NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Pencegatan Di Gerbang Perbatasan

Di puncak menara kastil. Seorang wanita muda dengan jubah ungu tua yang lusuh berdiri ditengah lingkaran sihir yang bercahaya redup. Namanya Lyra. Di academy sihir ia si ejek 'penyihir gagal' karna tidak bisa mengeluarkan bola api atau petir. Namun Arion melihat apa yang tidak dilihat orang lain; bakat murni dalam manipulasi ruang dan waktu.

Arion melangkah masuk dalam lingkaran itu. Pedang Sunder-soul di pinggangnya memancarkan aura hitam pekat.

"Sudah siap Lyra?" tanya Arion datar.

Lyra membungkuk hormat, Jemarinya yang lentik mulai menari di udara, memicu aliran mana yang tida terdeteksi oleh penyihir biasa.

"sesuai perintah anda Tuan Muda. Koordinat di menara perbatasan barat telah terkunci. Sihir tersembunyi yang anda suruh tanam tahun lalu masih aktif sepenuhnya."

Hebat sekali, Lyra! Batin Arion terkagum-kagum

kalau di dunia asliku kemampuan ini setara memiliki jet pribadi instan, benar-benar praktis.

"lakukan!" perintah Arion singkat.

Dengan satu jentikan jari Lyra, ruang di sekitar terdistorsi. Dalam sekejap mata, Arion, sebas dan 2 komandan Black Knight menghilang alam kepulan asap perak.

Kereta kuda Eric terhenti mendadak saat kuda-kuda mereka meringkik ketakutan, menolak untuk melangkah maju. Eric melongo kan kepalanya keluar jendela, siap untuk memaki, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

Diatas gerbang perbatasan yang tinggi diterangi cahaya bulan yang pucat, berdiri lima sosok memancarkan aura kematian. Di tengah-tengah mereka Arion berdiri tangan bersedekap, di apit oleh Lyra yang masih mengendalikan sisa-sisa mana teleportasi, Sebas yang sudah menghunuskan belati kembarnya, dan dua sosok berbaju zirah hitam legam dengan jubah berkibar tertiup angin malam.

Dua komandan itu bagian dari 'Five Dread-Knight'

Mereka yang berdiri disamping Arion saat ini, adalah Vorgon sang penghancur perisai dan Kaelith si bilah senyap.

Kekuatan satu orang dari mereka setara dengan satu pasukan penuh kerajaan.

"Hanya... Hanya berlima?" Eric tertawa paksa.

meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia menoleh kebelakang.

melihat rombongan yang terdiri dari ratusan prajurit Beast.

"kalian pikir bisa melawan kami dengan jumlah yang sesedikit itu? Arion kau benar-benar sudah gila!" tetua beast di samping ikut terkekeh.

"pangeran malang, jumlah kami sepuluh kali lebih banyak dari pasukanmu yang ada di belakang."

Arion menatap Eric dari ketinggian menara dengan tatapan dingin, seolah sedang melihat seekor serangga yang sedang menggeliat.

"Jumlah?" Arion menyeringai tipis.

Sebuah ekspresi yang membuat Boris hampir pingsan.

"Aku tidak butuh pasukan untuk membasmi domba-domba seperti kalian."

Di sudut kereta, Boris sudah terjatuh dari kursinya. Giginya bergemeletuk hebat hingga mengeluarkan suara tak-tak-tak.

"bodoh.... Kalian benar-benar bodoh.." bisik Boris dengan mata terbelalak ketakutan.

Boris bergetar hebat ketika melihat dua sosok zirah hitam legam di samping Arion. Zirah itu... Desain yang sama dengan mimpi buruknya 7 tahun lalu.

"Eric dengarkan aku.!" Boris mencengkeram kerah baju Eric dengan tangan gemetar.

"Ksatria-ksatria itu .. mereka adalah ordo Black Knight. Tujuh tahu. Lalu kerajaan-kerajaan besar sepakat untuk menghapus keberadaan mereka dari catatan sejarah karena mereka terlalu mengerikan untuk diingat."

Eric menepis tangan Boris dengan kasar.

"Cukup dengan dongengmu Boris! Itu tujuh tahun lalu. Mereka hanya lima orang dan kita punya ratusan prajurit pilihan."

"Lima?" Boris tertawa histeris.

Air mata ketakutan mengalir di pipinya.

"Kau tidak menghitung mereka dengan angka bodoh. Satu komandan Ksatria Hitam sama dengan bencana alam. Jika Arion memanggil mereka kembali, dia tidak sedang bernegosiasi... Dia sedang ingin memusnahkan kita."

Boris tidak akan pernah lupa malam itu, saat setelah pertempuran di padang rumput dan setelah kekuatan Arion tersegel

Boris adalah komandan muda dibawah komando

kerajaan Beast yang dibentuk untuk membantu 'pembersihan' sisa-sisa pengikut Arion yang di anggap terlalu berbahaya oleh petinggi istana.

"HABISI MEREKA! PANGERAN ITU SUDAH DI LEMAHKAN!!" teriak jenderal mereka pada saat itu.

Namun yang Boris temukan bukanlah Pangeran yang menyerah.

Ditengah kepulan asap dan hujan, ia melihat sekelompok kecil prajurit-tidak lebih dari 50 orang-berbaju zirah hitam legam.

Mereka bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan malam, memotong baris pertahanan ribuan prajurit hanya dalam hitungan menit.

Boris melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Vordon mengangkat komandan ksatria dengan satu tangan dan menghancurkan zirah bajanya seperti meremas kertas.

Ia juga melihat Kaelith meluncur diantara barisan pemanah, meninggalkan jejak kepala yang jatuh ketanah sebelum suara pedangnya terdengar.

"Mereka bukan manusia... Itu adalah Black Knight."

Bisik rekan boris tepat sebelum belati perak milik sebas bersemayam di tenggorokannya, yang bahkan saat itu Sebas baru saja bergabung dan bertarung dalam keadaan terluka.

Boris selamat karna ia bersembunyi diantara tumpukan mayat rekan-rekannya.

Berpura-pura mati sambil menahan nafas saat Arion berjalan di medan perang. Saat itu, dengan pedang Sunder-soul yang meneteskan darah, terlihat seperti dewa kematian yang sedang berjalan-jalan di taman.

..

Arion melompat turun dari menara, diikuti Sebas, Lyra, Vorgon dan Kaelith.

"Kalian diamlah..." Perintah Arion dingin.

Entah kenapa bahkan setelah kekuatannya di nerf, jiwa Arion masih tetap bergejolak dihadapan ratusan musuh ini. Dia seperti ingin menunjukan sesuatu... Aku akan percaya dengan insting bertarung Arion.

Dibawah cahaya bulan yang dingin, Eric menatap hamparan datar di depannya.

Melihat ada pasukan yang juga mengepung bagian belakang.

Eric membagi pasukannya menjadi dua, namun 80 persen pasukannya di fokuskan kedepan.

Eric bertujuan untuk langsung menerobos, ia tidak mau membuang-buang waktu.

"Bodoh... Kau memilih bertarung di lapangan terbuka seorang diri? PASUKAN! Serbu... bawa kepala Pangeran bodoh itu!"

Ratusan prajurit Beast, termasuk ksatria elit dan para komandan, mulai berlari kencang.

Gemuruh langkah kaki mereka menggetarkan tanah.

Arion memejamkan mata sejenak. Menghirup aroma malam sebelum matanya terbuka dengan kilatan ungu yang mematikan.

Di dataran tinggi yang luas itu, Arion melangkah maju.

Tidak ada ledakan mana yang mengguncang bumi, hanya suara berdenging halus dari Sunder-soul yang kini diselimuti lapisan tipis mana transparan-membuat bilahnya terlihat sedikit lebih panjang dan jauh lebih tajam dari pedang apapun didunia ini.

Gelombang Ksatria pertama tiba, Arion bergerak seperti aliran air mengalir. Dengan kekuatan terbatas, dia tidak membuang tenaga untuk memukul mundur musuh. Sebaliknya, dia membiarkan mereka mendekat.

Di bagian belakang, suasana berubah menjadi pembantaian yang jauh lebih brutal dan terburu-buru.

Tepat saat udara bergetar karna hentakan aura tipis pedang Sunder-soul milik Arion, ketiga komandan Black Knight-Bane, Zereph, dan Malphas-seketika menghentikan permainan mereka.

"Aura ini.." Zereph bergumam.

Pupil matanya bergetar walau hanya merasakan aura tipis Arion yang terpancar.

"Tuan muda... Dia benar-benar melakukannya."

Tanpa komando efisiensi serangan mereka meningkat 10 kali lipat, mereka tidak lagi bermain-main dengan mental musuh.

Bane mengeram. Ia menghantamkan tameng raksasanya ketanah. Hingga menciptakan gempa lokal yang mematahkan kaki-kaki prajurit Beast. Lalu dengan satu tebasan kampak yang membabi buta, ia menghancurkan komandan Beast yang menjaganya.

Sementara itu, Malphas melepaskan tiga anak panah sekaligus menembus tenggorokan ksatria elit yang mencoba lari, Zereph meledakkan mana hitamnya untuk menghanguskan sisa-sisa perlawanan dalam sekejap.

"Cepat! Selesaikan sampahnya! Aku tidak mau melewatkan satu detik pun."

Perintah Bane dengan nada tidak sabar.

Setelah menyelesaikan Area mereka ketiga komandan barisan belakang, bergerak cepat menghindari pasukan yang sedang Arion lawan di area depan.

Mereka bertiga berkumpul dan masuk kedalam formasi bersama dengan Vordon dan Kaelith yang berdiri dibelakang Arion.

Hanya butuh gerakan kecil dari pergelangan tangannya, Bilah diperpanjang sedikit oleh mana itu menyayat celah terkecil dizirah musuh-leher, ketiak dan belakang lutut.

Arion bergerak di tengah kerumunan seperti prajurit yang memotong kaun. Bersih, cepat, dan mematikan.

Setiap kali pedangnya bersentuhan dengan senjata musuh, mana tipis dibilah pedangnya memotong besi itu seolah-olah mentega.

Arion tidak menghempaskan mereka kelangit; Arion membiarkan mereka jatuh tersungkur di kakinya dengan satu tebasan presisi di titik vital.

Dibelakangnya, Five Dread-Knight berkumpul.

Mereka berdiri tegak, mata mereka terpaku di setiap gerakan tangan Arion.

"Lihat itu." bisik Kaelith dengan nada memuja.

"meski tubuhnya sedang dalam kondisi terlemah, Aliran pedangnya tidak berubah. Dia tidak butuh mana meluap untuk membunuh. Dia hanya butuh akurasi."

Vorgon mengangguk berat, matanya tidak berkedip.

"itulah alasan kita bersumpah setia kepadanya. Siapa pun bisa menjadi kuat dengan mana yang besar, tapi hanya Tuan Muda yang bisa tetap menjadi monster bahkan ketika kekuatannya dirampas."

Mereka terus menyaksikan bagaimana Arion dan Sebas bekerja sama. Sebas yang menangkis serangan berat dengan belatinya. Memberikan celah satu detik bagi Arion untuk memberikan satu tebasan mematikan yang mengakhiri nyawa musuh.setelah tebasan terakhir yang merobek jantung Komandan Beast ketujuh, Arion berhenti.

Dunianya terasa berputar. Mana dibilah Sunder-soul menghilang, dan staminanya terkuras sampai ketitik nol.

Paru-parunya terasa terbakar dan rasa anyir darah mulai naik ke tenggorokannya.

Namun Arion tidak tumbang.

Dia berdiri tegak di tengah pedang mayat, memegang Sunder-soul dengan kedua tangan, memposisikan pedang itu tepat ditengah tubuhnya sebagai tumpuan agar kakinya tidak goyah. Ia sedikit menolehkan kepalanya kesamping-sebuah isyarat minimalis namun penuh otoritas.

Kelima Komandan Black Knight yang sedari tadi menonton dengan napas tertahan langsung memahami perintah itu.

"Tugas Tuan Muda telah usai," desisi Kaelith.

"Sekarang giliran kita menyapu sisa-sisa sampah ini.."

Dalam sekejap kelima Komandan itu melesat melewati Arion seperti badai.

Jika Arion bertarung dengan teknik yang bersih, kelima komandan ini bertarung dengan kebrutalan murni.

Vorgon mengancurkan zirah-zirah yang tersisa, Malphas menghujani mereka dengan maut dari jatuh. Sementara itu, Bane, Zereph, dan Kaelith memastikan Tidak ada satu pun prajurit Beast yang berdiri lebih dari satu detik.

Didepan kereta, pemandangan itu terasa seperti kiamat yang terulang. Boris berdiri kaku, matanya melotot tanpa berkedip. Kenangan buruk 7 tahun lalu kini terpampang nyata didepan matanya dalam kualitas yang jauh lebih mengerikan. ia bahkan tidak mampu mengangkat pedangnya; seluruh syarafnya lumpuh boleh trauma.

Disampingnya, para tetua beast yang tadi begitu sombong kini mengalami fenomena yang aneh. Mereka pingsan berdiri, mata memutih karna syok mental yang luar biasa, sementara tubuh mereka tertahan oleh rasa takut yang membeku.

Hanya Eric yang masih sadar, kakinya gemetar hebat diatas tanah yang basah. Ia menatap Arion yang berdiri beberapa meter darinya.

Arion tetap diam, menatap Eric dengan tatapan yang sangat dingin dan meremehkan. secara external, ia terlihat seperti penguasa yang baru saja selesai melakukan latihan ringan. Namun dibalik topeng keangkuhan itu, Arion sedang berjuang mati-matian.

Sial... Kalau aku berkedip sekali saja, aku pasti akan pingsan dan muntah darah disini! Batin arion berteriak

Sebas tolong... Cepatlah berdiri sedikit lebih dekat agar aku bisa bersandar kalau aku pingsan!

Sebas yang memahami kondisi fisik tuannya, segera melangkah satu langkah di belakang Arion, ia tidak menyentuh Arion agar tidak merusak wibawa Tuannya didepan musuh, namun bersiap menangkap Arion dalan bayangan jika pangeran itu kehilangan kesadaran.

Arion menatap sisa-sisa kekacauan didepannya dengan pandangan yang mulai mengabur. Dengan otoritas yang tersisa di suaranya, ia memberikan perintah terakhir.

"Sebas... Komandan.." Panggilnya rendah.

"Buat mereka semua tak sadarkan diri. Aku tidak ingin ada mata yang melihat.. Apa yang akan terjadi selanjutnya.."

"Sesuai kehendak anda... Tuan Muda," Sahut kelima komandan dan Sebas.

Dalam sekejap, mereka bergerak seperti badai pembius; Setiap prajurit Beast yang tersisa dihantam tepat di syaraf leher hingga tumbang, termasuk Eric yang pingsan dengan wajah penuh kehinaan.

Arion perlahan melangkah maju, menyeret kakinya yang terasa seberat timah menuju kereta kuda yang masih berdiri ditengah padang darah.

Setiap langkah seperti duri yang menusuk jantungnya. Ia bisa merasakan darah mulai mengalir dari sudut bibirnya, namun ia menelannya kembali.

Saat tangannya yang gemetar menyentuh pintu kereta dan membukanya, jantung Arion seakan berhenti. Disana, di atas kursi beludru, Elara tidak lagi terlelap. Matanya yang indah terbuka lebar, berkaca-kaca menatap sosok Arion. Ternyata, sihir bius itu telah luntur ditengah hiruk-pikuk pertempuran, dan dari jendela kereta, Elara telah menyaksikan semuanya.

Bagaimana Arion bertarung sendiri melawan ratusan orang. Dan bagaimana ia memaksakan tubuhnya yang rapuh untuk tetap berdiri tegap mencapainya.

"Arion..?" bisik Elara.

Suaranya bergetar melihat sosok tunangannya yang bersimbah darah.

Melihat Elara yang sadar dan aman, seluruh pertahanan mental Arion runtuh seketika. Ketegangan yang menopang tubuhnya menghilang. Pandangannya menjadi gelap total.

"Syukurlah.." Gumam Arion, sebuah senyum tipis yang tulus-menghiasi wajahnya yang pucat.

"Syukurlah kau baik-baik saja.."

Tubuh Arion limbung kedepan, ia tidak jatuh ke tanah, melainkan jatuh tepat kedalam dekapan Elara yang dengan sigap menangkapnya.

Kepala Arion terkulai di bahu Elara, napasnya berat tak beraturan.

Elara memeluk tubuh tunangannya itu dengan erat. Mengabaikan noda darah yang kini mengotori gaunnya.

Air matanya jatuh ke pipi Arion.

Diluar kereta, Sebas berdiri diam, menjaga pintu dengan tatapan haru, sementara kelima komandan dan Black Knight berlutut membelakangi kereta, memberikan privasi bagi tuan mereka ditengah kemenangan sunyi.

Bersambung....

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!