NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 klaim didepan publik

Malam itu, aula utama di sayap barat mansion Adhitama disulap menjadi tempat perjamuan yang luar biasa mewah. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang jatuh memantul di atas lantai pualam. Meja panjang bergaya Eropa klasik telah ditata dengan hidangan fine dining, dikelilingi oleh para pelayan yang berdiri tegak seperti patung lilin.

Di depan cermin kamarnya, Alana menatap pantulan dirinya dengan perasaan campur aduk.

Beberapa jam yang lalu, asisten pribadi Devano mengantarkan sebuah gaun malam haute couture berwarna midnight blue dengan potongan bahu terbuka (off-shoulder). Gaun itu memeluk lekuk tubuh Alana dengan sempurna, terbuat dari sutra mahal yang berkilau lembut setiap kali ia bergerak. Rambut hitam panjangnya ditata bergelombang elegan, dibiarkan tergerai menutupi sebagian punggungnya.

Alana terlihat menakjubkan. Ia seperti seorang dewi yang turun dari langit, sangat kontras dengan statusnya sebagai tawanan kontrak di rumah ini. Namun, di balik riasan wajahnya yang sempurna, isi kepala Alana masih dipenuhi badai.

Tenggat waktu dua puluh empat jam dari Siska terus berdetak. Uang lima ratus juta itu seolah menjadi algojo yang siap memenggal lehernya esok pagi.

Tok! Tok!

"Nyonya, Nyonya Besar dan para tamu sudah menunggu di ruang perjamuan." Suara dingin seorang pelayan dari balik pintu menyela lamunan Alana.

Alana menarik napas panjang, menekan segala kepanikan ke dasar hatinya, dan melangkah keluar. Ia adalah seekor domba yang sedang berjalan menuju altar pengorbanan.

Begitu pintu ganda ruang perjamuan terbuka, puluhan pasang mata langsung tertuju pada Alana.

Udara di ruangan itu terasa berat. Di ujung meja, Nyonya Besar Sandra duduk dengan angkuh, menyesap sampanye dari gelas kristalnya. Di sisi kanan meja, duduklah dua orang yang paling ingin dihindari Alana saat ini: Herman Wijaya—ayah kandungnya—dan Lidya—ibu tirinya.

Alana menahan napas. Ia baru menyadari bahwa Nyonya Sandra sengaja mengundang ayah dan ibu tirinya malam ini untuk mengadakan "pengadilan keluarga".

"Lihat siapa yang berani menampakkan wajahnya," sindir Sandra dengan suara melengking yang menggema di seluruh ruangan. Ia meletakkan gelasnya dengan kasar. "Sang pengantin palsu sudah tiba."

Herman dan Lidya tampak pucat pasi. Begitu melihat Alana, Lidya langsung memasang wajah penuh penyesalan yang dibuat-buat, bergegas berdiri dan menatap Nyonya Sandra dengan memelas.

"Nyonya Besar, kami sungguh tidak tahu menahu soal kelancangan Alana!" seru Lidya dengan nada histeris, melemparkan semua kesalahan kepada anak tirinya. "Siska tiba-tiba menghilang semalam, dan anak tidak tahu diuntung ini menawarkan diri untuk menggantikannya mengenakan gaun pengantin! Dia pasti mengincar harta keluarga Adhitama!"

Hati Alana hancur mendengarnya. Matanya menatap Herman, ayahnya sendiri, berharap pria itu akan membelanya. Namun, Herman justru menundukkan kepala, tidak berani menatap mata putrinya demi menyelamatkan perusahaannya sendiri.

"Begitukah?" Sandra tersenyum sinis, menatap Alana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan jijik. "Seorang anak luar nikah yang tak diakui, berani bermimpi menjadi menantuku? Cih. Berlutut kau di sana, Alana! Minta maaf pada keluarga Adhitama sebelum aku menyuruh pelayan melemparmu ke jalanan malam ini juga!"

Ruangan itu mendadak hening. Para pelayan menatap Alana dengan pandangan merendahkan. Lidya tersenyum licik di balik sapu tangannya. Mereka semua menunggu Alana hancur berkeping-keping.

Alana mengepalkan tangannya kuat-kuat. Harga dirinya diinjak-injak hingga rata dengan tanah. Namun, jika ia melawan, ayahnya akan hancur. Jika ia berlutut, ia akan kehilangan sisa martabatnya sebagai seorang manusia.

"Mengapa dia harus berlutut?"

Sebuah suara bariton yang berat, rendah, dan sangat mematikan tiba-tiba membelah keheningan yang mencekam itu. Suara itu tidak keras, namun getarannya cukup untuk membuat seluruh orang di ruangan itu menahan napas.

Dari arah pintu utama, kursi roda elektrik itu bergerak masuk dengan pelan.

Devano Adhitama muncul. Pria itu mengenakan setelan jas hitam pekat yang dibuat khusus (tailor-made), membuat auranya terlihat sangat mendominasi dan tak tertembus. Matanya yang tajam bak elang pemangsa menyapu ke seluruh ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat pada sosok ringkih Alana yang berdiri mematung di tengah aula.

Herman dan Lidya seketika gemetar ketakutan melihat sosok tirani yang memegang nyawa perusahaan mereka. Nyonya Sandra sedikit terkejut, namun segera menutupi kegugupannya.

"Devano, kau datang tepat waktu," ucap Sandra, berusaha terdengar otoriter. "Ibu sedang membereskan sampah ini. Keluarga Wijaya telah menipumu dengan mengirimkan anak haram ini. Ibu akan membatalkan pernikahan ini dan memastikan mereka bangkrut besok pagi!"

Devano tidak menjawab ibunya. Ia terus menggerakkan kursi rodanya mendekati Alana.

Suara putaran roda yang memecah keheningan terasa seperti detak jarum jam yang menghitung mundur eksekusi mati. Alana memejamkan matanya rapat-rapat saat kursi roda itu berhenti tepat di sampingnya. Ia menunggu makian, ia menunggu Devano melemparkannya seperti barang rongsokan. Mengingat pertengkaran mereka tadi pagi, Devano pasti sangat membencinya.

Namun, alih-alih cacian, sebuah tangan besar yang kasar merengkuh pinggang Alana dengan sangat posesif.

"Ah!" Alana terkesiap saat Devano menariknya dengan kuat. Tubuh Alana terhuyung dan jatuh berlutut, tepat di sisi kursi roda Devano. Sebelum ia sempat memprotes, lengan kekar pria itu melingkar erat di bahunya, menarik tubuh Alana hingga bersandar pada dada bidang Devano.

Devano mengangkat wajahnya, menatap ibunya dan keluarga Wijaya dengan sorot mata yang bisa membekukan lautan darah.

"Siapa yang memberimu izin untuk memerintah istriku berlutut di rumahnya sendiri, Ibu?" suara Devano mengalun sangat tenang, namun efeknya bagaikan bom yang meledak di tengah ruangan.

Nyonya Sandra terbelalak tak percaya. "I-istri? Devano, kau gila?! Dia itu penipu! Keluarga ini menipumu!"

"Keluarga ini memang pantas dihancurkan," potong Devano dengan kejam, matanya melirik tajam ke arah Herman dan Lidya yang kini sudah lemas ketakutan. "Dan aku akan mengurus mereka dengan caraku sendiri. Tapi Alana..."

Jemari panjang Devano yang dingin bergerak naik, menyelipkan anak rambut Alana ke belakang telinganya dengan gerakan yang lambat dan penuh tekanan, di depan mata semua orang. Alana membeku di dalam rengkuhan pria itu, jantungnya berdegup tak karuan.

"...mulai detik kepalanya melewati pintu mansion ini semalam, dia adalah sah milikku," lanjut Devano, suaranya kini mengintimidasi seluruh jiwa di ruangan itu. "Dia menyandang nama belakang Adhitama. Menghinanya, sama dengan menghinaku."

Devano menundukkan kepalanya, menatap mata Alana yang membesar karena terkejut. Di depan puluhan pelayan, ibunya, dan keluarga yang telah membuangnya, Devano mengunci tengkuk Alana dan mendaratkan ciuman dalam di bibir wanita itu.

Ciuman itu tidak lembut. Ciuman itu panas, posesif, dan penuh dominasi mutlak yang memperingatkan semua orang bahwa Alana adalah properti eksklusifnya yang tak boleh disentuh siapa pun.

Tubuh Alana melemas. Logikanya hancur berantakan. Tangan Devano yang meremas pinggangnya memberikan sensasi terbakar yang meruntuhkan pertahanannya. Ia hanya bisa mencengkeram jas hitam Devano agar tidak benar-benar pingsan karena kehabisan napas.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Devano melepaskan tautan bibir mereka. Ia menyeka ujung bibir Alana dengan ibu jarinya, lalu menatap tajam ke arah Lidya dan Herman yang kini menatap dengan raut wajah horor.

"Bawa sampah-sampah ini keluar dari mansionku. Aku kehilangan nafsu makan melihat wajah mereka," perintah Devano tanpa ampun kepada para pengawalnya.

"T-Tuan Devano, tolong ampuni kami! Kami sungguh tidak bermaksud... Tuan Devano!" Herman berteriak histeris saat dua pengawal bertubuh besar menyeretnya dan Lidya keluar dari ruang perjamuan. Nyonya Sandra, yang wajahnya memerah karena marah sekaligus malu, membanting serbetnya dan pergi meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.

Kini, hanya tersisa Devano dan Alana di ruang perjamuan yang sepi.

Devano masih menahan tubuh Alana di sisinya. Jari pria itu beralih mencengkeram dagu Alana, memaksa wanita itu menatap matanya yang segelap malam.

"Kau lihat itu, Alana?" bisik Devano dengan seringai iblis di wajah tampannya. "Tidak ada seorang pun yang bisa melindungimu selain aku. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menghancurkanmu... selain aku."

Air mata akhirnya menetes di pipi Alana. Di satu sisi, pria ini baru saja menyelamatkannya dari penghinaan yang mengerikan. Namun di sisi lain, ciuman dan kata-kata posesif itu menegaskan satu hal yang lebih menakutkan: Devano tidak sedang menyelamatkannya, pria ini hanya sedang mengamankan mainan pribadinya ke dalam sangkar emas yang tak memiliki pintu keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!