Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Terakhir
Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncul jenderal Serigala Hitam yang selamat dari lorong air. Namun, ia tidak datang untuk menyelamatkan Yue. Ia melihat Yue sebagai beban yang telah gagal.
"Segel itu... berikan padaku, wanita tidak berguna," ucap sang Jenderal dingin.
Yue terkejut. "Apa? Aku sekutumu!"
"Kau bukan sekutu, kau hanya alat," Jenderal itu menarik busur panahnya.
Dalam sekejap, Jenderal itu melepaskan anak panah bukan ke arah Li Hua, tapi ke arah Selir Yue. Ia ingin merebut segel itu sebelum Yue tertangkap oleh Kaisar.
Li Hua melihat gerakan itu. Tanpa berpikir panjang, ia menerjang maju. Meski kakinya sakit, ia melompat dan menarik pakaian Yue, membuat mereka berdua terjatuh ke lantai jembatan yang kayu-kayunya sudah rapuh.
WUSH! Anak panah itu melesat melewati tempat Yue berdiri tadi.
"Kenapa... kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Yue, terengah-engah, matanya penuh kebingungan.
Li Hua menatapnya dengan lelah. "Karena kematianmu di tangan musuh negara hanya akan menodai tanah ini. Kau harus diadili oleh hukum yang kau langgar, bukan oleh pengkhianat asing."
Runtuhnya Jembatan
Namun, jembatan tua itu tidak kuat menahan beban mereka. Kayunya mulai berderit hebat. Sang Jenderal asing, melihat kegagalannya, memerintahkan pasukannya untuk memotong tali jembatan agar rahasia mereka ikut terkubur bersama Li Hua dan Tian Long.
"Potong talinya cepat!"
SRAK! SRAK!
Tali utama putus. Jembatan itu miring drastis. Selir Yue tergelincir menuju tepi jurang. Li Hua mencengkeram tangan Yue dengan kuat. Di sisi lain, Tian Long mencoba meraih tangan Li Hua.
"Lepaskan aku, Li Hua!" teriak Yue. "Kau akan ikut jatuh!"
"Tidak!" Li Hua mengerahkan seluruh tenaganya. "Aku tidak akan membiarkan kegelapan ini menang!"
Di saat kritis itu, cermin perunggu di pinggang Li Hua bersinar sangat terang. Cahaya itu seolah memberikan kekuatan fisik sementara pada kaki Li Hua yang lumpuh. Dengan satu sentakan kuat, Li Hua berhasil menarik Yue ke atas bagian jembatan yang masih kokoh, tepat saat Tian Long menarik mereka berdua ke daratan.
Jembatan itu pun runtuh, jatuh ke dalam kegelapan jurang bersama sang Jenderal asing yang tidak sempat melarikan diri.
Akhir dari Sang Selir
Selir Yue terduduk di atas tanah, gemetar dan menangis. Keangkuhannya hancur total. Ia menyerahkan segel militer itu kepada Li Hua dengan tangan gemetar.
"Bawa dia," perintah Tian Long kepada pengawalnya. "Tempatkan dia di penjara bawah tanah terdalam. Biarkan dia melihat bayangan wajahnya di dinding batu yang dingin selamanya."Ampun yang mulia,ampuni saya"selir yue berlutut sambil memegang ujung baju kaisar memohon ampunan. Kaisar menghempas bajunya agar tidak dipegangi oleh selir yue,hingga selir yue terjatuh.
Li Hua menatap Yue yang diseret pergi. Tidak ada rasa puas di hatinya, hanya rasa hampa. Ia menoleh ke arah Tian Long. "Sekarang... semua hutang sudah lunas."
"Belum, Li Hua," Tian Long memeluknya erat. "Sekarang adalah waktunya kita menghadapi takdirmu yang sebenarnya. Li Hua melihatkan tangannya. Garis-garis hitam mulai menjalar kembali ke pergelangan tangannya. Penyakit itu tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Rahasia besar tentang "roh" di tubuh Permaisuri Xuan akan segera mencapai puncaknya.
"Aku tidak butuh seorang Ratu yang cantik tapi tidak mengenal dirinya sendiri," ucap Tian Long dengan suara serak namun penuh cinta. "Aku jatuh cinta pada wanita yang merangkak di debu demi seorang anak pengemis. Aku jatuh cinta pada wanita yang berani mengungkap kebenaran meski nyawanya terancam. Jika kecantikan itu adalah penjara bagi jiwamu, maka hancurkan saja penjara itu."
Tian Long memanggil sang Penjaga. "Ambil kembali wajah ini. Kembalikan dia pada raga aslinya. Aku akan tetap menjadikannya Permaisuriku, meski seluruh dunia harus menentangku."
Transformasi Terakhir
Sang Penjaga Keseimbangan tersenyum tipis. "Cinta yang melampaui raga adalah kunci terakhir."
Cahaya menyilaukan kembali muncul. Tubuh Li Hua terangkat ke udara. Perlahan, fitur wajah Permaisuri Xuan yang sempurna mulai luntur seperti lukisan yang tersiram air. Kulit yang mulus berubah menjadi kasar, bekas luka lama muncul kembali di pipinya, dan hidungnya kembali membengkok.
Li Hua jatuh ke pelukan kaisar Tian Long. Ia menutup wajahnya dengan tangan, gemetar karena malu dan takut. "Jangan lihat aku... aku buruk rupa lagi..."
Tian Long menarik lembut tangan Li Hua. Ia memandang wajah yang penuh luka itu dengan tatapan yang sama bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Ia mengecup bekas luka di pipi Li Hua dengan penuh hormat.
"Sekarang, kau benar-benar milikku, Li Hua."