa?” Bass mengangkat alis, tampak bingung.
“Nggak penting.” Nowi mengibaskan tangan. “Kamu pelari?”
“Iya. Buat ngilangin stres.”
“Ugh. Nyebelin ... Sama.”
Bass mengangkat bahu. “Kita bisa pura-pura nggak kenal dan lari sendiri-sendiri. Atau kita bisa bersikap dewasa dan lari bareng. Aku bisa pelanin tempo kalau kamu mau.”
Nowi langsung memelototinya. “Wow. Serius? Sindiran macam apa itu?” katanya cepat. “Maksud kamu apa? Karena aku cewek jadi nggak bisa ngimbangin kecepatan lari kamu?” Dia menunjuk Bass. “Persetan, bro. Aku udah sering lari sendirian. Nggak butuh bantuan kamu.”
“Tenang dulu, cantik.” Bass mengangkat tangan menyerah. “Aku ngomong gitu karena kaki kamu kecil banget sementara aku...” Dia menirukan gerakan tangan Nowi sebelumnya ke tubuhnya sendiri. “Ya begini. Langkahku lebih panjang.”
Senyum Bass langsung muncul. “Tapi ayo. Tunjukin kemampuan kamu.”
Bass mengenakan hoodienya lalu meregangkan otot kakinya. Mereka pun mulai berlari. Bass membiarkan Nowi menentukan kecepatan. Nowi menundukkan kepalanya agar wajah tertutup topi saat mereka menyusuri jalan kerikil yang panjang.
Rumah orang tuanya terletak di pinggiran kota Batu, jauh dari pemukiman lain dan pusat kota.
“Jadi Papa kamu pengacara, ya?” tanya Nowi sambil terus berlari. “Kamu sendiri kerja apa?”
“Bener. Dia punya firma sendiri di kota ini.” Bass meliriknya sekilas. “Tapi aku sedikit mengecewakan buat dia. Aku sebenarnya seniman tato.”
Nowi berkedip. “Oke, wow. Nggak nyangka, tapi sekarang setelah tahu ... cocok sih.” Dia melirik tato di tangan Bass. "Kamu punya tatto yang kamu kerjain sendiri?”
“Pertanyaan menarik.” Bass tertawa kecil. “Ada. Waktu masih magang, aku latihan di kaki sendiri. Setelah udah lumayan jago, aku bikin desain di pergelangan tangan kiri. Sisanya karya seniman lain. Aku suka hasil kerja orang lain.”
Dia menoleh ke Nowi. “Kamu punya tato?”
Senyum jahil langsung muncul di wajah Nowi.
“Nggak.” Dia mengangkat dagu sedikit. “Kulitku masih perawan.”
Bass mengeluarkan suara frustrasi pelan. “Ya ampun, Nowi.” Dia menggeleng kecil sambil tertawa. “Kalau suatu hari kamu mau ngasih kehormatan itu ke aku, dengan senang hati aku mau jadi yang pertama.”
“Oh ya?”
“Hm... Kalau kamu sendiri?” tanya Bass. “Kerja apa?”
Sial.
Nowi tidak mau membahas hal itu. Ia sadar sejak awal bahwa pertanyaan bisa berbalik kepadanya.
“Jadi...” Nowi buru-buru mengganti topik. “Gimana ceritanya kamu bisa tinggal di Batu?”
Bass tertawa kecil, jelas sadar bahwa Nowi sedang menghindar. “Hmm... mantan pacar, sebenarnya,”
“Oh...” Nowi mengangguk. “Turut prihatin.”
Ia yakin cerita itu tidak sepenuhnya benar, namun tidak mau bertanya lebih jauh supaya Bass juga tidak menanyakan kehidupannya.
Mereka terus berlari dalam diam selama beberapa blok, sampai tanpa berpikir panjang Nowi membelok menuju jalur yang mengarah ke sumber air panas.
Setelah sekitar satu kilometer melewati jalur hutan, pepohonan mulai jarang dan pemandangan mata air mulai terlihat. Golden Spring berada di ujung barat wilayah kota Batu, tersembunyi di antara pohon-pohon pinus.
Kabut tebal menutupi sebagian bebatuan.Tetes hujan pertama pun menyentuh kulitnya. Terasa lembut dan akrab. Inilah rasanya pulang.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nowi merasa nyaman. Ia menarik napas panjang, menghirup udara yang beraroma khas pinus itu.