NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara

​Kapal Persekutuan Seratus Harta terbang membelah awan dengan kemegahan yang menggetarkan langit. Kapal ini memiliki tiga tingkat utama. Tingkat teratas adalah 'Surga', tempat para elit sekte, bangsawan fana, dan pedagang raksasa bersantai di paviliun sutra. Tingkat menengah adalah 'Bumi', area komersial dan pasar terapung tempat berbagai transaksi terjadi selama perjalanan berbulan-bulan.

​Dan tingkat paling bawah, tempat di mana Lin Tian, Lin Chen, dan Lin Xue berada, dikenal sebagai 'Neraka Batu Bara'.

​Suhu di Area D lambung kapal selalu berkisar di angka empat puluh derajat Celcius. Asap hitam dan debu spiritual dari batu bara mengambang tebal di udara, masuk ke paru-paru setiap budak pekerja setiap kali mereka bernapas. Di sini, nilai nyawa manusia lebih murah dari segenggam batu spiritual. Jika seorang pekerja mati kelelahan, mayatnya akan dibuang melalui lubang pembuangan langsung ke langit terbuka.

​Sudah seminggu sejak kapal lepas landas. Pelarian dari Tetua Gui Ming telah berhasil, namun kebebasan mereka diganti dengan rantai perbudakan baru. Tuan Hei hanya membelikan mereka tiket masuk sebagai kargo hidup, bukan sebagai penumpang kelas tiga.

​TANG! TANG!

​Suara lecutan cambuk kulit memecah hiruk-pikuk deru mesin.

​"Ayo bergerak, babi-babi pemalas! Tambah muatan ke tungku tiga!" raung Mandor Zhou, seorang pria gemuk berkumis melintang yang memiliki kultivasi Pengumpulan Qi Tingkat 2. Di geladak bawah, tingkat 2 sudah cukup untuk menjadi raja kecil yang menindas ratusan manusia fana.

​Di sudut gelap dekat palka pembuangan, Lin Tian sedang duduk bersila tanpa baju. Tubuh perunggunya kini dihiasi perban di beberapa bagian, terutama di lengan kanannya yang membengkak hitam akibat proses pencernaan paksa Kristal Tulang Naga. Debu batu bara menempel di keringatnya, menyembunyikan memar parah akibat tebing yang runtuh.

​Napas... tarik... potong... Lin Tian bermeditasi dengan ritme yang sangat lambat.

​Meskipun terlihat seperti gembel pesakitan, Seni Pedang Sembilan Kematian-nya tidak pernah berhenti bekerja. Setiap napas yang ia tarik mengisap udara panas dan kotor di sekitarnya. Inti Teratai Pedang di perutnya—yang kini penuh retakan—bertindak seperti saringan ketiadaan Asap dan racun debu batu bara dipecah, dihancurkan, dan diserap sebagian kecil energinya untuk menyembuhkan organ dalamnya. Ini adalah metode pemulihan yang sangat lambat, namun itulah harga dari memakan sesuatu di luar batas kemampuannya.

​"Hei, kau, si tangan cacat!" Mandor Zhou menendang tumpukan jerami tempat Lin Xue berbaring, namun meleset karena Lin Tian segera menahannya dengan punggung. "Kau sudah duduk dua jam! Cepat bawa keranjang batu bara itu ke tungku lima, atau adik perempuanmu ini akan kulempar ke mesin pemanas untuk dijadikan bahan bakar tambahan!"

​Mata perak Lin Tian menyala tajam di balik lapisan debu wajahnya. Tangan kirinya tanpa sadar meraih kerah celananya, tempat gagang Pemutus Langit tersembunyi. Membunuh Mandor Zhou ini sama mudahnya dengan mematahkan leher ayam sakit, meskipun lengan kanan Lin Tian sedang lumpuh dan kondisinya terluka.

​Namun, sebelum Lin Tian bergerak, Lin Chen berlari tergopoh-gopoh dari arah tumpukan batu bara. Remaja itu bertelanjang dada, seluruh tubuhnya hitam legam, otot-ototnya mulai terbentuk kuat akibat kerja paksa.

​"Maafkan Kakak saya, Mandor! Dia masih sakit parah dan tangannya lumpuh!" seru Lin Chen sambil menunduk dalam, menyerahkan setengah kendi air bersih kepada Mandor Zhou sebagai sogokan. "Biar saya yang kerjakan bagiannya. Dua keranjang sekaligus!"

​Mandor Zhou mengambil kendi air itu, meminumnya rakus, lalu mendengus kasar. "Kalian budak tak berguna terlalu banyak makan tempat. Kalau sampai akhir minggu dia tidak bisa kerja penuh, aku akan benar-benar membuang kalian bertiga ke langit!"

​Mandor gemuk itu meludah ke tanah dan berjalan pergi, mencambuk udara untuk menakut-nakuti pekerja lain.

​Lin Chen menghela napas panjang dan berjongkok di depan Lin Tian. "Kak Tian, tahan dirimu. Di atas kapal ini ada ahli pelindung kapal dari Persekutuan yang setingkat Inti Emas. Jika Kakak membuat keributan di sini, identitas kita pasti akan terbongkar, dan kita tidak bisa lompat ke mana-mana dari langit."

​Lin Tian melepaskan cengkeramannya pada gagang pedang kunonya. Matanya kembali meredup. "Kau berkembang, Chen. Kesabaran adalah senjata pertama seorang pembunuh."

​Lin Tian benar. Beberapa minggu lalu, Lin Chen akan gemetar atau menyerang membabi buta jika ada yang mengancam adiknya. Kini, pemuda itu belajar merendah, menyuap, dan menelan harga dirinya demi bertahan hidup. Hutan Belantara dan debu kapal ini menempa mental Lin Chen jauh melampaui usianya.

​"Bagaimana keadaan lengan Kakak?" Lin Chen bertanya cemas, melirik lengan kanan Lin Tian yang menghitam dan membengkak seperti kayu gosong.

​"Proses fusi Kristal Tulang Naga sangat buas," jawab Lin Tian datar. "Kristal purba itu terus-menerus mencoba memecah sumsum asliku. Aku harus memusatkan delapan puluh persen Niat Pedangku setiap detik hanya untuk menekan auranya agar tidak meledak atau terdeteksi oleh ahli di atas kapal. Untuk sebulan ke depan... aku praktis hanya mengandalkan tangan kiri, dan kekuatan fisikku turun setengahnya."

​Lin Tian tidak menambahkan bahwa rasa sakit konstan yang ia alami cukup untuk membuat kultivator Pembangunan Pondasi gila. Itulah jalan ekstremnya.

​Tiba-tiba, suara batuk pelan terdengar dari tumpukan jerami di belakang mereka.

​Lin Xue terbangun. Wajah gadis berumur dua belas tahun itu sepucat kertas putih. Bibirnya membiru dan seluruh tubuhnya menggigil hebat. Meskipun udara di lambung kapal sangat panas, uap es tipis mulai terbentuk di sekitar tubuhnya.

​"Sial. Tubuh Roh Es-nya berontak lagi," desis Lin Chen panik. Ia merogoh kantong penyimpanan kotor di celananya dan mengeluarkan botol giok. "Kak, Pil Inti Dingin kita tinggal dua butir. Jika ini terus berlanjut..."

​Lin Tian mengambil pil itu dengan tangan kirinya dan menyuapkannya dengan lembut ke mulut Lin Xue. Pil itu bereaksi perlahan, menekan hawa dingin, namun kulit Lin Xue tidak sepenuhnya kembali normal. Hawa panas dan kotor di geladak bawah ini berlawanan dengan konstitusi murni gadis itu, memperburuk kondisinya jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

​"Kita tidak bisa diam di geladak neraka ini sampai kapal berlabuh," putus Lin Tian. Pandangannya berubah tajam, penuh perhitungan. "Kita butuh obat elemen Yang tingkat tinggi untuk menyeimbangkan meridiannya, dan tempat yang lebih layak."

​"Tapi Kak, kita dilarang keras naik ke geladak Bumi," bantah Lin Chen ketakutan. "Penjaga di sana minimal Pembangunan Pondasi. Mereka membunuh pekerja kotor tanpa ampun jika berani melewati batas tangga."

​"Aku tidak akan melewati tangga seperti tamu yang memohon," ucap Lin Tian. Ia bangkit perlahan. Suara tulang rusuknya yang setengah pulih bergemeletuk halus. Meskipun lengannya membengkak dan tubuhnya terluka, aura predator buas mulai memancar tipis dari mata peraknya.

​"Di dunia kultivasi, kelemahan memancing penindasan. Tapi keberanian yang terarah membuka peluang," bisik Lin Tian. Ia mengambil sepotong besi tajam bekas sekop batu bara dan menyembunyikannya di balik perban lengan kirinya.

​"Malam ini, saat pergantian jaga Mandor Zhou... aku akan memanjat lorong ventilasi udara panas menuju ke geladak Bumi. Aku butuh Pil Naga Matahari, dan aku tidak peduli siapa yang harus kucuri atau kubunuh di atas sana untuk mendapatkannya."

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!