Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah
“Ayahanda… Ibunda…!”
Teriakan Lily menggema di udara, namun jawabannya telah tertutup oleh gerbang Moonveil yang menutup diri. Keputusan telah ditetapkan dan tidak dapat ditawar. Saat semuanya benar-benar tertutup, kaki kuda yang ia tunggangi terangkat dengan mudah. Sang kuda mengikik keras, hambatan yang tadi menahannya lenyap begitu saja.
“Apa yang sebenarnya terjadi…” bisik Lily.
Ia menatap ke dalam Hutan Moonveil, namun hanya ada keheningan. Lily memejamkan mata.
Aku pulang dulu, besok aku akan kembali. Janji yang ia ucapkan kemarin sore terngiang kembali dalam ingatannya. Ia menarik napas dalam, lalu membuka mata dengan pikiran yang baru. Ia menarik kendali, memutar kudanya, dan memacunya masuk kembali ke dalam Moonveil.
“Putri?” suara Wilhelm terdengar bingung ketika melihat Lily kembali.
“Kakek,” sapa Lily singkat sambil turun dari kuda.
“Aku akan segera kembali,” katanya cepat, sebelum Wilhelm sempat bertanya lebih jauh.
Tanpa menoleh, Putri Lily berlari masuk ke dalam hutan. Langkahnya ringan namun pasti, menghilang di antara pepohonan yang segera menutup di belakangnya.
Lily berjalan menyusuri sungai Lirien yang jernih dan tenang. Ia melangkah ke atas sebuah batu besar di tengah sungai, berdiri tegak seperti pada altar sunyi yang hanya dipahami hutan.
“Aku kembali,” ucapnya pelan. “Aku kembali sesuai janjiku kemarin sore.”
Angin berhembus lebih kuat, membelai wajahnya, mengibaskan rambutnya ke belakang. Lily menutup mata sejenak, menyatukan kedua tangannya di depan dada.
“Aku ingin ikut dengan Ayahanda, Ibunda, dan kakak-kakakku.” katanya. Suaranya tidak bergetar, tapi penuh harapan.
“Jangan halangi aku,” lanjutnya lirih. “Aku mohon.”
Ia turun dari batu dan melangkah melewati air, hendak menyusul mereka. Namun sebelum langkahnya sempurna, tanaman merambat muncul dari dasar sungai, melilit pergelangan kakinya. Saat itu juga air matanya jatuh, mengalir bersama aliran sungai Lirien. Ia mengerti jawaban Moonveil, tapi berpisah dengan keluarga yang ia cintai membuat hatinya terasa tersayat.
“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun mantap. “Jika ini kehendak Dewa… aku akan tinggal.”
Ia mengangkat wajahnya ke arah langit. “Tapi tolong, jaga mereka di sana.”
Lilitan itu mengendur perlahan, lalu surut kembali ke dalam tanah, seolah permintaan itu telah diterima.
Lily duduk di tepi sungai. Matahari mulai meninggi, sinarnya kian terik. Namun dedaunan di atasnya bergerak, saling bertaut, membentuk naungan alami yang melindungi kulitnya dari panas. Moonveil tidak menjawab dengan kata, melainkan perlindungan.
Rumah yang biasanya dipenuhi suara kini terasa lengang, seakan dinding-dindingnya ikut memahami perpisahan. Lily duduk termenung di teras, menatap halaman yang sunyi tanpa tujuan. Tiba-tiba seikat bunga segar muncul di hadapannya.
Lily menengadah. “Kakek,” ucapnya pelan.
Ia menerima bunga itu dengan kedua tangan. Ser Wilhelm lalu duduk di dekat anak tangga, jaraknya sopan, tatapannya hangat.
“Jangan takut,” katanya tenang.
Ia terdiam sejenak, seolah memilih kata yang tepat.
“Dulu sebelum kelahiran kalian, Tabib Eron pernah menyampaikan nubuat,” lanjutnya. “Kalian akan diizinkan pergi dari Moonveil jika waktunya telah tiba.”
Wilhelm menatap Lily dengan penuh perhatian.
“Mungkin sekarang waktunya Ayahanda, Ibunda, dan kedua kakakmu melangkah pergi. Namun tidak dengan dirimu, Putri.”
Lily menunduk, jemarinya menggenggam bunga itu perlahan.
“Masih ada yang harus Anda lakukan di sini, Putri.” kata Wilhelm. “Belajar bertahan, belajar mengenal kekuatan, juga menajamkan insting. Agar saat Anda kembali, nubuat itu tergenapi."
Lily mengangkat wajahnya.
“Kenapa takdirku terasa aneh, Kakek?”
Wilhelm tersenyum.
“Bukan aneh, Putri,” jawabnya mantap. “Melainkan istimewa.”
Lily menarik napas perlahan, mencoba menerima.
“Terima kasih, Kakek.”
Wilhelm berdiri, lalu menunduk hormat dengan satu tangan di dada. Salam seorang pengawal yang telah memilih setia pada satu keturunan hingga akhir.
“Suatu kehormatan bagi hamba, Putri. Hamba akan menjaga Anda dengan hidup hamba.”
Ia lalu mengundurkan diri dengan langkah tenang, kembali pada tugasnya mengurus tanaman-tanaman obat Moonveil, warisan yang peminatnya tak pernah surut.
___
Aummm….
Auman singa menggema kuat, memecah kesunyian hutan. Eri berlari lebih dulu, tubuhnya melesat di antara pepohonan, langkahnya mantap dan penuh tenaga. Lily menyusul tanpa ragu. Ini adalah putaran kedua ia mengelilingi hutan hari itu dan ia tahu, itu masih belum cukup.
Kakinya menyentuh tanah dengan ritme teratur dan nafas yang terjaga.
“Ayo, Eri,” ucapnya tegas, “Kita tidak bisa berleha-leha.”
Keringat mengalir di keningnya, membasahi pelipis. Gaun linennya panjang tidak menghambat langkahnya.
Auuummm…
Eri mengaum lagi, kali ini melesat melewati sisi Lily seakan menantangnya.
Lily tersenyum tipis, siap menerima tantangan dengan langkah. Ia mempercepat lari, memaksa otot-ototnya bekerja lebih keras, menolak rasa letih yang mulai merambat. Jantungnya berdetak kuat, namun pikirannya jernih. Ia mengejar bukan karena ingin menang, melainkan karena ia harus mampu bertahan.
Dan Moonveil memberkahi keteguhannya. Tanah di bawah kakinya terasa lebih ringan. Napasnya berhembus lebih mudah. Tubuhnya melompat dan berlari dengan kecepatan rusa yang berlari bebas di antara pepohonan. Lily melesat sejajar dengan Eri, rambutnya terurai mengikuti angin, langkahnya mantap dan penuh kendali. Di sanalah ia mengerti. Moonveil tidak menahannya untuk melemahkannya, melainkan untuk mempersiapkannya.
Lily menghentikan langkahnya pada putaran kelima. Air sungai mengalir jernih di hadapannya, berkilau diterpa cahaya senja yang mulai condong. Nafasnya teratur, dadanya naik turun dengan tenang. Ia menepuk lembut leher Erivana.
“Minumlah,” katanya pelan.
Singa itu menunduk, menjilat air dengan tenang. Setelah Eri selesai barulah ia berlutut, menciduk air dengan kedua telapak tangan, membasuh wajahnya, lalu menyesapnya perlahan.
Dingin air itu menenangkan pikirannya.
Pekerjaan belum selesai. Lily berdiri dan melompat ringan ke batang pohon di samping sumber mata air. Ia mengambil busur dan anak panah digantung di salah satu dahan. Tidak lupa ia memeriksa ujung panah, mengusap talinya sebentar, memastikan semuanya siap.
“Setelah mendapat satu buruan, kita pulang.” ucapnya pada Eri.
Ia tidak memilih arah dengan mata, melainkan insting. Kakinya berhenti di balik sebuah pohon tua, membidik seekor rusa muda tengah memakan rerumputan dengan tenang. Lily menarik napas perlahan, mengatur jarak, menenangkan detak jantungnya.
Busur terangkat, tali ditarik.
Shush…!
Anak panah melesat membelah udara. Sekali percobaan, dan tepat pada sasaran. Rusa itu roboh tanpa derita panjang.
Lily segera mendekat. Ia menundukkan kepala sejenak, sebuah penghormatan sunyi bagi kehidupan yang telah ia ambil. Dengan cekatan, ia mengikat buruan itu dan mengangkatnya ke punggungnya. Bebannya terasa, namun tidak memberatkannya.
Auuummm…
Eri mengaum rendah, matanya berkilat seolah meminta tugas.
Lily tertawa kecil. Ia menggantungkan anak panah di punggung Eri, lalu menepuk punggungnya.
Langit mulai menggelap, cahaya emas berganti biru keunguan. Sang putri dan penjaga setianya melangkah pulang ke rumah yang sunyi, namun tetap setia menanti.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣