Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
******
Pagi keesokannya mendatang, Calista sudah siap ke lantai bawah untuk sarapan pagi. Dari semalam ia kebangun karena mimpi itu, ia tidak bisa kembali memejamkan matanya, ada banyak hal yang harus di lakukan.
"Selamat pagi, Nona Calista. "
Saat ia baru membuka pintu kamarnya, Calista sudah mendapatkan ucapan selamat pagi dari kepala pelayan. Calista tidak menjawab, hanya membalas dengan anggukan kepala saja.
"Ayah kemana? Kenapa dari kemarin kepulangan ku dari rumah sakit, tidak melihat keberadaannya di rumah ini? " tanya Calista di sela keduanya menuruni tangga, kepala pelayan senantiasa mengikutinya dari belakang.
"Tuan besar sudah seminggu ini ada kunjungan di negara Tavindra untuk memantau proyek di sana, hari ini sudah kembali namun beliau tidak langsung ke mansion melainkan ke perusahaan Pranawijaya grup. "
"Ke perusahaan? " Calista bergumam pelan, memikirkan sesuatu. "Aku ingin ke sana. " ujarnya tiba-tiba dengan mutlak.
Kepala pelayan kaget, "Nona, anda ingin ke perusahaan—
" Se— maksudku Calista, kamu baru turun ke bawah? Tumben sekali. "
Ucapan kepala pelayan terpotong karena di sela oleh Damar.
Calista kini sudah tiba di meja makan dan duduk di salah satu kursi yang memang dikhususkan untuknya.
Calista melirik sebentar pada Damar sebelum menjawab, "ya." balasnya pendek.
"Apa agenda mu hari ini? Kamu ingin jalan jalan ke mall dan berbelanja seperti biasanya? " tanya Damar kembali, pagi ini dan baru pertama kalinya ia memulai percakapan di antara keduanya.
Kepala pelayan bahkan sampai dibuat keheranan.
"Tidak, aku ingin ke perusahaan. Menemui ayah, " jawab Calista, ia mulai sibuk dengan sarapannya.
Mendengar jawaban Calista, Damar sontak menghentikan pergerakannya. Ia kembali mengingat ucapan Calista kemarin soal perceraian, "kamu benar-benar ingin bercerai dan menikah lagi ya, Calista? "
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
"Astaga, Nona muda. " kepala pelayan dengan cepat mengambil segelas air untuk Calista yang tengah terbatuk batuk karena mendengar ucapan Damar.
"Maksu—
" Siapa yang ingin bercerai dan menikah lagi?"
Seluruh tubuh Calista seketika berhenti bergerak untuk beberapa saat.
Suara itu....
Calista mengangkat kepalanya untuk melihat si pemilik suara.
"Kenapa melihatku seperti itu? Merindukan ku? " Arkana menaik turunkan alisnya menggoda Calista yang menatapnya begitu intens.
"Siapa kau? " tanya Calista menyelidiki.
Arkana mengerutkan kedua alisnya bertanda bingung. ‘Apa ini karena efek terjatuh?’ Pikirnya.
Ia kurang tau bagaimana kronologi dan kondisi Calista, karena di hari Calista dikabarkan jatuh dan di larikan ke rumah sakit. Arkana saat itu tengah berada di negara Arvenia untuk mengurus bisnisnya dan baru pulang semalam pukul dini hari.
"Kenapa? Kamu melupakan suamimu yang tampan ini? "
Damar berdehem cukup keras mendengar ucapan Arkana.
‘Suaranya agak sedikit berbeda,’ pikir Calista dalam hati.
Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
"Kepala pelayan tolong siapkan mobil, saya ingin ke perusahaan sekarang juga. " perintah Calista.
"Sarapan anda belum selesai, Nona. "
"Aku sudah tidak berselera lagi, cepat siapkan mobil. "
"B-baik, Nona muda. "
"Dia kenapa? " Arkana menatap kepergian Calista dengan bingung, apa terbentur kepalanya dapat merubah kepribadian seseorang?
"Itu karena kau terlalu jelek, dia muak denganmu. " balas Damar sarkas, moodnya jelek seketika.
"Hei, bung."
*****
"Pagi, Nona muda. " para karyawan perusahaan yang melihat kedatangan anak bos mereka sontak menunduk hormat, tidak ada yang berani mengangkat kepala untuk menatap langsung si Nona muda yang terkenal temperamen ini.
"Nona muda. " asisten Tuan Hendra Pranawijaya datang menyambut.
"Tunjukkan di mana ruangan, ayah. " perintah Calista.
"Mari ikuti saya, Nona. " asisten pria tersebut memasuki lift khusus dan menekan tombol lantai paling atas gedung perusahaan Pranawijaya grup.
"Ini ruangan Tuan Hendra, Nona. "
Calista menganggukkan kepalanya, ia memasuki ruangan CEO. "Ayah." Calista langsung membuka pintu ruangan tersebut tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat Tuan Hendra di dalamnya sampai telonjak kaget.
"Ya, putriku. Kau datang kemari? Bukannya kamu tengah sakit? " ucap Tuan Hendra pelan, ia menghentikan pekerjaannya. Memfokuskan diri pada sang putri didepannya, yang berdiri berkacak pinggang.
"Ayah, aku ingin bercerai dengan kedua suamiku itu. " to the point Calista tanpa basa basi.
Uhuk!
"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba begini? " kaget Tuan Hendra, ia bahkan sampai tersedak ludah sendiri.
"Aku tidak mencintai mereka, aku ingin bercerai sesegera mungkin! " Mutlak Calista, tak ingin dibantah.
Tuan menghembuskan napas panjang, dia menyandarkan tubuhnya di kursi. Menatap Calista dengan raut wajah lelah bercampur prihatin, "jangan bilang kamu masih ingin berusaha untuk menikah dengan kembaran Arkana? Nak, sudah beberapa kali ayah bilang padamu, lupakan pria tidak tau diri itu. "
"Kembaran Arkana? Dia punya kembaran? " kaget Calista.
Tuan Hendra menatap putrinya dengan raut kebingungan yang tak bisa ia sembunyikan. Alisnya berkerut, sorot matanya penuh cemas.
“Kamu lupa?” suaranya meninggi sedikit. “Apa ini efek karena kamu jatuh? Kepalamu baik-baik saja? Perlu Ayah panggil dokter atau kita ke rumah sakit sekarang?”
Calista menggeleng pelan, ekspresinya tenang namun matanya menyiratkan kegelisahan yang dalam.
“Tidak, Ayah. Lupakan soal itu dulu,” katanya tegas. “Jawab terlebih dahulu pertanyaan ku. Arkana punya saudara kembar, kan? Siapa namanya?”
Tuan Hendra terdiam sejenak, seolah menimbang apakah ia seharusnya membuka kembali cerita lama itu. Napasnya ditarik dalam sebelum akhirnya ia berbicara.
“Atharva,” ucapnya pelan. “Namanya Atharva.”
Calista mengernyit. Nama itu terasa asing, tapi anehnya dadanya justru berdenyut nyeri, seolah tubuh ini mengenal nama itu lebih dulu daripada pikirannya.
“Sebelum kamu menikah dengan kedua suamimu sekarang,” lanjut Tuan Hendra dengan suara lebih berat, “kamu pernah menjalin hubungan dengan Atharva.”
Calista menegang.
“Hubungan?” ulangnya. “Kalau begitu… kenapa aku tidak menikah dengannya saja?” tatapannya menusuk sang ayah. “Kenapa justru Arkana dan Damar yang menjadi suamiku?”
Ada raut mengeras tak suka yang dapat Calista lihat dari wajah Tuan Hendra, sepertinya pria baya yang sekarang menjadi ayahnya ini tidak menyukai laki-laki bernama Atharva ini.
"Ayah sebenarnya malas untuk mengatakannya, takut bila kamu sakit hati kembali seperti dulu. Kamu tau pria brengsek itu tidak baik untukmu putriku sayang, pria itu telah berselingkuh di belakang mu selama bertahun-tahun kalian menjalin hubungan. "
Calista tercengang mendengarnya. Ada denyut nyeri dirasakan di dadanya.
"Lalu bagaimana ceritanya aku bisa menikahi Damar dan Arkana? "
"Dengan Damar kalian menikah karena perjodohan bisnis, ayah tidak bisa menolak untuk masalah itu. Kamu tau itu sudah direncanakan oleh kakek mu dulu, kalau Arkana kamu sendiri yang melamarnya. "
"Aku melamar Arkana? Mengajaknya menikah? " Calista berdecih kesal dalam hati, di mana letak harga dirinya sekarang karena memasuki tubuh wanita tak tau malu ini.
“Ya,” Tuan Hendra mengangguk pelan. “Salah satu alasannya karena kamu mengatakan bahwa Arkana sangat mirip dengan pria brengsek bernama Atharva itu. Padahal menurut ayah keduanya tidak ada kemiripan sedikitpun.”
Calista menatap ayahnya, terkejut dengan kejujuran yang begitu blak-blakan.
“Kalau Ayah boleh jujur,” lanjut Tuan Hendra tanpa ragu, “Arkana seribu kali lipat lebih tampan daripada mantanmu itu. Dan yang lebih penting, dia bukan tipe pria yang gemar bergonta-ganti wanita.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut namun jujur.
“Hanya saja… minusnya, Arkana terlihat begitu dingin denganmu, Nak.”
Tatapan Tuan Hendra melunak, suaranya pun menurun.
“Ayah sarankan satu hal,” katanya. “Tolong hilangkan sifat pemarah mu itu. Kalau terus seperti ini, siapa pun akan menjaga jarak darimu—termasuk Arkana dan Damar.”
Calista terdiam sejenak, memikirkan kembali soal mimpinya semalam. Apa sosok pria yang mendorongnya itu adalah Atharva— kembaran Arkana? Lalu siapa sosok perempuan itu?
Berarti selama ini Sekar si pemilik tubuh tidak benar-benar mencintai kedua suaminya, apa kelakuannya selama ini yang terus mencari perhatian kedua suaminya karena rasa frustasi Sekar karena mantan pacarnya itu berselingkuh?
Melihat Calista yang masih terdiam, Tuan Hendra kembali menambahkan dengan nada yang lebih lembut namun sarat kekhawatiran.
“Bagaimana kondisi kamu sekarang?” tanyanya. “Masih terasa sakit? Sudah benar-benar membaik, atau perlu kita periksa kembali ke rumah sakit?”
Ia menghela napas panjang, raut penyesalan jelas tergambar di wajahnya. “Maafkan Ayah kemarin tidak bisa langsung datang melihat kondisimu,” lanjutnya. “Ayah sangat sibuk mengurus proyek di kota Tavindra. Belum lagi besok Ayah harus berangkat ke negara Arctovia untuk menghadiri rapat penting terkait kerja sama perusahaan.”
Mimik wajah Calista langsung berubah saat mendengar ucapan Tuan Hendra. "Ke negara Arctovia? Biar aku saja yang menggantikan ayah ke sana. " ujar Calista langsung.
Negara Arctovia adalah tempat tinggal aslinya sebagai Aruna, ia bisa menyelidiki langsung bagaimana kabar kecelakaan pesawat dan kondisi tubuhnya.
"Kamu tidak pernah mengurus perusahaan, ini pertemuan penting. " tolak Tuan Hendra, anaknya ini manja dan sedikit bodo— maaf atas kejujurannya ini. Namun Calista sebelumnya memang tidak pernah menyentuh atau bahkan membahas soal proyek atau semacamnya.
Tuan Hendra tidak mau usahanya yang membangun semua bisnisnya ini harus hancur begitu saja karena kecerobohan anak kesayangannya ini.
"Aku bisa, ayah percayalah padaku. Kalau aku merusak semuanya, ayah bisa menghapus namaku di kartu keluarga. "
Tuan Hendra terdiam, menimbang beberapa saat. Ada rasa was was dalam dirinya. Namun melihat wajah penuh percaya diri Calista membuatnya akhirnya luluh juga.
Ia menganggukkan kepala, "baiklah, tapi Damar ikut dengan mu ke negara Arctovia"
"Tapi ayah—
" Ya, atau tidak sama sekali? " potong Tuan Hendra dengan cepat.
Calista menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyetujui, "oke, baiklah. "
"Jadi jam berapa berangkat ke sana? " tanyanya, ia sudah tidak sabar mendatangi tempat kelahirannya.
"Jam sepuluh malam nanti, lebih cepat lebih baik. "
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
gx lanjuut 21 ,, 🤭