Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Formasi Tim
Pengumuman itu menggantung di papan pengumuman utama Akademi Hunter, ditulis dengan huruf-huruf besar dan resmi yang tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi:
**“UJIAN FORMASI TIM AWAL – SEMUA SISWA TAHUN PERTAMA HARUS MEMBENTUK TIM 4 ORANG DALAM 48 JAM. TIM AKAN DIPAKAI UNTUK SELURUH MISI AKADEMI DAN UJIAN SELAMA SEMESTER INI. FORMULIR PENDAFTARAN DI KOORDINATOR TAHUN 1.”**
Kegaduhan langsung melanda koridor. Suara tawar-menawar, rayuan, dan bahkan pertengkaran kecil mulai terdengar. Bagi sebagian besar siswa, ini adalah momen penting—tim yang bagus bisa mengangkat prestasi, tim yang buruk bisa menghancurkan karier akademi.
Ji-hoon berdiri di pinggir kerumunan, merasakan kecemasan yang familier menggelitik perutnya. *Empat orang.* Dia bahkan kesulitan mengajak satu orang untuk makan siang bersama, apalagi membentuk tim yang kohesif.
“Kelihatannya stres.”
Ji-hoon menoleh. Seo-yeon berdiri di sampingnya, juga memandang kerumunan dengan ekspresi campur aduk antara cemas dan bertekad.
“Sedikit,” akui Ji-hoon. “Saya tidak punya… koneksi.”
“Saya juga,” ucap Seo-yeon dengan suara kecil. “Kebanyakan healer sudah punya tim tetap. Mereka menganggap saya… terlalu ambisius. Tidak tahu tempat.”
Mereka berdiri dalam kesunyian yang nyaman untuk beberapa saat, menyaksikan kelompok-kelompok mulai terbentuk. Min-hyuk sudah dikelilingi oleh setengah lusin siswa yang tampaknya bersaing untuk mendapat tempat di timnya. Dia memilih dengan santai, seperti memilih permen dari toples—dua damage-dealer dengan ranking tinggi, dan seorang tanker besar yang sudah terkenal.
“Kita berdua saja belum cukup,” kata Seo-yeon akhirnya. “Kita butuh setidaknya dua orang lagi. Idealnya seorang tanker untuk bertahan, dan… seseorang yang bisa merusak. Atau setidaknya pengalih perhatian.”
Ji-hoon mengangguk, pikirannya berputar. Siapa yang mau bergabung dengan tim yang terdiri dari telekinetik E-rank dan healer C-rank yang ingin jadi fighter?
Lalu, dia teringat seseorang.
“Ikut saya,” katanya pada Seo-yeon, lalu berjalan menyusuri koridor menuju ruang latihan fisik dasar.
Di sana, di sudut yang terpencil, seorang siswa besar sedang berlatih sendiri. Otot-ototnya berotot dan berukuran mengesankan, tapi gerakannya canggung, seperti dia belum sepenuhnya nyaman dengan tubuhnya sendiri. Dia mengenakan seragam yang sudah usang dan sedikit kekecilan. Itu adalah Kim Ji-woo, siswa yang duduk sendirian di kelas teori monster dan tidak pernah berbicara kecuali dipanggil.
Ji-hoon mendekat. “Ji-woo.”
Siswa besar itu menoleh, matanya lebar dan sedikit takut, seperti rusa yang tertangkap dalam sorotan lampu mobil. “Ya… ya?”
“Kami sedang membentuk tim untuk ujian. Butuh tanker. Apa kamu tertarik?”
Ji-woo memandangnya, lalu pada Seo-yeon di belakang Ji-hoon, lalu kembali pada Ji-hoon. “Saya… ranking saya F-potential. Hanya bisa memperkuat tubuh. Tidak bisa apa-apa lagi.”
“Memperkuat tubuh itu bagus untuk tanker,” kata Ji-hoon. “Dan kamu rajin berlatih. Saya lihat kamu di sini setiap pagi.”
Ji-woo tersipu, menunduk. “Tapi… tidak ada yang mau satu tim dengan saya. Saya lambat. Tidak pintar.”
“Kami juga bukan yang terbaik,” kata Seo-yeon, melangkah maju. Suaranya lembut tapi tegas. “Tapi kami mau berusaha. Dan kami butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk bertahan di garis depan. Maukah kamu?”
Ji-woo melihat mereka berdua, matanya berkedip cepat. Ada harapan kecil yang tersulut di dalamnya, yang lama terpendam. Dia mengangguk, pelan tapi pasti. “Saya… saya mau coba. Saya akan lindungi kalian. Saya janji.”
Satu down, satu lagi.
Tapi siapa yang keempat? Mereka butuh seseorang dengan kemampuan serangan atau dukungan yang lebih ofensif. Atau mungkin seorang strategist. Ji-hoon ingat bahwa beberapa siswa memiliki kemampuan non-kombatan yang berguna—penguatan logistik, analisis, ilusi.
“Apa kita cari damage-dealer?” tanya Seo-yeon, memandangi kerumunan dengan harap-harap cemas.
“Mungkin bukan,” gumam Ji-hoon. “Setiap tim lain sudah mengincar mereka. Kita butuh… sesuatu yang berbeda.”
Saat mereka berjalan kembali ke aula utama, berpikir keras, mereka melewati perpustakaan kecil. Di dalam, terlihat seorang siswa kurus dengan kacamata tebal sedang duduk di antara tumpukan buku dan tablet, jarinya menari-nari di atas keyboard, matanya tidak berkedip memandang ke beberapa layar sekaligus. Papan nama di meja kerja itu bertuliskan: **Lee Joon-ho – Analisis Data & Strategi (Non-Kombatan)**.
Ji-hoon berhenti. Non-kombatan. Itu berarti dia tidak memiliki kemampuan tempur langsung. Di akademi yang memuja kekuatan, siswa seperti itu biasanya diabaikan, atau dipaksa menjadi administrator belakang layar. Tapi Ji-hoon melihat sesuatu yang lain—sebuah aset potensial.
“Joon-ho?” panggilnya, masuk ke perpustakaan.
Siswa itu melompat, hampir menjatuhkan tabletnya. “Ah! Ya? Apa? Saya tidak melanggar aturan, saya hanya menganalisis data pertahanan Gate—”
“Tenang,” kata Ji-hoon, mengangkat tangan. “Kami sedang membentuk tim. Butuh seorang strategist. Apa kamu tertarik?”
Joon-ho memandang mereka bertiga dengan tatapan skeptis yang dalam di balik kacamatanya. “Mari kita perjelas. Kamu Kang Ji-hoon, telekinetik E-rank. Kamu Choi Seo-yeon, healer C-rank dengan catatan ketidakpatuhan pada peran support. Dan kamu…” dia menunjuk Ji-woo, “Kim Ji-woo, tanker F-rank dengan koordinasi motorik di bawah rata-rata. Dan kalian ingin saya, seorang non-kombatan tanpa kemampuan tempur sama sekali, bergabung dengan kalian?”
Rangkumannya begitu brutal dan akurat hingga Seo-yeon tersipu malu dan Ji-woo menunduk lebih dalam.
“Ya,” jawab Ji-hoon sederhana. “Karena saya rasa kamu bosan dianalisa dan tidak pernah diberi kesempatan untuk menerapkan analisismu dalam situasi nyata. Dan kami adalah tim yang tidak diharapkan siapa pun untuk menang. Itu berarti kita punya kebebasan untuk bereksperimen. Dan jika kita kalah, tidak ada yang akan terkejut. Tapi jika kita menang…”
Dia membiarkan kalimat itu menggantung.
Joon-ho mendelik, lalu tiba-tiba ketawa kecil—suara yang kering dan berisik. “Kamu menarik. Tidak mencoba menjual mimpi kemenangan muluk. Hanya menjual kesempatan untuk… bereksperimen.” Dia mengetik sesuatu dengan cepat di tabletnya. “Statistik kesuksesan tim dengan komposisi seperti kita… kurang dari 0.3%. Tapi,” dia menatap Ji-hoon, matanya berbinar di balik lensa, “semua tim dalam 0.3% itu memiliki satu kesamaan: mereka memiliki seorang analis taktis yang diizinkan untuk mengambil kendali penuh atas strategi. Apakah kalian akan memberikan saya kendali taktis?”
Ji-hoon memandang Seo-yeon dan Ji-woo. Seo-yeon mengangguk, meski ragu. Ji-woo hanya mengangkat bahu, tampaknya tidak mengerti sepenuhnya tapi percaya pada Ji-hoon.
“Kami akan mendengarkan analisismu dan mengambil keputusan bersama,” kata Ji-hoon, menawarkan jalan tengah. “Tapi kamu akan menjadi otak taktis kami. Suaramu akan sangat penting.”
Joon-ho mempertimbangkan, jarinya mengetuk meja dengan ritme cepat. “Kondisi kedua: akses penuh ke data medis Seo-yeon tentang ketahanan tubuh, data latihan Ji-woo, dan… apa pun yang sedang kamu latihan secara rahasia, Ji-hoon. Karena kamu jelas sedang melatih sesuatu. Denyut psikismu tidak sesuai dengan pola siswa E-rank yang putus asa.”
Ji-hoon terkesiap. Orang ini observannya tajam. “Data latihan dasar bisa. Tapi yang rahasia… belum.”
“Cukup adil.” Joon-ho berdiri, menyodorkan tangannya yang kurus. “Maka, saya setuju. Saya akan menjadi strategist untuk Tim… apa nama kita?”
Mereka saling memandang. Mereka belum memikirkannya.
“Tim Underdog,” usul Seo-yeon dengan senyum kecil.
“Terlalu klise,” bantah Joon-ho. “Dan merusak psikologi. Kita perlu nama yang netral atau bahkan sedikit mengancam, untuk mempengaruhi persepsi lawan.”
“Bagaimana dengan… Tim Keseimbangan?” kata Ji-hoon, memikirkan pelajaran dari Guru Choi.
Joon-ho mengangguk, mengevaluasi. “Bisa diterima. Netral, agak filosofis, tidak mengungkapkan kekuatan atau kelemahan kita. Disetujui.”
Mereka berempat—telekinetik yang terlalu tua untuk tubuhnya, healer yang ingin bertarung, tanker yang pemalu, dan strategist yang sinis—berjabat tangan dengan canggung di perpustakaan yang sepi.
Formulir pendaftaran mereka, yang diserahkan ke koordinator lima menit sebelum tenggat waktu, adalah satu-satunya yang memiliki komposisi “1 Telekinetik (E), 1 Healer (C), 1 Tanker (F), 1 Non-Kombatan (N/A)”.
Petugas koordinator, seorang guru senior, mengangkat alis saat membacanya. “Yakin dengan ini?”
“Kami yakin,” jawab Ji-hoon untuk mereka semua.
Saat mereka keluar, malam sudah turun. Mereka berdiri di bawah lampu jalan, keempatnya terlihat tidak cocok satu sama lain—seperti potongan puzzle dari set yang berbeda.
“Jadi,” kata Seo-yeon, memecah kesunyian. “Apa yang kita lakukan sekarang?”
“Pertama,” kata Joon-ho, mengeluarkan tabletnya lagi, “kita mengadakan pertemuan untuk menilai kemampuan sebenarnya masing-masing. Besok, setelah kelas. Kedua, kita mulai menganalisis kemungkinan misi pertama kita. Ketiga…” dia menatap mereka satu per satu, “kita harus menerima kenyataan bahwa kita mungkin akan diejek habis-habisan. Persiapkan mental.”
Ji-woo mengangguk, wajahnya serius. “Saya terbiasa diejek.”
“Bagus,” kata Joon-ho tanpa emosi. “Karena ini baru permulaan.”
Ji-hoon memandang ketiga anggota tim barunya. Ini adalah kombinasi yang aneh, tidak seimbang, dan hampir pasti akan dianggap sebagai lelucon.
Tapi entah mengapa, di dalam hatinya, jiwa editornya yang tua merasa ini adalah formasi yang *menarik*. Karena dalam cerita yang bagus, underdog yang tidak mungkin bersatu selalu memiliki kesempatan untuk mengejutkan dunia.
Dan dia sudah cukup lama menjadi penonton. Sekarang, saatnya ikut bermain.
---