NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Akhir Dari Istri Sang Antagonis

"Sean, kau mau apa?!"

Alissa mundur ketakutan, ketika suaminya sendiri mendekatinya dengan membawa sebilah pisau di tangan kirinya. Wajahnya yang menyeramkan terlihat begitu bengis. Senyum miring yang laki-laki itu tampilkan bak sebuah ancaman yang mematikan.

"Aku?" laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri menggunakan pisau di genggamannya.

"Aku ingin bermain. Kau mau ikut dalam permainan ini, Alissa?" tawar Sean seakan apa yang sedang dilakukannya ini begitu menyenangkan.

"Tidak..." Alissa menggeleng ribut. Jantungnya berdetak tak terkendali. Terlebih ketika punggung kecilnya menyentuh dinding kamar. Takutnya semakin menjadi saat langkah Sean semakin dekat.

"Tidak, Sean. Jangan!" Alissa menutup matanya rapat-rapat saat Sean mengarahkan pisau pada wajahnya.

Seketika, sensasi dingin menyentuh pipi Alissa. Perempuan itu lemas. Seluruh tubuhnya meremang takut. Alissa hampir ambruk jika saja Sean tidak buru-buru merengkuhnya.

"Oh, ayolah. Ini akan menyenangkan." ujar Sean merayu. Masih asik memainkan ujung pisau yang runcing pada pipi sang istri.

"Alissa. Buka matamu..." suara bariton Sean mengalun lirih namun sarat akan perintah.

"Sean--

"Aku tidak suka mengulang perkataanku Alissa."

Maka dari itu, Alissa membuka matanya. Langsung saja, netra abunya yang dipenuhi kabut ketakutan bersibobrok dengan netra sebiru samudra milik suaminya.

"Kau cantik saat membuka matamu Alissa."

Seharusnya Alissa tersipu mendengar pujian yang selama ini ia idam-idamkan. Namun di situasi seperti ini, jangankan tersipu atau tersenyum malu. Bisa bernafas dengan benar saja sudah termasuk anugrah bagi Alissa.

"Alissa, bagaimana jika pisau ini..." Sean menurunkan pisaunya. Berpindah pada leher Alissa yang putih. "Menancap di sini?"

"Akhh, Sean! Tidak!" Alissa memberontak. Takut jika kalau Sean benar-benar merealisasikan ucapannya. Karena sejatinya, laki-laki itu tidak pernah berdusta dalam perkataannya.

"Shuttt, calm down Alissa. Jangan takut."

Alissa. Perempuan itu menangis. Air matanya luruh membasahi pipinya. Menatap laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu memohon iba.

"Ampun Sean. Tolong lepaskan aku. Aku janji, aku tidak akan muncul lagi di dalam kehidupanmu." mohon Alissa meminta belas kasihan di sela isakannya.

"Oh wow! Apa ini? Kenapa dirimu yang menangis membuat kecantikanmu bertambah?" Sean berdecak kagum. Ekspresi yang lebih seperti dibuat-buat yang menimbulkan kesan mengejek.

"Ahh, aku punya ide." Sean, laki-laki itu berseru penuh semangat.

"Bagaimana jika aku menambahkan lukisan indah di sini?" ujar Sean mengetuk ujung pisau pada pipi Alissa dua kali.

"Pasti kau akan semakin terlihat cantik. Bagaimana, kau setuju?"

Alissa menggeleng. Memberikan tanda bahwa dia menolak. Susah payah ia telan saliva di balik nafasnya yang tercekat.

"Sean..." lirih suara Alissa bergetar takut.

"Jangan seperti ini. Aku mohon, maafkan aku. Aku--

"Aku janji akan pergi jauh. Aku janji tidak akan merecoki dirimu dan-- dan Stella. Jangan bunuh aku..."

Stella. Nama perempuan yang Sean cintai. Ya. Laki-laki itu memang menikah dengan dirinya. Namun, itu bukanlah pernikahan atas nama cinta. Mereka menikah karena perjodohan orangtua.

Waktu itu, Alissa yang amat mengagumi Sean langsung menerima perjodohan itu tanpa pikir panjang. Dia pikir, jika Sean juga menerima perjodohan ini, itu berarti laki-laki itu juga menginginkannya sebagaimana Alissa menginginkan Sean.

Namun dugaannya salah. Karena ternyata, ada konspirasi besar di balik pernikahan dirinya dan Sean. Rahasia yang baru terkuak setelah satu minggu pernikahannya.

Sean. Dia mecintai Stella. Mungkin tidak ada yang salah jika saja mereka bukan saudara kandung. Ya. Sean Balrick mecintai adik kandungnya sendiri. Stella Balrick.

Bodohnya Alissa, karena setelah mengetahui rahasia besar itu, bukannya mundur, perempuan itu malah melakukan hal gila. Harta, kedudukan, dan rupa Sean membuatnya buta dan tuli. Alissa merasa akan sangat rugi jika melepas berlian seperti seorang Sean Balrick.

Maka dari itu, Alissa bertingkah layaknya jalang di depan Sean. Menggoda laki-laki itu dengan pakaian kurang bahan. Namun salahkah jika dia menggoda suaminya sendiri.

Apakah Sean tergoda?

Tentu saja. Namun lagi-lagi kenyataan pahit harus Alissa telan saat suaminya itu hanya menganggapnya sebagai budak nafsu.

Puncaknya ketika Stella bertunangan dengan orang lain. Sean marah besar. Dan laki-laki itu melampiaskan segala amarahnya pada Alissa. Menganggap istrinya sebagai penyebab tidak bisanya dia bersatu dengan Stella yang jelas-jelas adik kandungnya sendiri.

"Ah, sudahlah. Mari kita sudahi drama ini." Sean membelai rambut panjang Alissa yang tergerai.

"Aku akan membereskanmu. Setelah itu, baru laki-laki sia-lan itu." Alissa tahu. Laki-laki sia-lan yang Sean sebut adalah tunangan dari Stella.

"Arghh! Sean, sakit!" Alissa menjerit kesakitan. Ketika tanpa aba-aba Sean menjambak rambutnya sangat kuat. Kepalanya terasa perih. Rasa-rasanya rambutnya terlepas dari kepala.

"Coba saja kau pergi dari dulu Alissa. Ini semua tidak akan terjadi."

Dugh!!

"Arghhh!!"

Dengan kejamnya, Sean membenturkan kepala Alissa ke dinding. Benturan itu sangat keras hingga menyisakan darah yang merembes keluar dari kepala belakang Alissa.

"Dasar kau perempuan jalang!" sekali lagi. Laki-laki itu membenturkan kepala Alissa tanpa belas kasihan.

Istrinya itu tidak bisa memberontak. Tidak ada yang bisa dilakukan perempuan itu selain merasakan sakit dan menangisi takdirnya yang pedih.

Kurang puas dengan membenturkan kepala Alissa pada dinding, Sean mence-kik leher perempuan itu. Cengkramannya sangat kuat hingga membuat wajah Alissa memerah kekurangan oksigen. Nafas perempuan itu tersendat-sendat.

"Kau memang harus mati Alissa..." desis Sean tajam. Mendorong tubuh ringkih Alissa hingga membuat perempuan itu terjerembab ke lantai.

"Uhuk..uhuk..." nafas Alissa seketika memburu. Menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Dengan keadaan yang jauh dari kata baik. Matanya berkunang-kunang. Tenggorakannya panas. Kepalanya perih. Alissa mengingat sesuatu hingga dengan ketakutan, ia memeluk perutnya erat.

"Jangan takut. Aku akan melindungimu."

"Su--sudah Sean..." pinta Alissa memohon ampunan. Perempuan itu menggeleng panik saat suaminya itu kembali mendekat untuk menyiksanya.

Sean tersenyum smirk. "Sudah? Tidak secepat ini Alissa?"

"Sean jangan. Sean--arghh!!

Terlambat. Dengan keji, Sean menginjak perut Alissa. Seketika perempuan itu mengerang kesakitan. Lebih dari itu, tangis Alissa benar-benar pecah.

"Maaf, aku gagal melindungimu."

Awalnya, Sean tersenyum puas. Tidak sebelum dirinya melihat darah segar yang keluar merembes dari paha Alissa. Seketika itu, senyum Sean sirna. Tergantikan dengan raut tidak terbacanya.

"Ka-kau puas Sean?" ujar Alissa dengan nada yang melemah.

"Bukan hanya satu. Kau bahkan menghilangkan dua nyawa."

Deg.

"Sekarang, kau akan bahagia." Alissa tersenyum miris. "Aku akan pergi."

"Membawa anakku."

Alissa sudah tidak kuat. Matanya semakin memberat. Apakah ini akhir dari hidupnya? Mati di tangan suaminya sendiri.

Di saat-saat terakhirnya, Alissa menggumamkan sesuatu yang selalu ia harapkan kata itu akan muncul dari bibir Sean.

"Aku mecintaimu Sean Balrick."

Sedangkan Sean, laki-laki itu masih mencerna dengan apa yang baru saja dilihatnya. Darah yang keluar dari inti Alissa. Apakah perempuan itu tengah mengandung.

Alissa, mengandung anaknya?

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!