Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Anna mulai melangkah menyusuri lorong panjang yang dipenuhi pajangan barang antik. Ia bergumam pelan, mencoba mengingat instruksi Jolina yang lebih mirip teka-teki daripada penunjuk arah.
"Oke, tadi katanya lurus... terus belok kanan setelah lukisan besar. Ini lukisannya?" Anna berhenti sejenak menatap lukisan pemandangan yang sangat luas. "Lalu kiri... eh, atau kanan lagi ya? Aduh, rumah ini kenapa luas banget sih, sudah seperti labirin."
Ia berjalan dengan ragu, matanya sibuk memperhatikan setiap sudut pintu kayu yang ia lewati. Karena terlalu fokus menatap pintu-pintu di sekitarnya, kaki Anna yang mengenakan sepatu hak tinggi tidak sengaja tersangkut pada ujung karpet bulu yang tebal.
"Eh—!" Anna kehilangan keseimbangan. Ia memejamkan mata erat-erat, sudah pasrah jika wajahnya harus mencium lantai marmer yang dingin di malam pesta ini.
Grepp!
Bukannya rasa sakit, Anna justru merasakan sebuah lengan yang kokoh dan kuat melingkar di pinggangnya dengan sigap. Tubuhnya ditarik dengan satu sentakan lembut namun tegas hingga ia bersandar sepenuhnya pada dada bidang seseorang. Aroma parfum maskulin yang woody dan mahal langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya—aroma yang sangat ia kenal.
Anna membuka matanya perlahan dan langsung disambut oleh tatapan tajam Axel Van Elion. Waktu seolah berhenti berputar di lorong yang sunyi itu. Axel tidak melepaskan dekapannya, matanya justru terpaku pada wajah Anna yang malam ini terlihat sangat luar biasa cantik dengan polesan makeup yang sempurna. Ada kilat aneh di mata Axel saat ia memperhatikan bibir peach Anna yang sedikit terbuka karena terkejut.
"paman Axel..." suara Anna keluar dengan sangat kecil dan bergetar, memecah keheningan yang menyesakkan itu.
"Kau tidak bisa berjalan dengan benar?" tanya Axel dengan suara berat yang rendah, terdengar lebih seperti bisikan daripada teguran.
"M-maaf, Tuan. Lorongnya... lorongnya sedikit membingungkan," jawab Anna terbata-bata, tangannya secara tidak sadar meremas lengan jas Axel untuk menyeimbangkan diri. "A-aku mencari toilet, tapi sepertinya aku tersesat."
Pipi Anna terasa panas luar biasa saat menyadari betapa dekatnya jarak wajah mereka sekarang. Ia bisa merasakan hembusan napas Axel di keningnya.
"Kau sudah melewati toiletnya dua belokan yang lalu," ucap Axel datar, namun tangannya masih belum bergeming dari pinggang Anna, seolah enggan melepaskan gadis itu begitu saja.
Anna melongo, matanya mengerjap tidak percaya mendengar ucapan Axel. Ia refleks memundurkan wajahnya sedikit sambil bergumam pada diri sendiri, "Masa sih? Perasaan tadi Jolina nggak bilang toiletnya ada di sana... belokannya benar-benar bikin pusing."
Sadar tangannya masih meremas jas Axel, Anna segera melepaskannya dengan canggung. Ia merapikan gaunnya yang sedikit kusut sambil memberikan senyum paksa yang terlihat menggemaskan. "Ah... begitu ya? Makasih, Paman! Maaf merepotkan!"
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Anna segera berbalik dan berlari kecil ke arah lorong yang ia lalui tadi. Ia ingin secepat mungkin menjauh dari aura intimidasi Axel yang membuatnya sulit bernapas.
"Bukan di sana," ucap Axel dengan suara berat yang menghentikan langkah Anna seketika.
Anna berhenti mendadak, hampir tergelincir lagi karena sepatu hak tingginya. Ia menoleh perlahan dengan wajah bingung. "Eh? Tadi katanya sudah terlewat?"
"Kau baru saja menunjuk ke arah gudang penyimpanan wine," sahut Axel datar, matanya menyipit melihat tingkah gadis di depannya yang tampak sangat tidak fokus.
Anna menggigit bibir bawahnya, wajahnya kini merah padam karena malu. "Oh... oke. Jadi ke mana?" ia bertanya sambil menunjuk ke arah kiri dengan ragu.
"Salah."
Anna menunjuk ke arah kanan dengan wajah yang mulai panik. "Ini?"
"Bukan."
Anna akhirnya berputar-putar di tempat sambil menunjuk ke berbagai arah dengan asal. "Terus di mana? Masa di atas langit-langit?!" serunya pelan karena frustrasi dengan instruksi yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Melihat Anna yang malah berputar-putar seperti anak ayam kehilangan induknya dengan wajah cemberut yang lucu, Axel mengembuskan napas panjang. Ia merasa geram sekaligus gemas melihat kepolosan—atau mungkin kebodohan—gadis ini dalam memahami arah.
Axel melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mencengkeram lembut bahu Anna dan memutar tubuh gadis itu ke arah lorong kecil yang tersembunyi di balik pilar besar.
"Gunakan matamu, bukan hanya kakimu," bisik Axel tepat di telinga Anna, suaranya terdengar berbahaya namun rendah. "Ikuti lorong ini, pintu kedua di sebelah kiri. Jika kau tersesat lagi, aku sendiri yang akan menyeretmu kembali ke aula."
Anna hanya bisa mengangguk kaku seperti robot, tidak berani membantah lagi sebelum akhirnya melesat pergi menuju arah yang benar. Axel berdiri diam di sana, menatap punggung Anna yang menjauh sambil mengepalkan tangannya di dalam saku jas, mencoba meredam rasa gemas yang muncul karena tingkah konyol gadis itu.
Anna melangkah keluar dari pintu kayu jati itu dengan perasaan lega, namun jantungnya hampir copot saat melihat sesosok tubuh tinggi tegap bersandar di pilar lorong, menunggunya. Itu Axel.
"P-Paman? Paman juga mau ke kamar mandi?" tanya Anna tanpa pikir panjang, matanya membulat terkejut.
Axel terdiam. Ia menatap Anna dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sejujurnya, ia sendiri tidak mengerti mengapa ia berdiri di sini selama beberapa menit terakhir. Apa yang sebenarnya sedang kulakukan? pikirnya dalam hati dengan perasaan kesal pada diri sendiri. Sejak kapan aku menunggu seseorang hanya untuk sekadar ke kamar mandi? Ada apa dengan diriku?
Axel menepis pikiran itu dengan tatapan datarnya yang dingin, berusaha menutupi kebingungan batinnya. "Tidak," jawabnya singkat. "Aku di sini hanya memastikan kau tidak tersesat lagi di rumahku sendiri. Kau cukup membuat malu dengan tingkahmu tadi."
Mendengar itu, entah mengapa ada perasaan aneh yang menghangat di dada Anna. Ia merasa sedikit tersanjung, meski Axel mengatakannya dengan nada yang cukup tajam. Anna tersenyum kecil, ia merasa Axel sebenarnya tidak sejahat atau semenakutkan yang ia bayangkan selama ini.
"Oh... kalau begitu terima kasih sudah menunggu," ucap Anna dengan nada yang jauh lebih rileks dan tulus. Ia merasa suasana canggung di antara mereka perlahan mencair. "Ya sudah, ayo kita kembali ke aula. Kasihan Jolina pasti mencari-cari kita."
Anna melangkah mendahului Axel dengan langkah kecil yang anggun, lalu ia menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan kecil, mengajak pria itu untuk segera menyusulnya. "Ayo, Paman! Jangan sampai kita ketinggalan sesi potong kuenya."
Axel menatap punggung Anna yang menjauh, lalu menghela napas panjang.
Saat sedang berjalan kembali menuju aula bersama Axel yang menjaganya dari belakang, langkah Anna tiba-tiba terhenti. Di tengah kerumunan tamu, ia berpapasan dengan sosok yang sangat ingin ia hindari: Kiel De Luca.
Kiel tertegun di tempatnya. Matanya yang biasanya dingin dan tajam kini membelalak, terpaku pada sosok Anna yang terlihat begitu bersinar dan cantik dengan gaun champagne-nya. Ada desiran aneh di dada Kiel yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sejak Anna pindah sekolah, Kiel menyadari ada sesuatu yang hilang, dan melihatnya malam ini membuat perasaannya semakin kacau.
"Anna?" panggil Kiel dengan suara datar, namun matanya tidak lepas dari wajah gadis itu. "Kenapa kau ada di sini? Dan... bajumu, kau terlihat berbeda."
Anna merasa tidak nyaman ditatap sedalam itu oleh Kiel. Ia mencoba memberikan jarak. "Aku tamu Jolina, Kiel. Permisi, aku harus kembali ke teman-temanku."
"Tunggu," Kiel menahan langkah Anna dengan berdiri di depannya. Meskipun bicaranya tetap irit kata, perhatiannya terlihat jelas. "Jangan terlalu banyak minum minuman dingin, wajahmu pucat. Kau baru sembuh, kan?"
Anna hanya bisa mematung, merasa risih dengan perhatian Kiel yang tiba-tiba. Namun, suasana canggung itu mendadak pecah saat seorang pria paruh baya dengan aura angkuh melangkah mendekat. Itu adalah Marco De Luca.
Marco menyipitkan mata, menatap Anna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina. Ia segera mengenali gadis yang dulu sering mengejar-ngejar putranya dengan cara yang menurutnya memuakkan.
"Oh, jadi ini gadis pemuja putraku itu?" suara Marco terdengar nyaring dan meremehkan. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di pesta keluarga Elion dengan pakaian seperti ini. Apa kau sedang mencoba mencari mangsa baru setelah gagal mendapatkan Kiel?"
Anna tersentak, wajahnya seketika pucat pasi. Ucapan Marco yang kasar dan penuh penghinaan di depan umum membuat hatinya mencelos.
"Dengar, gadis kecil," lanjut Marco sambil tertawa sinis, "Hanya karena kau memakai gaun mahal, bukan berarti kasta rendahmu berubah. Kau tetaplah gadis pengganggu yang tidak punya harga diri di mata keluarga De Luca. Sebaiknya kau pergi sebelum kau mempermalukan dirimu lebih jauh lagi."
Anna menunduk dalam, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takut dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Ia merasa sangat kecil dan terhina di tengah kemegahan pesta itu, sementara Marco terus menatapnya dengan pandangan merendahkan seolah Anna adalah kotoran yang tidak sengaja terinjak.