Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Dewan sudah menyambar kunci mobil. Siang ini memutuskan kembali lagi ke Jogja. Namun ketika hendak keluar, Tiyas menahan langkah suaminya.
"Mas... Kamu mau kemana?" Wanita dalam baluran kebaya putih itu bergegas menahan lengan suaminya.
"Lepas!" Dewan menghempaskan tangan itu. "Aku mau pulang ke rumahku sendiri, Tiyas! Aku disana punya anak. Kamu nggak usah halang-halangin aku!" Sentaknya.
Dewan menghempaskan tubuh Tiyas hingga wanita itu nyaris terjatuh. Karena hatinya sudah terbakar api cemburu, tak peduli jika sehabis pernikahan pun, Dewan tetap nekad perjalanan menuju Jogya.
Tiyas mengejar, berteriak, "Mas... Kita baru saja selesai akad! Kamu nggak boleh tinggalin aku sendiri!"
Teriakan itu bak sapuan angin. Mobil Dewan sudah keluar dari perumahan cukup mewah itu. Tiyas frustasi. Kedua tanganya terkepal erat hingga sorot matanya tajam ke depan.
Kali ini tak ada yang lebih membuatnya kesal. Cemburu. Merasa tak terima Istrinya di dekati rekan bisnisnya itu. Dada Dewa sudah kembang kempis. Sesekali menekan klakson, berharap perjalanan itu akan segera sampai ke tujuan.
*
Sementara di rumah, Alena langsung masuk saja ke dalam tanpa berbasa basi menawarkan sang Juragan untuk singgah. Namun, apa yang terjadi.
Alena menoleh sampai batas teras. Juragan menhentikan jalannya hampir saja menabrak tubuh kecil di depanya itu.
"Pak Danu mau apa lagi?" Alena kini bersedekap dada. Tatapanya penuh intimidasi.
"Sa-saya... Saya cuma mau lihat-lihat aja sih. Katanya ada gudangnya, tapi mana coba?" Juragan berusaha mengedarkan mata, melirik Alena sekilas, merasa terpojokan lagi dengan tatapan itu.
"Mata Pak Danu sepertinya rabun?! Gudang sebesar itu, bagaimana nggak lihat?!" Alena tidak menunjuk, tapi sudut matanya yang bekerja.
Danu berdecak, menopang kedua tanganya di pinggang. Tatapanya melekat pada paras ayu di depan itu. Tapi yang di tatap sejak tadi bak gunung berapi yang siap meletus. Asap pekat seopah keluar dari kepala serta dua telinga Alena.
"Saya ingin bertemu putramu," pinta sang Juragan.
"Untuk apa? Dia alergi dengan orang baru," dalih Alena membuat mata Juragan cukup mendelik. Tatapan Alena juga membuat Juragan kesusahan menelan ludah.
Sepanjang sejarah, baru kali ini ada wanita yang jual mahal dengan dirinya. Danu merasa semakin penasaran dan tertantang. Tapi untuk wanita muda di depanya kini, tatapanya bak Induk singa yang kelaparan.
"Saya calon Ayahnya! Saya hanya ingin dekat saja, Alena!"
"Tidak perlu! Lebih baik Juragan pulang saja! Silahkan...." Setelah mengadahkan tanganya ke arah gerbang, Alena masuk begitu saja.
Dengan berat hati, Danu juga memundurkan langkahnya pelan, lalu berbalik menuju mobilnya. Pria matang itu tersenyum penuh arti, ada rasa bahagia yang menyelinap dalam relung hatinya.
"Non...."
Alena terkejut, Mbok Minah menyadarkan fokusnya mengintip kepergian sang Juragan. Wanita cantik itu menoleh. Wajahnya cukup tenang, namun hembusan napas itu terdengar melelahkan.
"Juragan beberapa kali menelfon," ucap Mbok Minah.
Alena sedikit mengerutkan dahi. "Menelfon? Untuk apa, Mbok?"
"Juragan tahu kalau Non dekat dengan Juragan Danu. Sepertinya Juragan cemburu," jelas Mbok Minah.
Alena kini berjalan menuju sofa. Menjatuhkan badan lelahnya di sana, di ikuti Mbok Minah yang ikut duduk di sampingnya. Pelayan tua itu sedikit memijit lengan Majikannya. Mbok Minah tahu, setelah hampir sebulan dari semenjak melahirkan, Alena tidak pernah pijat atau sekedar merawat tubuhnya.
"Biarkan saja jika dia tahu, Mbok! Lagian... Mas Dewan sudah menikahi Tiyas secara siri," jawab tenang Alena.
Mbok Minah cukup syok. Bahkan gerakan pada tangan Alena berhenti sejenak. "Non yang sabar. Simbok tau bagaimana perasaan Non."
Alena mengangguk, ia usap tangan Mbok Minah secara lembut. Hanya wanita tua itu yang menjadi sandaran hidupnya di rumah. Setidaknya masih ada sandaran bahu untuk Alena dapat beristirahat.
Malam itu, Alena baru saja selesai menyusui Delan. Karena putranya itu belum terlelap, jadi Alena membawanya keluar untuk duduk di ruang tengah sekedar menikmati siaran tv kesukaannya. Bocah hampir 1 bulan itu tampak anteng tiduran di bouncer Ayun sebelah Ibunya.
Ketenangan Alena terpecah, kala derap langkah seseorang tergesa itu membuatnya menoleh cepat.
Dewantara?
Alena bangkit, suaminya sudah berdiri sejenak dengan tatapan sendunya. Di bawah lampu temaram menggantung itu Alena bak di hantam kenyataan, bahwa pria yang tengah berdiri di sebrang itu memanglah suaminya.
Tanpa aba-aba, Dewan berjapan cepat dan langsung memeluk tubuh Istrinya.
Alena tercekat. Tubuhnya terasa kaku untuk sesaat. Ia dapat merasakan pundak Dewan yang terguncang karena rasa sesalnya.
"Lepas!" tekan Alena meronta.
Dewantara reflek melerai dekapan itu. Matanya sudah berembun, namun kemarahan masih menyelinap di balik kornea matanya.
"Alena... Saya tidak terima kamu di dekati oleh Danu! Saya ini masih suami SAH kamu. Jadi tolong jaga batasan saat Juragan itu mendekati kamu!"
Permintaan di balik tuntutan itu membuat Alena ingin muntah. Ibu cantik itu tersenyum kecut, bersedekap dada sambil melempar tatapan dingin.
"Kenapa tidak? Pak Danu dapat memberikan semuanya yang saya butuhkan! Dia sempurna! Dewasa, penyayang, memberikan masa depan yang layak untuk Delan... Dan yang pasti," Alena menjeda kalimatnya sejenak. Tatapanya penuh kebencian. "Dia setia terhadap pasangannya!"
Dewantara merasa tertampar. Pria itu berdiri tegar dengan hati yang sudah hampir meledak. Tatapan Istrinya jauh berbeda. Tak ada lagi senyuman hangat, ataupun mata berbinar penuh cinta.
"Tapi status kamu masih Istri saya, Alena-"
Alena menyambar, "Eh, eh... Shussttt!!! Itu hanya asumsi kamu, Dewantara! Karena saya sudah mendaftarkan gugatan cerai untuk kamu!"
Deg!
Dewan syok berat. Matanya bahkan nyaris terlepas dari tenpatnya. Ia melangkah lebih dekat, memegang kedua bahu Alena untuk di sadarkan.
"Nggak! Saya nggak mau pisah sama kamu, Alena! Saya pasti akan melunasi semua dana saham itu."
"Jangan sentuh saya lagi! Kamu pikir saya mau kamu madu dengan Adik saya sendiri? Dimana otakmu, Dewantara?!"
Plak!
Wajah Dewantara terhempas, napas Alena sudah mulai naik turun. "Kamu pikir saya tidak tahu dengan pernikahan siri kalian, ha? Gundikmu sendiri yang sudah mengirimkan siaran langsung kepada saya."
Dewantara membeku. Kedua tanganya terkepal kuat, ingin sekali menghancurkan rahang Istri mudanya itu.
"Alena, pernikahanku dengan Tiyas hanya siri. Dan... Dan aku dapat meninggalkan dia. Saat ini pun! Aku mohon Alena... Demi keluarga kita. Demi tumbuh kembang Delan," Dewantara bermaksud ingin menggapai tangan Istrinya namun di hempas oleh Alena.
"Kamu pikir saya mau, setelah kalian berdua dengan liarnya bertukar keringat? JUSTRU SAYA SANGAT JIJIK MELIHAT WAJAH KAMU! Dan satu lagi... Tidak usah mengambing hitamkan Delan dalam perselingkuhanmu, Dewantara! Delan akan tumbuh sehat jika saya mampu terlepas dari hubungan toxic seperti kemarin."
Alena tersenyum remeh, "Dan perlu kamu tahu... Jika ada seorang pria menawarkan hidup serta dunianya kepada saya, kenapa saya masih mempertahankan suami keji seperti kamu! Jelas saya akan hidup aman bersama Pak Danu!" Telak Alena.
Tiba-tiba saja Dewantara menekuk kedua kakinya, luruh di hadapan sang Istri dengan tertunduk.
Air mata itu juga ikut menetes.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔