Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PENDARATAN SANG RATU
Langit Kota A sore itu dibalut oleh semburat warna jingga kemerahan yang dramatis, seolah-olah cakrawala sedang melukiskan sambutan berdarah bagi kepulangan sang penguasa yang terlupakan.
Di landasan pacu eksklusif Bandara Internasional Garuda, sebuah jet pribadi Gulfstream G700 dengan logo bunga lotus perak yang elegan di ekornya mendarat dengan keanggunan yang mematikan.
Mesinnya menderu rendah, memecah kesunyian area VIP yang biasanya hanya dihuni oleh para diplomat dan taipan kelas atas.
Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kayu cendana mahal, Alana duduk dengan kaki tersilang sempurna. Ia mengenakan setelan trench coat sutra berwarna krem dari desainer ternama yang membungkus tubuhnya dengan presisi militer namun tetap feminin.
Di pangkuannya, sebuah laptop transparan menampilkan data real-time tentang pergerakan saham Mahendra Group. Ia melihat grafik hijau yang stabil itu dengan tatapan predator.
"Mummy, kita sudah mendarat di koordinat yang tepat. Sistem keamanan bandara telah berada di bawah kendaliku dalam radius lima kilometer," suara Lukas memecah keheningan kabin. Bocah laki-laki berusia empat tahun itu duduk di kursi seberang, jarinya menari di atas layar holografik dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi anak seusianya.
Di sebelahnya, Luna sedang merapikan boneka beruang kecilnya, namun matanya yang jernih sedang menatap layar kecil yang menampilkan daftar tamu undangan untuk gala medis besok malam.
"Mummy, si wanita ular itu "Sisca" dia memesan gaun dari Paris seharga dua ratus ribu dolar untuk acara besok. Apakah aku harus membuat sistem pengirimannya kacau sehingga dia hanya mendapatkan kain perca?"
Alana mengulas senyum tipis yang dingin. Ia mengusap kepala Luna dengan lembut. "Biarkan dia memakai gaun terbaiknya, Sayang. Semakin cantik dia merasa, semakin hancur harga dirinya saat kita menginjaknya di depan semua orang. Kita tidak ingin menghancurkan pestanya; kita ingin mengambil alih panggungnya."
Pintu jet terbuka perlahan, membiarkan udara Kota A yang lembap dan berpolusi masuk merayap. Alana berdiri, memperbaiki letak kacamata hitam oversized-nya yang menutupi tatapan matanya yang tajam.
Ia melangkah menuruni tangga jet dengan punggung tegak, setiap langkah hak sepatunya di atas aspal terdengar seperti dentuman genderang perang yang tenang.
Di bawah tangga, barisan mobil hitam telah menunggu. Leo berdiri di depan pintu Rolls-Royce Phantom, wajahnya waspada. Namun, perhatian Alana tidak tertuju pada barisan mobilnya sendiri. Matanya tertuju pada sebuah iring-iringan kendaraan di sisi lain landasan VIP yang tampak jauh lebih megah dan dijaga ketat oleh pria-pria berseragam taktis.
Ada satu mobil di tengah iring-iringan itu—sebuah maybach hitam dengan kaca antipeluru yang sangat gelap. Dari sana, terpancar aura yang begitu dominan hingga membuat udara di sekitar landasan terasa berat.
"Siapa mereka, Leo?" tanya Alana tanpa menghentikan langkahnya.
"Itu adalah unit pengamanan Arlan Syailendra, Dokter," bisik Leo dengan nada rendah. "Dia baru saja kembali dari kunjungan mendadak ke London. Sepertinya jadwal mendarat kalian bersinggungan."
Langkah Alana melambat sejenak. Arlan Syailendra.
Pria yang dijuluki sebagai "Kaisar Bayangan" Kota A. Pria yang memegang kendali atas bank-bank utama dan infrastruktur energi negara ini. Di masa lalu, saat ia masih menjadi Aura yang naif, ia hanya mendengar nama itu melalui bisikan ketakutan Adrian.
Adrian selalu mengatakan bahwa satu kata dari Arlan bisa menghapus keluarga Mahendra dari peta bisnis dalam semalam.
Tiba-tiba, pintu Maybach itu terbuka. Seorang pria melangkah keluar. Sosoknya tinggi, hampir 190 sentimeter, dengan bahu yang lebar dan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuhnya yang atletis.
Wajahnya adalah definisi dari ketampanan yang berbahaya—rahang yang tajam seperti pahatan batu, hidung mancung, dan mata yang begitu gelap hingga seolah-olah bisa menelan cahaya di sekitarnya.
Arlan Syailendra tidak biasanya memperhatikan orang lain di bandara. Baginya, manusia lain hanyalah statistik atau bidak catur. Namun, saat ia melangkah keluar, indranya menangkap sesuatu yang asing. Sebuah wangi parfum yang elegan—campuran mawar liar dan es—tertiup angin ke arahnya.
Mata Arlan beralih ke arah jet dengan logo Lotus Perak. Ia melihat seorang wanita berdiri di sana. Wanita itu cantik, sangat cantik, hingga ia merasa ada sesuatu yang bergetar di dasar ingatannya yang paling gelap. Wajah itu... mengingatkannya pada laporan kecelakaan lima tahun lalu yang ia pelajari secara rahasia.
Aura Mahendra? Tidak mungkin. Wanita itu sudah mati, pikir Arlan.
Namun wanita ini tidak terlihat seperti orang mati. Ia terlihat seperti seorang dewi yang kembali dari medan perang.
Cahaya matahari terbenam menyinari liontin bunga lotus perak di leher Alana, menciptakan pantulan cahaya yang menyilaukan mata Arlan.
Tanpa sadar, Arlan melangkah maju. Para pengawalnya, yang dilatih untuk menjaga jarak aman dua meter dari sang Kaisar, terkejut melihat bos mereka melanggar aturannya sendiri. Arlan terus berjalan melintasi landasan menuju arah Alana.
Alana melihat pria itu mendekat. Ia tidak mundur. Ia justru melepas kacamata hitamnya, membiarkan mata jernihnya beradu langsung dengan tatapan predator Arlan.
"Dr. Alana?" suara Arlan terdengar berat, serak, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Alana menatapnya dengan ketenangan yang mematikan. "Tuan Arlan Syailendra. Saya tidak menyangka pertemuan kita akan terjadi di aspal bandara yang berdebu ini."
Arlan berdiri hanya beberapa langkah di depan Alana. Kehadirannya begitu masif sehingga seolah-olah memenuhi seluruh ruang udara di sekeliling mereka.
Ia menatap Alana dengan intensitas yang seolah-olah ingin membedah setiap rahasia yang disimpan wanita itu.
"Aku sudah mengirimkan tiga undangan pribadi ke kepulauan Pasifik untukmu. Tidak ada dokter yang pernah membuatku menunggu selama itu," kata Arlan, matanya menyipit, mencari tanda-tanda ketakutan di wajah Alana.
Alana tersenyum tipis—sebuah senyum yang begitu indah namun terasa dingin seperti salju. "Waktu saya sangat mahal, Tuan Arlan. Dan saya hanya mendatangi tempat di mana ada kasus yang cukup menantang kecerdasan saya. Apakah kakek Anda masih bertahan, atau saya datang hanya untuk menulis sertifikat kematian?"
Para pengawal Arlan menarik napas tajam. Tidak ada yang pernah berani berbicara sekasar itu pada Arlan Syailendra. Namun, Arlan justru merasa tertarik. Keberanian wanita ini bukan dibuat-buat; itu berasal dari kekuatan yang nyata.
"Dia masih hidup, berkat dukungan medis terbaik yang bisa dibeli dengan uang. Tapi dia membutuhkanmu," jawab Arlan. Matanya kemudian beralih ke arah Lukas dan Luna yang berdiri di sisi Alana.
Lukas menatap Arlan dengan tatapan yang sangat dewasa, seolah sedang menilai apakah pria ini layak menjadi sekutu atau harus dihancurkan. Sementara Luna hanya tersenyum manis, namun tangannya tetap memegang perangkat kendali yang bisa memicu alarm bandara dalam sedetik jika pria di depan mereka melakukan gerakan mencurigakan.
"Anak-anak yang menarik," gumam Arlan. Ia merasakan koneksi aneh yang tak dapat dijelaskan saat menatap Lukas. Ada sesuatu pada anak itu yang terasa familiar, namun ia segera menepis pemikiran tersebut.
"Mereka adalah hidupku, Tuan Arlan. Jadi, saya sarankan Anda tetap menjaga jarak yang sopan jika ingin kerja sama kita berjalan lancar," kata Alana dengan nada peringatan yang halus.
Arlan melangkah selangkah lebih dekat, mengabaikan peringatan Alana. Wangi mawar liar dari tubuh Alana semakin kuat. "Kota A bukan tempat yang aman bagi seorang ibu tunggal dengan rahasia sebesar yang kau bawa, Dokter. Adrian Mahendra sedang mencari investor baru untuk proyek rumah sakitnya. Jika dia tahu 'Teratai Perak' ada di sini, dia akan mengejarmu dengan segala cara."
Alana tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti denting kristal yang pecah. "Biarkan dia mengejarku, Tuan Arlan. Memburu adalah keahliannya, tapi bertahan hidup adalah keahlianku. Lagipula, siapa bilang saya takut padanya?"
"Aku bisa memberimu perlindungan yang tidak bisa diberikan oleh organisasi manapun di dunia ini," tawar Arlan, suaranya kini lebih rendah, hampir seperti bisikan yang posesif.
"Perlindungan seringkali hanyalah nama lain dari penjara, Tuan Arlan. Saya lebih suka menjadi badai daripada berlindung di bawah payung orang lain," balas Alana. Ia kembali mengenakan kacamata hitamnya.
"Kita akan bertemu besok di Gala Medis. Saya harap Anda membawa riwayat medis kakek Anda secara lengkap. Saya tidak suka membuang waktu dengan diagnosa yang tidak akurat."
Tanpa menunggu balasan dari pria paling berkuasa di kota itu, Alana berbalik dengan gerakan anggun dan masuk ke dalam Rolls-Royce-nya. Leo segera menutup pintu dan barisan mobil hitam itu meluncur pergi, meninggalkan debu di landasan bandara.
Arlan berdiri mematung, menatap lampu belakang mobil Alana yang semakin menjauh. Tangannya masuk ke saku jas, mengepal erat.
"Tuan Arlan, haruskah kita mengikuti mereka ke hotel?" tanya asisten pribadinya, Harry, dengan ragu.
Arlan terdiam sejenak, membiarkan angin bandara menerpa wajahnya yang dingin. "Cari tahu segalanya tentang dia. Setiap langkah yang dia ambil di pulau itu selama lima tahun terakhir, siapa ayahnya, dan siapa ayah dari anak-anak itu. Dan Harry..."
"Ya, Tuan?"
"Pastikan pengamanan di Gala Medis besok ditingkatkan sepuluh kali lipat. Aku punya firasat bahwa malam besok akan menjadi malam yang sangat panjang bagi keluarga Mahendra."
Arlan kembali masuk ke dalam Maybach-nya. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, pikirannya hanya dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Ada misteri besar di balik mata Alana, dan Arlan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membongkar misteri itu, tak peduli seberapa banyak rahasia yang harus ia hancurkan dalam prosesnya.
Sementara itu, di dalam mobil Rolls-Royce, Alana menatap ke luar jendela. Gedung-gedung pencakar langit Kota A mulai terlihat, gemerlap dengan lampu-lampu yang menipu. Ia bisa melihat papan reklame besar di tengah kota yang menampilkan wajah Adrian dan Sisca sebagai "Pasangan Philantropis Tahun Ini".
Alana mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Nikmatilah cahaya lampu itu selagi kalian bisa," bisiknya dalam hati. "Karena Dr. Alana telah mendarat, dan kegelapan akan segera menelan kalian semua."