NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlindungan

Di sisi lain kota.

Ardian sedang duduk di ruang kerjanya ketika notifikasi balasan dari Joyce muncul. Entah kenapa, ia langsung membuka pesan itu. Senyum kecil terbentuk di wajahnya. Dan pemandangan itu sangat langka. Jika diibaratkan laksana anak SMP mengejar cinta monyet.

Sampai Raka yang baru masuk ke ruangan hampir mengira dirinya salah lihat. Ia tertegun menyaksikan perubahan besar pada bossnya. Berubah tiga ratus enam puluh derajat ..

"Tuan?"

Dengan hati-hati Raka memanggil tuannya. Ardian langsung kembali memasang ekspresi datar.

"Ada apa?"

Raka menahan senyum.

"Besok ada rapat dengan investor Singapura."

"Hm."

"Dan Nyonya Ratih meminta Anda datang makan siang keluarga hari Minggu."

Ardian menghela napas panjang.

"Nenek lagi."

Raka tertawa kecil.

“Saya hanya menyampaikan kabar tuan.. Jika ada yang tidak mengenakkan atau mengganggu suasana hati tuan yang tengah bahagia, isi kabar di luar tanggung jawab penyampai..”

Ardian mengangkat wajah dan melihat ke arahnya. Tidak mau terkena semprot, Raka bergegas melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Namun sebelum keluar ruangan, ia berkata,

"Tuan..."

"Apalagi Ka..?"

"Saya sudah lama bekerja dengan Anda."

Ardian mengangkat alis.

"Lalu?"

"Sudah bertahun-tahun saya tidak pernah melihat Anda tersenyum karena pesan dari seseorang. Dari sang pengganggu hati ya.."

Hening. Raka buru-buru keluar sebelum terkena tatapan dingin bosnya. Sedangkan Ardian kembali melihat layar ponselnya. Pesan terakhir dari Joyce masih terbuka. Senyuman kembali mengembang di bibir laki-laki itu.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun..., ia mulai menantikan hari esok. Tanpa menyadari bahwa badai sebenarnya baru akan dimulai. Karena di hari yang sama, Nyonya Ratih Mahendra telah mengambil keputusan. Jika Ardian tidak mau memilih calon istri yang ia siapkan...maka ia sendiri yang akan turun tangan.

Dan Joyce Alvaretha akan segera masuk ke dalam radar keluarga Mahendra. Foto kebersamaan gadis itu dengan CEO Aethera Corporation sudah berada di dalam galeri ponsel perempuan tua itu.

**********************************

Minggu siang.

Kediaman keluarga Mahendra tampak lebih ramai dari biasanya. Meja makan panjang yang mampu menampung dua puluh orang itu telah dipenuhi berbagai hidangan. Beberapa anggota keluarga besar hadir memenuhi undangan makan siang Nyonya Ratih.

Namun Ardian sama sekali tidak menikmati suasana tersebut. Kedatangannya hanya untuk melegakan neneknya, tidak mau dipandang sebagai cucu yang durhaka. Ia sudah hafal. Setiap acara keluarga selalu berakhir pada satu topik. Pernikahan. Dan dia merasa tidak nyaman, karena selalu menjadi yang terpojok disitu

"Jadi, kapan kami diundang nih...?" tanya salah satu bibinya sambil tersenyum.

“Iya kapan nih.. Biar aku segera pesan gaun untuk acara akbar spesialnya kak Ardian..” adik sepupunya menyahut dari ujung meja.

Ardian bahkan tidak mengangkat kepala dari piringnya. Tapi untuk meredam agar suara-suara sumbang itu berhenti, akhirnya..

"Nanti."

"Nanti kapan?"

"Tergantung."

Jawaban itu membuat beberapa orang tertawa.

“Kamu itu Ar.. selalu jawaban yang sama dari waktu ke waktu. Ayolah.. kami ingin segera menimang anakmu..”

Ardian diam tidak menjawab, hanya satu tangannya terangkat ke atas, seakan ingin menghentikan keributan itu. Sedangkan Nyonya Ratih hanya menatap cucunya tanpa ekspresi. Gelengan kepalanya menandakan rasa jengkel dengan sikap cucunya, yang seakan menganggap pernikahan sebagai lelucon saja.

******************

Setelah makan siang selesai, Ardian dipanggil ke ruang kerja pribadi neneknya. Laki-laki itu dengan langkah tegap mengetuk pintu, kemudian masuk. Begitu pintu tertutup, wanita tua itu melihat ke arahnya  langsung berbicara tanpa basa-basi.

“Duduk di depan nenek.. ada hal penting yang harus kamu konfirmasi..” perintah tegas keluar dari nenek Ratih.

Dengan pasrah, Ardian duduk dan menatap ke arah neneknya beberapa saat. Kemudian mengangkat teko, dan menuang the ke dalam cangkir di depannya.

"Kamu menyukai perempuan itu?"

Ardian yang sedang menuang teh langsung berhenti. Ia melihat ke arah neneknya.

"Apa nek.. nenek bertanya apa?"

"Jangan berpura-pura."

Tatapan Nyonya Ratih tajam seperti biasa. Tatapan itu seakan menembus ke ulu hati Ardian.

"Aku mengenalmu sejak kamu lahir."

Ardian menghela napas panjang.

"Nenek sedang membicarakan siapa?"

"Joyce. Joyce Alvaretha…" jawab nenek tegas.

Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, Ardian benar-benar terkejut. Dia tidak mengira sedikitpun, jika pertemuannya dengan Joyce sudah sampai ke telinga neneknya.

"Nenek tahu namanya?"

"Kalau aku ingin tahu sesuatu, aku akan tahu. Jangan pernah mencoba membohongiku.."

Jawaban yang sangat khas Nyonya Ratih. Ardian langsung tahu bahwa neneknya pasti telah meminta seseorang melakukan penyelidikan. Dan itu membuatnya tidak nyaman. Ada rasa amarah dalam dadanya

"Jangan libatkan dia."

Kalimat itu keluar terlalu cepat. Terlalu spontan. Ada perlindungan dalam kalimat Ardian.. Dan langsung membuat Nyonya Ratih mengangkat alis.

"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa."

“Hempph.. dan aku bisa menyimpulkan jika gadis bernama Joyce itu sudah masuk terlalu dalam padamu Ardian..” lanjutnya lagi.

Ardian terdiam. Tanpa sadar dia sudah membuka dirinya sendiri.

“Sial.” Umpatnya dalam hati.

Ia baru saja membocorkan sesuatu. Padahal dia sendiri belum yakin akan perasaannya pada Joyce. Nyonya Ratih tersenyum tipis. Jarang sekali. Dan justru itu yang membuat Ardian semakin waspada.

"Menarik. Betul-betuk sangat menarik..."

"Nek... Please.. jangan ganggu dan libatkan Joyce nek.. Kami tidak ada hubungan apa-apa, selain hubungan pemberi kerja dan karyawan.."

"Tidak usah berdalih Ardian..Nenekmu ini sudah tua, dan jauh lebih banyak makan asam garam kehidupan.”

“Dan sudah lama juga, aku tidak melihatmu bereaksi seperti ini."

Ardian meletakkan cangkir tehnya. Dia melihat ke arah neneknya dengan tatapan penuh harap.

"Dia tidak ada hubungannya dengan keluarga kita nek. Jangan ganggu dia.."

"Itu yang akan kita lihat bersama Ardian. Apa keunggulan gadis itu, sampai bisa mengalahkan perhatianmu dengan Jessica.. Keumala.. Michelle, dan masih banyak lagi."

“Please nek… anak gadis itu bukan untuk dibanding-bandingkan. Semua punya keunikan, dan mungkin daya tarik sendiri-sendiri..”

Nenek Ratih menatap ke mata cucunya dengan tajam..

“Kamu jangan berdalih lagi Ardian.. Lalu kenapa, sedikitpun kamu tidak memberi kesempatan pada gadis-gadis yang nenek sebutkan tadi.”

„Nek.. Ardian tidak mau memberikan harapan palsu pada mereka. Bukan gadis seperti mereka yang bisa menarik hatiku nek..”

Perempuan tua itu menghela nafas, kemudian..

“Dan.. apakah kamu tidak berpikir, berapa kerugian yang harus ditanggung perusahaan, ketika kamu menyakiti mereka..?”

“Menyakiti..?? Itukah yang nenek pikir.. Aneh.”

“Ardian ini sudah dewasa nek.. usia sudah diatas 30 tahun, bahkan menjelang 35 tahun. Tidak ada kata menyakiti, hanya dengan tegas aku sampaikan jika kita memang tidak berjodoh. Itu saja..”

Keduanya terdiam, dan tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya..

“Nenek kasih kesempatan padamu.. Bawa dan kenalkan gadis bernama Joyce padaku.., aku akan lihat. Apakah dia memang punya kualifikasi sebagai nyonya Ardian Mahendra..”

Tidak dapat ditawar lagi, perkataan nenek Ratih mengakhiri perbincangan.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!