Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 SWMU
Malam kembali menyapa di Mansion Mahendra, membawa serta kabut tebal yang seolah menelan seluruh bangunan megah itu ke dalam dunianya yang sunyi. Bagi Nadia, malam bukan lagi waktu untuk beristirahat. Malam telah menjadi monster yang menakutkan, penuh dengan bayangan panjang dan kesunyian yang mencekam.
Nadia berdiri di tengah kamarnya, menimang liontin berbentuk gembok pemberian Bramantya. Benda itu berkilauan tertimpa cahaya lampu tidur, tampak cantik namun terasa berat di telapak tangannya. Ia tidak memakainya. Alih-alih, ia menyimpannya di dalam laci meja rias, seolah dengan menjauhkan benda itu, ia bisa menjauhkan pengaruh pria yang memberikannya.
Tepat pukul sembilan malam, ketukan pelan terdengar di pintu. Bukan ketukan tegas Bramantya, melainkan ketukan pelan dari Bi Inah. Pelayan itu masuk membawa segelas susu hangat di atas nampan perak.
"Tuan Bramantya berpesan agar Nona meminum ini sebelum tidur. Katanya, ini akan membantu Nona beristirahat dengan lebih tenang," ucap Bi Inah dengan nada yang sama datarnya seperti pagi tadi.
Nadia menatap cairan putih di dalam gelas itu dengan curiga. "Kenapa dia begitu peduli dengan tidurku, Bi?"
Bi Inah hanya sedikit membungkuk. "Tuan sangat memperhatikan kesehatan Nona. Beliau tidak ingin Nona jatuh sakit karena terlalu banyak berpikir. Oh, satu lagi, Nona... Tuan berpesan bahwa mulai malam ini, ada aturan baru yang harus Nona patuhi."
Nadia mengerutkan kening. "Aturan apa lagi?"
"Setelah pukul sepuluh malam, Nona dilarang keras meninggalkan kamar ini untuk alasan apa pun. Jika Nona butuh sesuatu, ada bel di samping tempat tidur. Tapi pintu ini... pintu ini akan dikunci dari luar demi keamanan Nona."
Nadia tersentak. Rasa hangat yang tadi mulai menyelimuti hatinya karena perhatian kecil soal susu, seketika menguap digantikan oleh rasa dingin yang menusuk. "Dikunci? Lagi? Dia bilang dia tidak akan mengurungku seperti binatang!"
"Tuan melakukan ini demi kebaikan Nona," jawab Bi Inah seolah itu adalah kalimat yang sudah dihapalnya di luar kepala. "Rumah ini sangat besar dan banyak sudut yang berbahaya bagi seseorang yang belum terbiasa. Selamat malam, Nona."
Tanpa menunggu jawaban Nadia, Bi Inah keluar. Dan benar saja, beberapa detik kemudian, Nadia mendengar suara mekanis yang sangat ia benci. Klik. Bunyi kunci yang diputar dari luar.
Nadia berlari ke pintu, memutar gagangnya dengan kasar. Terkunci. Lagi-lagi ia terperangkap.
"Buka! Paman! Bram! Buka pintunya!" teriak Nadia sambil menggedor pintu kayu jati yang kokoh itu. Namun, mansion itu seolah menelan suaranya. Tidak ada sahutan, tidak ada langkah kaki yang kembali. Hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Nadia terduduk lemas di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu. Air mata frustrasi mulai mengalir. Ia merasa seperti burung hias yang dipajang di dalam sangkar emas. Indah untuk dilihat, tapi tidak punya kuasa atas sayapnya sendiri.
Matanya beralih pada gelas susu di atas meja. Aroma vanila dan rempah halus menguar dari sana. Rasa haus dan lelah yang luar biasa akhirnya mengalahkan rasa curiganya. Ia meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Rasanya manis, namun ada sedikit getir di ujung lidahnya yang segera ia abaikan.
Beberapa menit kemudian, rasa kantuk yang sangat berat mulai menyerang. Itu bukan kantuk biasa; rasanya seolah-olah seluruh tubuhnya ditarik oleh beban timah yang sangat besar. Kepalanya terasa ringan, dan pandangannya mulai kabur. Nadia merangkak naik ke atas tempat tidur, menyelimuti tubuhnya, dan dalam sekejap, ia jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.
Namun, di tengah tidur lelapnya yang tidak wajar itu, Nadia merasa seolah-olah ia berada dalam sebuah mimpi yang terasa sangat nyata.
Ia merasa pintu kamarnya terbuka perlahan tanpa suara. Ia mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan, hampir tak terdengar, mendekati tempat tidurnya. Nadia ingin membuka mata, ingin berteriak, namun tubuhnya terasa lumpuh. Ia seperti terpenjara di dalam raganya sendiri.
Ia merasakan kasur di sampingnya sedikit amblas, menandakan seseorang sedang duduk di sana. Aroma itu kembali hadir—cendana dan tembakau mahal. Aroma Bramantya.
Nadia merasakan sebuah tangan yang besar dan kasar namun sangat hangat menyentuh keningnya. Tangan itu membelai rambutnya dengan gerakan yang sangat perlahan, penuh kasih sayang, namun juga penuh dengan obsesi yang sulit dijelaskan.
"Kau sangat cantik saat tidak sedang melawanku, Nadia," sebuah suara berbisik di kegelapan. Suara itu begitu dekat, terasa seperti hembusan napas hangat di telinganya. "Andai saja kau tahu betapa lama aku menunggu saat-saat ini. Menunggumu berada di bawah atapku, di bawah perlindunganku."
Nadia ingin meronta, tapi obat—atau apa pun yang ada di dalam susu itu—bekerja terlalu kuat. Ia hanya bisa merasakan jari-jari itu menelusuri rahangnya, lalu turun ke lehernya, berhenti sejenak di sana seolah sedang menghitung denyut nadinya.
"Tidurlah, kecilku," bisik suara itu lagi. "Jangan takut pada pintu yang terkunci. Aku menguncinya agar dunia tidak bisa mengambilmu dariku lagi. Kau adalah satu-satunya hartaku yang tersisa, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Hening kembali melanda. Nadia merasa sosok itu bangkit, memberikan kecupan ringan yang hampir tak terasa di keningnya, lalu suara langkah kaki itu menjauh. Bunyi klik dari pintu yang dikunci kembali terdengar, dan setelah itu, Nadia benar-benar kehilangan kesadarannya.
Keesokan paginya, Nadia terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Ia segera duduk dan memeriksa pintu kamarnya. Pintu itu tidak lagi terkunci. Ia juga menyentuh keningnya, tempat ia merasa dicium semalam. Apakah itu nyata? Atau hanya halusinasi akibat kesedihan dan pengaruh obat tidur?
Ia bergegas menuju meja rias dan tertegun. Gelas susu semalam sudah bersih, tidak ada setetes pun sisa di sana. Namun, ada satu hal yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di samping gelas kosong itu, liontin gembok yang semalam ia simpan di dalam laci, kini tergeletak dengan rapi di atas meja.
Nadia gemetar. Ia yakin sekali semalam ia memasukkannya ke dalam laci dan menutupnya rapat-rapat. Tidak ada orang lain yang punya kunci kamar ini selain Bramantya dan mungkin Bi Inah.
Ini adalah pesan. Sebuah pesan bisu dari Bramantya bahwa tidak ada tempat tersembunyi baginya di rumah ini. Bahwa meskipun pintu terkunci, pria itu bisa masuk kapan saja ia mau.
Nadia meraih liontin itu, meremasnya kuat-kuat hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya. Rasa sakit itu justru membuatnya sadar. Ia sedang berhadapan dengan pria yang jauh lebih manipulatif dari yang ia bayangkan. Aturan "pintu terkunci" bukan untuk melindunginya dari luar, melainkan untuk memastikan ia tidak punya privasi dari dalam.
Saat ia turun untuk sarapan, ia menemukan Bramantya sedang berdiri di dekat jendela besar di ruang tengah, menatap taman yang berkabut. Pria itu menoleh saat mendengar langkah Nadia, memberikan senyum tipis yang tampak begitu tulus namun terasa mengerikan bagi Nadia.
"Selamat pagi, Nadia. Bagaimana tidurmu? Apakah susunya membantu?" tanya Bramantya seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Nadia berdiri beberapa langkah di depannya, menatap pria itu dengan kemarahan yang meluap. "Berhenti masuk ke kamarku saat aku tidur, Bram."
Bramantya mengangkat alisnya, tampak terkejut yang dibuat-buat. "Apa maksudmu? Aku berada di ruang kerjaku sepanjang malam. Aku tidak pernah masuk ke kamarmu."
"Jangan bohong! Aku merasakannya. Dan kalung ini... aku menyimpannya di laci, tapi tadi pagi ada di atas meja."
Bramantya berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Nadia harus mendongak. Ia mengambil kalung dari tangan Nadia yang gemetar, lalu dengan tenang memakaikannya ke leher gadis itu. Kali ini, Nadia terlalu terpaku untuk menolak.
"Mungkin kau bermimpi, Nadia. Kau sedang dalam tekanan besar. Wajar jika kau mulai berhalusinasi atau lupa di mana kau meletakkan barang-barangmu," bisik Bramantya sambil merapikan liontin itu di dada Nadia. "Tapi jika kau merasa ada seseorang yang menjagamu saat kau tidur, bukankah itu hal yang bagus? Itu artinya kau tidak sendirian."
Bramantya menatap mata Nadia dengan intensitas yang membuat gadis itu sesak napas. "Jangan biarkan ketakutanmu merusak kesehatanmu. Pakailah kalung ini. Ini adalah tanda bahwa kau adalah bagian dari rumah ini. Dan di rumah ini, aku adalah hukumnya."
Bramantya mengelus pipi Nadia sejenak sebelum melangkah pergi meninggalkan Nadia yang berdiri membeku. Nadia menyentuh liontin gembok di lehernya. Rasanya dingin, sedingin kenyataan bahwa ia kini sepenuhnya berada dalam kendali Bramantya Mahendra.