NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Milikku

Arkana berdiri di ambang balkon dengan tatapan yang langsung berubah gelap begitu melihat Kemuning bersama Reynard. Lampu kota memantul samar di wajah dingin pria itu. Rahang Arkana menegang keras seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya.

Dan suasana balkon langsung berubah mencekam dalam hitungan detik. “Aku baru meninggalkanmu sebentar.” Suara rendah Arkana terdengar dingin dan penuh tekanan tersembunyi. Tatapannya tidak lepas dari Reynard sedetik pun. Sedangkan jantung Kemuning langsung jatuh tidak karuan.

Kemuning buru-buru berdiri lebih tegak sambil menggenggam jas Arkana erat di pundaknya. “Aku... kami cuma bicara sedikit...” Nada suaranya terdengar panik dan salah tingkah. “Aku minta maaf...”

Kalimat terakhir itu justru membuat rahang Arkana makin mengeras. Lagi-lagi Kemuning meminta maaf seolah dirinya selalu melakukan kesalahan. Padahal yang membuat Arkana kesal sekarang bukan Kemuning. Melainkan pria di depannya.

Arkana mulai sadar dirinya benar-benar tidak suka melihat pria lain terlalu dekat dengan Kemuning.

Terutama seseorang seperti Reynard yang jelas sengaja memancing reaksinya. Tatapan santai pria itu terasa seperti tantangan terbuka. Dan Arkana membenci fakta bahwa dirinya terpancing.

Di sisi lain, Reynard justru menikmati situasi tersebut diam-diam. Ia belum pernah melihat Arkana Mahendra kehilangan ketenangan seperti ini. Tatapan possessive pria itu terlalu jelas untuk disembunyikan sekarang. Dan hal itu terasa sangat menarik bagi Reynard.

“Aku cuma menemani dia sebentar.” Reynard berkata santai sambil menyandarkan tubuh pada pagar balkon. “Kau terlalu lama meninggalkannya sendirian.” Kalimat itu terdengar ringan tetapi jelas sengaja menantang.

Tatapan Arkana langsung berubah semakin dingin.

Tanpa berkata apa pun lagi, pria itu melangkah mendekat ke arah Kemuning. Sampai tubuh mereka berdiri sangat dekat di tengah angin malam balkon hotel. Dan detik berikutnya, tangan Arkana perlahan mendarat di pinggang Kemuning.

Kemuning langsung membeku. Sentuhan possessive itu dilakukan terang-terangan di depan Reynard. Jemari Arkana mengerat perlahan di pinggang kecilnya seolah menyatakan sesuatu tanpa kata. Dan napas Kemuning langsung kacau.

“Dia tidak sendirian.” Suara Arkana terdengar rendah dan tegas. Kalimat sederhana itu terasa seperti klaim yang tidak memberi ruang bantahan sedikit pun.

Bahkan Reynard sampai tersenyum tipis melihatnya.

Kemuning terlalu sadar tangan Arkana masih berada di pinggangnya. Pria itu sama sekali tidak berniat melepaskannya. Tubuh Arkana berdiri begitu dekat sampai kehangatannya terasa jelas di kulit Kemuning.

Dan itu membuat jantung gadis tersebut berdetak liar. Tubuh Kemuning menegang malu. Namun anehnya, di balik semua kegugupan itu, dirinya justru merasa aman. Seolah selama Arkana berdiri di sisinya, tidak ada siapa pun yang bisa menyakitinya. Dan kesadaran itu mulai terasa berbahaya.

Kemuning mulai takut pada dirinya sendiri. Ia mulai menyukai perhatian possessive Arkana. Mulai menyukai cara pria itu melindunginya tanpa sadar. Dan itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Reynard menangkap semuanya dengan sangat jelas.

Cara Kemuning tidak menolak sentuhan Arkana. Cara Arkana berdiri seperti sedang melindungi sesuatu yang berharga. Kini Reynard benar-benar yakin Arkana sudah kehilangan kontrol terhadap gadis itu.

Namun sebelum suasana makin panas, seorang staf hotel muncul dari pintu balkon dengan wajah panik.

“Pak Reynard, direksi sudah menunggu di ruang meeting.” Reynard mendesah kecil seolah terganggu karena momen menyenangkan itu harus berhenti.

Tetapi pria itu akhirnya mengangguk santai.

“Baiklah.” Reynard meluruskan jasnya perlahan sebelum berjalan melewati Arkana. Namun sebelum pergi, pria itu sempat menoleh ke arah Kemuning sambil tersenyum tipis. “Kita lanjut ngobrol lain waktu.”

Kalimat itu langsung membuat aura Arkana kembali berubah dingin. Tatapan pria itu mengikuti langkah Reynard sampai benar-benar menghilang dari balkon. Sedangkan Kemuning langsung menunduk gugup karena suasana mendadak terlalu sunyi sekarang. Hanya tersisa dirinya dan Arkana di tengah angin malam.

Namun tangan Arkana masih belum berpindah dari pinggangnya. Jarak mereka juga masih terlalu dekat.

Kemuning bahkan bisa mendengar samar suara napas pria itu di atas kepalanya. Dan hal itu membuat tubuhnya semakin sulit tenang.

Lampu kota berkilauan jauh di bawah balkon hotel mewah tersebut. Angin malam meniup lembut rambut panjang Kemuning sampai beberapa helainya menyentuh rahang Arkana. Namun tak satu pun dari mereka bergerak menjauh. Seolah keduanya sama-sama terjebak dalam ketegangan aneh ini.

Kemuning akhirnya memberanikan diri bicara pelan.

“Apa Tuan marah?” Suaranya terdengar hati-hati dan kecil. Namun justru membuat sesuatu di wajah Arkana berubah.

Tatapan pria itu langsung turun ke wajah Kemuning. Ada ketidaksukaan samar yang muncul saat mendengar panggilan formal tersebut lagi. Seolah kata “Tuan” menciptakan jarak yang tidak diinginkannya. Dan Arkana mulai membenci itu.

Selama ini Kemuning selalu memanggilnya dengan penuh batas. Penuh rasa takut dan hormat yang membuat Arkana terasa jauh. Padahal semakin hari, pria itu justru ingin menarik Kemuning semakin dekat. Kesadaran itu membuat napas Arkana mengeras samar.

“Berhenti memanggilku seperti orang asing.” Suara Arkana terdengar rendah tetapi tegas. Kalimat itu langsung membuat Kemuning membeku di tempatnya. Jantungnya mendadak berdetak semakin kacau.

Kemuning perlahan mendongak menatap Arkana dengan gugup. Sedangkan pria itu justru bergerak sedikit lebih dekat lagi. Sampai wajah mereka kini berada dalam jarak yang sangat berbahaya. Dan Kemuning mulai kesulitan bernapas normal.

“Panggil namaku.” Nada suara Arkana lebih pelan sekarang. Namun justru terdengar jauh lebih intim dibanding sebelumnya. Membuat seluruh tubuh Kemuning langsung melemas gugup.

Kemuning benar-benar kehilangan kemampuan berpikir sesaat. Ia belum pernah memanggil Arkana tanpa jarak formal sebelumnya. Nama pria itu terasa terlalu dekat untuk keluar dari bibirnya. Dan itu membuat wajahnya panas luar biasa.

Tatapan Arkana terus mengunci wajah Kemuning tanpa memberi ruang untuk menghindar. Jemari pria itu perlahan mengusap pinggang Kemuning lembut. Gerakan kecil tersebut membuat napas Kemuning langsung tersendat halus. Jantungnya nyaris melompat keluar sekarang.

Wajah mereka terlalu dekat. Kemuning bisa melihat jelas mata gelap Arkana yang menatapnya begitu intens. Bisa merasakan hangat napas pria itu di kulitnya. Dan tubuhnya mulai gemetar pelan karena gugup.

“A-Arkana...” Nama itu akhirnya keluar pelan dari bibir Kemuning dengan suara gemetar kecil. Namun justru terdengar jauh lebih intim daripada yang dibayangkannya. Dan detik itu juga, udara di sekitar mereka terasa berubah.

Arkana langsung terdiam. Tatapan pria itu menggelap perlahan saat mendengar namanya keluar dari bibir Kemuning untuk pertama kali. Sesuatu dalam dirinya terasa runtuh dan kehilangan keseimbangan sekaligus. Ternyata ini jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkannya.

Karena mendengar Kemuning memanggil namanya terasa terlalu nyata. Terlalu dekat. Terlalu membuatnya ingin memiliki gadis itu sepenuhnya. Dan Arkana mulai takut pada dirinya sendiri.

Beberapa detik berlalu tanpa suara di antara mereka. Kemuning mulai salah tingkah karena Arkana terus menatapnya tanpa berkedip. Jantung gadis itu semakin tidak terkendali sekarang. Apalagi pria itu belum juga menjauh sedikit pun.

Lalu perlahan, Arkana menunduk lebih dekat ke wajah Kemuning. Sangat dekat sampai napas mereka hampir bertabrakan di udara malam. Tatapan mata pria itu gelap dan penuh sesuatu yang mulai sulit disembunyikan. Dan suara rendahnya kembali terdengar pelan. “Sekali lagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!