NovelToon NovelToon
SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rey.writerid

Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.

Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."

Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.

Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELUK YANG TERSISA (EPILOG)

Tujuh tahun telah berlalu bagai kedipan mata. Waktu perlahan mengikis kemegahan masa lalu, menyisakan realitas hidup yang harus dihadapi dengan kepala tegak. Bagaskara Ananta, bocah laki-laki kecil yang dahulu lahir prematur di tengah badai air mata, kini tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sudah bersiap untuk masuk ke sekolah dasar.

Kehidupan ekonomi Winda bener-bener berputar seratus delapan puluh derajat. Uang di dalam koper yang ditinggalkan Baskara tujuh tahun lalu sudah ia hemat-hemat sedemikian rupa, namun kini perlahan mulai menipis untuk biaya hidup dan persiapan sekolah anaknya. Demi menyambung hidup, Winda menepis jauh-jauh gengsi masa lalunya. Ia kini bekerja sebagai seorang petugas kebersihan atau Office Girl (OB) di sebuah gedung perkantoran swasta yang terletak tak jauh dari rumahnya.

Suatu siang di sela-sela waktu istirahat kerjanya, ponsel di saku celana kain Winda bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor resmi sebuah rumah sakit ternama. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Winda membuka pesan tersebut. Itu adalah lampiran surat dokumen hasil tes DNA yang sempat ia urus dengan mengumpulkan sampel rambut dan berkas medis Baskara beberapa bulan yang lalu.

Mataku terpaku pada sebaris kalimat kesimpulan di lembar paling bawah: Probabilitas hubungan kepenghuluan: 100% Anak Kandung dari Baskara.

Deg. Air mata Winda seketika menetes, namun kali ini ada seulas senyuman lega yang merekah di bibirnya. Dadanya terasa begitu plong.

Mas... anak ini 100% anak kamu. Dia anakmu, Mas... batin Winda berbisik lirih. Walaupun raga Baskara sudah tidak ada lagi di depan matanya, meskipun pria itu sudah pergi entah ke mana, namun setiap kali Winda memeluk dan menatap wajah putranya, ia bisa merasakan kehadiran Baskara kecil di hidupnya. Kebenaran ini sudah cukup untuk mengobati separuh luka batinnya selama tujuh tahun ini.

"Mama!"

Sebuah suara cempreng yang sangat familier memecah lamunan Winda. Dari arah gerbang kantor, bocah laki-laki berusia tujuh tahun dengan seragam TK-nya berlari kecil menghampiri Winda. Itu Bagaskara. Di belakangnya, tampak ayah kandung Winda—sang eyang—berjalan pelan sembari tersenyum mengiringi cucunya.

Winda langsung berlutut, merentangkan kedua tangannya, dan memeluk erat tubuh mungil anaknya. "Udah pulang, Sayang?" bisik Winda lembut, mencium pucuk rambut anaknya yang wangi matahari.

"Iya, Ma! Tadi Bagas belajar berhitung di sekolah!" jawab Bagaskara dengan mata berbinar-binar.

Winda tersenyum hangat, mengusap pipi gembul putranya. "Pintar anak Mama. Sana... pulang dulu sama Eyang ke rumah ya, Nak. Mama masih harus beresin pekerjaan sebentar lagi. Nanti Mama menyusul pulang."

Bagas mengangguk patuh, lalu kembali menggandeng tangan eyangnya untuk berjalan pulang terlebih dahulu.

Setelah memastikan anak dan ayahnya pergi, Winda kembali masuk ke dalam gedung untuk menyelesaikan tugas menyapunya di area lobi utama. Namun, saat ia hendak melangkah keluar menuju koridor ruang rapat, langkah kaki Winda mendadak terkunci rapat. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, dan napasnya seolah berhenti di tenggorokan.

Dari arah pintu masuk VIP, berjalan seorang lelaki bertubuh tegap dengan setelan jas mahal yang sangat amat ia kenali. Wajah itu... ketegasan itu... tidak salah lagi, itu Baskara. Dan di sebelah lengan Baskara, bersandar seorang wanita bergaun elegan yang tampak sangat anggun dan cantik dengan sepasang mata biru yang memikat. Wanita itu adalah Alena.

Winda terdiam membeku di balik pilar pembatas, air matanya perlahan bergulir tanpa bisa ia tahan. Rasa rindu, sesak, dan bersalah kembali menghantam dadanya.

Ia memperhatikan Baskara dan Alena yang berjalan masuk ke dalam ruang kaca besar. Di dalam ruangan itu, seorang wanita mandiri dengan rambut panjang yang diikat rapi, mengenakan setelan blazer kerja yang sangat modis, bangkit dari kursinya untuk menyalami mereka berdua. Gerakannya sentiasa anggun dan memancarkan aura kesuksesan yang luar biasa. Perempuan itu adalah Serena.

Rupanya, perusahaan tempat Winda bekerja sebagai OB saat ini sedang mengadakan kerja sama bisnis besar dengan perusahaan milik Serena dan Baskara. Winda perlahan mendekatkan langkahnya di balik celah pintu yang sedikit terbuka, mencuri dengar obrolan mereka di dalam sana.

Mereka terdengar sangat akrab membahas grafik keuntungan dan ekspansi bisnis baru. Namun, di sela-sela obrolan bisnis itu, Serena terkekeh pelan sembari melirik Alena. "Nggak terasa ya, Al... pernikahan kamu sama Baskara udah jalan empat tahun aja. Bisnis lancar, rumah tangga juga makin adem."

Jedug. Jantung Winda rasanya seperti dihantam godam besar saat mendengar kalimat Serena.

Baskara... dan Alena... sudah menikah empat tahun yang lalu? Dada Winda bergemuruh hebat. Ada kilatan rasa marah, cemburu, dan tidak rela yang sempat melintas di hatinya. Mengapa mereka bisa sebahagia itu di atas penderitaannya yang luntang-lantung sendirian? Winda mengepalkan tangannya, hendak melangkah maju ke dalam ruangan untuk melabrak dan berteriak di depan wajah Baskara bahwa anak mereka ada di luar sana!

Namun, baru saja Winda hendak menggerakkan kakinya, pintu samping ruangan itu terbuka. Seorang baby sitter melangkah masuk sembari menuntun dua orang anak laki-laki kembar yang menggemaskan berusia sekitar tiga tahun. Begitu melihat Baskara, kedua anak kembar itu langsung berlari riang dengan kaki-kaki kecil mereka.

"Papa!!! Papaaa!" teriak kedua anak kembar itu berebutan memeluk kaki Baskara.

Baskara seketika berlutut, wajah kaku yang tadinya dingin saat membahas bisnis langsung berubah menjadi sangat hangat dan dipenuhi tawa bahagia. Ia mengangkat kedua anak kembarnya itu ke dalam gendongannya, sementara Alena tersenyum manis sembari mengusap keringat di dahi anak-anak mereka.

Winda kembali terdiam membeku di tempatnya. Langkahnya lumpuh total. Kaku. Lidahnya bener-bener kelu melihat pemandangan utuh di depan matanya. Dua anak kembar itu... sudah pasti adalah anak kandung Baskara dan Alena.

Winda memandangi bagaimana Serena menatap anak-anak Baskara dengan binar mata yang tulus tanpa kebencian lagi. Mereka bertiga—Serena, Baskara, dan Alena—tertawa lepas bersama, menikmati kelincahan anak kembar tiga tahun yang sedang asyik bermain dan berlarian di dalam ruang rapat mewah tersebut.

Melihat tawa lepas itu, perlahan-lahan rasa marah dan egois di dalam dada Winda menguap pergi, digantikan oleh sebuah rasa ikhlas yang teramat dalam.

Serena... kamu sekarang makin sukses dan mandiri. Mas Baskara... dan Alena... ternyata kalian memang jodoh terbaik yang digariskan takdir, batin Winda tersenyum getir di tengah tangisnya yang sunyi. Di balik pilar itu, Winda menatap mereka dengan penuh rasa iri yang mendalam, namun di sisi lain, ia juga turut merasa senang karena orang-orang yang pernah ia sakiti di masa lalu kini telah menemukan kebahagiaan sejati mereka masing-masing. Pelariannya dan dosanya di masa lalu, kini bener-bener telah usai dibayar lunas oleh waktu.

Sore harinya, dengan seragam OB yang masih melekat di tubuhnya yang lelah, Winda berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan kota untuk pulang ke rumah. Pikirannya masih dipenuhi bayangan kebahagiaan keluarga kecil Baskara tadi siang.

Tiba-tiba, saat ia hendak melewati sebuah gang sempit di dekat area pertokoan kumuh, langkah kaki Winda terhenti. Mataku menangkap sosok seorang gembel yang duduk bersandar di balik tumpukan kardus kotor. Pakaiannya compang-camping, rambutnya gimbal tak terurus, dan tubuhnya bener-bener kurus kering. Gembel itu menengadahkan tangannya yang kotor ke arah Winda, memberi isyarat meminta makan atau uang dengan tatapan kosong.

Hati Winda terenyuh. Ia merogoh saku celananya, mengambil beberapa lembar uang kertas yang tersisa, lalu membungkuk untuk meletakkannya di atas telapak tangan gembel tersebut.

Namun, begitu uang itu berpindah tangan, gembel itu mendongakkan kepalanya. Begitu mata mereka saling beradu, gembel itu tiba-tiba menunjuk wajah Winda sembari tertawa terbahak-bahak dengan suara yang melengking gila.

"Hahaha! Winda! Winda! Hahaha!" jerit gembel itu diselingi tawa kosong yang mengerikan.

Winda tersentak hebat, langkah kakinya mundur dua langkah ke belakang dengan wajah yang mendadak pias. Suara itu... guratan wajah di balik kotoran tanah itu... gembel itu ternyata adalah Aryo. Pria yang dulunya direktur kaya raya yang nekat menghancurkan rumah tangganya, kini bener-bener telah kehilangan akal sehatnya, hidup terlunta-lunta di jalanan sebagai orang gila akibat frustrasi dan karma atas seluruh dosa-dosanya di masa lalu.

Winda meringis ngeri sekaligus miris menatap akhir hidup mantan selingkuhannya itu. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Winda berbalik, melangkah pergi meninggalkan Aryo yang masih tertawa-tawa gila sendirian di balik gang kumuh tersebut.

Winda terus berjalan mempercepat langkah kakinya, menjauh dari seluruh bayang-bayang masa lalu yang kelam. Hingga akhirnya, langkahnya sampai di sebuah simpang penungguan bus dekat komplek perumahannya.

Dari kejauhan, di bawah semburat lampu jalanan sore yang mulai menyala, Winda melihat dua sosok yang sangat ia cintai sedang berdiri di sana. Ayahnya berdiri dengan sabar, sementara Bagaskara kecil duduk di atas bangku beton, dengan setia menanti kedatangan sang mama pulang bekerja.

Winda menghentikan langkahnya sejenak, mengusap sisa-sisa air mata di pipinya, lalu menarik napas panjang. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, melambaikan tangan ke arah anaknya sembari berteriak dengan suara yang sarat akan kebahagiaan baru.

"Bagaskara!!!" panggil Winda lantang sembari tersenyum lebar.

Mendengar suara ibunya, bocah tujuh tahun itu langsung menoleh, melompat turun dari bangku, dan melambaikan tangan balas memanggilnya dengan riang.

Winda melangkah maju dengan hati yang terasa jauh lebih plong dan damai. Biarlah dunia dengan segala kemewahan dan masa lalunya berjalan pergi. Biarlah Baskara, Serena, dan Alena bahagia dengan takdir mereka. Karena bagi Winda yang sekarang, berdiri di sini, menatap senyuman suci putranya, dan merasakan pelukan kasih sayang yang tulus dari Bagaskara kecil... itu sudah lebih dari cukup untuk menuntun sisa hidupnya berjalan ke depan.

— TAMAT —

CATATAN PENULIS😊

Akhirnya, perjalanan panjang ini sampai di pemberhentian terakhir. Melalui cerita ini, kita sama-sama belajar bahwa ego dan pelarian tidak pernah menjadi jalan keluar, melainkan awal dari labirin penyesalan.

Winda kehilangan singgasananya, namun di akhir cerita, ia menemukan peluk yang sesungguhnya kasih sayang tulus yang tak bersyarat dari darah dagingnya sendiri. Kadang, takdir harus mematahkan kita terlebih dahulu, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menuntun kita pulang ke jalan yang benar.

Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah setia menemani langkah Winda, Baskara, Serena, dan Aryo dari bab pertama hingga detik ini. Terima kasih sudah ikut menangis, marah, dan bertumbuh bersama karakter-karakter di dalam cerita ini.

Sampai bertemu di karya rey.writeid selanjutnya. Ingatlah untuk selalu menjaga hati, karena tidak semua kesalahan bisa diperbaiki oleh waktu.

Peluk hangat,

rey.writeid 💙

1
Tamirah
Ikhlaskan Aryo untuk sahabat mu.serena sdh banyak membantu mu.masih banyak laki laki diluar sana yg lebihh baik dari Aryo .Jangan jangan Aryo hanya mengincar kedudukan di perusahaan ituu
Tamirah
cerita ini belummm jelas alur nya, sekilas Kalau winda cinta mati sama Aryo,cinta bertepuk sebelah tangan.Aryo memanfaatkan winda krn dekat dgn Serina.mungkin Karena Serina orang kaya, kalau sekedar cantik itu relatif.lanjut Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!