Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19 - Pernikahan Robi & April
"Valen, ayo sapa keluarga Hardianto," ajak Papa Fildan pelan.
"Nanti saja, Pa," jawab Valen singkat. Ia ingat pesan Oma; ia harus membuktikan diri sebagai laki-laki yang punya pilihan.
Mendekat sekarang hanya akan membuat suasana semakin canggung bagi Mila. Sepanjang acara, mereka seperti dua kutub magnet yang sama; saling menjauh saat berdekatan. Saat Mila berada di area katering, Valen ada di dekat panggung. Saat Valen bergerak menuju pelaminan untuk memberi selamat pada Robi dan April, Mila mendadak memiliki urusan di ruang rias.
Robi, yang kini sudah sah menjadi suami April, membisikkan sesuatu pada istrinya saat mereka di pelaminan. "Lihat deh mereka berdua. Kayak orang asing, padahal matanya saling nyari."
April menghela napas. "Biarkan dulu, Kak. Mila butuh waktu untuk percaya kalau Valen itu tulus, bukan cuma pelaksana tugas dari Om Fildan. Aku kasihan sama mereka berdua, dan masih merasa bersalah."
Saat sesi foto keluarga besar, ketegangan semakin terasa. Oma Soimah berdiri di tengah dengan wibawa penuh. Ia sengaja mengatur posisi: Mila di sisi kanan Bunda Selfi, dan Valen di sisi kiri Papa Fildan. Jarak mereka cukup jauh, dipisahkan oleh anggota keluarga yang lain.
Setelah foto selesai, Mila sempat berpapasan dengan Valen di dekat pintu keluar. Valen berhenti, hendak membuka mulut untuk menyapa, namun Mila hanya memberikan anggukan kecil yang sangat sopan—namun dingin—sebelum berjalan melewati Valen menuju Tante Dewi.
Gedung resepsi yang megah itu dipenuhi oleh ratusan tamu undangan, namun bagi Mila, ruangan itu terasa terlalu luas dan hampa.
Sebagai adik dari pengantin pria, ia memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan tamu-tamu VIP dari keluarga besar Hardianto dan Adiwangsa merasa nyaman. Ia terus bergerak, memastikan piring-piring katering tidak kosong dan menyapa kerabat dengan senyum yang dipaksakan.
Di sudut VIP, Oma Soimah duduk dengan anggun, sesekali berbincang dengan Bunda Selfi dan Mama Aty. Meskipun suasana pesta sangat ceria, mata tajam Oma tidak pernah lepas memantau pergerakan Mila dan Valen. Ia menyadari betapa lihainya kedua anak muda itu dalam melakukan "tarian penghindaran" sepanjang acara.
Saat Mila sedang beristirahat sejenak di area belakang panggung sembari memperbaiki hijabnya, Mutia dan Tasya menghampirinya.
"Maafin aku ya, Mil," bisik Mutia yang masih merasa bersalah.
Mila menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Mut. Aku cuma... aku cuma butuh waktu buat mikir. Aku merasa bodoh karena nggak sadar kalau semua perhatian Kak Valen itu ternyata 'tugas' dari orang tuanya."
"Tapi Mil," sela Tasya, "apa kamu nggak lihat gimana muka Kak Valen hari ini? Dia kayak raga yang nggak ada jiwanya. Dia nggak berhenti ngelihatin kamu dari jauh."
Mila terdiam, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memang merasakannya. Setiap kali ia berbalik, ia sering menangkap basah mata Valen yang sedang menatapnya, namun pria itu selalu segera memalingkan wajah atau berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Puncak kecanggungan terjadi saat sesi makan malam. Mila sedang membantu Tante Dewi mengatur antrean di meja dessert—tempat di mana Chocolate Ganache buatannya disajikan. Tanpa diduga, Valen muncul di antrean itu.
Suasana mendadak kaku. Tamu-tamu lain di sekitar mereka seolah menghilang, menyisakan keheningan di antara keduanya.
"Boleh aku ambil satu?" tanya Valen pelan, suaranya terdengar serak.
Mila tidak menatap mata Valen. Ia mengambilkan sepotong kue dengan penjepit besi dan meletakkannya di piring Valen.
"Silakan, Kak," jawabnya singkat tanpa imbuhan kata lain.
"Kue yang waktu itu... makasih banyak ya, Mil. Itu kado kelulusan paling berharga buat aku," ucap Valen lagi, mencoba memancing percakapan lebih jauh.
Mila hanya mengangguk kecil. "Sama-sama. Itu cuma ucapan selamat sebagai teman."
Kata 'teman' itu terasa seperti hantaman keras bagi Valen.
Valen ingin menjelaskan banyak hal, ingin mengatakan bahwa ia rela melepaskan warisan ayahnya demi membuktikan cintanya, namun ia melihat Ayah Faul dan Papa Fildan sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Valen teringat syarat Oma; ia tidak boleh mendekati Mila sebagai "pilihan orang tua".
Kini masuk sesi berdansa. Saat musik mulai melambat dan Robi serta April berdansa di tengah lantai dansa, pembawa acara mengajak pasangan lain untuk bergabung. Banyak kerabat yang menggoda Valen untuk mengajak Mila, namun Valen hanya berdiri mematung di pinggir ruangan. Ia melihat Mila justru memilih untuk menggendong Leshia dan membawanya menjauh dari keramaian lantai dansa.
Bang Robi yang melihat itu dari pelaminan hanya bisa menghela napas panjang. Ia berbisik pada April, "Kayaknya mereka butuh 'ledakan' besar buat bisa baikan lagi, Sayang. Gengsi mereka berdua lagi setinggi langit."
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️