Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Sidang Mediasi Zahra Dan Genta
Pagi harinya Bu Ratna duduk diruangan kerjanya memeriksa email perusahaan, ia pun sangat terkejut melihat email penolakan demi penolakan, kalimatnya hampir sama semua!
("Kami menunda kerjasama karena situasi internal perusahaan anda belum stabil")
("Mohon maaf kami memilih mitra lain")
Tangan Bu Ratna mengepal kuat..!
"Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, kalau tidak perusahaan ku akan hancur..! Aku harus menemui Genta sekarang juga" ucap Bu Ratna dalam hati
Bu Ratna pun melangkah keluar untuk menemui Genta dirumah kontrakan nya, ia tahu Genta mengontrak, ia langsung melesat menuju kontrakan Genta..!
Sesampainya Bu Ratna dikontrakkan Genta, ia melihat sekeliling terlihat sunyi bahkan terlalu sunyi untuk seseorang seperti Bu Ratna..!
.
Bu Ratna mencoba mengetuk pintu, sambil berdiri di depan pintu, rapi, tegap, tatapannya tajam seperti biasa, meski garis lelah jelas terlihat di wajahnya..!
"Masuk, Mak,” ucap Genta singkat.
Bu Ratna melangkah masuk, matanya menyapu ruangan sempit itu, tanpa komentar, ia duduk di kursi seberang Genta..!
“Kamu kurus Genta” ucap Bu Ratna akhirnya.
Genta tidak menjawab!
Bu Ratna langsung ke inti..!
“Apa kamu tahu kondisi perusahaan sekarang Genta! Nama keluarga kita sudah rusak, klien mundur, investor ragu, kalau ini dibiarkan, perusahaan bisa bangkrut.” ucap Bu Ratna
Genta mengangguk pelan.
“Aku sudah menduganya"
Bu Ratna mencondongkan badan.
“Mak datang bukan untuk marah, Mak datang untuk mengajak kamu pulang.”
Genta menghela napas.
"Aku tidak akan pulang, Mak.”
Bu Ratna terdiam sejenak.
"Kamu tinggal di tempat seperti ini demi perempuan yang sudah menggugat cerai kamu?”
Genta menatap ibunya lurus.
“Aku tinggal di sini karena aku ingin bertanggung jawab, dan karena aku tidak ingin hidup di bawah kendali siapa pun.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Kamu salah paham, kendali itu perlu, tanpa itu, kamu hancur seperti sekarang.”
"Aku hancur bukan karena aku lepas dari kendali, aku hancur karena terlalu lama menuruti yang salah.” jawab Genta
Suasana menegang.
Bu Ratna menarik napas dalam.
“Kalau kamu pulang, Mak serahkan lagi perusahaan ke tangan kamu, semua bisa kembali seperti dulu.”
Genta menunduk.
“Seperti dulu… atau seperti yang Mak mau?”
Bu Ratna mengetuk meja kecil di depannya.
“Ini bukan waktunya debat moral, ini soal bertahan hidup dan kamu belum tahu orang seperti apa Zahra itu yang selalu kamu bela?" Ucap Bu Ratna kesal
Genta menggeleng pelan.
“Aku tidak mau bertahan dengan cara lama dan aku tahu Zahra, aku mengenalnya lebih dari siapapun" ucap Genta lirih
Bu Ratna bangkit berdiri, wajahnya mengeras.
"Baik... Kalau kamu menolak pulang sekarang, Mak tidak akan memaksa, tapi kamu jangan menyesal Genta kalau suatu saat kamu tahu dibalik topeng Zahra” ucapnya dingin
Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti.
"Satu hal lagi Genta, kalau kamu berubah pikiran, kamu ingin pulang, pintu rumah selalu terbuka dan Mak akan menyerahkan lagi perusahaan ke tangan mu"
Genta tetap diam dan ia yakin dengan keputusannya!
Bu Ratna membuka pintu.
“Mak yakin, Genta, kamu akan pulang, dan Mak juga yakin kamu akan menuruti lagi semua ucapan Mak.” gumamnya
Pintu tertutup.
Genta duduk lama tanpa bergerak.
***
Hari sidang mediasi tiba..!
Ruang mediasi lebih kecil dari ruang sidang, suasananya formal tapi tidak kaku..!
Hakim mediator duduk di tengah, di satu sisi Zahra duduk bersama pengacaranya, Mira, di sisi lain Genta duduk bersama pamannya, Pak Hasan.
Dan untuk pertama kalinya, Bu Ratna hadir resmi karena pak Hasan yang meminta!
Ia duduk di belakang Genta, tatapannya fokus pada Zahra.
Mediator membuka pertemuan dengan penjelasan singkat tentang tujuan mediasi: mencari jalan damai.
“Apakah masih ada kemungkinan rujuk?” tanya mediator..!
Bu Ratna langsung angkat bicara, meski bukan pihak utama.
"Saya sebagai ibu, memohon agar Zahra mau kembali ke rumah tangga ini, demi kebaikan bersama.” ucapnya
Mira menatap mediator.
“Izin, yang Mulia, kami harap proses tetap sesuai aturan.”
Mediator mengangguk.
“Kita dengarkan semua pihak.”
Bu Ratna menatap Zahra.
“Kamu sudah cukup membuat keributan, sekarang berhentilah dan pulanglah.”
Zahra menatap Bu Ratna tanpa gentar.
“Saya tidak pernah membuat keributan, dan saya hanya mengambil keputusan.” ucapnya tenang
Bu Ratna menoleh ke Genta.
“Kamu juga Genta, katakan kamu mau rujuk dengan istri mu"
Semua mata tertuju pada Genta, ia berdiri, tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya jelas..!
“Ya yang mulia saya ingin rujuk kembali dengan istri saya" ucap Genta tegas
Zahra menoleh, Mira menegang.
"Tapi bukan dengan cara lama, saya ingin rujuk tanpa tekanan, tanpa campur tangan, tanpa ancaman.” lanjut Genta
Bu Ratna tersenyum puas.
“Lihat? Anak saya masih mau rujuk yang mulia"
Zahra berdiri..!
"Saya menghargai kejujuran Mas Genta tapi saya menolak untuk rujuk kembali" ucapnya tanpa basa-basi
Ruangan hening.
“Saya tidak menolak karena benci, Saya menolak karena saya tidak lagi merasa aman.” lanjut Zahra
Bu Ratna mendengus..!
“Apa lagi yang kamu mau? Genta sudah berubah pikiran.”
Zahra menatap Bu Ratna langsung.
“Perubahan bukan sekadar kata, perubahan adalah ketika tekanan berhenti dan itu belum terjadi.” jawabnya
Mediator mengangguk perlahan.
“Apakah keputusan penggugat sudah final?”
"Iya, saya tetap pada keputusan bercerai.” jawab Zahra mantap
Bu Ratna berdiri dengan emosi tertahan.
“Kamu akan menyesal, dan kamu akan kehilangan segalanya.” ucapnya
Zahra tidak membalas, ia hanya diam!
Mediator mengetuk meja.
“Baik... mediasi dinyatakan gagal.”
Sidang ditutup.
***
Di luar ruang mediasi, Bu Ratna menghampiri Zahra..
“Kamu pikir kamu menang?” katanya rendah.
Zahra menatapnya tenang.
“Saya tidak sedang bertanding, Mak.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Kita lihat saja nanti.”
Ia berbalik pergi.
Genta berdiri terpaku.
“Zahra…”
Zahra menatapnya.
“Aku minta maaf,” ucap Genta pelan.
Zahra mengangguk.
"Aku tahu.”
“Jaga dirimu,” lanjut Genta.
“Kamu juga Mas" jawab Zahra singkat.
Mereka berpisah tanpa drama.
Malam nya, Genta kembali ke kontrakan, ia duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding.!
Ia kehilangan perusahaan, ia kehilangan rumah, ia kehilangan istrinya dan ia sangat lelah dengan itu semua
Tapi untuk pertama kalinya, ia tahu, semua keputusan hari ini adalah miliknya sendiri tanpa paksaan dari siapapun..!
Dan Zahra, duduk dirumah memandangi langit malam..!
Ia lelah tapi ia tidak ragu..!
Karena ia tahu, mempertahankan diri bukan berarti kalah!
Kadang, itu satu-satunya cara untuk tetap hidup.