Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUTANG
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya kemerahan yang lembut namun terasa menyedihkan, seolah langit pun ikut merasakan kesedihan yang sedang menimpa sebuah keluarga kecil di pinggiran desa itu. Di gubuk reyot tempat tinggal Pak Suryo dan Bu Lastri, suasana begitu hening dan mencekam. Tak ada suara canda tawa seperti biasanya, yang terdengar hanyalah isak tangis tertahan Bu Lastri, dan wajah Pak Suryo yang tampak berduka bercampur rasa marah yang tak berdaya.
Baru saja tadi pagi, datang rombongan orang-orang berpakaian rapi dan mewah dari keluarga kaya raya paling berpengaruh di kota kecamatan. Mereka datang membawa pesan dan ancaman langsung dari Tuan Hadi, orang terkaya sekaligus rentenir kejam yang dulu pernah meminjamkan uang dalam jumlah besar pada Pak Suryo untuk biaya pengobatan Bu Lastri yang sakit parah beberapa tahun lalu. Hutang itu sudah lama menumpuk, bunganya berlipat ganda, dan Pak Suryo sama sekali tak mampu melunasinya karena hasil ladang yang tak seberapa.
Dan hari ini, Tuan Hadi mengirim utusannya dengan satu syarat penyelesaian yang mematikan: hutang itu akan dihapuskan seluruhnya, dan keluarga itu tak perlu membayar sepeser pun, asalkan Seruni bersedia dinikahkan dengan anak laki-laki tunggal Tuan Hadi yang dikenal pemalas, kasar, dan berperangai buruk. Jika Seruni menolak, maka hari ini juga mereka akan membawa kedua orang tua Seruni, membunuh mereka, dan melemparkan mayat mereka ke tengah hutan sebagai peringatan bagi siapa saja yang berani berhutang tapi tak mau membayar.
Ancaman itu bukan ancaman kosong. Semua orang di wilayah itu tahu betapa kejam dan berkuasanya Tuan Hadi. Hukum dan peraturan seolah tak ada artinya baginya.
Seruni duduk bersimpuh di lantai tanah gubuk itu, air matanya sudah kering, hatinya hancur berkeping-keping mendengar syarat itu. Ia sangat menyayangi orang tuanya, rela berkorban apa saja demi keselamatan mereka. Tapi menikah dengan orang yang tak dicintai, orang yang jahat dan kasar, menghabiskan sisa hidup dalam penderitaan... itu sama saja menjual nyawa dan masa depannya sendiri ke dalam neraka.
Namun Seruni bukan gadis yang lemah dan pasrah. Di tengah kepungan bahaya dan pilihan sulit itu, ide cemerlang sekaligus berat muncul di kepalanya. Ia bangkit berdiri, menghapus sisa air matanya, menatap utusan orang kaya itu dengan pandangan tegas namun tenang.
"Sampaikan pada Tuan Hadi... aku menolak menikah dengan anaknya," ucap Seruni lantang dan berani, membuat kedua orang tuanya terbelalak ketakutan di belakangnya. "Tapi aku tidak lari dari tanggung jawab. Hutang ayahku akan aku bayar lunas sampai tetes terakhir keringatku. Aku akan pergi ke kota besar, bekerja keras apa saja, berapa pun gajinya, sampai uang itu terkumpul semua. Berikan aku waktu dua tahun. Jika dalam dua tahun aku belum pulang atau belum melunasi, kalian boleh melakukan apa saja pada keluargaku."
Utusan itu saling pandang, lalu tertawa sinis. Mereka yakin seorang gadis desa polos takkan sanggup bertahan di kota keras, dan pasti akan kembali menyerah dalam hitungan bulan. Akhirnya mereka setuju, memberi tenggat waktu dua tahun, lalu pergi meninggalkan gubuk itu dengan ancaman terakhirmu agar jangan sampai melarikan diri.
Setelah mereka pergi, tangis Bu Lastri pecah sejadi-jadinya, memeluk putri semata wayangnya itu erat-erat. Pak Suryo hanya menunduk diam, air mata laki-lakinya jatuh membasahi pipi keriputnya, merasa sangat tidak berguna karena harus membiarkan anak gadisnya pergi jauh merantau demi menebus kesalahan ayahnya.
"Ayah, Ibu... tenang saja. Ini jalan terbaik. Aku selamat, Ayah Ibu selamat, dan kita tak perlu menjual diri pada orang jahat. Aku pasti bisa, aku pasti pulang membawa uangnya," ucap Seruni berusaha tegar, padahal hatinya rasanya ingin hancur.
Ada satu hal lagi yang berat bagi Seruni, hal yang membuat dadanya terasa sesak dan sakit luar biasa. Sebelum pergi, ia harus bertemu satu orang. Satu orang yang diam, dingin, misterius, tapi entah kenapa menjadi alasan terbesar kenapa ia berat sekali meninggalkan desa ini.
Seruni berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju ke arah padepokan di bukit itu, langkahnya gontai, wajahnya pucat dan sembab karena menangis. Di pinggir jalan, di bawah pohon besar tempat mereka biasa duduk dulu, ia melihat sosok yang dicarinya.
Liam berdiri diam di sana, memandang ke arah desa di bawah sana. Sejak pulang dari Lembah Kering kemarin, Liam makin banyak diam, makin tertutup, dan makin sering berdiri sendirian menatap kosong ke kejauhan. Ia mendengar kabar yang menimpa keluarga Seruni dari percakapan warga desa. Ia sudah tahu semuanya. Ia sudah tahu Seruni akan pergi.
Saat langkah kaki halus itu mendekat, Liam tidak berbalik. Ia sudah mengenal langkah itu, sudah hafal aroma tubuh itu, sudah tahu setiap gerakan gadis itu meski matanya menatap ke arah lain.
"Liam..." panggil Seruni pelan, suaranya bergetar hebat, nyaris tak terdengar.
Liam perlahan membalikkan badannya. Wajahnya tetap sama persis seperti biasa: datar, dingin, tanpa ekspresi apa pun. Tak ada rasa kaget, tak ada rasa sedih, tak ada rasa bertanya. Matanya yang hitam pekat menatap tenang ke arah gadis yang berdiri gemetar di hadapannya itu.
"Aku mau pamit..." ucap Seruni, dan kata-kata itu baru saja keluar dari mulutnya, tangisnya langsung meledak tak terbendung. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat menahan isak tangis yang menyakitkan. Air mata mengalir deras lewat sela-sela jarinya, membasahi pipi dan dadanya.
"Aku harus pergi... ke kota besar... jauh sekali dari sini..." Seruni bicara sambil menangis tersedu-sedu, suaranya parau dan penuh kepedihan. "Ada hutang besar Ayah... aku dipaksa nikah kalau tidak... kalau tidak Ayah Ibu dibunuh... aku tidak mau, Liam... aku tidak mau menikah dengan orang jahat itu... jadi aku memilih pergi... aku harus kerja keras di sana, membayar semuanya... baru boleh pulang..."
Seruni mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Liam dengan pandangan memohon, pandangan sedih yang dalam, pandangan yang seolah ingin menanamkan wajah pemuda itu baik-baik di dalam ingatannya sebelum ia pergi entah ke mana.
"Aku takut, Liam... aku takut pergi ke tempat asing sendirian... aku takut tak bisa pulang lagi... aku takut nanti saat aku kembali, kau sudah tidak ada di sini... atau kau sudah lupa sama sekali padaku..." tangis Seruni makin keras, ia maju selangkah, seolah ingin memeluk namun terhalang oleh sifat dingin Liam, hanya berdiri dekat dan menatap wajah itu lekat-lekat.
"Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu... katakan jangan pergi... katakan kau akan menungguku... katakan apa saja, Liam... tolong..." pinta Seruni putus asa, hatinya sakit sekali melihat wajah dingin itu. Ia berharap, setidaknya satu kali saja, Liam menunjukkan rasa sedihnya, menunjukkan bahwa kepergiannya berarti sesuatu bagi pemuda itu.
Namun Liam tetaplah Liam. Ia berdiri diam, tegak, kaku. Wajahnya masih dingin, matanya masih tenang dan kosong. Tak ada satu pun kerutan sedih di wajahnya, tak ada satu pun air mata di matanya, tak ada satu kata pun yang keluar untuk menahannya. Ia hanya diam menatap gadis itu menangis di hadapannya, menatap kesedihan yang luar biasa itu.
Orang yang melihat dari jauh pasti akan mengira Liam tak peduli, pasti akan mengira Liam dingin hati dan tak punya rasa. Padahal... hanya Liam sendiri yang tahu apa yang terjadi di dalam dirinya saat ini.
Di dalam hatinya yang dingin dan kosong itu, di dalam dada yang terasa keras dan mati rasa itu... saat mendengar alasan kepergian Seruni, saat melihat air mata gadis itu, saat mendengar permintaan sederhana itu... rasanya ada sesuatu yang tajam dan panas menusuk tepat di jantungnya. Sakit. Sakit sekali. Lebih sakit daripada saat lengannya tergores besi, lebih sakit daripada saat tubuhnya terbakar hebat kemarin. Sakit yang membuat napasnya terasa sesak, sakit yang membuat seluruh tubuhnya ingin gemetar, sakit yang membuatnya ingin sekali berteriak agar Seruni tetap di sini.
Di dalam hatinya, Liam berteriak keras: Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku tak mau kau pergi jauh ke tempat berbahaya itu. Aku tak mau kau bekerja keras sendirian. Aku akan bayar hutang itu. Aku akan lindungi Ayah Ibumu. Aku akan bunuh siapa saja yang mengancam kalian. Tetaplah di sini, di dekatku.
Di dalam hatinya, Liam menangis lebih deras dari Seruni. Di dalam benaknya, ia sudah berjanji: Aku akan menunggumu. Sampai kapan pun aku akan menunggu. Aku takkan lupa wajahmu, takkan lupa suaramu, takkan lupa rasa hangat yang kau berikan padaku.
Tapi semua itu hanya ada di dalam sana. Terkunci rapat, tak bisa keluar. Lidahnya terasa kaku dan berat, suaranya hilang, dan kebiasaan dinginnya menutupi segalanya. Ia tak pandai bicara manis, tak pandai mengungkapkan rasa, tak pandai menunjukkan emosi. Ia hanya bisa menyimpannya sendiri dalam diam yang menyakitkan.
Liam perlahan mengangkat tangannya yang dingin itu. Gerakannya pelan dan hati-hati, persis seperti dulu saat membersihkan debu di pipi Seruni. Ujung jarinya menyapu air mata di pipi gadis itu satu per satu, mengusapnya lembut sampai kering. Tatapannya tetap datar, namun gerakan itu begitu lembut dan hati-hati, seolah menyentuh benda paling rapuh di dunia.
"Hati-hati," ucap Liam akhirnya, suaranya rendah, berat, dan dingin seperti biasa, hanya dua kata sederhana, namun di baliknya tersimpan ribuan rasa yang tak terucap. "Aku... di sini. Menunggu."
Dua kata terakhir itu keluar sangat pelan, hampir tak terdengar, namun cukup membuat hati Seruni yang hancur itu sedikit terselamatkan. Ia mengangguk kuat, menangis makin keras tapi kali ini bercampur rasa lega dan bahagia. Ia mengerti. Meski wajahnya tak berubah, meski kata-katanya sedikit... Seruni mengerti. Liam peduli. Liam akan menunggu.
Seruni melangkah mundur perlahan, melepaskan sentuhan tangan dingin itu, lalu berbalik berjalan pergi menjauh. Ia tak berani menoleh lagi, takut ia berbalik kembali dan takkan sanggup pergi.
Liam berdiri diam di tempatnya, menatap punggung gadis itu yang perlahan mengecil dan hilang di balik tikungan jalan. Ia berdiri di sana lama sekali, sampai matahari benar-benar tenggelam dan kegelapan malam mulai turun menyelimuti desa.
Wajahnya masih dingin, matanya masih kosong, tapi tangannya yang tadi menyentuh pipi Seruni masih terasa basah oleh air mata gadis itu. Di dalam hatinya yang sepi, Liam kembali mengukir janji darahnya sendiri: Aku akan tetap di sini. Aku akan menjadi kuat. Aku akan menghancurkan siapa saja yang menyakiti keluargamu. Dan saat kau kembali nanti... aku akan ada di sini, menunggumu, sama seperti sekarang.
Di kejauhan, angin malam berhembus dingin membawa kabar perpisahan, dan di bawah pohon besar itu, sosok makhluk malam yang hilang ingatan itu berdiri sendirian, merasakan kesedihan perpisahan yang pertama kali ia rasakan dalam hidupnya yang panjang dan misterius.