Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa lagi ini?!
Ketukan itu semakin mengeras suaranya, merasa tak enak hati Cakka mengabaikan peringatan dari Aulia. Ia berbalik arah berjalan menuju pintu kamar. Aulia ingin mengejar Cakka namun, kalah telak dengan kecepatan tangan yang berhasil membuka pintu masuk, kamar.
Crak!!!!!
Bruk!!!!!
Dari luar, pintu kamar Cakka di dorong oleh Obit. Hingga membuatnya tersungkur jatuh ke lantai.
Dug!!!
Obit menggebrak daun pintu.
Brak!!!
"Ngapain aja sih dari tadi? Kalau kata gue keluar untuk olah nafas, langsung keluar! Jangan mandi dulu! Jangan cuci muka dulu! Pokoknya langsung keluar!" Lantang dan keras, seisi ruangan dipenuhi oleh suaranya.
Sedangkan Cakka sendiri, dia masih terdiam dan tak menyangka kalau rekan satu rumahnya itu berani membentaknya, hanya karena meminta waktu sebentar.
Pun orang-orang yang berdiri di belakang Obit kini mengelilingi Cakka. Mereka ada satu... Dua... Delapan!. Mereka berdelapan. Memangku kedua tangan dengan angkuh. Menatap Cakka seperti akan memangsanya saat itu juga.
"Maaf... Aku janji kejadian tadi tidak akan terulang lagi" ujar Cakka seraya berdiri.
Salah satu diantara mereka ada yang maju, dia sedikit mendorong bahu Cakka lalu tangannya mencengkram baju Cakka dari depan. Cengkraman itu begitu kuat sehingga, urat-urat yang berada di lengan timbul ke permukaan kulit. Cakka menelan ludahnya sendiri, sembari menatap orang itu.
"Katanya kemarin nuduh Debo ngejambret tas ibu-ibu di pasar? Benarkah?"
Cakka mengatur nafasnya, ia tahu bahwa dirinya sekarang sedang terancam. Ia menatap orang-orang itu satu persatu dan berhenti pada orang yang sedang mengajaknya bicara.
"Ya!" Jawab Cakka singkat.
Orang itu menyunggingkan senyumnya, tak lama setelah itu seperti sambaran kilat tangannya berhasil menonjok perut Cakka.
Bugh!!!
A!!!!
Tentu Cakka kesakitan, reflek tanganya memegang perut bekas tonjokkan orang itu.
"Lu kalau nuduh orang harus ada bukti! Kalau lu cuma nuduh, itu sama aja fitnah!"
Cakka menenggelamkan bibirnya ke dalam mulut, menahan sakit yang bertumpu di tengah.
"Lu itu anak baru di sini! Lu nggak spesial! Jangan harap kami semua menghormati lu!"
Cakka menghela nafas, bertahun-tahun dirinya selalu direndahkan dan orang-orang seenaknya memukuli dia. Geram dan muak. Yang ada di pikirannya kali ini, boleh dong sekali-kali aku mukul orang dengan alasan yang jelas?. Tanpa menunggu waktu lama tangannya yang sudah lama tidak berolahraga kini meninju sasaran empuk.
Bugh!!!!
Tepat di hidungnya! Seketika kedua bola mata orang itu menjadi juling, pun darah keluar dari lubang hidung kiri. Disentuhnya darah itu, dilihatnya, dan berakhir pingsan ditempat.
Wut!! Blug!!
Terkapar dan orang-orang yang ada di sekitar melongo, mereka saling pandang satu sama lain. Obit, ia memasang kuda-kuda selayaknya orang yang sedang pencak silat. Kedua tangannya mengepal, menirukan petinju yang siap menonjok tubuh lawan. Dan yang lainnya mundur dari hadapan Cakka.
Sebenarnya Cakka sendiri tidak ingin pertengkaran ini terus berlanjut, ia hanya ingin menjadi penghuni rumah yang tentram dan damai. Entah dengan kesendiriannya atau dengan yang lain. Ingin akur saja bersama rekan kerja yang siap debut menjadi artis. Tapi, melihat Obit yang terus menantangnya. Mau tidak mau, Cakka pun siap adu jontos dengan ketua penghuni rumah BV.
Ia tidak membuang waktu, Cakka langsung menendang kelamin Obit.
Bugh!!!
Rasa mual, perih, menjadi satu. Obit memegang area sensitifnya. Ia mundur, terhuyung hingga ke ujung tangga. Cakka masih siap dengan tangannya namun yang lain... mereka kabur! Berlari tunggang langgang memasuki kamarnya masing-masing.
Masih pagi tenaga Cakka sudah terkuras karena harus melawan mereka. Belum lagi sekarang ia harus memindahkan tubuh orang yang pertama menonjok perutnya.
Haduh!!! Ini siapa namanya? Di mana kamarnya?! Masa dia harus stand by di sini sih?.
Menggerutu namun mau bagaimana lagi, Cakka harus memberikan tempat terbaik untuk orang itu. Tinggi badannya sama dengan Cakka, warna kulit pun sama, tapi wajah dia lebih ke arah Korean style. Potongan rambutnya pun lebih modern. Cakka memegang kedua ketiaknya, ditarik, diseret tubuhnya ke atas kasur. Tempat ia tidur.
Brugh!!!
Hah!!!!!
Aulia, ia berdiri tepat di belakang Cakka. Memangku kedua lengannya.
"Aku sudah bilangkan sama kamu, kalau mereka itu mau menghajarmu! Tapi kamu?... Ah sudahlah!" Aulia duduk dikursi meja rias "Dengar ya? Setiap kali aku bertemu dengan mu, umurku berkurang. Jadi pandai-pandailah kamu memanfaatkan waktu dan dengar ucapanku!"
Cakka hanya menganggukkan kepala, ia kembali berbaring dikasurnya. Meski ia harus bersampingan dengan orang yang belum ia ketahui namanya.
Tiga jam berlalu....
Cakka bangun, matanya mengarah ke jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi. Ia menggeliat, seperti cacing. Dirinya meliukan tubuh senyaman mungkin. Sampai ia tersadar, harusnya ketika menggeliat akan ada yang tersenggol olehnya. Cakka menengok kesamping ternyata orang yang ia pindahkan ke kasur susah tidak ada.
Bangun!
Tubuh Cakka duduk diatas kasur dan matanya kini melihat kearah pintu kamar. Ternyata Orang pingsan itu kini tengah duduk dipojok, dekat pintu. Dia memeluk lutut, melihat Cakka ketakutan dan menggigil hebat.
Mendapati pemandangan seperti itu membuat Cakka sedikit lega, karena... orang yang ditonjoknya selamat. Ia turun dari kasur, melangkah menuju manusia yang sedang memandangnya penuh ketakutan. Tepat kini saling berhadapan, Cakka jongkok.
"Masih sakit gak?" Tanya Cakka pelan.
Orang itu menggelengkan kepala, bibirnya melengkung membentuk huruf n, hampir menangis.
"Kamu sudah apakan aku?" Tanyanya.
Cakka mengernyitkan kening pun matanya melihat tangan dia, memegang pantat. Cakka terlalu polos untuk itu bahkan dia tidak tahu sama sekali soal apa yang dikatakannya.
"Kenapa kamu pegang pantat? Memangnya aku menendang mu?"
"Kamu sudah menodaiku kan? Iyakan?!"
Menodai? Apa?!
Manusia ini benar-benar gila!
Cakka berdiri, dia mengambil kunci kamarnya dari lemari pakaian yang baru dirapihkannya semalam. Kunci itu hanya satu dan hanya pengisi kamarnya yang memegang.
Langkah itu kembali mendekati insan yang masih terduduk ketakutan. Cakka membuka pintu kamarnya. Mendorong tanganya untuk diraih oleh orang itu.
"Jangan berpikiran yang macam-macam! Aku menidurkanmu di kasur supaya kamu nggak kedinginan di lantai, oh ya namamu siapa?"
"A-aku.. Ozy.."
"Jangan bilang yang enggak-enggak sama yang lain! Sekali kamu fitnah aku, kamu bakalan tahu sendiri akibatnya seperti apa?"
Ozy mengangguk kaku, begitu pintu kamar terbuka lebar dia langsung berlari. Seperti sudah melihat hantu. Cakka memandangi tubuh yang terpontang panting itu hingga lenyap dari pandangannya. Pun perlahan ia menutup pintu rapat-rapat.
"Hah!!!!!! Baru juga semalam, perkara sudah mulai saja"
Huam!!!!!!!
Menguap! Meregangkan kedua tangannya. Meraih handuk yang terlipat rapih dimeja kecil dekat tempat tidur. Baru saja kakinya mengambil langkah kembali, tiba-tiba dari luar ketukan pintu membuatnya berhenti dan berbalik arah pada pintu masuk yang sempat tertutup rapat karena sudah membebaskan Ozy.
Huh! Apa lagi?