NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Sore itu ruangan marketing mulai sepi. Suara keyboard yang sejak tadi bersahutan perlahan menghilang satu per satu. Beberapa karyawan sudah pulang lebih dulu, sementara sebagian lain masih sibuk merapikan meja sebelum meninggalkan kantor. Lampu-lampu di luar gedung mulai menyala, menandakan hari hampir berganti malam. Dunia kerja memang aneh. Pagi saling lempar senyum, sore saling kirim revisi file sambil menahan emosi. Peradaban manusia dibangun di atas kopi sachet dan pura-pura profesional.

Shinta berdiri di dekat mejanya sambil memandangi sebuah kotak hadiah kecil di tangannya. Sejak tadi dia terus ragu untuk mendekat. Berkali-kali dia menarik napas panjang lalu mengurungkan niatnya lagi.

Di sudut ruangan, Andika masih duduk di kursinya. Pria itu tampak fokus menatap layar laptop sambil sesekali mengetik sesuatu. Wajahnya datar seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda ingin pulang cepat meskipun suasana kantor sudah hampir kosong.

Shinta menggigit bibir pelan.

Akhirnya dia memberanikan diri berjalan mendekati meja Andika.

“Masih belum pulang?” tanyanya pelan.

Andika mengangkat kepala sebentar lalu kembali melihat layar laptopnya.

“Sebentar lagi.”

Jawaban singkat itu membuat suasana langsung terasa canggung.

Shinta berdiri beberapa detik tanpa bicara sebelum akhirnya meletakkan kotak hadiah kecil itu di atas meja Andika.

“Ini buat ulang tahunmu.”

Tangan Andika berhenti mengetik.

Dia memandang kotak itu beberapa saat, lalu menatap Shinta dengan ekspresi sulit ditebak.

Shinta buru-buru menambahkan penjelasan sebelum pria itu salah paham.

“Aku cuma tidak mau orang kantor berpikir kita bermusuhan.”

Andika tersenyum tipis.

Namun senyum itu bukan senyum hangat yang dulu sering dia tunjukkan. Senyum itu justru terasa dingin.

“Tidak perlu”

Shinta langsung mengernyit.

“Apa?”

Andika menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Aku akan bilang pada orang-orang, Aku sudah dapat hadiah darimu.”

Nada suaranya terdengar sengaja dibuat santai. Seolah dia menikmati perubahan ekspresi di wajah Shinta.

Dan benar saja.

Wajah Shinta langsung berubah kesal.

Jadi begini rasanya bicara dengan orang keras kepala yang merasa dirinya paling benar. Bahkan batu di pinggir jalan mungkin masih lebih mudah diajak kompromi.

“Kamu sengaja, ya?” tanya Shinta menahan emosi.

Andika mengangkat alis.

“Sengaja apa?”

“Kamu benar-benar menikmati bikin aku kesal.”

Andika tertawa kecil.

“Bukannya kamu yang datang cari masalah?”

Shinta menarik napas panjang. Dia mencoba mengendalikan dirinya sendiri. Namun semakin melihat wajah tenang Andika, semakin sulit dia menahan emosi.

Akhirnya dia langsung bertanya pada inti masalah yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

“Jadi benar kamu bilang ke ayahmu kalau pacarmu itu Shinta yang kuliah di luar negeri?”

Tatapan Andika langsung berubah dingin.

“Itu bukan urusanmu.”

“Aku cuma mau memastikan.”

“Untuk apa?”

Shinta menatapnya serius.

“Karena aku tidak suka kebohongan.”

Andika langsung berdiri dari kursinya. Gerakannya membuat suasana semakin tegang.

“Shinta,” katanya pelan namun penuh tekanan, “kamu tidak perlu berubah jadi Rara yang hobinya cari gosip.”

Shinta langsung menatap tajam.

“Aku bukan cari gosip.”

“Lalu?”

“Aku cuma mau tahu kenapa kamu harus bohong.”

Andika tertawa sinis.

“Kenapa? Kamu kecewa ternyata pacarnya masih kamu?”

Shinta langsung membalas cepat.

“Aku kecewa karena kamu berbohong.”

Kalimat itu membuat Andika terdiam sesaat.

Namun beberapa detik kemudian pria itu kembali memasang wajah datarnya.

“Aku tidak merasa merugikan siapa pun.”

Shinta menggeleng pelan.

“Kalau nanti ketahuan bagaimana?”

“Tidak akan.”

“Kalau ayahmu tahu?”

Andika mulai terlihat kesal.

“Kenapa kamu peduli sekali?”

“Karena beliau pasti kecewa.”

Andika tersenyum tipis penuh sindiran.

“Sejak kapan kamu peduli ayahku kecewa?”

Shinta langsung terdiam beberapa saat.

Pertanyaan itu terasa menusuk.

Namun dia tetap mencoba tenang.

“Ayahmu baik padaku dulu.”

“Dulu.”

Satu kata itu keluar dingin dari mulut Andika.

Shinta menahan napas.

Dia tahu Andika sengaja menekankan kata itu.

Dulu.

Saat mereka masih bersama.

Saat semuanya belum berakhir berantakan.

“Aku cuma tidak mau beliau berharap terlalu jauh,” ucap Shinta pelan.

Andika langsung mengambil tas kerjanya dengan kasar.

“Kamu tidak perlu sok baik.”

Ucapan itu membuat dada Shinta terasa panas.

“Aku serius.”

“Semuanya akan aku urus sendiri.”

“Dengan terus bohong?”

Andika mulai kehilangan kesabaran.

“Memangnya kenapa kalau aku bohong?”

“Karena itu salah.”

“Dan kamu selalu benar?”

Shinta langsung terdiam.

Andika melangkah mendekatinya. Tatapannya tajam dan penuh emosi yang sejak tadi ditahan.

“Kalau memang bicara soal kejujuran,” katanya dingin, “apa kamu juga bisa jujur pada orang kantor soal hubungan kita dulu?”

Kalimat itu langsung membuat Shinta membeku.

Suasana mendadak sunyi.

Bahkan suara pendingin ruangan terdengar begitu jelas.

Shinta menatap Andika tanpa mampu menjawab.

Karena dia tahu Andika benar.

Selama ini dia juga memilih diam.

Saat teman-teman kantor mulai menggoda mereka.

Saat Rara bercanda soal kedekatan mereka.

Saat orang-orang mengira hubungan mereka baru mulai tumbuh.

Shinta tidak pernah benar-benar jujur bahwa mereka pernah saling mencintai dan saling meninggalkan.

Andika tertawa kecil penuh lelah.

“Ternyata kamu juga tidak sejujur itu.”

“Aku beda.”

“Beda bagaimana?”

Shinta membuka mulut namun tidak ada jawaban yang keluar.

Karena semakin dipikirkan, semuanya memang terasa rumit.

Dia ingin Andika jujur pada ayahnya.

Namun dia sendiri masih menyembunyikan masa lalu mereka dari banyak orang.

Andika memalingkan wajah malas.

“Sudahlah. Aku capek bahas ini.”

Dia mulai berjalan meninggalkan meja.

Namun Shinta segera menahan langkahnya.

“Andika.”

Pria itu berhenti tanpa menoleh.

“Tolong jujur sama ayahmu.”

Nada suara Shinta kali ini terdengar lebih lemah.

Tidak lagi penuh emosi seperti tadi.

Andika memejamkan mata sebentar. Rahangnya terlihat menegang.

Saat dia akhirnya menoleh, tatapannya tampak jauh lebih dingin.

“Kamu pikir gampang?”

Shinta terdiam.

Andika tertawa kecil pahit.

“Kamu datang tiba-tiba terus bilang aku harus jujur seolah semuanya sesederhana itu.”

“Aku cuma tidak mau beliau kecewa.”

“Dan kamu pikir aku mau?”

Suara Andika mulai meninggi.

“Ayahku akhirnya bisa semangat lagi setelah kenal kamu dulu.”

Shinta langsung terdiam.

Andika melanjutkan dengan nada penuh emosi yang sejak tadi dia tahan sendiri.

“Semenjak ibu meninggal, beliau berubah. Jarang keluar rumah. Jarang kerja. Bahkan sering sakit.”

Shinta perlahan menundukkan kepala.

Dia tidak pernah tahu sedalam itu pengaruhnya bagi keluarga Andika.

“Tapi setelah ada kamu,” lanjut Andika lirih, “beliau mulai berubah.”

Tatapan Andika perlahan melemah.

“Beliau mulai semangat kerja lagi. Mulai banyak ketawa lagi.”

Shinta menggenggam tangannya sendiri erat-erat.

Setiap kata Andika terasa semakin berat didengar.

“Beliau bahkan diam-diam bikin tabungan.”

Shinta langsung mengangkat kepala.

Andika tersenyum pahit.

“Tabungan buat pernikahan kita.”

Jantung Shinta terasa seperti diremas.

Dia benar-benar tidak tahu soal itu.

Semua kemarahan yang tadi memenuhi kepalanya perlahan menghilang begitu saja.

Yang tersisa hanya rasa sesak.

Andika tertawa kecil tanpa humor.

“Sekarang kamu paham kenapa aku bohong?”

Shinta tidak bisa menjawab.

Tatapannya mulai mengabur.

Dia teringat bagaimana hangatnya ayah Andika dulu padanya. Bagaimana pria tua itu selalu menyuruhnya makan lebih banyak setiap kali datang ke rumah. Bagaimana beliau pernah bilang kalau rumah itu terasa hidup sejak ada dirinya.

Dan sekarang semuanya sudah hancur.

Karena dia memilih pergi.

“Aku...” suara Shinta terdengar pelan, “aku tidak tahu.”

“Memang.”

Andika mengusap wajahnya kasar.

“Kamu pergi begitu saja. Setelah itu semuanya berantakan.”

Kalimat itu membuat dada Shinta semakin sesak.

Dia ingin membela diri.

Ingin menjelaskan alasan kenapa dulu dia memilih mengakhiri hubungan mereka.

Namun entah kenapa sekarang semua alasan itu terasa tidak penting.

Yang tersisa hanya rasa bersalah.

“Aku tidak pernah ikut bohong,” ucap Shinta lirih.

Andika tersenyum tipis.

“Tapi kamu tetap pergi.”

Shinta menunduk semakin dalam.

Dia sadar Andika tidak sedang menyalahkannya sepenuhnya.

Namun rasa kecewa itu masih ada.

Masih tersisa.

Dan mungkin tidak pernah benar-benar hilang.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Ruangan marketing kini benar-benar sepi.

Hanya mereka berdua yang masih berdiri di tengah suasana canggung dan penuh luka lama.

Andika akhirnya menghela napas panjang.

“Aku capek, Shinta.”

Nada suaranya kali ini tidak lagi marah.

Justru terdengar lelah.

“Semuanya sudah terlalu rumit.”

Shinta perlahan mengangkat wajahnya.

Tatapannya terlihat penuh penyesalan.

“Aku cuma tidak mau ayahmu kecewa lebih jauh.”

Andika tersenyum tipis.

“Beliau sudah kecewa sejak lama.”

Kalimat itu membuat Shinta kembali terdiam.

Andika kemudian mengambil tasnya dan berjalan melewati Shinta.

Namun kali ini langkahnya tidak secepat tadi.

Seakan sebagian emosinya sudah habis terkuras.

Sementara Shinta tetap berdiri di tempatnya.

Diam.

Dengan dada penuh rasa bersalah yang perlahan menghimpitnya semakin dalam.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan Andika, dia mulai sadar bahwa luka itu ternyata bukan hanya miliknya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!