NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Kebenaran Memilih Waktunya

Pagi datang tanpa permisi.

Tidak ada matahari yang terlalu terang, tidak ada hujan yang membersihkan. Hanya cahaya pucat yang merayap masuk ke vila, menyentuh meja kerja Carmela yang penuh catatan semalam. Di layar laptop, peta koneksi masih terbuka—nama, tanggal, jalur akses. Benang-benang itu kini membentuk pola yang tak bisa diabaikan.

Carmela menyesap kopi yang sudah dingin. “Mereka menyimpannya terlalu lama,” katanya pelan. “Itu kesalahan pertama.”

Matteo berdiri di belakangnya, menatap layar. “Kesalahan kedua?”

“Mereka lupa bahwa arsip punya jejak,” jawab Carmela. “Dan jejak selalu bicara.”

Pukul 08.30, tim inti berkumpul. Tidak ada wajah panik. Yang ada justru ketenangan yang terlatih—jenis ketenangan yang muncul ketika rencana sudah matang.

“Foto-foto itu disimpan di server lama,” lapor analis data. “Aksesnya dicabut tiga tahun lalu. Tapi satu akun tidak pernah dinonaktifkan.”

Nama akun itu muncul di layar. Tidak besar. Tidak populer. Namun terhubung ke satu kantor yang seharusnya bersih.

“Siapa pemilik akun?” tanya Matteo.

“Karyawan menengah,” jawab analis. “Sudah pensiun dini. Tapi log menunjukkan akses berlanjut—melalui proksi.”

Carmela mencondongkan badan. “Siapa yang memberi proksi?”

Analis menggeser layar. “Satu nama. Dan… ini rumit.”

Nama itu muncul. Ruangan hening.

Nama itu punya reputasi. Punya riwayat membangun citra bersih di atas meja, kotor di bawahnya. Nama yang jarang bicara, tapi selalu ada di setiap keputusan penting.

“Dia,” gumam Matteo. “Aku seharusnya tahu.”

Carmela mengangguk. “Kita semua seharusnya.”

Pukul 10.00, berita mulai bergeser. Bukan karena bantahan—melainkan karena ketidaksinkronan. Narasi yang semalam rapi kini mulai bocor. Jurnalis yang Carmela temui mengunggah artikel dengan nada berbeda: bukan pembelaan, bukan tuduhan—kronologi.

Judulnya sederhana:

“Tentang Foto Lama dan Jejak yang Tidak Pernah Hilang.”

Tidak ada nama yang diseret. Tapi pembaca yang teliti tahu—ini bukan kebetulan.

“Kita dorong atau tunggu?” tanya kepala komunikasi.

Carmela menatap jam. “Tunggu. Biarkan mereka membuka pintu sendiri.”

Siang hari, foto kedua yang diancamkan semalam tidak dirilis.

Sebaliknya, akun anonim itu mengunggah sesuatu yang lain—pernyataan berputar, setengah mundur, setengah menyerang. Publik membaca kebingungan.

Matteo tersenyum tipis. “Mereka panik.”

“Belum,” balas Carmela. “Mereka sedang mencari siapa yang harus dikorbankan.”

Pukul 14.00, panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Carmela mengangkatnya tanpa ragu.

“Saya ingin bicara,” suara di seberang terdengar kering. “Privat.”

Carmela menatap Matteo. Ia mengangguk.

“Datang,” kata Carmela. “Satu jam.”

Pria itu datang dengan jas yang terlalu rapi untuk seseorang yang sedang terpojok. Ia duduk, meletakkan map tipis di meja—gerakan yang ingin terlihat tenang.

“Saya tidak memerintahkan serangan,” katanya cepat. “Saya hanya—menyimpan.”

“Menunggu,” koreksi Carmela.

Pria itu terdiam. “Saya pikir itu asuransi.”

“Terhadap siapa?” tanya Carmela.

“Terhadap perubahan,” jawabnya. “Anda mengubah terlalu banyak.”

Carmela menatapnya tanpa emosi. “Dan Anda memilih masa lalu saya sebagai tuas.”

Pria itu mengangguk, lalu berkata pelan, “Saya tidak tahu akan sejauh ini.”

“Tidak ada yang tahu,” balas Carmela. “Itulah sebabnya etika ada—untuk saat kita tidak tahu.”

Ia membuka map yang dibawanya sendiri—berisi log, tanda tangan digital, dan satu dokumen persetujuan lama.

“Ini bukti,” kata Carmela. “Dan ini kesempatan.”

Pria itu menelan ludah. “Kesempatan apa?”

“Untuk mengatakan kebenaran,” jawab Carmela. “Sekarang. Dengan caramu. Atau nanti—tanpa kendali.”

Sore hari, pengakuan itu terjadi.

Bukan di televisi besar. Bukan dengan air mata. Sebuah pernyataan tertulis yang tepat sasaran: tentang penyimpanan arsip ilegal, tentang niat “perlindungan”, tentang kesalahan penilaian.

Nama disebut. Tanggal dicantumkan. Tanggung jawab diambil—setengah terpaksa, tapi nyata.

Dunia merespons cepat. Arah panah berubah.

“Ini akan menghantam balik,” kata Matteo.

“Ya,” jawab Carmela. “Dan itu adil.”

Namun Carmela belum selesai.

Pukul 18.00, ia mengunggah satu pernyataan lanjutan—lebih panjang dari video semalam, lebih tenang dari dugaan banyak orang.

Ia bicara tentang masa lalu—tanpa romantisasi. Tentang kesalahan—tanpa mencari simpati. Tentang sistem—tanpa jargon.

“Ada orang yang menyimpan cerita orang lain untuk berjaga-jaga,” katanya. “Itu bukan kepemimpinan. Itu ketakutan.”

Ia berhenti sejenak.

“Saya memilih membangun masa depan tanpa sandera.”

Kata-kata itu tidak viral karena sensasi. Ia viral karena kelegaan.

Malam datang dengan perubahan nyata. Grafik sentimen berbalik. Bukan menjadi pujian—but kepercayaan bersyarat. Publik tidak memeluk Carmela. Mereka memberi ruang.

Matteo duduk di sofa, kelelahan akhirnya merayap. “Kamu bisa saja menghancurkannya.”

Carmela menggeleng. “Menghancurkan itu mudah. Mengakhiri pola—itu yang sulit.”

Matteo menatapnya. “Dan kamu memilih yang sulit.”

Carmela tersenyum tipis. “Aku memilih yang selesai.”

Di kamar, saat lampu diredupkan, Carmela menerima pesan terakhir malam itu. Bukan ancaman. Bukan pujian.

Kita salah menilaimu.

Carmela menutup ponsel. Ia berbaring, memandang langit-langit.

“Ini belum akhir,” kata Matteo.

“Tidak,” jawab Carmela. “Ini awal yang lebih jujur.”

Matteo meraih tangannya. “Aku akan ada.”

Carmela menggenggam balik. “Aku tahu.”

Di luar, kota tetap bising. Di dalam, dua orang beristirahat—bukan karena aman, tetapi karena siap.

Bab ini menutup satu lingkaran. Besok, konsekuensi akan datang—bukan dari musuh lama, melainkan dari sekutu yang menilai ulang.

Dan Carmela tahu: tantangan berikutnya tidak akan menyerang namanya, melainkan keputusannya.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!