Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Buku Harian Biru
Setelah menemukan kotak kenangan Shifa dan membeli buku bersampul biru di koperasi markas, Alisa resmi memulai babak baru kehidupannya. Bukan sebagai anak yang kehilangan, tapi sebagai anak yang menyimpan.
Ia memilih buku biru itu karena warnanya tenang, seperti warna seragam angkatan laut yang sering ia lihat di televisi—jauh dari loreng Ayahnya yang tegas. Ini adalah ruang rahasianya, tempat di mana tidak ada seragam, tidak ada janji ketegaran yang harus ia tepati.
Awalnya, buku biru itu hanya berisi catatan harian biasa.
Senin, 17 September: Bu Suti datang. Ia masak sup ayam. Ayah menelepon dari Kupang. Katanya di sana panas sekali. Aku bilang aku baik-baik saja.
Rabu, 19 September: Aku dapat nilai 90 untuk ulangan IPA. Ayah belum pulang. Aku tidak tahu apakah aku harus memberitahu guru atau menunggu Ayah pulang dulu.
Tetapi seiring waktu, buku itu berubah fungsi. Ia menjadi tempat curahan rasa takut dan kerinduan yang tidak bisa ia sampaikan pada Cakra.
Suatu malam, setelah Ayahnya pergi bertugas lagi, Alisa tidur dalam ketakutan. Rumah dinas itu berderit setiap kali ada angin malam. Di kota kecil ini, suara jangkrik sangat keras, dan setiap suara sirine ambulans yang lewat membuat jantung Alisa mencelos.
Ia teringat janji Ayahnya: Ksatria tidak menangis untuk hal yang sudah takdir.
Alisa bangkit, menyalakan lampu belajar, dan membuka buku birunya.
Jumat, 28 September: Takut Hening
Aku bohong pada Ayah. Aku bilang aku tidak takut. Padahal aku takut sekali. Di rumah ini, kalau tidak ada Ayah, rasanya seperti dikelilingi jurang.
Dulu ada suara Ibu. Suara Ibu seperti musik, riang, dan selalu ada. Sekarang, suara Ibu cuma ada di puisi-puisi yang kutemukan di gudang. Suara Ibu tidak lagi ada di udara.
Aku takut kalau Ayah tidak pulang. Aku tahu Ayah kuat, tapi Ayah juga punya janji pada negara. Ayah pernah bilang, prajurit harus siap dengan konsekuensi tugas. Apa konsekuensinya kalau aku ditinggalkan?
Aku tidak boleh bilang ini pada Ayah. Aku harus kuat. Aku adalah ksatria Ayah. Jadi aku tulis saja di sini. Biar hanya aku dan buku biru ini yang tahu.
Tolong, buku biru. Simpan rasa takut ini untukku.
Menuliskan ketakutan itu seperti memindahkan beban dari dada ke halaman kertas. Begitu selesai, Alisa merasa sedikit lega. Ia bisa tidur lebih nyenyak.
Buku harian biru itu menjadi tempat sampah emosionalnya.
Hubungan Alisa dan Cakra, meskipun dekat, tetap berada di bawah lapisan kehati-hatian. Cakra menjaga jarak agar tidak terlihat terlalu emosional, dan Alisa menjaga diri agar tidak terlihat terlalu membutuhkan.
Suatu sore, Cakra pulang lebih cepat dari janji. Ia membawa sebungkus kue kesukaan Alisa.
"Ayah janji akan pulang cepat hari ini. Ayah tepati," kata Cakra sambil meletakkan kue itu di meja.
Alisa sangat senang. Ia berlari memeluk Ayahnya. "Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, Yah!"
Mereka duduk di teras, berbagi cerita. Alisa bercerita tentang gurunya, tentang kucing yang melahirkan di belakang sekolah. Cakra bercerita tentang pelatihan yang ia pimpin, tentang bagaimana ia harus menjaga mental para prajurit muda.
"Ayah tahu," kata Cakra tiba-tiba, menatap Alisa. "Kamu sudah sangat dewasa, Nak. Lebih dewasa dari anak-anak lain seusiamu."
Alisa merasa bangga, tetapi juga sedih. "Itu bagus, kan, Yah?"
Cakra tersenyum getir. "Iya, bagus. Tapi Ayah kadang merasa bersalah. Seharusnya kamu masih bisa merengek, Nak."
"Aku tidak merengek karena aku tidak mau membuat Ayah lelah. Aku ksatria Ayah," balas Alisa, mengulang kalimat sakti itu.
Cakra terdiam. Ia mengusap rambut Alisa. "Kamu memang ksatria, Nak. Tapi Ayah harap, kamu juga punya tempat untuk menjadi anak kecil lagi. Tempat yang aman untuk kamu marah."
Alisa hanya tersenyum. Tempat itu ada, Yah. Namanya Buku Harian Biru.
Ia tidak mungkin memberitahu Ayahnya bahwa tempat amannya adalah buku harian, bukan dirinya.
Sejak menemukan puisi Ibunya, Alisa mulai mencoba menuliskan perasaannya dalam bentuk yang lebih terstruktur. Ia tidak hanya mencatat kerinduan, tetapi mencoba mendeskripsikannya.
Ia mulai meniru gaya Ibunya. Menulis tentang penantian, tentang matahari terbit di atas markas, tentang aroma kopi Cakra.
Jumat, 15 Oktober: Aroma Seragam
Aku ingat, Ibu pernah bilang, kalau Ayah pergi tugas, peluk saja seragamnya. Seragam Ayah itu bau tembakau, bau keringat, dan bau keberanian.
Tapi sekarang, aku tidak memeluk seragam itu. Aku memeluk boneka lama Ibu. Aku hanya menuliskan baunya di sini.
Aku menulis tentang betapa Ayah itu seperti tembok. Keras, tinggi, melindungi. Tapi di dalamnya, Ayah rapuh. Ayah itu kesepian.
Aku menulis untuk menyelamatkan Ayah dari kesepiannya, Yah. Kalau aku tulis semuanya, nanti Ayah bisa baca di masa depan, dan Ayah tahu aku selalu ada, meskipun Ayah tidak pernah bertanya.
Menulis bukan lagi sekadar menulis. Itu adalah misi. Misi untuk menyimpan memori yang takut ia lupakan, dan menyimpan ketakutan yang takut ia ungkapkan.
Alisa tahu, ia harus terus menulis. Jika ia berhenti, semua akan hilang. Kenangan Ibunya, ketegaran Ayahnya, dan yang paling penting, suara hatinya sendiri.
Buku harian biru itu adalah saksi bisu, tempat pertama di mana Alisa Pradipta Putri, si ksatria cilik yang tegar, belajar untuk menjadi penulis yang jujur.