andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Seperti yang sudah sering terjadi, bunuh diri selalu dianggap aib bagi orang kaya. Keluarga korban langsung meminta agar jenazah tidak diotopsi. Aku menghadapinya dengan perasaan campur aduk. Mereka tidak kooperatif, justru menyulitkan penyelidikan. Sementara di kepalaku, kode 172 terasa semakin nyata.
Aku menatap Pak Dani, mencoba tetap tenang meski pikiranku penuh tanda tanya.
“Pak, sebaiknya anak Bapak diotopsi,” kataku akhirnya. Aku tahu kemungkinan besar akan ditolak, tetapi saran itu tetap harus disampaikan.
Reaksinya sesuai dugaan. Wajahnya memerah.
“Kamu menghina saya?” bentaknya. “Saya Dani, pengusaha sukses. Atau jangan-jangan kamu mau memeras saya?”
Aku menahan napas. Dalam hati aku menggerutu. Benar saja, dia marah.
Aku memilih menjelaskan dengan data.
“Hari ini ada dua kejadian yang sama persis, Pak. Pagi tadi di SMK Nusantara, anak Pak Ramlan. Sekarang anak Bapak. Kalau diotopsi, mungkin ada zat asing di tubuh anak Bapak.”
“Stop!” teriaknya. “Anakku tidak pernah mengonsumsi narkoba.”
Padahal aku tidak pernah menuduh ke arah sana.
Pak Dani lalu menyodorkan ponselnya. Dari raut wajahnya, aku tahu dia baru saja menelepon seseorang. Saat ponsel itu menempel di telingaku, suara di seberang langsung kukenal.
“Andi.”
“Siap, Pak,” jawabku.
“Jangan perpanjang kejadian ini. Sama seperti kasus tadi pagi,” ucap Pak Haris dengan nada tegas.
“Tapi, Pak,” aku memberanikan diri, “ini mengarah ke pembunuhan berantai.”
“Sudahlah,” potongnya. “Kalau keluarga minta ditutup, buat apa kita repot-repot.”
Dadaku terasa sesak. Kecurigaanku terhadap kode 172 semakin kuat, meski masih sebatas asumsi. Namun bukankah asumsi sekecil apa pun seharusnya diperhatikan?
“Andi, sudahi kasus ini. Kalau diperpanjang, malah merepotkan,” katanya lagi.
Aku menutup panggilan dengan tangan gemetar. Aku hanya bisa menarik napas panjang. Aku polisi berpangkat rendah, tak punya kuasa mengambil keputusan. Yang bisa kulakukan hanyalah menerima. Meski firasat buruk itu semakin sulit kutepis, aku harus menanggung akibat dari pilihanku untuk patuh.
Kukembalikan ponselnya.
Dia menatapku tajam, tatapan yang penuh amarah dan peringatan.
“Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan,” ucapnya tegas.
“Sesuai arahan Pak Haris,” jawabku singkat.
Dia mencondongkan tubuh.
“Berapa nomor rekeningmu?”
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari bentakannya tadi. Mungkin orang lain akan senang mendengarnya, tapi tidak denganku. Dadaku langsung terasa tidak nyaman.
“Tidak usah, Pak,” kataku menahan emosi. “Negara sudah memberi saya operasional.”
Dia menyeringai tipis.
“Jangan munafik. Saya harus memastikan kejadian ini aman dan tidak tersebar.”
Aku menarik napas, lalu tetap memilih menyampaikan yang menurutku benar.
“Saran saya, kalau ingin lebih jelas, sebaiknya dilakukan otopsi, Pak. Soal hasilnya tentu rahasia, tidak sembarang orang bisa mengakses.”
“Jangan ajari saya,” potongnya keras. “Ikuti saja arahan Haris.”
Dadaku semakin sesak. Aku tahu, di titik ini, semua sudah ditentukan. Aku tidak punya ruang untuk berdebat lebih jauh.
“Baik, Pak,” ucapku akhirnya.
Setelah itu, anak buahnya yang mengurus jenazah anaknya. Aku tidak lagi dilibatkan.
Aku memilih menjauh dan duduk di kursi teras sekolah. Pandanganku berkeliling, menyapu seluruh area. Sekolah ini tampak sangat bagus dan lengkap. Beberapa petugas keamanan berjaga. Kamera CCTV terpasang hampir di setiap sudut. Poster-poster anti perundungan terpampang jelas di dinding.
Sekolah ini jelas berusaha keras menciptakan rasa aman.
Namun justru di tempat seaman ini, seorang anak memilih mati, atau dibuat mati.
Di kepalaku, kode 172 terus terbayang. Jam kematian anak itu tepat pukul 12.00, sama seperti korban sebelumnya. Namun kali ini ada tambahan angka lain, 18000. Angka itu seperti pesan yang belum selesai. Aku bertanya-tanya, apakah akan ada korban berikutnya, muncul di jam tertentu lagi.
Andai aku punya wewenang, aku pasti sudah mendalami kasus ini. Namun fakta di lapangan menamparku keras. Dari bukti dan rekaman CCTV, semuanya tampak jelas. Korban terlihat seperti bunuh diri. Tidak ada celah hukum untuk bergerak lebih jauh.
Meski begitu, aku tidak bisa diam saja. Perasaanku menolak menerima kesimpulan sesederhana itu. Ada yang tidak beres, dan aku bisa merasakannya.
Aku memilih bertindak dengan caraku sendiri. Kuambil ponsel dan menelepon Pak Haris.
“Ya, Andi. Gimana?” suaranya terdengar lelah di seberang.
“Pak, kejadian ini tidak bisa kita anggap biasa,” kataku. “Ada hubungannya dengan kemunculan kode 172.”
“Andi,” ucapnya sambil sedikit membentak, “semua sudah jelas. Anak itu bunuh diri. Jangan seperti anak kecil. Sekarang saya jadi ragu kamu ini polisi berprestasi atau bukan. Kalau ada masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah, ya selesaikan. Jangan dibuat ribet. Ingat, negara sedang hemat anggaran. Memperdalam kasus itu perlu biaya.”
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk lebih dalam dari yang kuharapkan. Rasa kecewa menumpuk di dadaku.
Dalam hati aku mengumpat. Andai saja aku orang kaya, mungkin aku bisa membiayai penyelidikan ini sendiri. Tapi kenyataannya tidak begitu.
“Pak,” kataku pelan, “saya menduga pukul 18.00 nanti akan terjadi hal yang serupa.”
“Stop, Andi,” potongnya cepat. “Jangan tambah beban pikiran saya. Hari ini saja sudah ada dua bank dibobol. Kepala saya hampir meledak. Kamu dapat kasus mudah malah banyak protes.”
Aku menarik napas panjang.
“Baik, Pak. Saya hanya menyampaikan pendapat.”
Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 14.30. Jika dugaanku benar dan akan terjadi pembunuhan lagi, seharusnya aku sudah melakukan penyelidikan menyeluruh sejak tadi. Mendalami identitas anak itu, siapa musuhnya, dengan siapa terakhir kali ia berkomunikasi. Semua itu seharusnya bisa ditelusuri.
Andai saja orang tuanya mengizinkan otopsi.
Aku bangkit dengan perasaan campur aduk, kecewa sekaligus khawatir. Kode 12.00 sudah jelas, itu waktu kematian, dan sudah terjadi. Selanjutnya kode 18.00. Itu berarti kejadian berikutnya tinggal hitungan jam.
Tapi di mana? Dan siapa korban selanjutnya?
Lalu angka 172 itu. Apa artinya?
172 hari?
Atau 172 korban?
Aku bergidik sendiri. Jika itu jumlah korban yang ditargetkan, kasus ini seharusnya ditangani polda, bukan polsek kecil seperti tempatku bekerja.
Aku berjalan menuju mobil dengan langkah cepat. Aku harus ke kantor dan membuat dua laporan. Satu laporan resmi untuk publik, menyatakan anak itu meninggal karena kecelakaan. Satu lagi laporan pribadi, catatan sebenarnya, sesuai fakta dan kecurigaanku.
Saat hendak masuk mobil di gerbang sekolah, mataku menangkap sosok Dika. Dia berdiri sambil celingukan. Rasa kesal langsung membuncah. Ibunya pulang ke kampung, dan dia malah keluyuran. Padahal besok ulangan sekolah.
Ini salahku, pikirku. Terlalu membiarkannya menonton film-film detektif. Meski begitu, dia selalu juara kelas.
Kulihat dia berlari ke arah mobilku.
“Ayah, apa ada kode di leher korban?” tanyanya polos.
Astaga.
Aku mengepalkan tangan, menahan emosi.
“Masuk,” ucapku tegas sambil membuka pintu mobil.
Tanpa ekspresi apa pun, dia menuruti perintahku dan duduk di kursi depan.
Ya, begitulah Andika, anakku.
Sebagai ayahnya, aku sering tidak bisa membedakan apakah dia sedang kesal, sedih, atau bahagia.