(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kekhawatiran Selina
Raka bersandar sedikit di kursi sambil melipat tangan, sorot matanya tetap tenang seperti biasa, tetapi rahangnya terlihat sedikit menegang. Cahaya lampu ruang perawatan memantul samar pada wajahnya yang sejak tadi tampak biasa saja untuk seseorang yang nyaris menghadapi kematian.
“Memang sedikit rumit,” jawabnya tenang.
Jono terkekeh kecil meski wajahnya masih tampak pucat. “Sedikit?” ulangnya lirih. “Kau sangat aneh.”
Sudut bibir Raka bergerak samar. “Aku tidak meminta kau ikut terkena masalah,” ujarnya datar.
Jono menggeleng pelan, lalu menyandarkan tubuh lebih nyaman ke bantal. “Aku tidak menyalahkanmu,” katanya lebih serius. “Hanya saja... ternyata selama ini kau hidup seperti ini?”
Raka tidak langsung menjawab, ruangan mendadak lebih tenang, hanya suara alat monitor medis yang terdengar pelan di sudut ruangan.
“Aku sudah terbiasa,” jawab Raka akhirnya.
Jono menatap wajah sahabatnya beberapa saat sebelum menghembuskan napas pendek. Entah sejak kapan, pria yang dulu dikenalnya suka bekerja sambilan dengannya, kehujanan di proyek kecil, dan tertawa karena memperebutkan gorengan terakhir kini terlihat jauh lebih sulit ditebak.
“Pantas saja dulu kau tidak pernah banyak menceritakan tentang keluargamu,” gumam Jono pelan.
Raka hanya diam, beberapa detik kemudian, Jono kembali bersuara dengan nada lebih ringan. “Namun satu hal tetap membuatku bingung.”
“Apa?”
“Kau benar-benar tinggal bersama keluarga mantan istrimu itu?” tanyanya spontan sambil mengernyit kecil. “Maksudku... dari semua tempat mewah yang mungkin kau punya, kenapa justru memilih hidup seperti orang yang sedang menjalani hukuman?”
Raka mengembuskan napas pendek, kali ini terdengar seperti sesuatu antara malas menjelaskan dan sedikit menertawakan dirinya sendiri.
“Mungkin karena waktu itu aku terlalu bodoh,” jawabnya tenang.
Jono terdiam beberapa detik sebelum mendadak terkekeh kecil. “Wah, akhirnya Tuan muda Pradipta bisa mengakui kesalahan juga.”
Tatapan Raka bergerak datar ke arahnya. “Kalau kondisi tubuhmu membaik, aku bisa mempertimbangkan untuk memindahkanmu ke kamar biasa.”
“Tidak usah,” balas Jono cepat. “Tiba-tiba aku merasa sakitku cukup serius.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Raka terkekeh pelan. Singkat, rendah, tetapi cukup untuk membuat suasana kamar terasa sedikit lebih ringan.
Namun ekspresi itu tidak bertahan lama.
Pintu kamar diketuk pelan sebelum Jack masuk dengan langkah teratur, wajahnya tetap profesional seperti biasa. “Tuan muda,” ucapnya rendah. “Ada perkembangan.”
Raka langsung berdiri.
Jack melirik sekilas ke arah Jono sebelum melanjutkan, “Salah satu kendaraan berhasil ditemukan di kawasan industri lama. Kendaraan sudah ditinggalkan, tetapi tim kita menemukan beberapa jejak yang kemungkinan bisa mengarah pada pelaku.”
Tatapan Raka kembali berubah dingin. “Lalu?” tanyanya singkat.
“Salah satu wajah yang tertangkap CCTV mulai teridentifikasi,” jawab Jack. “Mantan anggota kelompok keamanan swasta ilegal, beberapa kali terlibat pemerasan dan pekerjaan bayaran.”
Jono yang sejak tadi mendengar langsung mengerutkan dahi. “Pekerjaan bayaran?” ulangnya pelan.
Jack mengangguk kecil. “Kemungkinan besar, ada yang membayar mereka untuk melakukan ini.”
Raka berdiri diam beberapa detik, jemarinya perlahan mengepal samar di sisi tubuh. “Kau menemukan nama orang yang memberi mereka perintah?” tanyanya.
“Belum,” jawab Jack jujur. “Namun kami sedang menelusuri transaksi dan komunikasi terakhir mereka.”
Raka menatap lurus beberapa saat sebelum berkata rendah, suaranya begitu tenang hingga justru terasa lebih dingin. “Temukan mereka sebelum pagi.”
“Baik, Tuan muda.”
Di saat bersamaan, suara langkah tergesa terdengar dari luar koridor, diikuti suara seseorang yang jelas sedang berdebat pelan dengan petugas jaga.
“Aku sudah bilang, aku mengenal pasiennya!”
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka sedikit, Selina berdiri di sana dengan napas sedikit memburu, rambutnya tampak sedikit berantakan dan wajahnya jelas menyimpan kekhawatiran yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.
Tatapannya langsung mencari seseorang di dalam ruangan, lalu berhenti tepat pada Raka.
Beberapa detik Selina hanya berdiri di ambang pintu, napasnya masih sedikit tidak teratur akibat berjalan tergesa. Tatapannya bergerak cepat dari kepala hingga kaki Raka, seolah memastikan sendiri bahwa pria itu benar-benar dalam keadaan baik.
“Kamu...” gumamnya pelan sebelum langkahnya bergerak lebih cepat mendekat. “Kamu benar-benar tidak apa-apa kan?”
Nada suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding biasanya, nyaris seperti kelegaan yang tidak sempat ia sembunyikan.
Raka menatapnya sepersekian detik. “Aku sudah bilang tidak apa-apa.”
Selina berhenti tepat di depannya lalu menyipitkan mata kecil. “Kalau memang tidak apa-apa, kenapa wajahmu seperti orang yang baru saja melihat hantu?”
Raka mengangkat alis tipis. “Memangnya seperti itu?”
“Iya,” balas Selina spontan, lalu buru-buru berdeham kecil ketika sadar Jack dan orang lain masih berada di sana. “Maksudku... ya sedikit.”
Jono yang sejak tadi bersandar di ranjang hanya berkedip beberapa kali sambil memperhatikan keduanya bergantian.
Lalu perlahan sudut bibirnya bergerak naik. “Ooh...” gumamnya pelan.
Selina yang baru sadar ada orang lain di ruangan langsung menoleh cepat. “Oh!” katanya sedikit kaget. “Maaf, aku tadi...”
Tatapannya berhenti pada perban tebal di lengan Jono, wajahnya langsung berubah serius. “Astaga... jadi temanmu yang terluka?”
Jono mengangkat tangan satunya pelan seolah menyapa. “Masih hidup, untungnya.”
Selina mendekat beberapa langkah dengan ekspresi yang tampak tulus khawatir. “Apa lukanya cukup parah?”
“Katanya tidak sampai mati,” jawab Jono santai. “Walaupun aku mulai merasa berteman dengan dia agak terlalu berbahaya.”
Ia melirik ke arah Raka.
Selina refleks ikut menoleh pada pria itu. “Apa sebenarnya yang terjadi?” tanyanya pelan.
Raka terdiam sesaat sebelum menjawab singkat, “Ada orang yang mencoba mencelakaiku.”
Kalimat itu membuat wajah Selina langsung berubah. “Apa?!” suaranya sedikit meninggi sebelum buru-buru mengecil lagi. “Maksudmu... seseorang sengaja menyerangmu?”
Jack berdiri tegak di sisi ruangan. “Kami masih menyelidikinya, Nona Selina.”
Selina tampak membeku sepersekian detik, jelas sedang memproses sesuatu, tangannya perlahan mengepal kecil di sisi tubuh.
Lalu tanpa sadar ia kembali menatap Raka dari atas ke bawah. “Kamu benar-benar tidak terluka?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
“Aku baik-baik saja, Selina.”
Selina menghembuskan napas panjang, bahunya tampak sedikit turun, seperti baru sadar sejak tadi menahan ketegangan.
Jono yang memperhatikan semuanya tiba-tiba berdeham pelan. “Kalau boleh jujur,” katanya sambil menyandarkan kepala ke bantal, “aku mulai merasa kehadiranku mengganggu kalian.”
Selina langsung menoleh cepat. “Apa?”
Jono tersenyum kecil, jelas menahan geli. “Tidak apa-apa, aku hanya baru sadar ternyata bos galak ini punya orang yang langsung datang malam-malam ke rumah sakit hanya untuk memastikan dia tidak lecet sedikit pun.”
“Ka-kamu salah paham!” balas Selina terlalu cepat. “Aku datang karena Tante Shanum khawatir!”
“Hmm,” gumam Jono panjang sambil mengangguk pelan.
Raka berdiri tenang di samping ranjang, lalu tanpa ekspresi berkata datar, “Kalau kau masih sempat banyak bicara, berarti kondisimu memang membaik.”
Jono langsung mendecak kecil. “Lihat? Dia memang seperti ini, tidak punya empati.”
Namun anehnya, untuk pertama kali sejak kekacauan itu, suasana ruang rawat terasa sedikit lebih ringan.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km