Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Petir Menyapu Racun
Pertempuran di Sekte Awan Hijau telah berlangsung selama satu jam, namun rasanya seperti seabad.
Alun-alun batu pualam putih kini telah berubah menjadi danau darah. Mayat-mayat bergelimpangan—bukan mayat musuh asing, melainkan saudara seperguruan yang saling membunuh.
"Kiri! Tiga langkah!" teriak Ren Zhaofeng.
Ye Qingyu tidak bertanya. Dia langsung menebaskan pedang es-nya ke arah kiri.
Sring!
Seorang murid pengkhianat yang mencoba menyelinap dari balik pilar terbelah menjadi patung es.
Zhaofeng dan Ye Qingyu bertarung punggung-memunggung di depan gerbang Paviliun Kitab Suci. Ini adalah garis pertahanan terakhir. Jika paviliun ini jatuh, warisan ribuan tahun sekte akan dibakar oleh para pengkhianat.
"Jumlah mereka terlalu banyak," napas Ye Qingyu memburu. Qi-nya mulai menipis. "Setiap kali kita membunuh satu, dua lagi muncul. Mereka menggunakan Pil Pembakar Darah!"
Zhaofeng mendengar suara jantung musuh-musuhnya. Detaknya cepat dan kacau, tanda mereka berada di bawah pengaruh obat terlarang yang menghilangkan rasa takut dan sakit dengan membakar esensi kehidupan mereka.
"Bertahanlah sedikit lagi," kata Zhaofeng tenang, meski tangannya sendiri gemetar karena kelelahan menahan beban Pedang Hitam. "Langit belum runtuh."
Tiba-tiba, tekanan udara berubah drastis.
Di langit, Ketua Sekte Yun Tian terdorong mundur. Wajahnya menghitam.
"Uhuk!" Yun Tian memuntahkan darah hitam.
"Hahaha! Yun Tian!" tawa Tetua Agung Racun (Du Xie) menggema. "Kau terlalu naif! Kau pikir aku bertarung jujur? Uap racunku sudah meresap ke dalam formasi pelindung sekte sejak sejam lalu. Semakin kau menggunakan Qi, semakin cepat kau mati!"
Du Xie mengangkat tongkat ularnya. Awan hijau di langit berputar membentuk tengkorak raksasa yang siap menelan Puncak Utama.
"Tamatlah riwayat Awan Hijau! Hari ini, tempat ini menjadi Cabang Aliansi Ular Hitam!"
Para murid loyalis di bawah memandang langit dengan putus asa. Ketua Sekte kalah?
Zhaofeng mendongak. Telinganya menangkap suara lain. Suara gemuruh yang bukan berasal dari awan racun itu.
Suara itu datang dari arah Puncak Halilintar di sisi utara.
KRRR... BOOOOM!
Sebuah kilatan ungu membelah langit malam, lebih terang dari matahari.
Tengkorak asap hijau milik Du Xie hancur seketika disambar petir itu.
"Siapa?!" Du Xie terkejut, mundur ketakutan.
Dari balik awan badai, seorang pria tua bertubuh kekar dengan rambut putih berdiri tegak seperti singa. Tubuhnya dikelilingi oleh naga-naga listrik yang menyambar liar.
Tetua Agung Lei Zhen (Petir).
"Du Xie..." suara Lei Zhen menggelegar, membuat kaca jendela yang tersisa pecah berantakan. "Kau berani meracuni saudaramu? Kau berani menjual rumah kita pada iblis?"
"Lei Zhen?!" wajah Du Xie pucat. "Bagaimana kau bisa lolos? Aku sudah menyuruh wakilmu untuk mengurungmu dalam Formasi Penyerap Suara!"
Lei Zhen melempar sesuatu ke arah Du Xie. Itu adalah kepala gosong seseorang.
"Wakilku sudah jadi abu," kata Lei Zhen dingin. "Maaf aku terlambat. Aku harus membersihkan sampah di rumahku sendiri dulu."
"Dan sekarang..." Mata Lei Zhen menyala ungu. "Giliranmu."
BLARR!
Lei Zhen tidak menggunakan teknik rumit. Dia berubah menjadi kilat hidup dan menabrak Du Xie.
Pertarungan dua lawan satu dimulai di langit. Ketua Sekte Yun Tian, meski keracunan, memaksakan sisa tenaganya untuk mengunci pergerakan Du Xie, sementara Lei Zhen menghajarnya tanpa ampun dengan tinju petir.
Situasi berbalik.
Di tanah, para pengkhianat mulai panik melihat pemimpin mereka dihajar.
"Tetua Agung Petir datang! Lari!"
Moral musuh runtuh.
Zhaofeng melihat peluang.
"Sekarang!" teriak Zhaofeng.
Dia mengangkat Pedang Hitam-nya tinggi-tinggi. Dia tidak menyerang musuh. Dia memukul tanah.
"Seni Pedang Tanpa Wujud: Gempa Resonansi!"
DUMM!
Gelombang getaran merambat melalui lantai batu, membuat para pengkhianat yang sedang panik kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"Serang!" perintah Ye Qingyu.
Murid-murid loyalis yang tersisa mendapatkan semangat baru. Mereka menerjang maju, membantai para pengkhianat yang terjatuh.
Di langit, Du Xie terdesak hebat. Satu lengannya sudah hangus terkena petir, dan jubah pelindungnya hancur.
"Sial! Sial! Sial!" umpat Du Xie. "Kalian pikir kalian menang?"
Du Xie mengeluarkan sebuah bola kristal hitam dari dadanya. Aura bola itu begitu jahat hingga Zhaofeng di tanah pun merasa mual.
"Jantung Ular Iblis! Ledakkan!"
Du Xie berniat meledakkan diri bersama seluruh Puncak Utama!
"Gawat!" teriak Ketua Sekte. "Dia mau bunuh diri massal!"
Tapi Zhaofeng bereaksi lebih cepat dari siapa pun.
Telinganya sudah mendengar retakan pada bola kristal itu sebelum Du Xie meremasnya.
Zhaofeng mengambil Pedang Karat. Dia mengaliri pedang itu dengan seluruh sisa Qi-nya dan Medan Gravitasi.
Dia melempar pedang itu ke langit seperti tombak.
"Guru! Tangkap!" teriak Zhaofeng.
Bukan ke arah Du Xie, tapi ke arah Tetua Pedang yang sedang melayang di dekat sana.
Tetua Pedang menangkap sinyal muridnya. Dia tidak menangkap pedang itu dengan tangan, tapi dengan Qi-nya, lalu memutarnya dan menendangnya dengan tambahan kecepatan suara.
WUSHHH!
Pedang Karat itu melesat lebih cepat dari petir, menembus bahu Du Xie tepat sebelum dia bisa meremas bola kristal itu.
"ARGH!"
Tangan Du Xie putus. Bola kristal itu jatuh, melayang bebas di udara.
Ketua Sekte Yun Tian menyambar bola itu dan menyegelnya dengan jaring awan.
"Tamat riwayatmu, Du Xie," kata Lei Zhen, siap memenggal kepala pengkhianat itu.
Tapi Du Xie, meski kehilangan tangan, menyeringai gila. Tubuhnya tiba-tiba mencair menjadi genangan lumpur hijau beracun.
"Teknik Pelepasan Kulit Ular."
Lumpur itu meledak menjadi ribuan tetes hujan racun yang menyebar ke segala arah, membutakan pandangan dan sensor para Tetua.
Saat asap racun hilang, Du Xie sudah lenyap.
"Dia kabur..." geram Lei Zhen, tinjunya memukul udara hampa. "Ular licik!"
Ketua Sekte Yun Tian terbatuk, wajahnya semakin pucat. "Biarkan dia. Prioritas kita adalah menyelamatkan murid yang tersisa dan membersihkan sisa racun."
Pertempuran berakhir.
Matahari mulai terbit di ufuk timur, menyinari reruntuhan Sekte Awan Hijau yang berasap.
Zhaofeng duduk bersandar di pilar paviliun yang hangus. Tubuhnya penuh luka, Qi-nya habis total. Ye Qingyu duduk di sampingnya, diam-diam membalut luka di lengan Zhaofeng dengan kain jubahnya yang robek.
"Kita menang," bisik Ye Qingyu.
"Kita bertahan hidup," koreksi Zhaofeng. "Menang masih jauh."
Dia menatap ke arah gerbang sekte yang hancur. Du Xie memang kabur, tapi Aliansi Ular Hitam baru saja kehilangan persembunyiannya. Perang bayangan kini telah berubah menjadi perang terbuka.
Dan Zhaofeng tahu, nama yang paling dibenci oleh Du Xie saat ini bukanlah Ketua Sekte ataupun Tetua Petir.
Melainkan Ren Zhaofeng, murid luar yang merusak segalanya.
💪