Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gombal tapi Protektif
Di pinggiran kota, terdapat sebuah jalan legendaris bernama Jalan Pendekar.
Sesuai namanya, sepanjang jalan ini dipenuhi padepokan dan sanggar bela diri dari berbagai aliran.
Namun, setelah Salma berkeliling dari ujung ke ujung, ia hanya bisa menghela napas kecewa.
Kebanyakan sanggar di sini hanya mengajarkan gerakan senam untuk kebugaran, tak ada teknik bela diri praktis yang ia cari.
Padahal, pengalaman menjadi arwah gentayangan di kehidupan lalunya membuat Salma tahu betul seperti apa bela diri yang mematikan, seperti yang dimiliki para pengawal Riko Tanudjaja.
Saat Salma hendak menyerah dan berpikir untuk meminta ayahnya menyewakan guru privat saja, matanya menangkap pergerakan di mulut gang kecil.
Sesosok gadis berambut pendek melesat keluar dengan kecepatan luar biasa.
Sedetik kemudian, seorang pria paruh baya muncul mengejarnya sambil mengacung-acungkan sapu lidi.
"Bocah nakal! Bukannya belajar yang bener, malah jadi preman pasar! Bapak ajarin kamu silat bukan buat sok jagoan!" teriak pria itu sambil menyabetkan sapunya.
Gadis itu menghindar dengan lincah, gerakan kakinya ringan seperti kapas.
"Yah, mereka duluan yang cari gara-gara! Kalau aku nggak bantuin, cewek itu bakal celaka. Cowok-cowok brengsek itu pantes kakinya aku patahin!"
"Masih berani ngeles? Kamu bikin anak orang patah tulang, sekarang keluarganya nuntut ganti rugi! Kamu mau bikin Ayah kamu bangkrut baru puas?"
Salma terpaku di tempat. Matanya berbinar.
Ini dia! batinnya. Ini baru bela diri sungguhan!
Meski gadis itu akhirnya terkena gebukan sapu dan menyerah minta ampun karena malu dilihat orang, Salma bisa melihat fondasi teknik yang kuat.
Pria paruh baya itu jelas bukan orang sembarangan.
Keteguhannya memegang prinsip di tengah komersialisasi bela diri membuatnya tersingkir ke gang sempit ini, tapi justru itulah yang Salma cari.
Tanpa ragu, Salma mengikuti ayah dan anak itu masuk ke dalam gang kumuh yang lembap.
Di sebuah rumah kecil dengan halaman sederhana, Salma melihat gadis tadi, Rara, sedang dihukum melakukan kuda-kuda dengan baskom air di kepalanya.
Rara langsung menyadari kehadiran Salma. Matanya terbelalak kagum.
"Cari siapa, Cantik?" Rara yang biasanya tomboi mendadak melembutkan suaranya, takut bidadari di depannya kaget.
Salma tersenyum ramah. "Aku mau tanya, apa rumah ini menerima murid bela diri?"
"Kami nggak buka perguruan. Neng salah tempat," suara dingin Pak Rahmat terdengar dari dalam rumah sebelum ia muncul di ambang pintu.
Salma tidak menyerah. Ia menatap Rara, lalu kembali ke Pak Rahmat. "Kalau begitu, apa Bapak butuh murid? Jenis murid yang bisa bantu jagain dia supaya nggak bikin onar lagi?"
Rara melotot, nyaris menjatuhkan baskom di kepalanya.
Pak Rahmat menatap Salma lekat-lekat. Melihat seragam Citra Bangsa Global High School yang dikenakan Salma, ia langsung menggeleng. Anak orang kaya hanya akan membawa masalah.
"Tempat ini nggak aman. Neng, mending cepat pulang, nanti orang tuamu khawatir," usir Pak Rahmat halus namun tegas, lalu menutup pintu pagar tepat di depan wajah Salma.
Salma menatap pintu kayu yang tertutup itu. Keras kepala juga.
"Yah, kok diusir sih? Katanya kita lagi butuh duit?" terdengar protes Rara dari dalam.
"Kamu tahu apa?! Kuda-kudanya yang bener! Tumpah setetes, malam ini tidur di luar!"
Salma tersenyum tipis. Target sudah dikunci. Ia segera menghubungi Pak Asep, sopir keluarganya, meminta tolong untuk menyelidiki latar belakang Pak Rahmat diam-diam. Setelah itu, ia melangkah pergi dengan hati riang.
Namun, senyum di wajah Salma memudar saat ia mendekati jalan utama.
Tiga orang pria dengan tampang berandalan sudah menunggunya, memblokir jalan keluar gang dengan formasi segitiga.
"Mau kemana, Neng Manis?" Pria yang memimpin, Joni, menyeringai memamerkan gigi kuningnya. "Anak orang kaya ngapain main ke tempat kumuh begini? Nyari Rahmat?"
Salma sudah menduga ini ulah orang-orang dari sanggar di jalan utama yang tidak suka ia mendekati Pak Rahmat.
Ia memasang wajah ketakutan, meski dalam hati ia sedang mengalkulasi cara mematahkan jari mereka.
"Minggir, saya mau pulang," cicit Salma, pura-pura gemetar.
"Eits, nggak semudah itu. Kalau belum jelas tujuannya, jangan harap bisa lewat," Joni tertawa, tangannya terulur hendak mencolek dagu Salma. "Cantik juga..."
Salma mundur selangkah. Tepat saat ia hendak mematahkan pergelangan tangan Joni, sebuah suara menggelegar dari belakang.
"Joni! Hentikan!" Itu suara Pak Rahmat. Tapi di detik yang sama, sebuah bayangan melesat lebih cepat dari suara.
Bugh!
Satu pukulan telak mendarat di rahang Joni, membuatnya terpelanting mencium tanah.
Si pendatang baru itu bergerak secepat kilat, melumpuhkan dua preman lainnya hanya dalam hitungan detik.
Gerakannya bersih, efisien, dan mematikan.
"Salma, kamu nggak apa-apa?" Sosok itu berbalik. Wajah dinginnya langsung berubah penuh kekhawatiran saat menatap Salma.
Salma tertegun. "Aksa?"
Ia sama sekali tidak menyangka Aksa Abhimana akan muncul di sini.
"Tangan mana yang nyentuh kamu?" tanya Aksa lembut pada Salma, tapi saat ia menoleh ke arah Joni yang merintih di tanah, tatapannya berubah menjadi sedingin es kutub. Aura membunuh menguar darinya, membuat udara di gang sempit itu terasa mencekam.
Joni yang nyalinya sudah ciut gemetar ketakutan. Ia merasa sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa, bukan anak SMA.
"Nggak, mereka belum sempat nyentuh," jawab Salma jujur. Ia bisa merasakan kemarahan Aksa yang meledak-ledak demi dirinya. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya.
Aksa melangkah mendekati Joni. "Kamu tahu apa akibatnya berani menyentuh orang yang ingin saya lindungi?"
"Ampun, Bos! Sumpah, saya cuma disuruh!" Joni memohon sambil ngesot mundur.
"Nggak tahu ya? Biar saya kasih pelajaran biar ingat seumur hidup."
Tanpa ampun, Aksa menghajar mereka bertiga lagi sampai mereka meraung-raung.
Salma sampai harus memalingkan wajah karena tidak tega melihat kebrutalan itu.
Bahkan Pak Rahmat yang menonton dari jauh hanya bisa geleng-geleng kepala melihat teknik dan kekejaman anak muda itu.
Setelah puas, Aksa berdiri tegak, merapikan seragamnya seolah tak terjadi apa-apa. "Itu peringatan. Sekali lagi saya lihat kalian ganggu dia, tangan kalian hilang!"
Aksa kemudian beralih pada Salma, wajah iblisnya lenyap berganti dengan senyum manis yang bisa melelehkan hati. "Ayo, aku antar pulang."
Ia menggenggam tangan Salma dan menariknya pergi dari situ dengan langkah cepat. "Kita harus pergi sebelum komplotan mereka datang, Sal."
Mereka berlari cukup jauh hingga keluar dari kawasan Jalan Pendekar.
Aksa akhirnya melepaskan tangan Salma dan bersandar di batang pohon, napasnya terengah-engah heboh.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Salma khawatir.
Aksa menggeleng lemah, wajahnya pucat. "Kakiku gemeteran, Sal. Jujur aja, aku takut banget tadi."
Salma menatapnya sangsi. Tadi dia menghajar tiga preman seperti Rambo mengamuk, sekarang malah selemah ini? "Masa sih? Tadi garang banget," goda Salma.
Aksa menatap Salma dengan tatapan dalam, napasnya perlahan mulai teratur.
"Aku emang takut. Tapi aku nggak bisa diam aja lihat kamu diganggu. Nggak ada cowok yang bakal terima lihat cewek disakitin di depan matanya."
Aksa mengambil jeda, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah, "Apalagi buat aku... kamu itu satu-satunya.
Kamu spesial."
Jantung Salma berdesir hebat. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa terdengar begitu tulus saat diucapkan Aksa.
Di kehidupan lalu, Salma terbiasa mengejar orang lain tanpa dihargai.
Kini, ada seseorang yang gemetar ketakutan tapi tetap berdiri di depannya untuk melindunginya.
"Makasih ya, Aksa," ucap Salma tulus. "Aku beruntung ada kamu."
"Jangan datang sendirian lagi ke sana. Kalau mau ke Jalan Pendekar, ajak aku," pinta Aksa.
"Oke, janji," Salma mengangguk. "Omong-omong, kok kamu bisa ada di sana?"
"Kebetulan lewat mau ketemu teman. Eh, lihat kamu dikepung, aku langsung lari. Untung keburu," bohong Aksa lancar.
Padahal ia sengaja memantau Salma.
"Kamu ngapain di sana?"
"Mau berguru sama Pak Rahmat. Bapak-bapak yang tadi itu lho. Dia jago banget, sayang kalau kemampuannya terbuang sia-sia di gang sempit."
Mata Aksa berkilat cerdas. Rahmat? Sang Juara Dunia yang menghilang itu?
Jika Salma ingin berguru pada Rahmat, Aksa akan memastikan itu terjadi.
Di seluruh negeri ini, hanya Rahmat yang pantas menjadi guru Salma.
"Nanti aku bantu cari cara biar dia mau terima kamu," janji Aksa.
Mereka berjalan beriringan menuju stasiun MRT.
Salma menolak tawaran Aksa untuk memesankan taksi online.
"Naik MRT aja, sekalian aku antar. Rumah kita kan searah," kata Aksa dengan senyum modus andalannya.
"Searah? Perasaan beda komplek deh."
"Sal, kamu nggak tahu ya? Kalau urusan hati, ujung dunia pun dibilang searah.
Kalau nggak suka, tetangga sebelah pun dibilang nggak sejalan."
Pipi Salma memanas. "Gombal."
"Aku serius," Aksa tertawa renyah. "Ngomong-ngomong, dulu SMP kamu di mana? Aku di SMP 37."
"Sekolah tawuran itu? Wah, kamu ikutan berapa kali?"
"Dikit kok. Aku cuma tim hore di belakang, kalau ada polisi aku yang lari paling kenceng," canda Aksa, menyembunyikan fakta bahwa dialah yang biasanya memimpin strategi.
"Tapi ya itu, aku udah tobat. Kecuali ada yang ganggu kamu. Kamu itu batas kesabaranku."
Lagi-lagi, Salma merasa hatinya diserang.
Tipe Aksa yang seperti ini, gombal tapi protektif, benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
"Makasih ya, kamu emang teman yang baik," ujar Salma tulus.
Langkah Aksa terhenti. Ia menatap Salma dengan ekspresi pura-pura tersinggung. "Sal, aku kurang suka kata 'teman'. Gimana kalau kita revisi dikit...
misalnya ditambahin kata 'cowok' di depannya? Jadi teman cowok?"
Salma nyaris tersedak. "Uhuk... Heh!"
"Gimana? Usulan yang bagus kan?"
Salma menepuk bahu Aksa keras-keras untuk menutupi salah tingkahnya. "Nggak nyangka ya, tampang polos tapi modusnya jalan tol!
Udah ah, kalau nilai ujianmu bisa nyusul aku, baru kita bahas soal upgrade status."
Salma mempercepat langkahnya, meninggalkan Aksa dengan wajah yang memerah padam.
Di belakangnya, mata Aksa berbinar cerah. Senyum lebar merekah di wajah tampannya. "Serius? Kalau nilaiku nyusul, kamu bakal pertimbangin?" seru Aksa girang.
"Liat nanti!" jawab Salma tanpa menoleh.
Hati Aksa bersorak. Menyusul nilai akademis Salma? Itu sih semudah membalikkan telapak tangan baginya!
Namun, tentu saja, si rubah licik ini tidak akan melewatkan kesempatan emas.
Ia menyusul langkah Salma dan memasang wajah memelas.
"Salma, aku kan ketinggalan banyak pelajaran nih gara-gara... uhm... sakit kemarin.
Kamu mau nggak jadi guru privat aku? Bantuin aku belajar dong, biar bisa nyusul kamu..."
Salma hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, namun senyum kecil tak bisa ia sembunyikan.
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️