Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korea Part II
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Rania pergi ke luar negeri dan itu bersama Arkana, suaminya. Tidak pernah terbayangkan sedikitpun olehnya, jika dia bisa pergi ke luar negeri seperti ini. Bahkan negara pertama yang dia kunjungi langsung Korea. Salah satu negara impiannya.
"Pake jaket lu cil. Ini dingin banget, liat noh saljunya udah turun." ucap Arkana pada Rania yang sejak tadi terus saja menatap butiran putih yang turun dari langit itu.
"Iya, iya ini pake jaket. Bawel banget sih jadi suami." ucapnya tanpa sadar menyebut Arkana suaminya.
Arkana yang mendengar itu terlihat sangat bahagia. Bahkan dia berniat untuk menggoda Rania lagi. Namun, dengan cepat Rania sadar dan berlalu meninggalkannya sebelum laki-laki itu menggodanya lagi.
"Ah, ku memang gemesin cil! Gue jadi gak sabar buat unboxing lu! Ahahahaaa..." Arkana tertawa jahat memikirkan rencananya. Karena mereka sudah sampai di Bandara internasional Korea. Incheon airport yang terkenal itu.
"Sini, gandengan sama gue. Nanti lu kedinginan!" ucap Arkana menarik tangan Rania hingga membuat tubuh gadis itu langsung menempel dan masuk dalam pelukan Arkana. Hangat memang, tapi sudahlah. Dia masih merasa canggung dengan semua ini.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan, dimana Rania merasa begitu sangat di sayangkan oleh Arkana. Keduanya sudah di jemput oleh supir dan langsung menuju hotel.
"Mandi deh cil, habis itu kita keluar makan." ujar Arkana.
"Gak mau ah, mau makan di kamar aja. Mau tidur, capek juga." jawab Rania yang membuat Arkana hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Oke, kita makan di hotel aja. Lu mandi duluan gih, atau mau barengan?" goda Arkana dan Rania langsung menolaknya mentah-mentah.
"Gak mau!"
Brak!
Rania masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu. Bahkan dia sampai membanting pintu kamar mandinya hingga menimbulkan bunyi dentuman keras.
Sedangkan Arkana, dia tertawa setelah kembali berhasil menggoda Rania. Sungguh sangat menyenangkan sekali hidupnya bersama dengan Rania seperti ini.
Tapi, setelah dia selesai mandi Rania baru sadar jika tidak membawa pakaian ganti. Lalu dia harus keluar dengan apa? Meminta tolong pada Arkana?
"Kak..." panggil Rania setelah berpikir cukup lama.
Tidak mungkin dia di dalam saja. Belum lagi perutnya sudah lapar. Lalu bagaimana lagi jika tidak meminta tolong pada Arkana.
"Nah, kah! Apa kata gue. Pasti die nyariin gue." gumam Arkana yang telah menyusun rencananya.
Karena bagaimana pun caranya, malam ini dia harus berhasil menjalankan misinya. Kali ini dia akan tau seperti apa sensasinya. Karena waktu itu dirinya dalam keadaan tidak sadar.
"Apaan cil?" tanya Arkana pura-pura tidak tau.
"Ambilin baju sama handuk aku dong. Aku lupa bawa handuk." ucapnya dengan gugup.
Jujur saja, dia merasa malu mengatakan hal seperti ini. "Apa? gue gak denger, buka dulu pintunya biar gue denger." jawab Arkana.
"Gak mau, ambilkan aku handuk sama baju aku dulu. Aku gak bawa handuk, gak bawa baju juga."
"Gak pake baju juga gak apa-apa kok, cil. Aku ikhlas liatnya." ujar Arkana dengan begitu santainya.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa disini. Padahal Rania sudah malu setengah mati.
"Kak, tolongin. Aku kedinginan ini." rengeknya dengan manja.
"Maka gue angetin, cil. Gue peluk sini biar anget."
"Kakak, plis. Aku serius, tolong ambilin aku handuk sama baju. Kalau kakak gak mau nolongin yaudah, biar aja aku di dalam kamar mandi kedinginan, terus pingsan." ucap Rania sengaja mengancam Arkana agar mau mengambilkan apa yang dia butuhkan.
"Oke, oke. Gue ambilin. Tapi habis ini beneran peluk gue ya! kalau gak mau, biar gue yang peluk!" Rania bingung, harus mengiyakan atau tidak.
Tapi jika tidak di iyakan maka dia juga yang akan merasakan dinginnya.
"Yaudah kalau gak mau!"
"Oke, iya nanti pelukan." ucap Rania pada akhirnya mengalah.
"Oke binik gue! tunggu bentar ya!" ujar Arkana mengambilkan pakaian dan handuk untuk Rania.
Tapi, tidak seperti yang Rania bayangkan, karena baju tidurnya tidak jauh beda dengan yang ada di rumah mertuanya. Dan itu semua rencana licik Arkana.
***
next my